Air Mata Seorang Istri

Air Mata Seorang Istri
Bab 64


__ADS_3

Perdebatan Bu Lastri dan Arini sore itu membuat Ilham semakin kesulitan menemui Arini.


Semula dia merasa masih ada sedikit celah untuk memperbaiki kesalahannya, tapi setelah kejadian itu, pintu ke arah itu benar-benar tertutup.


"Ibu terlalu gegabah, semua yang ibu katakan pada Arini salah besar! Arini tidak pernah mengejar aku lagi, tapi justru aku yang mengemis padanya."


"Itulah kebodohan mu, dia sudah melanjutkan hidupnya,sedangkan kau masih saja jalan di tempat. Memalukan!" omel Bu Lastri.


Tepat disaat itu, Anita melintas dan sempat mendengar sekilas obrolan ibu dan anak itu.


Telinganya menjadi panas karna mendengar Arini di sebut-sebut.


"Arini lagi, Arini lagi! Bisa tidak kalian menghapus orang sekaligus bayangannya dari rumah ini?"


Bu Lastri dan Ilham terdiam.


"Ibu hanya merasa heran, sekarang dia semakin sombong setelah punya usaha sendiri. kau bayangkan saja, dulu saat masih disini, baju tidak pernah beli, makanan kalau tidak di belikan mana bisa dia beli. Tapi lihat sekarang? dia punya usaha toko kue yang cukup besar." Bu Lastri termenung.


"Apa mungkin, dia memakai susuk, pesugihan, atau semacamnya? tidak mungkin, kan kalau dia bisa maju secepat itu."


"Kau benar sekali, pasti dia melakukan salah satu dari yang kau sebutkan barusan." Bu Lastri bersemangat, ia merasa punya bahan untuk menjatuhkan mantan menantunya itu kembali.


"Jangan sibuk diri dengan selalu mencari kesalahan orang, bisa -busa kalian sendiri yang merasa malu."


Siska tiba-tiba saja sudah duduk didekat ibunya.


Anita melengos dengan kesal.


"Tidak usah sok menggurui ibumu yang sudah kenyang makan asam garam kehidupan ini!" sungutnya pada Siska.


*Aku tidak menggurui ibu cuma mengingatkan!" imbuh Siska.


Bu Lastri dan Anita beranjak meninggalkan ruang tamu.


Tinggal Siska dan Ilham yang tinggal.


"Kenapa menatap Mas, seperti itu?" Ilham merasa jengah karena Siska menatapnya.


"Aku hanya heran, kenapa mas Ilham harus ikut berpikiran sempit seperti mereka. Ibu dan mbak Anita tidak bisa melihat mbak Arini maju. Makanya mereka selalu mencari celah dan kesalahannya walau seujung jarum, picik sekali!" gerutu Siska.


"Mas tidak ikut-ikutan mereka kok." Jawabnya membela diri.


"Tidak ikut, tapi juga tidak menentang ya sama saja, Mas." ucap Siska sambil ngeloyor pergi.


"Benar juga kata Siska, secara tidak langsung aku sudah ikut menyalahkan Arini." gumanya sendirian.


"Tapi aku tidak bisa memungkiri perasaanku sendiri, aku jatuh cinta lagi pada Arini." sesal Ilham lagi.


"Menurutmu, bagaimana Nit, ibu sangat ingin memberinya pelajaran."


"Benar Bu, aku juga. sakit hati padanya, Sekarang dia sudah berani menghina ibu di depan orang banyak lagi." ujar Anita semakin menyulut api dendam di hati Bu Lastri.


"Aku punya Ide." Anita bersorak kegirangan.


Mertua dan menantu jahat itu tertawa senang karna sudah membayangkan penderitaan Arini.


Siska yang menyaksikan adegan itu dari depan pintu hanya bisa menggeleng heran.


"Bu, aku titip Cila, ya. Sebentar saja, aku mau ke salon."


"Heeh.. kau enak-enakan mau nyalon memanjakan diri, jangan tinggalkan anakmu!"


Bu Lastri melarang Anita dengan keras.


"Begini saja, kita ajak Cila sekalian, dia pasti anteng kalau sudah pegang susu, sambil kita memanjakan diri di spa. Gimana?"

__ADS_1


Bu Lastri akhirnya setuju, mereka membawa Cila ikut serta.


"Bu, jangan pilih perawatan yang mahal ya, budgetnya terbatas." bisik Anita malu-malu.


"Perhitungan sekali, kau punya banyak tabungan, kan?" todong Bu Lastri.


Anita tidak bisa berkutik lagi kalau di singgung masalah tabungannya.


***


Di tempat lain, Arini sedang membujuk Bu Zah untuk ke spa juga.


"Ayolah Bu, aku ingin membuat ibu rileks setelah beberapa hari ini di sibuk kan pekerjaan."


"Tapi orang se usia ibu apa masih pantas masuk ketempat itu?" tanya Bu Zah ragu.


