
Sore itu Denis membawa Arini untuk check up ke dokter.
Karna dokter langganan mereka sedang berhalangan, terpaksa mereka di layani dokter lain.
"Janinnya sehat, kondisi ibunya juga baik..
Anak ke berapa ya Bu?" tanya dokter itu sambil melihat berkas di depannya.
Arini terlihat ragu menjawabnya.
"Anak kedua, Dok." Denis menjawab dengan bangga.
Arini memandang Denis dengan kagum.
Denis hanya mengerlingkan matanya.
Mereka sangat berbahagia saat melihat perkembangan si janin sangat bagus.
"Kau harus janji akan menjaga diri dan kandunganmu lebih baik lagi." pesan Denis saat mereka keluar dari ruang Dokter.
Arini hanya tersenyum mengangguk.
Ilham yang kebetulan berada di tempat itu
V juga sempat melihat mereka.
Perasaan iri terbersit di hatinya saat melihat kebahagiaan Denis dan Arini.
Rasa tidak rela kembali menyergapnya.
Dengan langkah pelan ia mendekati pasangan itu.
"Kalian disini?" tegurnya sambil tersenyum manis.
Denis menghela nafas berat. Ia menyesali kenapa harus muncul di depannya wajah yang akhir-akhir ini membuatnya gelisah.
Arini menyadari keadaan yang tidak mengenakkan itu.
"Kami sedang ada urusan, kau sendiri?"
"Aku sedang mengurus kepulangan ibu, aku ingin merawatnya dari rumah Saja."
"Owh begitu.." kata Arini sambil mengangguk angguk.
"Tapi Kalau kau mau menjenguknya barangkali akan sedikit menghiburnya." ucap Ilham lagi.
Denis menggerutu dalam hati.
"Kenapa ada orang yang bermula tembok seperti dia?" pikirnya.
"Lain kali barangkali, Mas.." jawab Arini.
"Owh ya, sudah kalau begitu." kata Ilham salah tingkah.
"Aku tunggu di mobil.." kata Denis, lalu melangkah mendahului Arini keluar dari tempat itu.
"Maaf mas Ilham, aku tidak bisa terlalu ikut campur urusan keluargamu lagi. Aku sudah punya keluarga sendiri." Arini meninggalkan Ilham yang masih bengong sendirian.
"Sudah selesai?" tanya Denis dari belakang setir.
Arini hanya mengangguk. Ia tau saat ini suasana hati Denis sedang tidak enak.
Ia membiarkan Denis menenangkan pikirannya dulu, di jelaskan pun saat ini tidak akan ada artinya.
Sampai dirumah, mereka mendapati Bu Zah sedang menangis tersedu.
"Kenapa Bu Dhe?" tanya Arini khawatir.
"Nilam, Rin. Dia datang kesini mengatakan kalau Pras jatuh sakit. Selain itu, dia juga meminta warisan bagian Pras. Ibu harus bagaimana? Rumah sudah melayang gara-gara mereka?"
Bu Zah tersedu.
"Memang Mbak Nilam tidak punya perasaan, ya? Seenaknya saja dia masuk rumahku dan memaksa Bu Dhe.." ujar Denis geram.
"Jangan di ladenin, Bu Dhe. Biarkan saja!" kata Pras emosi.
"Tapi bagaiman dengan Mas, mu? dia sedang sakit disana, mana istrinya tidak perduli lagi padanya." mata Bu Zah berkaca-kaca.
__ADS_1
"Besok kita jenguk mas Pras.. " Arini menghibur.
"Tenanglah, Bu Dhe. Kita akan upayakan mas Pras bebas bersyarat, paling tidak hukumannya bisa di peringan."
"Terima kasih, Lang.. Kau masih perduli pada mas Pras."
"Bagaimanapun, dia adalah mas, ku. Kami tumbuh bersama. Aku tidak akan tega membiarkannya Bu Dhe, hanya saja aku tidak mau di ketahui oleh mbak Nilam kalau diam-diam aku sudah menyewa pengacara yang berpengalaman membelanya di persidangan."
Bu Zah bisa sedikit tenang.
Di kamarnya, Denis masih terlihat cuek pada Arini.
Ia sengaja menyibukkan diri dengan laptop di pangkuannya.
Ia bahkan tidak menoleh saat Arini membawakan segelas susu hangat untuknya.
Arini sengaja duduk di dekat Denis. ia menatap wajah Denis yang terlihat datar saja.
"Masih marah..?"
Denis menggeleng.
"Lalu kenapa diam saja?"
"Aku harus bicara apa?" sergah Denis. Namun matanya tetap fokus pada layar di depannya.
"Tentang mas Ilham?" tebak Arini.
Melihat Denis tidak bereaksi. Arini menahan tangan Denis, ia menutup laptop dan menaruh ya di meja.
Denis hendak protes. Tapi Arini segera berkata,
"Kalau ada masalah, selesaikan dulu. Jangan di biarkan berlarut-larut."
