Air Mata Seorang Istri

Air Mata Seorang Istri
Bab 69


__ADS_3

Siang itu Arini dan Denis pergi mencari cincin pernikahan.


Tampak jelas kebahagiaan di wajah meraka.


Denis tak segan lagi menggandeng tangan calon istrinya di depan umum.


Begitupun Arini, ia merasa bangga berjalan di samping pria yang begitu kharismatik yang amat mencintainya. Dan lucunya, Arini baru menyadarinya Sekarang bahwa dia juga punya perasaan yang sama.


"Ini koleksi terbagus di toko kami, dan ini juga limited editions." ucap seorang pelayan toko itu pada Denis.


Arini dan Denis sangat menyukai modelnya.


Mereka sepakat untuk mengambilnya.


"Bagaiman perasaanmu setelah mendapatkan cincin pernikahan itu, nyonya Denis Erlangga?" goda Denis.


Arini mengangguk.


" Calon! " jawab Arini cepat membuat Denis tersipu.


"Sangat, sangat bahagia, bahkan aku tidak bisa melukiskan dengan Kata-kata. aku tidak menyangka, kita akan sampai pada fase ini." gumamnya sambil memandang Denis.


'Kita makan yuk, lapar." ucap Denis memegang perutnya.


"Perasaan baru deh aku buatin sarapan udah laper lagi?" ujar Arini.


"Berada di dekatmu, aku merasa lapar terus, jadi sebaiknya kita cari makan dulu dari pada aku menerkam mu di tempat ini juga...!"


bisik Denis di telinganya membuat Arini geli.


"Baiklah, ayo!"


Denis menikmati makanannya sambil sesekali memandang wajah Arini yang tersipu dan merasa canggung.


Arini menutup mata Denis dengan sebelah tangannya.


"Jaga pandangannya, malu di perhatikan orang." ucap Arini.


"Biarin saja, apa urusan mereka? aku hanya memandang calon istri ku, memangnya salah?" jawabnya kekeh.


"Aku bahkan tidak sabar ingin segera menghalalkan mu!" ucap Denis tenang.


Ia sama sekali tak perduli sekitarnya.


Bahkan ia tidak menyadari saat seseorang mendekati mereka.


"Pak Denis?" Denis dan Arini menoleh saat mendengar ada yang memanggilnya.


Mereka melihat Tiara sudah berdiri menatapnya dengan pandangan aneh. Ia dan beberapa wanita tengah berdiri tidak jauh dari mereka.


"Bu Tiara? sedang belanja juga?" sapa Denis agak cuek.


Tiara melengos saat Arini mengangguk padanya.


"Iya, kalian juga?" jawabnya, namun matanya menatap sinis ke Arini.


"Kenapa perempuan kampungan ini terlihat lebih cantik dan modis sekarang?" pikir Tiara memperhatikan Arini dari ujung kaki sampai ujung rambut.


"Dia Arini, calon istriku! Bu Tiara pasti masih ingat." ujar Denis.


"Apa? calon istri?" Tiara kaget sampai kaca mata hitamnya hampir saja terjatuh.


"Iya, rencananya minggu depan kami akan melangsungkan pernikahan, memang Bu Tiara belum terima undangannya dari Bram? aku suruh dia menyebarkannya di kantor.". Denis sengaja menggenggam tangan Arini.


"Iya, kan sayang?" ucapnya mesra pada Arini.

__ADS_1


Tiara semakin terkejut, ia tidak bisa menguasai dirinya. ia sempoyongan dan hampir saja terjatuh.


Arini memapahnya untuk duduk dan memberinya minum.


"Bu Tiara baik-baik saja?" tanya Arini


Wanita itu mengangguk. Ia begitu shok mendengar kabar pernikahan Denis.


"Owh, mungkin Bram sengaja tidak memberi ibu undangan itu, memang terbatas sih, hanya untuk sahabat-sahabat dekat saja, mungkin dia beranggapan kalau Bu Tiara bukan sahabat dekat kami." ucap Denis santai, ia belum bisa melupakan perbuatan Tiara pada Arini waktu itu.


Sindiran Denis membuat muka Tiara naik darah.


"Berani sekali dia bilang bahwa dirinya bukan sahabat dekat?"


Dada Tiara naik turun kar emosi.


Teman-teman Tiara sudah berbisik di belakangnya


Tiara yang terlanjur sakit hati jadi membalas sindiran Denis.


"Mungkin juga pak Denis benar, mungkin juga salah, menurut saya, Bram tidak memberi undangan itu karna dia paham saya tidak mungkin datang ke pernikahan pak Denis, karna lihatlah, kalian jauh berbeda. bagaikan bumi dan langit. Arini kampungan dan tidak tau cara merias diri." ucapnya emosi.


Denis meletakkan sendok di tangannya dengan kasar. Arini memegang tangannya agar tidak membuat keributan.


