
Arini minta ijin pada Bu Zah untuk keluar malam itu.
"Dengan siapa?" selidik Bu Zah tersenyum.
"Sahabat yang saya ceritakan itu, Bu."
'Kelihatannya dia sangat istimewa?"
Arini menggeleng dan tersenyum.
"Dia hanya sahabat, saya sadar diri kok. saya hanya seorang wanita yang di tinggal suami, tepatnya di gantung. Karna memang hubungan kami tidak jelas."
ucap Arini sambil mencuci peralatan dapur.
"Kau harus cepat mengurus perceraian kalian. Biar kau bisa melanjutkan hidup."
Arini berterimakasih karena Bu Zah yang selalu mendukungnya.
"Sudah sana, dandan yang cantik," goda Bu Zah lagi.
"Tidak Bu, saya hanya bertemu seorang teman, bukan kekasih atau..."
"Terserahlah apa sebutan mu padanya, tapi entah kenapa ibu merasa yakin, kalau sahabatmu itu menaruh hati padamu."
ucap Bu Zah sambil berlalu.
Arini tertegun. Ia meraba wajahnya yang tiba-tiba terasa hangat. seperti ada aliran yang menjalar langsung ke hatinya.
"Apakah benar Denis menaruh hati padaku?"
Arini menepis jauh - jauh pikirannya.
Tidak mungkin Denis suka padanya, siapa lah dirinya di bandingkan pemuda itu.
Denis adalah sosok pemuda yang mandiri, baik hati, sabar dan tentu saja tampan.
Dengan postur tubuh tinggi di lengkapi dua lesung pipi yang menambah senyuman manisnya. Tak heran kalau membuat Tiara mengejarnya mati-matian.
Arini menepuk pipinya sendiri.
"Apa yang ku pikirkan!"
Ia segera beranjak untuk bersiap.
Saat Arini bersiap di kamarnya.
Elang datang menghampiri Bu Zah dan membuat wanita itu kaget .
"Lang, kapan datangnya? Bu Dhe tidak melihat mu saat datang."
"Baru saja Bu Dhe, Aku mau mengambil jam tangan yang ketinggalan kemarin." ucapnya sambil mengikuti Elang masuk kamar.
"Nau kemana? rapi sekali? dan ini, tumben budhe mencium kau memakai parfum. "
"Budhe berlebihan, aku tetap make kok, cuman mungkin kali ini agak beda." jawabnya sambil menyembunyikan senyumnya.
"Bu dhe jadi curiga nih, kanu pasti janjian dengan seseorang ya?"
Elang mengangguk. ragu.
"Bekum sampai tahap itu sih Bu Dhe, kami baru bersahabat. Aku takut, kalau dia tau perasaanku yang sebenarnya dia akan menghindari ku!"
"Jadi, biar saja seperti ini dulu." lanjutnya.
Bu Zahra tersenyum. Baru kali ini dia melihat mata Elang bercahaya penuh harapan. Semoga saja, siapapun orangnya mudahan bisa memberi kebahagiaan buat Elang. itulah doanya.
__ADS_1
"Lang kebetulan kau disini, biar Bu Dhe kenalin sama.."
"Aduh maaf sekali bu Dhe, kayaknya lain kali deh. Aku hampir terlambat!" ujar Elang sambil melirik jam tangannya.
Bu Zah tidak mencegahnya.
"Dasar anak muda!" ucap ya menggeleng.
Setelah Elang pergi.
Arini keluar dari kamarnya. Ia terlihat anggun dengan make up tipisnya.
"Kau terlihat cantik Nak..!" puji Bu Zah membuat Arini tersipu.
"Ibu bisa saja, mana wanita terlihat cantik dengan perut buncitnya?" sanggah Arini.
"Ibu yakin, sahabatmu itu pasti terpesona dengan penampilan malam ini." bisik Bu Zah lagi.
"Bu Dhe, aku seperti mendengar suara motornya mas Elang barusan. mana dia?" Shofia datang sambil memutar bola matanya mencari Elang.
Arini ikut mencari. Ia benar-benar penasaran dengan sosok Elang yang di maksud Shofia.
"Dia sudah pergi, datang cuma buat mengambil jam tangannya yang ketinggalan tempo hari." terang Bu Zah.
"Kenapa sih, akhir akhir ini mas Elang seperti menghindari ku? apa Jangan -jangan dia sudah berpaling dariku ,ya?" gumamnya dengan mimik yang lucu.
"Ya, sudah Bu, saya mohon diri dulu."
Hati-hati. dan ajak sekali sekali temanmu itu ketemu ibu!" pesan Bu Zah.
