Air Mata Seorang Istri

Air Mata Seorang Istri
Kebaikan Popy


__ADS_3

Dalam dinginnya malam, Tita menangisi nasibnya, hanya air matanya yang selalu menemani malamnya, Titapun menghamparkan sajadahnya, berdoa dan bersujud pada yang kuasa, dalam shalat tahajudnya ia berdoa, semoga tuhan mengampuni segala dosa suaminya.


Bathinya menjerit dan merana, berharap ia kuat menghadapi semua permasalahan rumah tangganya.


******


Pagi harinya Tita seperti biasa melayani suaminya, karena meskipun Adi menyakitinya, Tapi tetap saja Tita harus melayaninya.


"Nih, yangk," sahut Adi sambil memberikan amplop besar pada Tita.


Tita menerima uang belanja yang diberikan Adi, perlahan tangan kecilnya membuka amplop, dihitungnya jumlah uang yang diberikan Adi, ternyata jumlahnya hanya dua juta, biasanya Adi memberinya tiga juta lima ratus, itu berati Adi mengurangi uang Tita sebesar satu juta setengah, Tita hanya bisa diam sambil memegangi uang yang masih dipegang.


"Udah, kalau kurang jual kalungmu itu!" nanti saya ganti," ucap Adi tanpa ada rasa bersalah.


Tita hanya bisa diam dan pasrah mendengar saran Adi yang terkesan menyepelekann, dulu Adi selalu menberi uang lebih untuk di tabung, tapi sekarang, jangankan menabung uang belanjapun malah dikurangi, Kelakuan Adi semakin membuat Tita muak.


Sebelum pergi ngantor, Adi mencium kening Tita dengan mesra, walapun Tita mengacuhkannya, karena semua yang di lakukan Adi semua hanya kedok saja, untuk menutupi kesalahannya.


Tita kembali membereskan piring bekas sarapan suaminya.


Tita menghitung uang belanjanya, sekarang ia harus menekan pengeluarannya seirit mungkin.


Setelah semua pekerjaan rumah beres, pagi itu Tita berniat pergi ke pasar membeli kebutuhan dapurnya dan membeli perlengkapan bayi seadanya saja.


Demi mengirit ongkos, Tita berjalan kaki menuju pasar yang memang tak jauh dari rumahnya, lelah sedikit tak apalah, justru sangat baik untuk kesehatannya.


Ditengah perjalanan langkah Tita terhenti, Dilihatnya sebuah Mall yang biasa ia menggunakan uangnya untuk belanja disana, tapi sekarang uangnya tak akan cukup jika ia pergi ke Mall, tapi kalau sekedar melihat-lihat apa salahnya, toh sekalian jalan-jalan.


Titapun memasuki Mall walaupun hanya sekedar melihat-lihat saja, Di dalam Mall, nampak banyak orang hilir mudik berbelanja dengan berbagai keperluan.


Penglihatan Tita tertuju pada sebuah roda pendorong bayi yang terlihat lucu, disana tertera tulisan harga yang cukup lumayan mahal, Titapun hanya tersenyum dan hanya bisa memegangnya saja, uang nya tak kan cukup jika harus membelinya walaupun Tita sangat tertarik, tapi apa daya, tak mungkin ia membeli barang yang begitu mahal.


"Bagus ya? kamu suka?"


bisik sesorang terdengar ditelinga Tita .


Titapun seketika menoleh ke arah yang berguman disisinya.


"Ehh_mas_mas Yudha ya?" ujar Tita seakan tak percaya bisa bertemu lagi dengan Yudha pria yang telah menolongnya.


Yudha tersenyum sambil melihat bandrol yang tertera di kereta dorong bayi, Yudhapun memanggil salah satu pelayan toko dan menyuruhnya mengambil kereta dorong bayi rupanya Yudha hendak membeli kereta dorong tersebut untuk Tita.


"Ehh_gau usah mas!" tegur Tita merasa tak enak.


"Udah, Tenang saja," sahut Yudha santai.


Ada perasaan tak enak di hati Tita, ia merasa selalu menyusahkan Yudha, kejadian kemarin sewaktu dirinya pingsan, Yudhalah yang menolongnya, kini ia


juga merasa tak enak dengan Yudha yang begitu baik.


