
Karna kejadian itu, Bu Lastri menanggung malu yang teramat sangat karena Anita.
"Baru kali ini aku di permalukan seperti ini, lain kali jangan berlagak sok banyak uang!"
ia terus mengomel pada menantunya.
Anita hanya terdiam. ia merasa tertampar oleh penghinaan Arini.
Sampai di rumah, pun mereka masih menggerutu.
Siska yang sedang duduk di ruang tamu tertawa melihat wajah mereka.
"Pergi senang-senang kok pulangnya pada manyun begitu?" sapanya sambil tersenyum.
"Iya nih, ini semua karna Arini!" ucap Bu Lastri kesal.
"Arini?"
"Yaa, dia sudah seperti hantu buatku, dia bisa muncul di mana-mana. Tidak bisa melihatku sedikit saja merasa nyaman." ia terus mengomel.
"Dia akan terus mengikuti mu, bu. haaaa!" Siska menakuti ibunya sambil cekikikan.
Anita merasa tertekan karna Bu Lastri terus memojokkannya tentang tabungan yang pernah dia bilang.
"Aku harus tunjukkan pada mertua yang tamak ini, bahwa aku memang banyak uang.
tapi bagaimana caranya?" bathin Anita.
"Mulai besok, aku akan mulai bekerja lagi.
Ibu sanggup, kan menjaga Cila?"
Bu Lastri terdiam.
"Sewa suster saja, kau tau kalau encok ku sering kumat." tukas Bu Lastri.
"Kalau sewa suster jatah untuk yang lainnya akan berkurang, mau?" ancam Anita.
"Terserah kau sajalah." ucapnya pasrah.
Anita memutuskan kembali bekerja seperti dulu. Ia tidak mungkin mengharapkan jatah lebih dari Ilham saat ini.
"Aku mau kerja Lagi Mas, mengharap nafkah darimu saja tidak cukup!" ucap Anita pada Ilham. suatu malam.
"Yakin mau meninggalkan Cila bekerja? dia masih kecil."
"Terpaksa, kalau aku tidak bekerja apa kau bisa memenuhi semua kebutuhan kami?"
"Kalau kebutuhan yang sewajarnya mungkin aku bisa, tapi gaya hidup mu yang berlebihan tentu saja aku belum mampu."
"Makanya, semangat dong jadi kepala rumah tangga!" sindir Anita.
Hari itu Anita menghubungi temannya yang dulu sama-sama bekerja di perusahaan asuransi. ia bermaksud minta pada temannya untuk membantunya masuk kembali.
"Kau yakin mau kembali kesana? gajinya kecil, sedang kebutuhan kita semakin hari semakin membludak."
"Tidak ada pilihan lain, aku terpaksa, suamiku tidak mampu mencukupi kebutuhan kami."
"Aku punya tawaran buatmu, Nit."
Temannya membisikkan sesuatu ke telinga Anita.
"Ah, aku tidak mau!" jawabnya cepat.
"Terserah, kalau menurut aku, hanya itu cara cepat mendapat uang yang kau butuhkan."
__ADS_1
Anita terlihat berpikir. apakah benar hanya itu cara satu-satunya? nuraninya menolak, namun kondisinya mendesak.
Anita memang tergiur dengan penampilan temannya saat ini.
Tas branded yang di pakainya membuat atasnya tak berhenti melotot.
"Kau kagum dengan tas ku ini, kan? ini bisa ku beli hanya dengan menjalani yang aku tawarkan tadi, bagaimana?"
"Akhirnya kesepakatan terjadi. mereka berpisah dengan seribu harapan di benak Anita.
***
"Ibu ingin kalian segera meresmikan hubungan kalian." ucap Bu Zah suatu malam saat sedang duduk- duduk bersama Arini dan Denis.
Pipi Arini merona karenanya.
"Apalagi yang kalian tunggu, ibu ingin melihat kalian bahagia." imbuh Bu Zah.
"Elang sih, gimana Arini saja Budhe.. " jawab Denis.
"Kamu, Rin? kamu bersedia, kan?"
"Ibu atur saja gimana baiknya." ucap Arini malu-malu.
Denis tersenyum lega. Ia pandangi wajah Arini yang terlihat malu-malu.
