
Arini merasa heran, kenapa Shofia ada bersama Denis? apakah karna itu pula dia sampai tidak sempat mengabari dirinya?
"Mbak Arini pasti heran kenapa aku sampai bersama Mas Elang, iya, kan?"
Arini tertawa kecil.
"Tidak juga Shof.. bukan kah kalian memang sudah biasa bersama? jadi Mbak tidak heran." jawab Arini berusaha bersikap tenang.
"Benar sekali Mbak, kami memang selalu bersama, dimana ada aku hampir di pastikan
pasti ada mas Elang."
Suara Shofia terdengar begitu ceria.
Denis hanya mengangguk mengiyakan. ia tidak perduli dengan ocehan Shofia, di kepalanya hanya terbayang bagaimana dia akan memberikan kejutan buat Arini.
"Apa ini, Mas?" mata Shofia terbelalak melihat setangkai mawar putih yang terselip di samping Denis.
"Itu,... itu..!"
Denis merasa bingung menjelaskannya pada Shofia. Sebenarnya dia mau bilang bahwa bunga mawar itu untuk Arini sebagai permintaan maafnya.
Shofia langsung berinisiatif terlebih dulu.
"Manisnya... aku nggak nyangka deh ternyata mas Elang orang nya romantis juga "
Elang tersenyum malu. Ia merasa kikuk karena Arini sudah melihat bunga yang akan di berikan padanya.
Arini sendiri merasa kaget, ia tidak menyangka kalau hubungan mereka ternyata begitu dekat.
"Ngomong-ngomong.. makasi, ya bunga mawarnya!" Shofia mencium pipi Denis.
"Sebagai tanda terimakasih!" ucapnya tanpa perduli dengan wajah Denis dan Arini yang memucat.
Denis melirik Arini yang terlihat tegang seperti dirinya.
"Aah Shof, sebenarnya..."
"Sebenarnya apa? tidak usah malu, Mas Elang!"
Shofia melirik Denis yang terlihat salah tingkah.
Sebenarnya dia tau kalau bunga itu sengaja di siapkan Denis untuk Arini.
Semula Denis ingin memberi kejutan pada Arini sendirian. Tapi Shofia merusak semua ya. Ia sengaja membuat ke salah pahaman di antara mereka semakin tajam.
Shofia sengaja menunggu Denis di depan sekolah. karna sebelumnya dia sempat melihat mobil itu melintas ke arah yang berlawanan. Lalu dia berpikir kalau Denis pasti akan kembali lagi ke kantornya. benar saja dugaannya, Denis kembali ke kantornya dan melewati sekolahan Shofia.
Melihat Shofia tengah nongkrong di depan sekolah dengan teman-temannya membuat Denis berhenti.
"Kenapa belum pulang?" tanyanya gusar.
"Sengaja menunggu mas Elang!"
"Kok tau mas Elang akan lewat jalan ini?" tanyanya curiga.
"Feeling aja!" jawabnya sambil cengengesan.
"Pulang sana! ibu mu pasti sudah menunggu."
Shofia mendekati mobil Denis Lalu masuk dan duduk di sampingnya.
"Kalau ikut mas Elang, akan lama.
Soalnya mau menjemput mbak Arini dulu."
"Nggak apa-apa Mas, aku ikut saja menjemput mbak Arini."
Akhirnya Denis membawa Shofia saat menjemput Arini.
__ADS_1
Denis tidak tau kalau Shofia memang sudah merencanakan semuanya untuk menghalangi dirinya dekat dengan Arini.
Denis melirik Arini lewat kaca spion.
Wajah itu terlihat datar. Bahkan berusaha tersenyum manis saat berinteraksi dengan Shofia.
"Kenapa sih, ada saja halangannya saat aku mau lebih dekat dengannya." bathin Denis sambil memukul setir.
Shofia masih tersenyum dengan memeluk bunga mawar putih itu.
"Maafkan aku mas Elang, aku tau bunga ini kau siapkan untuk mbak Arini, tapi aku tidak sanggup melihat kedekatan kalian." ucap Shofia dalam hati.
Arini menarik nafas dan menghembuskannya pelan.
"Rupanya ini kejutan yang kau siapkan, Denis .. kenapa kau lakukan ini semua.
Kalau mau memberikan bunga pada Shofia, kenapa harus di depanku?" bathin Arini.
Mereka tiba di rah Bu Zah. Arini langsung turun, setelah mengucapkan terima kasih dia langsung bersiap kedapur untuk mulai bekerja.
Shofia sudah pulang sejak tadi.
Bu Zah merasa heran karena Denis masih disana
"Lang, kau mau nginap? biasanya langsung pulang begitu sampai." sapa Bu Zahra.