Tiba -tiba seorang wanita muda yang cantik menghampiri mereka berdua, Tita merasa kaget melihat kedatangan wanita tersebut.


"Oh ya? kenalkan ini istri saya. Popy," ucap Yudha seraya memegang pundak wanita cantik itu.


Wanita itupun tersenyum pada Tita sambil memperkenalkan diri.


"Popy," jawab si wanita dengan lembut.

__ADS_1


"Tita," jawab Tita begitu terpesona melihat penampilan wanita yang begitu cantik, dengan perhiasan brendit menghiasi tubuhnya, dari mulai tas, sepatu juga baju yang dikenakannya semuanya mewah dan bermerek.


"Ini lho mah? yang papah ceritain tempo hari ke mamah," ucap Yudha pada Popy istrinya.


Rupanya Yudha menceritakan kejadian sewaktu ia menolong Tita, pada Popy istrinya.


"Ohhhhh...." guman Popy tersenyum ramah.


Popy mendekati Tita yang tengah berdiri kaku memperhatikan istri Yudha yang begitu cantik, jelas sekali wanita itu sungguh terawat dengan baik, tidak seperti dirinya yang terlihat lusuh dan kurus.


Tangan Popy kemudian menyentuh perut Tita dan mengelusnya dengan lembut.


"Berapa bulan?" sahut Popy yang terus mengelus perut Tita.


"Enam bulan," jawab Tita yang mulai risih.


"Kamu pasti mau beli perlengkapan bayi, ya?" tanya Popy dengan wajah ramah.


Popy menarik tangan Tita dan menyuruhnya memilih semua perlengkapan bayi sebanyak yang Tita inginkan.


"Ayo? pilih saja yang kamu suka, biar saya yang bayar," ucap Popy yang bersemangat memilihkan baju bayi yang terlihat lucu seakan dia saja yang mau melahirkan.


Tentu saja Tita begitu kaget sekaligus senang mendengar tawaran Popy, Tita merasa aneh melihat tingkah Popy yang begitu bersemangat memilih semua perlengkapan bayi yang dilihatnya.


Yudha hanya diam dan merasa sedih melihat istrinya, setiap melihat baju bayi, Popy selalu tak bisa mengontrol diri.


"Ti, maaf ya? istri saya memang begitu," ucap Yudha.


"Memangnya masnya belum punya anak?" sahut Tita penasaran.


Begitu banyak Popy memborong baju dan semua perlengkapan bayi, membuat Tita dan Yudha terheran -heran.


"Mah! udah mah, udah cukup!" tegur Yudha berusaha menenangkan Popy yang mulai lupa diri.


Popypun memeluk Yudha sambil menangis.


"Pah? kapan kita punya anak," bisik Popy dengan penuh harap.


Yudhapun dengan erat memeluk istrinya mencoba menguatkan hati istrinya, yang sekian lama mendambakan seorang bayi munggil hadir di kehidupannya.


Melihat pemandangan yang mengharukan di depannya, Tita begitu simpati dengan keadaan Popy, ternyata pasangan suami istri itu belum dikarunia seorang anak.


Begitu banyak Popy membelikan semua keperluan untuk bayinya kelak, Tita tak menyangka, niatnya hanya membeli secukupnya saja, tapi yang terjadi sungguh di luar dugaannya.


"Ayo, saya antar pulang," sahut Popy membuyarkan lamunan Tita.


"Eh_ iya," sahut Tita yang masih tak percaya apa yang dialaminya.


Bukannya berterima kasih pada Popy yang telah membelikan semua keperluan bayinya, Tita malah bengong dan binggung, Tita masih tak percaya dengan semua yang di alaminya.


Yudha begitu sibuk memasukkan satu persatu barang yang baru saja di beli istrinya untuk Tita.


Mobilnya kini penuh dengan berbagai kantong belanjaan.


Merekapun mengantar Tita sampai rumah.


Tita yang sedari tadi kaku tak bersuara, tetap saja masih tak percaya, kok ada ya? suami istri sebaik itu, Karena keasyikan melamun Tita sampai lupa mengucapkan terima kasih, iapun meraih tangan Popy dan menciumnya sambil menangis dan berterima kasih pada Popy yang begitu baik, meskipun ia baru mengenalnya.

