Air Mata Seorang Istri

Air Mata Seorang Istri
Bab 88


__ADS_3

Setelah Pras menjadi terpidana karna kasusnya yang cukup berat, sampai pengacara pun tidak bisa membebaskannya.


Nilam sendirian mencari nafkah.


Hanya berbekal modal dan tanpa pengalaman sedikitpun, membuat usaha yang di rintis nya bersama seorang temannya tidak berjalan sesuai rencana.


Namun begitu ia masih saja sombong tidak mau menerima bantuan siapapun.


Bahkan ia berani membentak Bu Zah saat di nasehati.


"Nil, coba kau minta saran Arini untuk membantumu siapa tau dia punya jalan agar usaha mu cepat berkembang dan ramai.." nasehat Bu Zah.


Namun Nilam salah terima.


"Aku tau ibu sangat sayang dan bangga pada Arini, tapi tolong jangan pernah bandingkan aku dengan Arini. Aku bisa menghandle pekerjaan ku sendiri." jawabnya sinis.


"Kenapa kau benci sekali pada Arini? Apa salah nya?"


"Ibu ingin tau kesalahannya? salahnya adalah dia telah masuk kedalam keluarga ini dan menggeser posisiku sebagai menantu utama dirumah ini." kata Nilam tegas.


"Istighfar Nilam... Ibu tidak pernah bermaksud membanding-bandingkan kalian."


"Tapi kenyataannya, ibu sudah melakukannya. Ibu lebih menyayangi mereka ketimbang aku dan mas Pras, dan ingat saja kalau ada apa-apa jangan cari kami, tapi carilah mereka!" ucap Nilam ketus.


Hati Bu Zahra merasa sangat terluka oleh pernyataan Nilam.


"Jadi? Kau mengusir ibu?" kata Bu Zah berkaca-kaca.


"Ia.. Ibu mau apa?" Jawab Nilam menantang.Ia meras terlanjur berkata tidak enak kepada mertuanya itu, namun perasaan iri yang selama ini di pendamnya kini dapat tersalurkan, karnya ia berkata tanpa memperhitungkan akibatnya.


"Nilam..." gumam Bu Zah tak percaya.


"Ibu tidak dengar? Kalau ibu masih mendukung mereka terus pergi saja kerumah mereka..!" bentak Nilam semakin lupa diri.


Bu Zah menangis tersedu.


Saat itu Arini datang bermaksud menghibur keluarga itu yang sedang berduka atas masalah Pras.


"Nah.. Kebetulan sekali kau datang, bawa ibumu dari dari sini..! Karna dia selalu menyanjung mu setiap saat." sambut Nilam tidak bersahabat.


"Nilam...!" ucap Bu Zah keras namun tubuhnya terhuyung hampir jatuh. Untung Arini sigap menangkap tubuhnya.


"Mbak Nilam.. Aku memang tidak berhak ikut campur dalam masalah ini, tapi.."


"Baguslah, kau mengerti posisimu.." potong Nilam cepat.


Rasa bencinya pada Arini yang selama ini terpendam tidak bisa dia tahan lagi.


"Tapi bagaimanapun ibu adalah mertuamu, mbak."


"Kau tau itu, tapi ibu lebih menganggap mu dari pada aku."


"Apa sih, yang sudah ibu lakukan untuk ku yang tidak di lakukannya untuk mu? Ibu sangat sayang pada mu, mbak."


'Kau terlalu banyak ceramah seperti ibu.. Kalau kalian tidak suka dengan sikap dan tingkahku, pergi saja!" ucapnya enteng.


Setelah itu, datang beberapa wanita teman Nilam.


"Tuh temanku sudah datang, mereka wanita modern yang tidak kolot dan membosankan seperti kalian."

__ADS_1


"Nilam, ingat suami mu sedang bermasalah. Bersimpati lah sedikit saja, jangan berbuat maksiat di rumah ini!" ucap Bu Zah memegangi dadanya.


"Kami hanya ngobrol-ngobrol biasa kok Bu, maksiat gimana? aku juga tau mas Pras sedang ada masalah, tapi apa aku juga harus tenggelam dalam kesedihan setiap hari?"


Nilam meninggalkan Arini dan Bu Zah untuk menyambut temanya.


"Mbak Nilam sudah kelewat batas." desis Arini tidak suka.


Bu Zah mendekati para wanita yang sedang main kartu di rung tamu.


"Maaf, ibu cuma mau mengingatkan. Pras, suaminya Nilam sedang terkena musibah, jadi tolong sekali kalian jangan bersenang-senang disini."


"Tapi kami kesini karna di undang Nilam, Bu." jawab mereka.


"Benar, tapi ibu mohon maaf sekali atas nama dia..." Bu Zah menangkupkan kedua tangannya.


"Membuang waktu dan tenaga saja datang kesini.." keluh mereka.


Saat itu datang Nilam dari dalam.


