Air Mata Seorang Istri

Air Mata Seorang Istri
Bab 70


__ADS_3

Hari pernikahan Denis Arini tinggal dua hari lagi.


Denis maupun Arini sepakat melangsungkan acaranya secara sederhana saja.


"Yang penting, kan sah nya." ucap Denis yang di iyakan oleh Arini.


Putra sulung Bu Zah yang bernama Prasetyo juga datang bersama istri dan anaknya.


Bu Zah terlihat bersuka cita menyambut kedatangan anak dan cucunya.


"Kalau tidak karena acara Elang seperti ini kalian pasti tidak mau pulang.." rajuk Bu Zah dengan air mata.


"Bukan begitu, Bu... kami sangat sibuk sehingga susah mencari waktu untuk pulang. Yang penting kita selalu berkirim kabar, iya kan?"


Pras memeluk ibunya.


"Oh, ya.. ibu sampai lupa mengenalkan calon istri Elang. Arini, ini putra sulung ibu, yang namanya Pras."


"Selamat datang Mas..!" ucap Arini sopan.


"Waah, kau memang seperti yang selalu ibu ceritakan di telpon. Beruntung sekali kamu, Lang mendapatkan istri seperti Arini."


Pras merangkul adik sepupunya, Elang.


"Terimakasih sudah mau datang menghadiri acara pernikahanku." bisik Denis.


"Ini Nilam istrinya Pras, dan ini Nathan putranya." imbuh Bu Zah.


Arini menangkupkan kedua tangannya ke arah Nilam sambil tersenyum.


"Benar, aku sempat berpikir kalau adik ku ini tidak suka perempuan lho Rin. tapi Alhamdulillah berkat dirimu, dia bisa mematahkan anggapan itu." goda Pras sambil memandang Denis.


Denis menyikut lengan kakak nya dengan gemas.


"Tapi sekalinya dapat yang baik dalam segalanya, kan?" jawab Denis bangga.


Semua tertawa dalam kegembiraan kecuali Nilam yang terlihat enggan.


Arini dapat menangkap suasana itu namun ia mengabaikannya.


Bu Zah tak berhenti tersenyum bahagia.


Shofia datang dengan berlari kecil.


"Mbak Nilaaam..!" serunya sambil merangkul Nilam.


Mereka berpelukan erat. Memang terlihat kalau mereka sangatlah dekat.


"Kau sudah tambah besar dan cantik lho sekarang." puji Nilam.


Raut wajahnya yang semula kesal berubah ceria.


"Mbak bisa aja.." jawabnya tersipu.


"Bagaimana kabarmu, Shofia? sepertinya kau akan patah hati berkepanjangan karena Mas Elang mu di ambil orang." gurau Pras menggoda Shofia. Pras samasekali tidak tau ketegangan yang terjadi di antara Arini dan Shofia.


"Benar kata mas Pras, tapi seribu jalan menuju Roma, kan Mas.. pepatah itu selalu aku pegang." jawab Shofia santai.


Arini paham dengan jawaban Shofia itu, tapi ia tidak menanggapinya.


Denis hanya tersenyum kecil. dia tidak mengerti maksud dari ucapan Shofia itu.

__ADS_1


"Ya, sudah, kalian lanjutkan ngobrolnya. saya akan menyiapkan makan siang." ucap Arini sopan.


Bu Zah mengangguk.


Arini menyibuk kan diri di dapur. Sementara waktu ia bisa lupa dengan perkataan Shofia.


Saat tengah sibuk memasak, tiba-tiba Denis merangkul pinggangnya dari belakang.


Arini yang kaget langsung menoleh.


"Denis, nanti di lihat orang." sergahnya malu.


"Memangnya apa yang kita lakukan? aku hanya ingin membantumu saja." jawabnya berkilah.


"Iya, tidak apa-apa kalau orang yangelihat kita tidak ada masalah dengan kita, tapi..."


Arini kembali terbayang ucapan Shofia dan kesan yang kurang baik dari Nilam.


"Tapi kenapa? ada yang mengganggu pikiranmu?" selidik Denis khawatir.


Arini menggeleng.


Ia tidak mau mengganggu kegembiraan keluarga Bu Zah gara-gara masalahnya dengan Shofia.


"Tidak ada, tunggu di depan bersama yang lain!"


Denis tidak mau melepaskan rangkulannya.


Nilam dan Shofia masuk kedapur dan terhenyak menyaksikan adegan itu.


"Ehem..!" Nilam berdehem hingga membuat Denis melepaskan rangkulannya dari pinggang Arini.


Wanita itu tidak menjawab Denis.


"Kalian tunggu di depan sana, tugas memasak biar aku yang kerjakan. ini tugas menantu, Arini, kan belum resmi jadi menantu dirumah ini." ucapnya dengan sedikit senyum.


"Tapi Arini sudah biasa di sini kok, Mbak." jawab Denis.