Arini mengangguk. Walaupun sebenarnya dia merasa tidak perlu mengajak Denis ketemu Bu Zah, karna dirinya masih sah istri Ilham.
Arini naik ojek ketempat ia berjanji bertemu Denis. Dari parkiran tempat itu, Arini bisa melihat Denis duduk dengan gelisah.
Sebentar-sebentar memeriksa jam tangannya .
"Sadar Arini .. jangan berpikiran terlalu jauh! ingat perutmu." Arini menata debaran jantungnya yang tak beraturan. lalu menguatkan diri melangkah mendekati Denis.
"Lama, ya nunggunya?" Arini membuka percakapan.
Denis hanya menggeleng. Matanya terpukau oleh penampilan Arini yang terlihat berbeda.
"Kenapa?" Arini jadi salah tingkah oleh tatapan Denis.
Setelah memesan makanan, Arini mulai bertanya hal penting apa sehingga Denis mengajaknya makan-makan.
"Habiskan dulu makananmu!" jawab Denis tersenyum.
"Ada apa dengan Denis, dari tadi dia senyam senyum sendiri." bathin Arini.
"Sebentar, ya Rin. aku terima telpon sebentar."
Denis keluar mencari tempat yang tenang.
Tanpa di sadari Arini, ternyata di meja yang lain juga ada pasangan yang sedang menikmati makan malam mereka.
"Mas Ilham?" pekik tertahan dari Arini membuat sebagian pengunjung di situ menoleh padanya.
"Aduuh mati aku, bakalan rame kalau mereka melihat ku, datang bersama Denis."
Sudah terlambat, Arini tidak bisa menghindar lagi.
Ilham menghampiri Arini, tapi menarik langkahnya saat melihat Denis datang.
"Kenapa? semua baik-baik saja, kan?"
__ADS_1
Denis mengikuti arah mata Arini.
Ilham menatap mereka dengan sinis.
Anita ikut mendekat dan terkejut melihat Arini.
"Kau.?" Anita terlihat kesal.
Arini berusaha cuek tidak mengindahkan mereka.
"Sudah nelponnya?"
Denis yang belum mengerti maksud Arini hanya mengangguk. Dan kembali duduk di kursinya.
Anita menarik tangan suaminya untuk menjauh dari sana.
"Oh iya sayang. hati-hati! kau sedang hamil."
Anita terbelalak mendengar Ilham yang tiba-tiba perhatian padanya.
Ilham mendudukkan Anita di kursi yang kebetulan tidak terlalu jauh dari Arini.
Ilham memanggil waiters dan memesan makanan.
Ilham mengelus-elus perut Anita dengan lembut. Ia sengaja melakukannya untuk membuat Arini marah atau cemburu.
Arini tidak memperdulikannya. Ia asik menghabiskan makanan di depannya dengan wajah datar.
"Kau baik-baik saja?"
Arini mengangguk dan tersenyum.
"Tenang saja, aku tidak terpengaruh pada kehadiran mereka." bisik Arini sambil tersenyum.
Denis memandangnya tak percaya.
Ilham semakin oper akting. Dia merayu Anita dengan kata-kata manisnya. Anita yang memang haus perhatian Ilham selama ini merasa tersanjung. Dia memegang bahu Ilham dan menatap matanya lekat-lekat.
"Ayo Den kita pergi!"
Arini meninggalkan tempat itu dengan santainya.
Melihat Arini tidak terpengaruh membuat Ilham marah. Spontan ia mendorong Anita hingga hampir terjatuh kebelakang.
"Mas!" teriak Anita dengan marahnya.
Ilham tak perduli dengan Anita. Dia berlari mengejar Arini.
Ilham mencoba memegang tangan Arini.
"Rin, kau masih istriku yang sah. lalu kenapa kau berani pergi dengannya? harusnya kau malu pada anakmu, Jangan ajarkan perbuatan asusila padanya!"
Karna emosi, Ilham tak sadar telah mengeluarkan kata-kata yang tak pantas.
Sejumlah orang memperhatikan ketegangan itu.
"Apa yang kau sebut perbuatan asusila? aku pergi dengan ayahnya anakku! kenapa kau yang sewot mas Ilham?"
Arini menggenggam tangan Denis erat.
"Arini benar, kau tidak pantas lagi marah seperti seperti itu. Anita mau di bawa kemana?"
"Diam, ya! kau tidak berhak ikut campur!"
"Denis berhak ikut campur. aku yang memberinya hak, karena dia adalah ayah dari anakku!" tantang Arini
__ADS_1
๐Minta sedekah like dan komen ya guys...!๐