"Kau harusnya bilang kalau ini rumah mertuamu, kami pikir ini rumahmu, jadi kami bisa datang sesuka hati."


Muka Nilam memerah menahan malu dan amarah karna ucapan temannya.


"Ini rumah suamiku kok, kalian bisa teruskan mainnya. Jangan di hiraukan Kata-katanya, maklum sudah tua."


Ucapnya sambil menarik tangan Bu Zah kedalam.


"Ibu, sengaja, ya bikin aku malu di depan teman-teman ku?"


"Ibu hanya mengingatkan mereka kalau suami mu sedang dapat musibah. Itu saja." Bu Zah membela diri.


"Kau jangan berkata seperti itu, ibu berhak melakukan apa pun di rumah ibu sendiri." kata Bu Zah akhirnya. Ia tidak bisa bersabar lagi oleh sikap menantunya.


"Rumah ibu, ya..? Ini rumah kami. Rumah mas Pras dan aku. mas Pras sudah membalik namanya atas namaku. Ibu ingat saat mas Pras minta tanda tangan ibu di berkas kosong itu?"


Bu Zah terkulai lemas.


Kenapa dia begitu ceroboh dan tidak waspada saat Pras minta tanda tangan di dokumen kosong waktu itu.


"Kalau ibu pergi dari sini, silahkan. Kalau ibu masih mau tinggal disini juga tidak apa-apa, tapi harus ikuti aturanku.


Aku sudah bantu mengemas barang barang ibu..!" ucapnya sambil membuka pintu kamar Bu Zah.


"Ini warisan ayahnya Pras. Dan di sini masih ada hak adik-adiknya Pras juga."


"Sudahlah, ibu memang pelit, . coba dulu kasi mas Pras baik-baik kami tidak perlu mencurinya dari ibu." omel Nilam seperti tidak bersalah.


Ia langsung bergabung kembali dengan teman-temannya.


Bu Zah melihat koper yang sudah di kemas oleh Nilam.


Ia tertunduk sedih. Tak menyangka akan begini akhirnya.


Nathan mendekatinya.


"Eyang, sebaiknya tinggalkan saja rumah yang seperti neraka ini. Ibu sudah banyak berubah. Biar aku antar ke tempat Om Elang saja." kata Nathan.


Bu Zah tidak tahan dengan sikap menantunya lagi.

__ADS_1


Akhirnya ia bersedia di antar ke tempat Denis.


"Ibu.. Kapan datang?" sapa Arini yang baru pulang bersama Denis.


Bu Zah menceritakan kejadiannya dengan berlinang airmata.


"Ibu, mau tinggal di sini saja. Kalian tidak keberatan, kan?"


"Bu Dhe, rumahku, ya rumah Bu Dhe juga. Kenapa harus bertanya begitu?" Denis merangkul wanita itu.


"Terima kasih, Lang. Bu Dhe sangat beruntung punya dirimu." ucapnya terharu.


Arini hanya bisa meneteskan air mata terharu.


"Ibu tidak usah sungkan lagi disini. kalau merasa jenuh di rumah, ibu bisa main ke toko atau ke butik." ucapnya sambil tersenyum.


"Terima kasih, Rin. Andai Nilam seperti mu..." mata Bu Zah menerawang.


"Sudahlah, Bu. Jangan pikirkan mbak Nilam lagi. Kita doakan saja supaya dia cepat insyaf."


"Yang membuat ibu sedih bukan hanya Nilam, tapi Pras juga sudah menipu ibunya sendiri."


keluh Bu Zah.


"Saya memang sudah curiga dari awal, tapi karna tidak enak pada ibu, saya diam saja."


Denis terlihat menerima telpon dari seseorang.


"Apa kau sudah tidak waras? Dia punya ayah kenapa harus aku?"


Terdengar suara Denis tidak suka.


"Tapi dia sedang di tahan, Mas." jawab Shofia.


"Itu resikonya, dia. Mas Elang tidak mau lagi ikut campur urusan kalian."


Denis menutup telponnya.


"Kenapa lagi ular keket itu?" tanya Arini kurang suka.


"Dia minta aku mengantarnya ke dokter, memeriksakan kandungan." jawab Denis sewot.


Giliran Ponsel Arini yang berbunyi


"Nomor baru.." kata Arini heran.


"Halo..! " Sapa Arini.


Tidak terdengar suara dari sebrang, hanya ada desah nafas yang tertahan.


"Dengan siapa, ya?" tanya Arini lagi.


Karna tidak ada jawaban, Arini menutupnya secara sepihak.


"Dasar orang tidak jelas!" omelnya sambil meletakkan ponselnya kembali.


Di tempat Ilham, pria itu mengusap wajahnya dengan kasar.


"Aku bahagia walau hanya bisa mendengar suaramu saja, Rin." gumamnya sendiri.

__ADS_1


Ia merasa tidak tahan dengan rasa rindunya pada Arini. Namun ia merasa malu menemuinya. Perasaan bersalah terus menghantuinya.


__ADS_2