Air Mata Seorang Istri

Air Mata Seorang Istri
Bab 96


__ADS_3

Sampai Keesokan harinya, Arini terus merasa tidak enak badan.


Denis memaksanya untuk ke dokter.


"Aku tidak sakit, tapi hanya lemas, malas ngapa-ngapain."


"Itu namanya kau sedang tidak baik-baik saja, istriku..! Pokonya pagi ini kita kedokter, aku akan mengantarmu sebelum ke kantor."


"Tidak apa-apa aku pergi sendiri, kau berangkat saja!" kata Arini.


"Tidak usah protes, ayo cepat bersiap!" Denis tidak memberinya kesempatan untuk menolak lagi.


Denis menunggunya dengan sabar.


"Bagaimana?" Tiba-tiba Arini sudah berdiri di depannya dengan penampilan berbeda.


Denis memandangnya tak percaya.


"Kau? Kau terlihat sangat anggun dengan memakai hijab, sayang." ucapnya terpana.


"Kau suka?"


Denis menarik Arini kedalam pelukannya.


"Tentu saja."


Arini memutuskan berhijab karna atas kesadarannya sendiri, selain itu, Denis juga pernah mengutarakan kekagumannya pada wanita berhijab.


"Ayo, kita berangkat sekarang?"


Denis mengikuti langkahnya dengan senyum lebar.


Bu Zah dan Anita yang kebetulan sedang mengobrol di depan sambil mengawasi Cila, ikut terpana.


"Arini.. Kau cantik sekali pagi ini, Nak..! Sejak kapan kau memutuskan untuk berhijab?" Bu Zah menyambutnya dengan decakan kagum.


"Sebenarnya sudah lama, Bu. Apa lagi sejak melihat ibu yang memakai hijab membuat keinginanku semakin mantap..."


"Kau sangat cantik memakai hijab." ulang Bu Zah.


"Ah, ibu berlebihan.. biasa saja kok."


"Ibu tidak bohong. Kau terlihat lebih anggun."


"Tuh, kan bukan aku saja yang bilang begitu,


Bu Dhe juga." Seru Denis.


Anita terpana melihat adegan di depan matanya.


Betapa Arini sangat beruntung punya keluarga yang sangat mendukungnya dalam segala hal.


"Benar, Rin. Kau terlihat cantik dengan memakai hijab." Anita turut memuji.


"Terimakasih, ini juga karna ibu yang jadi panutan ku..!" ucapnya sambil merangkul Bu Zah.


"Kok ibu?"


"Aku selalu mengagumi kebaikan dan kebijakan ibu, sejak saat itu aku mengidolakan ibu." kilah Arini membuat Anita


merasa iri karna dua wanita di depannya berpelukan erat.


Ia menelan ludah mengingat ketidak keberuntungannya.


"Oh, ya. aku mau keluar sebentar, ibu akan menemani mu di rumah." ucapnya pada Anita.


"Silahkan, Rin. Jangan karna ada aku aktivitas mu terhambat, aku akan tambah malu kalau seperti itu.


Di kasi tempat tinggal saja aku sudah sangat berterima kasih." kata Anita segan.


"Kau tidak usah merasa seperti itu, fokus dulu pada kesehatanmu. Sambil jalan, kita akan memikirkan jalan keluarnya." Denis bersuara.


"Denis benar sekali. kau tidak perlu sungkan." timpal Arini lagi.


Denis membawa Arini ke dokter umum.


Tapi dokternya sedang tidak ada di tempat.


Mereka keluar dengan wajah agak kecewa


"Aku sudah bilang, aku tidak sakit. hanya pusing dan meriang sedikit." kata Arini sambil melangkah ke mobil mereka.


"Kalau tidak sakit, pasti ada yang tidak beres dengan tubuhmu." sergah Denis.

__ADS_1


Sesaat Arini teringat kalau dirinya sudah terlambat datang bulan dua minggu.


"Tidak usah ke dokter, kita berhenti di apotik saja " ujar Arini tiba-tiba.


Walaupun agak heran, Denis enggan bertanya.


Mereka berhenti di depan sebuah apotik.


Denis menunggu di mobil.


Ia sedang termenung memikirkan tanah peninggalan ayahnya yang begitu luas akan di apakan.


Arini datang sambil membawa sesuatu di tangannya.


"Ayo kita pulang!" ucapnya menyadarkan Denis.


"Kau beli apa?"


"Ini memang belum pasti, aku tidak mau terlalu berharap. Aku takut kau kecewa." kata Arini membenarkan duduknya.


"Ada apa, sih? Jadi penasaran. "


"Aku membeli test pack, alat pengecek kehamilan. Aku sudah telat dua Minggu."


Ucap Arini hati-hati.


"Benarkah?" wajah Denis berseri.


Arini mengangguk.


Denis begitu bahagia, ia merangkul Arini dengan tangan kirinya.


"Benarkah aku akan menjadi seorang ayah? Aku sangat merindukan saat-saat ini Rin!" ucapnya sambil tersenyum membayangkan seorang bocah tampan sedang bermain dalam gendongannya.


"Tapi jangan keburu senang dulu, aku takut kau kecewa." tukas Arini.


Dengan tidak sabar Denis melajukan mobilnya pulang kerumah.


"Lho, kok cepat banget pulangnya?" sapa Bu Zah.


