Air Mata Seorang Istri

Air Mata Seorang Istri
Bab 91


__ADS_3

Arini begitu gemas dan jengkel menghadapi kedua wanita beda usia di depannya.


Mereka tak pernah berhenti membuat ulah.


Yang satu adalah gadis belia yang terpaksa hamil karna korban perkosaan, dan yang satu wanita yang sedang di tinggal suaminya untuk mempertanggung jawabkan perbuatannya.


"Usiamu masih sangat muda, Shofia.. Ingat lah, aib yang sudah menimpa mu itu gara-gara apa? Penyebabnya tidak lain Karna obsesi mu yang tidak pada tempatnya!" ucap Arini dengan nada tinggi.


"Dan kau Mbak? masih tidak jera juga dengan masalah yang sedang kau hadapi saat ini? masih sempat- sempatnya berniat jahat pada orang lain,? aku tidak habis pikir pada kalian! Berdua."


Nilam hanya memutar bola matanya dengan malas saat mendengar kata-kata Arini.


"Jangan bawa-bawa masalahku, aku akan urus sendiri. Saat ini aku memang salah sudah membantu Shofia buat menjebak Denis. Tapi itu bukan berarti kau bisa mencampuri urusan pribadiku!" jawabnya ketus.


Shofia hanya tertunduk malu.


"Kau juga, sudah ku bilang aku tidak bisa membantu, kau tetap memaksa." tudingnya kearah Shofia.


Denis mulai tidak sabar oleh sikap Nilam. Bukannya minta maaf karna sudah tertangkap basah, malah dia bersikap seolah tidak bersalah.


"Kalian memang pantas di beri pelajaran yang berarti."


Denis langsung mengangkat ponselnya hendak menghubungi polisi.


Tapi Arini menurunkan tangannya.


"Kenapa, Rin? kali ini, jangan halangi aku lagi. Mereka pantas mendapatkan ganjaran yang setimpal agar mereka jera!" ucap Denis sengit.


Arini menatap mata Denis dengan lembut.


"Lihat lah gadis malang ini, apa yang sedang di alaminya ini adalah hukuman yang paling berat sebenarnya, cuma dia belum menyadarinya saja. Dan mbak Nilam, apa lagi yang dia punya? suami sudah di tahan, mungkin saja sebentar lagi dia pun akan menyusul. Kita tidak perlu repot membalas mereka. Allah itu adil." tambah Arini.


Nilam hanya terdiam. sedangkan Shofia semakin tertunduk.


"Kenapa kau membiarkan perbuatan mereka, ini tidak bisa di maafkan lagi!" Denis tidak terima.


"Kita tidak akan kalah hanya dengan mengalah..


Dan aku sangat yakin, Shofia akan menyesali perbuatannya, rasa penyesalan itu sudah menjadi sebuah hukuman. Karna dia akan di buru rasa bersalah sepanjang hidupnya.


Kalau mbak Nilam, aku masih ingat Nathan.


anak itu akan sendirian.."


"Terserah kau, lah. tapi kalau menurutku, perbuatan mereka itu tidak bisa di maafkan." sungut Denis.


"Kau dengar itu! Arini tidak mau melanjutkan masalah ini ke ranah hukum, kalau tidak karena Arini, kalian berdua aku pastikan akan merasakan dinginnya lantai penjara..!" ancam Denis dengan muak.


"Yang aku tau, aku hanya jatuh cinta, Apa aku salah memperjuangkan cintaku itu? Kalau mau menyalahkan, salahkan kenapa aku di beri perasaan ini!" kata Shofia membela diri.


Denis semakin emosi saat Shofia bersuara.


"Kau salah, yang kau rasakan itu bukan cinta. Tapi obsesi yang berlebihan!" bentak Denis.


"Tolong carilah pria lain, jangan ganggu hidupku lagi Shof...! Aku ingin ketenangan." ucap Denis memohon.

__ADS_1


Air mata Shofia hampir tumpah oleh kata-kata Denis.


"Aku juga ingin begitu, mas Elang... Aku mau melanjutkan hidupku. Tapi perasaanku ini sangat menyiksaku." isak Shofia lagi.


"Aku memang salah Mbak.. Tapi perasaanku pada mas Elang tidak bisa aku hilangkan.." keluhnya pada Arini sambil bersimpuh.


"Kau harus bisa membedakan yang mana cinta, dan yang mana obsesi.


Cinta tidak akan menuntut, cinta akan cenderung memberi.." tegas Arini.


"Untung saja aku curiga kalau nomor yang menghubungiku adalah kau Shofia, kalau tidak, pasti aku sudah terperangkap dalam jebakan mu, karna itu pula aku langsung menghubungi Arini."


Kata Denis.


Saat Denis menuju lokasi yang di maksud, dia memang langsung menghubungi Arini.


Mereka sepakat akan menangkap basah perbuatan si penelpon. Tapi di luar dugaan kalau pelakunya adalah Shofia dan Nilam.


Di tempat lain,


Ilham semakin terpuruk dengan keadaan keluarganya.


