
Hari minggu tiba, Shofia begitu bersemangat.
Ia memoles wajahnya dengan make-up yang lumayan mencolok.
Tak lupa ia memakai parfum yang biasa di pakai Arini.
"Sempurna! hari ini aku akan membuat mas Elang melupakan mbak Arini." Shofia memutar badannya di depan kaca.
..."Sebenarnya apa sih yang di lihat mas Elang dari mbak Arini, cantik? aku rasa aku tidak kalah dengannya, di tambah aku lebih muda." ...
Shofia bicara sendiri sambil mematut diri di depan kaca.
"Kau tidak bisa mengatakan kalau aku anak kecil lagi, Mas. Tahun ini aku akan melepas seragam sekolah ku! aku sudah pantas bersanding denganmu walaupun usia kita terpaut jauh." gumamnya lagi.
Apalagi setelah mendengar berita dari Nilam bahwa pasangan itu tengah perang dingin, membuat Shofia semakin bersemangat.
Walaupun ada motor, ia sengaja memanggil tukang ojek dengan harapan pulangnya di antar oleh Denis. Benar-benar perasaanya kepada Denis mengalahkan akal sehatnya.
Sesuai perjanjian, Denis sudah menunggu di sekolah.
Beberapa kali ia melihat pada jam tangannya.
Denis mendesah pelan.
"Mudah-mudahan aku bisa bersandiwara sesuai permintaan Arini."
Terus terang Denis merasa ngeri membayangkan dia harus memperlakukan Shofia seperti layaknya lawan jenis.
Bagaimanapun, perasaan yang dia punya untuk gadis itu hanyalah perasaan seorang kakak terhadap adiknya.Tapi apa boleh buat, Arini yang memintanya.
"Boleh saja. asal janji, kau tidak akan cemburu nantinya." ujar Denis pada Arini saat mereka menyusun rencana itu semalam.
"Ini hanya pura-pura, awas ya, kalau mengambil kesempatan dalam kesempitan!"
ancam Arini.
Denis hanya tertawa ngakak.
Dari parkiran, Shofia sudah bisa melihat pria pujaan hatinya sedang duduk dengan gelisah.
Aula sekolah yang cukup luas dan kerumunan para wali murid lainnya membuat Denis tidak menyadari kedatangannya.
"Mas Elang keren abis hari ini... sudah punya postur tubuhnya tinggi, perut yang rata, apalagi aromanya itu, susah aku lupakan. Huuh... bikin aku tambah cinta padanya." gumam Shofia sendirian di belakang Denis.
"Mas, Elang... sudah lama datangnya,?" sapanya dengan suara yang di buatnya seseksi mungkin.
"Ah, Shofia, kau baru datang?"
Tiba-tiba. Denis terkikik melihat ke arah Shofia.
"Kenapa, Mas? ada yang beda dengan penampilanku hari ini, kan?" ucap Shofia percaya diri.
"Benar, kau sangat berbeda. siapa yang mendandani mu seperti badut kayak gitu?"
Shofia cemberut.
"Sudah capek-capek dandan, eh malah di bilang kayak badut." ucapnya kecewa.
"Maaf, Mas Elang bukan bermaksud menyinggung perasaanmu. tapi, kau lebih cantik kalau berdandan natural seperti Arini.." ucapnya tanpa sadar telah memuji Arini.
Shofia memandangnya dengan serius.
"Siapa, Mas?" tanya Shofia penasaran.
Ia merasa heran karena menurut Nilam Denis sedang bertengkar dengan istrinya itu, tapi..
__ADS_1
"Maksudnya, yang membuat mas Elang jatuh cinta pada Arini waktu itu karena kesederhanaanya." ralat Denis.
Shofia tampak mengangguk puas.
"Hampir saja ketahuan..!" gumam Denis sambil membuang wajahnya ke arah lain.
Sampai pukul dua belasan, acara itu selesai.
"Mau diantar pulang atau tidak?" pancing Denis.
"Mau dong, Mas."
Shofia tersenyum sendiri. Ia merasa Denis mulai ramah padanya.
"Mas Elang, kita makan dulu, yuk!" ajak Shofia tiba-tiba.
Denis terdiam.
"Mas, takut pada mbak Arini?" selidiknya serius.
Denis menggeleng cepat.
"Sebenarnya kami sedang ada masalah. tapi sudahlah, kau tidak usah tau masalahnya apa." kata Denis.
"Aku sudah dengar dari mbak Nilam, semula aku tidak percaya, tapi sampai akhirnya kau mengatakannya." jawab Shofia prihatin.
"Mbak Nilam menceritakan apalagi, aku jadi malu. Oh,ya. mbak Nilam sangat dekat denganmu, ya?"
"Begitu lah, sampai hal-hal kecil yang menyangkut keluarganya pun dia cerita."
Shofia tidak sadar kalau Denis sedang mengorek keterangan darinya.
Shofia tidak menyiakan kesempatan untuk memeluk pinggang Denis. Apalagi saat Denis tidak memberi reaksi apapun. Ia semakin berani.