Namun Denis tidak tahan dengan ejekan Tiara. Ia mendekati Tiara dan berkata,


"Dan kalau Arini kampungan, menurut anda, anda sudah layak di sebut wanita modern? Menurut ku Arini juga sangat unik, meskipun dia tidak modern seperti wanita kebanyakan tapi bagiku dia berlian yang hanya akan bersinar di hadapan pemiliknya, bukan seperti boneka yang di pajang untuk bisa di nikmati oleh banyak orang."


jawaban Denis membuat Tiara tertampar karna malu. Ia meninggalkan meja Denis dengan jengkelnya.


Denis menatapnya dengan puas.


Arini hanya bisa menarik nafas panjang.


Arini menggeleng.


"Sudah kenyang..!" jawabnya singkat.


"Kenapa lagi? jangan sampai hal barusan membebani pikiranmu!" ucap Denis.


"Siapa yang terbebani, aku hanya berpikir, kedepannya akan lebih banyak lagi muncul Tiara- Tiara yang lain, Aku akan sedih melihat kekecewaan di wajah kaumku sendiri karna tidak bisa memiliki mu, karna tentu saja aku akan mempertahan kan milik ku sendiri."


Denis tersenyum menyadari Arini sudah mulai terbuka.


"Kau bisa saja.. tapi memang resiko mungkin, karena calon suamimu diam-diam banyak penggemarnya." ujar Denis terbahak.


Arini merasa bahagia melihat Denis tertawa lepas.


Saat mereka sedang bergurau, Ilham masuk ketempat itu bersama kedua temannya.


Ia sempat kaget saat matanya menangkap sosok Arini dan Denis yang sedang bergurau dengan ceria.


Sesekali tangan Denis membelai rambut Arini. Hal itu membuat Ilham merasa seperti tertusuk duri sembilu.


'Eh, ayo masuk!" Adit menarik tangannya.


Mata Adit mengikuti arah pandangan Ilham.


"Hmm .. rupanya itu yang membuatmu tertegun." bisik Adit di telinga Ilham.


"Aku bodoh sekali, Dit. Aku telah menyia nyiakan istri sesempurna Arini, lihatlah sekarang dia tambah cantik dan terlihat berkelas. Denis sangat beruntung." gumamnya pilu.


"Denis nama pria yang bersama Arini itu?"


Ilham mengangguk.

__ADS_1


Tiba-tiba Adit menarik tangan Ilham mendekati mereka.


Ilham tidak sempat mengelak, kini mereka sudah berada di depan pasangan yang sedang duduk bercanda itu.


"Arini, apa kabar?" sapa Adit.


Ilham bersembunyi di balik punggung Adit.


"Adit? aku baik, kau sendiri?" Arini balik nanya.


"Boleh kami dudu?" Adit memandang Denis.


"Owh silahkan saja!" jawab Denis ramah, tanganya tetap menggenggam tangan Arini erat.


Ilham terlihat kikuk saat duduk mengikuti Adit.


"Ada yang bisa aku bantu, Dit?"


Arini Ingin segera mengakhiri situasi saat itu. Bagaimana tidak? Di sampingnya tengah duduk masa depannya, sedangkan di depannya tengah duduk dengan gelisah pria dari masa lalunya.


"Tidak ada, kami kebetulan melihat kau, jadi aku mengajak Ilham untuk sekedar menyapa kalian."


"Tidak salah kan?" imbuh Adit.


"Owh tentu saja tidak. Aku sampai lupa mengenalkan, ini Denis calon suamiku!" ucap Arini tegas.


Denis tersenyum mengangguk.


Adit ternganga.


Sedangkan Ilham hanya menunduk lesu.


"Kalau tidak ada yang penting lagi, kamu duluan,ya!" ucap Arini sambil menarik tangan Denis untuk berdiri.


Adit hanya bisa mengangguk.


Ilham terkejut saat menyadari sesuatu.


"Kenapa wajahmu kaget seperti itu?" tanya Adit penasaran


"Ini, ini... tidak mungkin!" ucapnya keheranan sambil melihat kearah sesuatu yang menyembul begitu keras.


Adit semakin bingung oleh tingkah temannya.


Lalu Ilham ceritakan kejadian yang membuat Anita uring-uringan.


"Burungmu mati saat bersama Anita, dan bisa hidup lagi saat melihat Arini? aneh!" Adit ikut bingung.


Adit menyimpulkan dengan perasaan heran, begitu pula dengan Ilham.


"Mungkin, kah ini karma Dit?"


Adit terdiam.


"Waah, gawat nih! kau harus secepatnya kedokter kelamin."


"Tapi.. aku malu Dit" ucap Ilham ragu.


"Ya sudah kalau malu, nikmatin saja terus seperti itu." ejek Adit tertawa.


Arini melangkah tergesa meninggalkan tempat itu.


Denis berusaha mengimbangi langkahnya.


"Kenapa ada saja yang mengusik kebahagiaannya dengan Denis. kalau bukan dari pihak Denis, cobaan pasti datang dari pihaknya.

__ADS_1


__ADS_2