"Tetap saja, biarkan menantu resmi yang akan asuk dapur ini." Nilam berkeras.


"Kalau begitu, biarkan aku belum menjadi menantu di sini, tapi kalau sebagai seorang anak perempuan boleh, kan Mbak?" tanya Arini lembut.


Denis mengangguk setuju.


Saat itu Bu Zah datang menyusul.


"Eeh, pada ngerumpi disini, Ibu sendirian di depan."


"Ini, Budhe, mbak Nilam minta kalau mbak Arini untuk keluar dapur, karna menantu resmi yang akan memasak. tapi mbak Arini tidak mau, dia bilang kalau tidak sebagai menantu, dia bisa membantu masak sebagai seorang anak perempuan." jelas Shofia panjang lebar.


"Oalaah, ribet banget, sih. Nilam menantu pertama, dan Arini juga akan menjadi menantu di sini. Kalau menurut Nilam dia belum boleh masuk dapur gara-gara itu.


Benar kata Arini, dia sudah ibu anggap anak perempuan ibu selama ini. Jadi, kalian bisa saling membantu, kan?" terang Bu Zah lembut.


Nilam mengangguk terpaksa.


Sepanjang acara memasak itu, Arini berusaha mendekati Nilam, ia beranggapan tak kenal maka tak sayang. mungkin dengan mengenalnya lebih jauh, bisa mengambil hati perempuan cantik itu.


Namun Nilam hanya menjawabnya, dengan satu dua patah kata. Ia lebih banyak bicara pada Shofia yang juga ada disitu.


"Memang jaman sudah canggih dan maju, tapi masa adat dan tradisi juga tatakrama juga harus ikut tergeser oleh kemajuan jaman?" keluh Nilam sengaja menyindir Arini.

__ADS_1


"Banar sekali kata mbak Nilam. sekarang memang banyak orang yang bermula tebal. tidak perduli sindiran atau apapun." timpal Shofia.


"Contohnya seorang calon menantu belum boleh masuk dapur mertuanya, karna masih calon lho, pamali kata orang tua." Nilam dan Shofia terus mengoceh.


Arini meletakkan sayur yang sedang di irisnya.


Ia menghadap ke arah Nilam dengan sopan.


"Maaf kalau mbak Nilam merasa kurang nyaman dengan keadaan ini, tapi aku rasa masalahnya sudah jelas. Aku bisa berkeliaran di sini atas ijin Bu Zah sendiri, Beliau juga sudah menganggap aku sebagai anak perempuannya. jadi, menurut kalian mana yang lebih berhak disini, menantu atau anak perempuannya?"


Nilam dan Shofia terdiam.


"Lagi pula, daripada meributkan hak menantu dan anak perempuan, lebih etis kalau kita mempertanyakan orang yang bukan siapa-siapa di sini." Arini melirik Shofia.


Shofia melebarkan matanya. Ia tidak menyangka kalau Arini berani menjatuhkannya seperti itu.


Nilam melengos, kamu selesaikan saja sendiri, saya mau kedepan." ucapnya tak e nak hati.


"Itu lebih baik, mbak Nilam masih capek dalam perjalanan. iya, kan?"


ucap Arini setengah berteriak.


Shofia bergegas mengikuti Nilam.


Arini tersenyum dan melanjutkan pekerjaannya yang tertunda.


Tak berapa lama, Denis datang lagi kedapur.


"Kenapa kau sendiri? bukannya tadi bersama mbak Nilam dan Shofia?" tanyanya penuh selidik.


"Tidak apa-apa, ini juga sudah jadi, kok. Tinggal nyiapin aja." tukas Arini.


"Mbak Nilam bilang sesuatu padamu?" tanya Denis cemas.


Arini menatap mata Ilham. Ia menangkap ke khawatiran disana.


"Tidak, bahkan dia sangat ramah padaku " jawab Arini berbohong.


Arini tidak mau membebani Denis dengan masalah itu.


"Benar?"


"Benar.." jawab Arini meyakinkan.


"Aku hanya khawatir, karna mbak Nilam orangnya blak-blakan kalau tidak suka pada seseorang." gumam Denis pelan.


"Tidak usah khawatir kan, itu." kata Arini.


Denis tersenyum manis.


"Aku takut kau merasa tidak nyaman atau menderita gara-gara aku atau keluargaku. Cukup sudah penderitaan mu selama ini Arini." ucap Denis dengan mata berkaca.


"Heh kok jadi melow begitu, katanya mau bantuin." Arini mengusap air mata Denis.


Setelah itu Denis berlalu.


Arini memandangi punggung pria itu.


"Aku juga tidak ingin melihatmu bersedih gara-gara aku, Den. Andai aku bisa bicara tentang Shofia saat ini, aku ingin mengingatkanmu agar kau hati-hati padanya, dia ular yang sangat licin."


Denis menoleh dari kejauhan, dan tersenyum padanya.

__ADS_1


__ADS_2