"Tidak ada, Rin." elak Denis.
"Bohong!" kilah Arini.
"Aku hanya merasa tidak nyaman saja setiap melihat kau berinteraksi dengan Ilham. Lihat matanya, seperti hendak menelan saja." ucap Denis mencebik.
"Bulan cemburu, tapi.." Denis menghentikan kata-katanya.
"Itu namanya cemburu."
"Terserahlah Apa tanggapanmu." Denis membalik badannya dan tidur membelakangi Arini.
Arini sengaja memeluknya dari belakang.
"Perasaan yang kau rasakan tidak salah, tapi kalau kau tidak percaya cintamu sendiri bagaimana kau bisa percaya cinta orang lain, kau akan tersiksa sepanjang hidupmu."
"Aku hanya bisa bilang, aku percaya pada cintaku padamu, aku harap kau jug begitu.
Ilham adalah masa laluku, kau adalah masa kini dan masa depanku.' bisik Arini pelan di telinga Denis.
Setelah itu dia pun berbaring dan tidak berkata lagi.
Sampai tengah malam Denis tidak bisa memejamkan mata.
Ia merenungi perkataan Arini.
"Arini benar, kalau aku sibuk dengan ketakutan ku sendiri, aku akan kehilangan cintaku, aku akan di hantui rasa takut seumur hidupku." bathin Denis.
Ia memeluk Arini dari belakang.
"Maafkan atas ke keegoisanku, Rin.."
Pagi harinya, Ilham menelpon Arini bahwa ibunya kumat lagi.
"Mas Ilham tidak salah menelpon ku?" kata Arini, ia merasa tidak enak dengan Denis dan Bu Zah yang memandangnya.
"Maaf, aku panik.. Aku tidak tau harus minta tolong pada siapa lagi. Aku mengambil nomer mu dari Siska." jawab Ilham dari ujung sambungan.
"Aju tidak bisa..." jawab Arini dengan berat hati.
Denis mengambil alih ponsel Arini.
"Arini tidak bisa menolong mu, tapi aku bisa." kata Denis membuat Ilham kaget.
__ADS_1
"Iya terimakasih.." Ilham menutup telponnya dengan cepat.
"Kenapa?" Arini terlihat' penasaran.
"Dasar pria tidak punya sopan santun, main tutup gitu saja." omel Denis.
"Kau tidak usah kesana, biar aku saja yang menolong mereka."
Kata Denis yang di jawab anggukan oleh istrinya.
Pagi harinya, Arini beraktivitas seperti biasa
di butiknya. ia sedang memeriksa pekerjaan karyawannya.
Ia tak menyadari saat dua orang bertopeng datang dan membekapnya. dia orang itu membawanya ke mobil.
Arini meronta-ronta tidak berdaya.
Seorang karyawannya langsung menelpon kerumah dan kebetulan Bu Zah yang menerimanya.
Denis menyetir dengan perasaan gelisah.
Ia sampai di butik sepuluh menit kemudian.
Setelah mendapatkan ciri-ciri orang yang menculik istrinya. Dia terus berusaha menghubungi Arini.
Dengan melacak keberadaan ponselnya, Denis akhirnya bisa mengetahui kemana para penculik yang membawa Arini.
Denis mengendap masuk rumah kosong di mana Arini di sekap.
Dengan mata yang tertutup dan tangan yang di ikat,Arini masih bisa mendengarkan obrolan para penculiknya.
"Semua beres Bu.." mereka melapor pada seseorang. Arini terus menyimak percakapan itu.
"Mudahan Denis cepat mengetahui keberadaan ku." bathin Arini.
Denis menyelinap masuk saat dua orang itu lengah.
Namun belum sampai mereka keluar dari tempat itu, mereka kepergok si brewok.
"Kalian mau kemana?" ucapnya terkekeh
Ia segera memanggil temannya,.
"Siapa kalian sebenarnya, siapa yang menyuruh kalian?"
Denis dan dua orang pria itu segera terlibat perkelahian hebat.
Seorang dari mereka mendekati Arini
Denis yang melihatnya menjadi murka.
"Jangan coba sentuh dia sedikit saja!" ucap Denis emosi.
"Ternyata kalian saling mencintai, ya?"
Denis di pukul di belakang tepat di bagian tengkuknya.
Arini menjerit minta ampun atas Denis namun para pria itu tidak perduli.
Arini di kurung dalam sebuah kamar pengap.
Denis tergeletak di tanah tidak bergerak lagi. Arini menyaksikan bagaimana suaminya itu di siksa di depan matanya.
"Denis bangun!"
"Tolong aku, kau harus bangun, selamatkan anakmu!" Arini berteriak
Mendengar kata anak, Denis tersadar. Dengan wajah memar dia berusaha berdiri dengan susah payah.
Di saat yang tepat itu, Ilham datang untuk membantu.
Ia menggenggam tangan Denis.
Kini posisi mereka seimbang.
Denis dan Ilham bekerjasama melawan para penculik Arini.
__ADS_1