"Justru di usia Budhe ini perlu mencari tempat seperti itu, makanya banyak mereka bahkan yang nenek-nenek ikut perawatan." Denis yang menyahut.


"Benar sekali kata Denis, Bu."


Setelah di bujuk, akhirnya Bu Zah menurut juga.


"Aku siap mengantar..?" ucapnya bersemangat.


Tapi Arini menggeleng,


"Kami pergi sendiri saja. kau akan bosan menunggu kami,"


ujar Arini tersenyum manis.


Arini berhasil meyakinkan Denis bahwa dia akan berangkat memakai motor saja.


Spa uang di kunjungi Arini kebetulan sama dengan yang di kunjungi Anita.


Arini memilih beberapa paket perawatan.


Di kasir dia berpapasan dengan Anita.


"Kau disini juga?" tanya Anita kaget bukan main.


Begitupun Arini.


"Iya, kenapa kau kaget seperti itu melihat ku disini?" tantang Arini.


"Jangan paksakan diri untuk merubah status,


kampungan tetap saja kampungan. Kau tidak akan pernah bisa menyaingi aku!" bisik Anita tepat di telinganya.


Arini hanya tersenyum.


"Aku yang kasihan padamu, dari dulu kau sudah terbiasa menjadi yang ke dua, Sekali dapat, eh... barang bekas juga. Begitu saja bangga."


ejek Arini.


Muka Anita merah padam karena malu.


Banyak wanita yang sedang berkumpul dan dapat mendengar dengan jelas perdebatan mereka.


Anita belum sempat menjawab, Bu Lastri sudah muncul sambil mendorong stroller cucunya.


"Kenapa dia ada disini, Nit? kau jangan dekat-dekat. Nanti ketiban sialnya."


Bu Lastri masih saja mencoba menjatuhkan Arini.


Anita terlihat sangat marah, dadanya sampai naik turun karna emosi.

__ADS_1


"Ohya, jangan sampai kau membawa mertuamu menginap di tempat ini, kau tau, kan maksudku?" Arini mengedipkan matanya.


"Kau??" Anita menatapnya geram.


"Apa yang dia bilang?" Bu Lastri penasaran, namun Anita tidak mau menjelaskan.


Arini melangkah keluar sambil menggandeng mesra tangan Bu Zah.


"Kenapa mereka buru-buru pergi.?" Bu Lastri penasaran.


"Tentu saja dia takut berlama-lama, soalnya di sini hitungannya per- jam." bisik Anita puas.


Namun Arini masih bisa mendengarnya.


Ia hanya tersenyum menanggapinya.


Arini berhenti di bagian luar dari spa itu.


"Kita duduk sebentar ya, Bu, aku sedang menunggu sesuatu terjadi."


Bu Zah bingung oleh ucapan Arini namun ia tidak protes.


Benar saja dugaan Arini.


Saat tiba Anita membayar, terjadi ketegangan.


"Tentu saja tidak bisa berhutang, Bu. makanya, kalau bergaya itu, sesuaikan dengan kemampuan dulu." ucap seorang ibu.


Anita meliriknya dengan malas.


'Saya bukannya tidak mampu bayar. ya!" dengusnya kesal.


"Anita, jangan bikin ibu Malu, bayar saja kenapa?" sergah Bu Lastri tak sabar.


"Masalahnya, aku tidak bawa uang sebanyak itu Bu." jawabnya lirih.


"Lalu? bagaimana dengan kita? apakah akan menginap disini?" ucap Bu Lastri khawatir.


Mendengar keluhan mertuanya, membuat Anita terngiang kata -kata Arini barusan.


"Siapa mereka, Rin?" suara Bu Zah penasaran.


"Bagaimana kamu kenal mereka?"


"Mereka adalah mantan mertuaku dan menantunya." jawab Arini tenang.


.Arini kembali masuk menghampiri Bu Lastri dan Anita.


"Aku apa kau yang memaksakan status? kalau tidak mampu bayar jangan basuk kesini!"


bisik Arini di telinga Anita.


Anita hanya bisa mendesah panjang


"Kasian.." Arini berdecih sinis.


"Mbak, berapa kekurangannya? biar saya yang bayar, kasian dia membawa anak kecil." ucap Arini.


Arini sudah melangkah keluar saat Bu Lastri memanggilnya.


"Kau memang sudah menolong kami hari ini, tapi jangan harap kami berhutang Budi padamu. Suatu hari aku akan membayar semuanya padamu lengkap dengan bunganya." ketus Bu Lastri.


Arini menatap mata tua di depannya.


Kenapa mata itu menyorotkan kebencian yang begitu dalam padaku?

__ADS_1


"Ibu, boleh membayar bantuanku suatu saat. tapi aku tidak pernah mengharapkannya." ucap Arini lirih.


Ia melangkah gontai meninggalkan mantan mertuanya itu.


__ADS_2