Sedangkan Denis merasa sangat risih, ingin rasanya dia mengebut dan sampai di tempat tujuan di mana mereka akan makan.
Denis menahan diri untuk tidak protes, ia ingin tau apa rencana Nilam selanjutnya.
Shofia yang terlanjur senang, ia mengkhayalkan hal yang lebih jauh lagi.
Ia merasa bahwa Elang mulai membuka hati untuknya.
"Ayo turun, kita sudah sampai!"
"Hah, cepat sekali?" ujarnya heran.
"Kau sih, menghayal terus.." Denis menonjok keningnya seperti biasa.
"Mau pesan apa, Mas?"
"Aku kopi saja, kau terserah mau pesan apa saja!"
"Shofia makan dengan lahapnya, sesekali dia melirik pria yang sedang duduk di hadapannya itu, ia masih belum percaya kalau akhirnya dia bisa duduk semeja lagi dengan mas Elang nya.
"Makan yang benar, matanya jangan kemana-mana!" Denis mengingatkan. Shofia tersipu malu karena kepergok sedang mengaguminya.
"Oh, ya Mas. aku tau, suatu saat mas Elang akan sadar kalau mbak Arini tidak tepat buatmu. Buktinya sekarang mas lihat sendiri, dia tidak sebaik dan selugu yang Mas, kira."
"Kau tau darimana tentang Arini?"
Hampir saja Denis emosi karena tidak rela istrinya di jelek-jelekan.
"Ya, dari yang aku lihat, dan dari mbak Nilam juga."
Shofia menatap Denis serius. ia seperti ragu hendak mengatakan sesuatu.
__ADS_1
"Kenapa? sepertinya kau ragu mau mengatakan sesuatu.
"Aku terpaksa mengatakan ini, aku terpaksa berkhianat pada mbak Nilam yang sudah sangat percaya padaku." wajah Shofia terlihat ragu.
"Terserah kau saja, tanya hati kecilmu apakah itu pantas kau ceritakan atau tidak?"
Denis memberi solusi.
"Ini menyangkut mas Elang sendiri, tapi rahasia ini sangat beresiko kalau sampai bocor. apa lagi buatku, Mas."
"Lalu aku harus bagaimana menurutmu?"
"Mas Elang harus berjanji menikahi aku! "
"Menikah? kau jangan becanda Shof, ini bukan barang bercandaan!" ucap Denis setengah membentak.
Namun Shofia sudah putus urat malunya.
"Ya, terserah. Kalau mas Elang tidak berjanji, mas Elang tidak akan pernah tau apa rencana mbak Nilam, dan yang jelas keselamatan Bu Dhe terancam."
Denis terkejut, ia tidak menyangka kenyataan yang ia dengar sampai sejauh ini. Semula dia dan Arini hanya ingin memberi pelajaran pada Shofia, tapi ini sudah merembet keselamatan Bu Zah.
"Bagaiman, Mas?" Shofia merangkul tangannya dengan mesra.
"Ayolah, Shofia. kau bilang sama mas Elang, apa rencana mbak Nilam? tidak usah pake syarat segala. Mas, memang sedang berantem dengan Arini, tapi itu bukan berarti mas Elang harus nikahin kamu juga!"
Shofia menggeleng.
"Ini harga yang sepadan dengan rahasia yang akan aku bocorkan, Mas.
Lagian mas Elang, kapan ngerti nya, sih kalau aku itu cinta mati sama mas Elang, cinta mati! Mas, tau artinya apa? artinya aku rela mati demi cinta aku itu."
Denis menatap Shofia tak berdaya.
Ia sangat mencemaskan Bu Dhe nya.
Tapi tidak mungkin juga ia akan menikahi Shofia, membayangkan saja dia sudah merasa eneg.
"Mas, tau? mbak Nilam sedang mengincar tanah kosong milik Bu Dhe?"
Denis menggeleng kaget.
"Itu hanya salah satu dari rahasianya mbak Nilam."
"Apakah mas Pras terlibat dalam masalah ini?" tanya Denis bergetar.
Shofia menggeleng.
"Aku tidak bisa menjelaskan hal ini sampai mas Elang bersedia memenuhi permintaanku."
Shofia menggenggam kedua tangan Denis yang terlihat gelisah.
"aku sangat mencintaimu sejak dulu Mas. jangan anggap aku anak kecil lagi, aku bukan lagi seorang pelajar, tapi sebentar lagi akan menjadi mahasiswa.
Banyak kok pasangan di luar sana yang usianya terpaut sampai puluhan tahun, dan nyatanya masih harmonis sampai saat ini."
Denis menatap Shofia.
"Sebesar apa pun cintamu, yang jadi masalahnya, mas Elang tidak bisa mencintaimu!"
Shofia tertunduk sedih.
"Baiklah, beri mas Elang waktu untuk berpikir okey? "
Hari menjelang sore saat Denis mengantar Shofia sampai depan rumahnya.
__ADS_1
Denis tidak sabar cepat-cepat bertemu Arini dan menceritakan semuanya, termasuk tentang nyawa Bu Zah yang terancam.
Dukungannya🙏🙏