Air Mata Seorang Istri

Air Mata Seorang Istri
Pesan Popy Untuk Tita


__ADS_3

Yudha menggandeng Tita menuju peraduan, wajah Tita masih terlihat cemas, rasa penasaran terus menghantui pikirannya, bagaimana mungkin malam itu Tita harus menghabiskan malamnya bersama Yudha sementara Popy istri Yudha tengah menderita dengan penyakitnya, Tita pun mulai mengkhawatirkan Bunga anaknya, yang sewaktu-waktu rewel dan mengganggu kenyamanan Popy.


Yudha mulai mendekati Tita dan berusaha melucuti baju pengantin Tita, dipandangnya wajah Tita dengan sendu, Tita hanya diam ketika Yudha mulai menciumi lehernya.


"Mas...tunggu sebentar ya? saya ganti dulu baju," tutur Tita yang langsung bergegas menuju kamar mandi.


Yudha hanya tersenyum melihat tingkah Tita, iapun kemudian membuka jasnya dan merubuhkan dirinya di tempat tidur menanti dengan sabar, malam itu Yudha sangat bahagia menikahi Tita, wanita yang dulu pernah menyentuh hatinya kini telah sah menjadi istrinya.


Di kamar mandi Tita tampak gelisah, saat malam pengantin seharusnya ia menikmati dengan penuh kebahagiaan. tapi tidak bagi Tita, rasa ingin tahu mengenai penyakit yang diderita Popy membuat Tita tak bersemangat melayani Yudha, tapi walau bagaimanapun malam itu, Tita harus tetap melayani Yudha karena memang Yudha punya hak penuh atas dirinya.


Dengan tergesa-gesa Tita membersihkan tubuhnya, malam itu Tita harus cepat melayani Yudha agar Tita bisa kembali ke kamar Popy untuk mengambil Bunga.


Tanpa basi-basi Tita langsung memeluk Yudha yang tengah tidur terlentang, dengan hanya memakai celana saja, tentu saja Yudha sangat kaget melihat tingkah Tita yang begitu bernafsu.


"Woy! sabar dongk Ti? kamu sudah tak tahan ya? ha...ha..." seloroh Yudha yang mulai sesak karena Tita menindihnya.


"Cepat mas ah! biar cepat selesai, nanti saya keburu ngantuk," tegur Tita, memang bukan tanpa alasan Tita malam itu mengajak Yudha, karena memang Tita ingin cepat menemui Popy yang sedari tadi selalu terbayang di benaknya.


"Loh! tenang Ti! kamu kok kaya buru-buru gitu? ada apa sih?" tanya Yudha yang terheran-heran melihat tingkah Tita.


Tak dihiraukan ucapan Yudha, Tita terpaksa mencium bibir Yudha, agar mulutnya bisa diam dan tak curiga dengan kelakuannya.


Karena memang Yudha sudah menahan nafsunya sedari tadi, akhirnya Yudhapun menyetubuhi Tita, walau ada rasa curiga di hatinya melihat tingkah Tita yang mendadak liar dan agresif.

__ADS_1


Tita memang sengaja melakukan itu semua agar Yudha cepat tidur, dan secara diam-diam Tita akan menemui Popy di kamarnya, dan benar saja tak berapa lama Yudhapun tertidur pulas, dengan hati-hati Tita melepaskan pelukan Yudha, dan merapihkan diri sambil mengenakan daster.


Tita kemudian melangkah perlahan menuju pintu dan membukanya dengan pelan agar tak menimbulkan suara gaduh.


Matanya menoleh mengintari sekeliling ruangan yang tampak sudah sepi, perlahan Tita membuka kamar Popy. Dilihatnya Popy sudah terlelap, wajah Popy dipandangnya dengan lembut, disisi nampak sebungkus obat yang sepertinya telah di minum Popy.


Tita mengelus kening Popy dengan lembut, air mata mulai menitik melihat wajah Popy yang terlihat pucat, sesekali matanya menatap Bunga buah hatinya.


Tita kemudian merangkak naik ke tempat tidur, dipeluknya Bunga dengan lembut, matanya sudah terasa berat karena ngantuk hingga Tita ketiduran.