__ADS_1


Popy yang merasa terharu akhirnya memeluk Tita dan memintanya mendoakan dirinya agar bisa cepat hamil seperti Tita.


"Kamu kalau ada apa-apa, hubungi saja saya ya," ucap Popy dengan lembut sambil memegang pipi Tita.


Tentu saja Tita begitu terharu mendengar perkataan Popy dan memeluk Popy dengan erat sambil menangis.


Disaat hidupnya penuh penderitaan, tuhan mempertemukan Tita dengan pasangan suami istri yang begitu baik.


"Oh ya? dimana suamimu?" tanya Popy.


"Kerja bu," jawab Tita singkat.


Tita bergegas ke dapur untuk membuat teh hangat untuk kedua pasangan itu, tapi Popy menghentikannya.


"Udah, gak usah repot, kami mau pulang kok," sahut Popy.


Merekapun pamit pulang, Tita mengantar sampai depan rumahnya, ia merasa sangat beruntung hari itu.


Tita kembali ke dalam rumah dan mulai membereskan belanjaannya yang begitu banyak, lengkap sudah perlengkapan bayinya sekarang, iapun merasa lega, rejeki memang datang tak di duga-duga, begitu banyak berkah yang Tuhan berikan padanya disaat ia mengalami penderitaan,Tuhan mengirimkan seseorang yang membantunya meringankan bebannya.


Tita bersujud dan bersyukur, dengan segala anugrah yang telah Tuhan berikan.


Dengan wajah yang kegirangan Tita membereskan satu-satu pakaian bayi, dari sepatu, parnel, bedak dan kayu putihpun komplit di belikan Popy, juga kereta bayi.


Untuk sejenak Tita teringat Adi, suaminya pasti akan heran melihat Tita bagitu banyak berbelanja, ia tak akan pernah menceritakan pertemuannya dengan suami istri yang baik itu.


Tita tidak kehilangan akal, dilepasnya kalung yang ia pakai, untuk memberi alasan pada Adi, bahwa ia telah menjual kalungnya untuk membeli kebutuhan bayinya.


Titapun menyembunyikan kalungnya di bawah pakaiannya dengan rapih, agar tak diketahui oleh suaminya.


Menjelang sore Adi tiba di rumahnya, hari ini tak seperti biasanya, Adi pulang tepat waktu.


"Yank" teriak Adi memanggil Tita.


"Tumben, pulang sore."


"Kamu ini! suami datang bukannya disambut, malah banyak tanya! sana! Ambil minum, saya haus."


Tapi mata Adi dikejutkan dengan sebuah kereta bayi yang ada di samping kursi yang didudukinya.


Dengan cepat Tita mendekati kereta bayi, dan dengan cepat mencopot bandrol yang tertera di kereta itu dengan hati-hati, agar tak dilihat oleh Adi.


"Waduhh! yank, kamu habis belanja ya?" tegur Adi sambil memegang kereta bayi yang terlihat mahal.


"Iya," jawab Tita gugup.


"Kamu jual kalung ya?" tanya Adi yang mulai penasaran.


"Mm--iya," jawab Tita gelagapan kerena ia merasa telah membohongi suaminya.


"Kami tuh jangan boros!" teriak Adi yang terlihat kesal pada Tita.


"Coba kamu pikir! ngapain kamu beli kaya gini! inikan mahal!" bentak Adi yang kecewa pada Tita yang menurutnya boros.


"Cobalah beli yang penting dahulu, parnel misalnya, kan lebih ekonomis!" tegur Adi mulai pasang urat.


Titapun menunjukkan belanjaannya yang begitu banyak pada Adi, tentu saja Adi begitu kaget melihat belanjaan Tita yang seabreg, Adi tak habis pikir bagaimana Tita bisa belanja begitu banyak, Bukankah ia telah mengurangi jatah belanjanya? Adi dibuat pusing dengan tingkah istrinya yang menurutnya pasti gajihnya telah habis oleh Tita.

__ADS_1


__ADS_2