"Dokternya sedang tidak ada Bu Dhe, nanti kami di suruh kembali lagi." seru Denis sambil menggiring Arini ke kamar.


Bu Zah melihatnya dengan heran.


"Kenapa harus malu? Ayo cepat di tes!" Denis menggiring istrinya ke kamar mandi.


"Besok pagi baru bagus, hasilnya lebih baik."


"Kenapa harus menunggu sampai besok? Jangan khawatir aku belikan lagi buat besok."


kata Denis tidak sabar.


Arini hanya tersenyum melihat antusiasnya Denis.


"Bagaimana? Sudah terlihat hasilnya?" teriak Denis di depan pintu.


"Tunggu tiga menit dulu!"


Denis menggigit bibirnya, ia benar-benar tidak sabar menunggu hasilnya.


Ia terkesiap saat pintu terbuka. Disana menyembul wajah Arini yang terlihat sedih.


"Negatif, ya? Tidak apa-apa.. Kita masih bisa mencoba, kan?" Denis meraih Arini dalam dekapannya. Walaupun sebenarnya dia sendiri merasa kecewa.


"Hasilnya positif...!" kata Arini di tengah kekecewaan Denis.


Denis menatapnya tak percaya.


"Kau serius?" Denis menatapnya tak percaya.


Arini mengacungkan alat tes kehamilan.


"Hasilnya dua garis merah..!"


Denis mengucap syukur tiada henti.


Ia menciumi istrinya penuh suka cita.


Keduanya berpelukan penuh kebahagiaan.


" Aku akan berbagi kebahagiaan ini dengan semua orang.." ucapnya sambil berjalan keluar.


"Jangan dulu, kita pastikan dulu ke dokter."

__ADS_1


Arini menahan tangan Denis.


Malamnya, mereka ke dokter spesialis kandungan.


Dan hasilnya sungguh membahagiakan.


Semua bersuka cita atas kehamilan Arini.


Sejak mengetahui kehamilan istrinya, Denis sangat memanjakannya.


"Kau tidak boleh terlalu capek, kalau bisa jam dua sudah harus pulang istirahat!"


"Aku tidak sakit, tapi sedang hamil. Biasa saja lah.."


"Aku tidak perduli, aku tidak mau terjadi apapun pada mu dan anak kita!"


Arini jengah dengan perhatian Denis.


"Aku tidak apa-apa, dokter bilang kandunganku juga sehat."


"Jangan banyak protes, aku hanya ingin kau dan anak kita sehat dan selamat."


Suatu sore, Arini yang sedang belanja di super market sendirian, berpapasan dengan Ilham.


Mereka sama-sama kikuk dengan pertemuan itu.


Ilham terlihat memegang sesuatu di tangannya.


Ilham terpana oleh penampilan mantan istrinya yang anggun dan syar'i.


"Apa kabar, Rin?" ucap Ilham berbasa basi.


"Aku baik, Mas. Kau sendiri?" tanya Arini namun matanya ke arah lain.


"Kabarku kurang baik. Mungkin aku memang tidak pantas menceritakannya padamu, tapi karna kau bertanya maka aku akan memberi tau mu."


Ilham mulai menceritakan secara ringkas semua kejadian yang sudah menimpa keluarganya.


Hal yang sebenarnya Arini sudah tau dari Anita. Namun tentu saja versi mereka berbeda.


"Aku ikut prihatin, Mas. Tapi aku tidak bisa berbuat apa-apa untuk menolong kalian " ucap Arini. Ia melirik jam di pergelangan tangannya. Ia juga berharap Denis segera datang menjemput seperti janjinya.


"Kau mau menanyakan kabar kami saja, aku sudah bahagia. Berarti kau masih perduli pada kami." jawab Ilham dengan senyum sumringah.


Entah mengapa, berbicara dengan Arini membuatnya begitu bahagia seperti orang yang baru jatuh cinta saja.


Arini merasa sedikit risih, namun Ilham terus mengajaknya mengobrol.


"Oh, ya.. Bagaimana kabar Anita dan putrinya?" pancing Arini. Ia ingin tau reaksi Ilham tentang istrinya itu.


"Entah lah, sejak hari itu, aku tidak tau kabar mereka lagi." jawab Ilham pasrah.


"Aku permisi ya, Mas. Denis akan menjemput ku." kata Arini mohon diri.


"Oh, ya.. Silahkan."


Arini sudah melangkah pergi saat Ilham kembali memanggilnya.


"Arini...!"


"Ia, Mas?"


"Ini memang memalukan, tapi aku terpaksa mengatakannya. Kalau kau ada waktu, tolong jenguk ibu, dia pasti senang sekali." ucapnya sambil menggosok telapak tangannya.


"Eemm aku tidak janji, tapi aku akan membicarakan ini pada Denis." jawab Arini.


Arini sudah melangkah lagi saat Ilham kembali memanggil.


"Rin,..!" Arini menoleh lagi.


"Terima kasih."


Arini hanya mengangguk dan meninggalkan Ilham.


Tepat saat itu, Denis datang tergopoh.


"Maaf, aku terlambat, kau tidak apa-apa?" wajahnya terlihat bersalah.


Arini hanya menggeleng.


Mata Denis menyapu kearah Ilham yang berdiri tidak jauh dari mereka.


Ketiganya menjadi salah tingkah.

__ADS_1


"Ayo kita pergi...!" Arini menggamit tangan Denis dan melangkah keluar dari tempat itu.


__ADS_2