"Ti...ti...bangun...."


Samar-samar terdengar suara seseorang memegang pundaknya.


"Ehhh...ibu?" seru Tita kaget.


"Kenapa kamu tidur disini? dimana mas Yudha? tegur Popy kaget, mendapati Tita yang entah mengapa berada di tempat tidurnya.


"Eh...itu..bu..jam berapa ini?" ucap Tita setengah sadar.


"Ini baru jam dua, ngapain kamu ada disini?"


Mata Tita masih terlihat kantuk, ketika Popy berusaha membangunkannya,Tita kemudian bangun, dalam keadaan setengah sadar Tita memangku Bunga untuk dipindahkan kekamarnya.

__ADS_1


"Udah Ti! biar Bunga tidur sama saya!" ujar Popy sambil merebut kembali Bunga yang tengah dipangku Tita.


Bunga yang terusik dengan suara gaduh, terbangun dan menangis, Popy dengan cepat berdiri dan menggendongnya sambil menepuk-nepuk tubuh mungil Bunga, tak lama Bungapun teridur.


Tita terdiam terpaku melihat Popy yang begitu menyayangi Bunga, walaupun keadaan sakit tapi Popy tak pernah mengeluh mengurus Bunga.


Setelah beberapa menit, Bunga ditidurkan kembali oleh Popy, diciumnya kening Bunga dengan lembut.


"Tita! andaikan hidupku bisa lebih lama...." keluh Popy memelas.


"Apa maksud ibu? tegur Tita terperangah mendengar perkataan Popy.


Pertanyaan Tita tak dihiraukan, matanya kosong memandang ke arah muka Tita, membuat Tita mulai ketakutan melihat kondisi Popy.


"Bu?" tanya Tita yang merasakan ada yang janggal melihat tingkah Popy.


"Tita...jika ibu nanti pergi, tolong jaga mas Yudha ya?" lirih Popy meracau.


"Bu! dari kemarin, ibu selalu bilang begitu! memang ibu mau pergi kemana? tegur Tita, yang mulai terpancing dengan kata-kata Popy yang selalu mengatakan hal yang sama berulang-ulang.


Untuk sesaat Popy diam memaku, dipegangnya pipi Tita dengan lembut sambil tersenyum. Kalau saja hidupnya masih panjang ingin rasanya Popy suatu hari nanti mendampingi Tita melahirkan seorang anak dari suaminya.


Tapi semua itu takkan terjadi kalau saja dulu Viona tak mempengaruhnya, mungkin penyakit Popy takkan separah ini, perempuan jahat itu memang sengaja melakukannya, agar Popy terus kecanduan barang haram, Popy masih ingat bagaimana dulu Viona sering keluar untuk mandi kembang tengah malam, sejak itulah Popy yakin bahwa Viona tengah mempelajari ilmu hitam, bukan itu saja, pak Asep supir pribadi Popy sering mendapati kain putih di setiap sudut kamar Yudha, tapi pak Asep langsung membuangnya, kejahatan Viona bukan disitu saja, karena ulah Vionalah, ibunda Yudha tiba-tiba mendadak lumpuh, entah guna-guna apa yang dilakukan Viona, manakala Viona selalu mengancam Popy untuk tidak mengadukan perbuatannya pada Yudha, dan entah mengapa Popy selalu menuruti perintah Viona, begitupun dengan Yudha, walaupun Yudha telah menceraikannya, tapi sampai sekarang Yudha masih masih saja memberikan sejumlah uang yang tak sedikit pada Viona, yang lebih mengherankan Popy, ialah ketika Yudha pernah disuruh untuk menandatangi secarik kertas, yang entah apa tulisan di kertas itu, Yudha bagai kena sihir, langsung menuruti perintah Viona, tapi untung saja waktu itu Popy dapat mencegahnya, dan langsung mengusir Viona saat itu juga, itulah mengapa Popy selalu mengingatkan Tita untuk menjaga suaminya, karna hanya Titalah yang suatu saat dapat menolong Yudha.

__ADS_1


__ADS_2