"Pulang Bu Dhe, tapi sebentar lagi."
Denis terdiam duduk di kursi membuat Bu Zah curiga.
""Masih perang dingin dengan Arini?" tanyanya pelan
Denis menggeleng cepat.
"Kami baik-baik saja kok!" elak Denis.
padahal hatinya sedang gelisah. ia tidak memungkiri kalau hubungannya dengan Arini sedang tidak baik-baik saja.
Denis terlihat lemas dan hampir jatuh.
Dengan sigap Bu Zah menangkap tubuh ya.
"Kau demam tinggi, Lang! Arini, tolong datang kesini!" Teriakan Bu Zah mengagetkan Arini dan beberapa orang wanita yang sedang membantunya.
"Denis kenapa, Bu?" tanya Arini dengan panik.
"Ayo kita papah ke kamarnya.!" perintah Bu Zah tak kalah panik.
"Aku baik-baik saja Bu Dhe tidak usah khawatir, jangan di besar-besarkan." ucap Denis pelan.
"Badanmu panas, dan kau bilang kami jangan khawatir?"
Arini datang membawa baskom berisi air hangat.
"Aku tidak apa-apa Rin, ucapnya menepis tangan Arini.
"Aku mohon kali ini menurut sama aku!"
Bu Zah meninggalkan mereka berdua.
Denis menatap wajah Arini yang sedang serius mengompres dahinya.
"Rin, masalah bunga mawar itu, sebenarnya.."
"Jangan bahas itu, yang terpenting kau sembuh dulu!" potong Arini cepat.
"Tapi aku merasa tidak enak padamu."
"Tidak apa-apa, aku mengerti kok. sudah, ya! istirahat!Setelah memberinya obat penurun panas, Arini meninggalkan Denis sendirian.
__ADS_1
"Benarkah dia mengerti kalau sebenarnya bunga itu aku siapkan untuknya...?" gumam Denis pelan.
Arini kembali menyibukkan diri di dapur.
Tengah malam Bu Zah memeriksa keadaan Denis
"Rin, panasnya naik lagi!"
Mereka bergegas ke kamar Denis.
"Tidak mungkin membawanya berobat tengah malam begini, saya tidak bisa menyetir Bu.." ucap Arini pasrah.
"Kompres saja, dulu sambil menunggu pagi."
Saran Bu Zah yang langsung di iya kan oleh Arini.
"Panasnya tinggi sekali," Arini bergumam sendiri.
Denis menggigil hebat hingga membuat Arini panik.
"Dingin sekali, tambahin selimutnya Rin!" Rintih Denis.
"Sudah banyak selimut yang di pakaikan tapi menggigilnya belum hilang juga.
Mata Denis terpejam, namun bibirnya mengigau.
Arini dan Bu Zah semakin khawatir.
"Biar saya mencari bantuan di luar!" ucap Bu Zah dan berlalu pergi.
Arini bingung dengan apa lagi harus menghangatkan Denis yang masih menggigil.
"Arini.. maafkan aku! maafkan aku...!"
Arini tertegun.
Denis mengigau meminta maaf padanya.
Karna tak ada cara lain, Arini memeluk tubuh yang gemetar itu dengan erat.
"Ya, Allah.. ampuni aku jika ini sebuah dosa. tapi ini ku lakukan untuk mengurangi deritanya." bisiknya pelan.
Perlahan tubuh Denis tidak bergetar lagi.
Arini menarik nafas lega.
Ia mengompresnya sampai ketiduran di samping Denis.
Sedangkan Bu Zah kembali dengan tangan kosong. namun Ian ia merasa lega karna panasnya berangsur menghilang
"Nas Elang..!"
Shofia datang dan langsung berlari ke kamar Elang.
Langkahnya ya terhenti saat melihat Arini ketiduran dengan tangan masih di dahi Denis.
Suaranya tercekat di tenggorokan.
"Kenapa Shof..?" Bu Zah yang menyapa tak di gubrisnya. ia melangkah dengan lunglai.
Niat hati ingin memberi semangat pada Elang di saat sakit, ternyata dapat pemandangan yang membuat matanya perih.
Bu Zah menengok ke kamar Elang sejenak.
Dia jadi mengerti apa yang membuat gadis kecil itu begitu shok.
Denis terjaga dari tidurnya, ia terkejut mendapati Arini ketiduran dengan masih memegangi kompres di dahinya.
Ia tak berani bergerak agar Arini tidak terbangun.
__ADS_1
"Ternyata kau masih perhatian padaku, apakah ini tandanya aku masih bisa berharap lebih?"
πMohon dukungannya ya shobatπππππ