Bu Lastri semakin parah. Ia tidak bisa menggerak kan anggota tubuhnya, bicaranya pun mulai susah.


Anita terlihat semakin kurus.. Dengan tubuh yang sakit-sakitan, dia juga harus mengurus putrinya yang terus rewel.


"Anita, berikan saja Cila pada ayah kandungnya. Aku sudah tidak mampu mengurusnya, kau tau keadaanku sekarang." ucap Ilham dengan perasaan galau.


"Aku juga membebaskan mu, pergilah kemana pun kau mau. aku tidak mampu lagi memberimu penghidupan, Carilah ayah Cila, pergilah bersamanya"


"Tapi kau tau keadaanku, rumah sudah melayang, ibuku sakit parah, apa lagi yang bisa aku banggakan sebagai kepala keluarga.


Keberadaan mu disini hanya menambah beban bagiku..!"


Anita semakin terisak. Ia teringat bagaimana dulu di saat jaya, ia bisa menghina Arini setiap hari. Ia sangat gembira kalau melihat Arini menderita.


Tapi kini keadaanya berbalik. Bahkan Ilham sudah mengusirnya.


"Kemana aku harus pergi, aku tidak punya sanak saudara lagi..." rintihnya dalam hati.


"Aku tidak mau tau, hidupku sedang susah, jangan menambah bebanku lagi dengan diam disini.


Bukankah Cila masih punya ayah? cari dan minta tanggung jawabnya!" sindir Ilham.


Sebenarnya Ilham tidak akan setega itu, melepas Cila pergi, tapi karna pikirannya yang sedang kalut, membuatnya lupa akan kasih sayangnya pada anak itu


Anita berdiri dengan susah payah. tidak ada gunanya lagi dia memohon, hati Ilham sudah membatu.


Ia terpaksa mengemas beberapa barang keperluan Cila.


Saat hendak pamit pergi, ia mendekati Bu Lastri.


"Bu, aku akan membawa Cila pergi, apapun hubungan kita saat ini, tidak di pungkiri kita pernah menjadi satu keluarga yang bahagia. Karna itu, aku mohon maaf dan terimakasih.."


Mendengar itu, airmata Bu Lastri meleleh, walaupun tidak bisa berbicara. Tapi matanya mengisyaratkan kalau ia ingin bicara banyak.

__ADS_1


Hatinya begitu hancur menyadari keluarganya yang berantakan.


Bagaimanapun Cila sudah ia besarkan. Ia sedih harus berpisah dengan anak itu.


Tapi Bu Lastri tidak bisa berbuat banyak.


Mengurus dirinya saja dia tidak bisa, apalagi akan mengurus Cila? hal itu membuatnya semakin tersiksa.


Anita keluar dari tempat kost nya Siska dengan membawa Cila yang terus menangis.


Ia melangkah tak tentu arah.


Sampai di halte bus. Ia berhenti.


"Aku harus tega, harus..! Demi masa depan Cila."


Anita menelpon ayah kandung Cila.


Beberapa menit kemudian.


Anita sudah duduk berhadapan dengan seorang pria yang merupakan ayah biologis Cila.


"Aku harap permintaanmu tempo hari masih berlaku. Tentang anak." Kata Anita membuka percakapan.


Ia menceritakan tentang masalah dalam keluarganya, dia sangat berharap kalau Cila bisa hidup dengan layak walaupun harus tanpa ibu kandungnya."


Pria itu terlihat terdiam sejenak.


Anita menunggu reaksinya.


Pria itu menatap ke arah Cila dengan tatapan sendu.


"Sebenarnya istriku sudah mendapatkan anak adopsi. Aku juga tidak tau apakah dia masih mau menerima anakmu atau tidak?"


"Lalu apa bentuk tanggung jawabmu pada anak ini? Aku mohon dengan sangat.. Bawalah dia, berilah kehidupan yang layak padanya. Berikan dia status." Anita memohon.


Hatinya teriris sembilu saat melirik Cila yang sedang anteng minum susu.


"Aku coba menelpon istriku dulu."


Anita menunggu dengan setia keputusan pria itu. Ia sedih karna harus mengemis minta kehidupan untuk putrinya.


"Istriku tidak mau menerimanya.. Dia bilang kalau kami mengasuh dia, kami butuh baby sitter satu lagi, berarti itu pengeluaran lagi buat kami."


Hati Anita menjerit, ayahnya sendiri memperhitungkan biaya untuk Cila.


Rasanya ingin sekali ia membawa Cila pergi dari hadapan pria tak bertanggung jawab itu.


Tapi kalau itu ia lakukan sama saja akan membunuh Cila pelan-pelan.


Ia tidak punya pekerjaan. Jangankan pekerjaan, uang pun sudah tidak di pegangnya saat ini.


"Istriku mau menerima asalkan kau yang mengurusnya, tapi hanya mengurus. Kami tidak bertanggung jawab atas biaya hidupmu." kata pria itu dengan kejam.


Tidak ada jalan lain, demi Cila dia harus terima.

__ADS_1


..


__ADS_2