Arini sudah banyak berubah, Arini yang dulu dekil tidak terawat, kini menjelma menjadi wanita cantik nan anggun. Seiring waktu Arini menyadari bahwa merawat diri itu penting, dan menghargai diri sendiri itu lebih penting. Ia sangat bersyukur bertemu Denis yang selalu mengajarkan agar menghargai diri sendiri sebelum menghargai orang lain.
Itu lah yang ia lakukan sekarang. Dan lihatlah sekarang, dengan menghargai dirinya sendiri tanpa merendahkan orang lain Arini merasakan hidupnya lebih tenang.
Walau terkadang ada sandungan batu kerikil yang menghadang langkahnya itu tidak lagi menjadi beban buatnya.
"Mau bertunangan dulu atau langsung menikah saja?" tanya Bu Zah lagi.
"Langsung saja Budhe" jawab Denis cepat.
"Rupanya Elang yang sudah tidak sabaran lagi." gumam Bu Zah.
Denis jadi salah tingkah.
"Ya, sudah. Kalian pikirkan dulu gimana baiknya."
Denis dan Arini mohon diri untuk pulang kerumah masing-masing.
"Jangan dulu menginap di tempat Arini.." bisik Bu Zah di telinga Denis.
"Budhe ada- ada saja." Denis tersipu oleh candaan Budhenya itu.
Angin dingin terasa menusuk tulang. jaket yang di pakainya tidak bisa menahan dinginnya.
Denis sengaja melajukan motornya dengan pelan
Ia ingin menikmati suasana yang begitu syahdu.
Karna rasa dingin yang tidak tertahankan lagi, Arini memberanikan diri memeluk pinggang Denis.
Denis merasa senang sekaligus gugup.
"Rin, kau bahagia denganku?" tanya Denis sambil memegang tangan Arini yang melingkar di pinggangnya.
"Kenapa bertanya begitu? apakah aku seperti orang yang tidak bahagia?"
Arini balas bertanya.
Denis menggenggam tangan Arini semakin kuat.
__ADS_1
"Besok aku ingin ke makan anak ku, kau bisa mengantarku?"
"Tentu saja bisa, jam berapa?"
"Agak Sorean sedikit."
Esoknya sesuai rencana, Arini dan Denis sudah di makam.
Arini mengusap nisan yang bertuliskan
'Ardi Erlangga bin Denis Erlangga'
Di saat mereka sedang menaburkan bunga,
Ilham datang dengan membawa setangkai bunga.
Ia belum menyadari keberadaan Denis dan Arini.
"Terima kasih telah mengijinkan namamu ada di belakang nama putraku." kata Arini sendu.
Denis menyentuh pundak Arini.
"Jangan berkata begitu, bukan kah aku ayahnya juga?"
Arini mengangguk dengan linangan air mata.
Percakapan itu sempat di dengar oleh Ilham yang bersembunyi di balik perdu.
Saat melihat Denis dan Arini , dengan cepat ia bersembunyi di balik rimbunnya pohon perdu disana.
Hatinya kembali teriris mengetahui kenyataan bahwa anak itu benar anak kandungnya.
Karna tak tahan menahan gejolak di dadanya, Ilham keluar dan memaki Arini.
"Kalian keterlaluan! kalian sengaja menyembunyikan identitas anakku.
Ini lagi, kenapa namanya harus ada nama Denis di belakangnya? ayahnya kandungnya masih hidup, dasar picik. untuk memuluskan perselingkuhan kalian, kau rubah status anak ku menjadi anak Denis, Cih!"
Ilham berdecih dengan geram.
Kali ini ia merasa punya alasan yang kuat untuk menjatuhkan Arini dan Denis.
Selain ia memang sakit hati karena status anaknya.
"Jaga bicaramu!" Denis bangkit dan hendak membalas Ilham.
Namun Arini menahan tangannya.
"Kalau kita ladeni orang tidak waras ini, apa bedanya kita dengan merek?" ujar Arini.
"Yang tidak punya malu adalah kau! kenapa kau begitu yakin kalau dia anakmu? anak yang terbaring disini ini adalah anakku dan Denis. Denis yang selalu ada saat jadwal rutin periksa kedokter.
Denis juga yang menemaniku saat kakiku bengkak karna kehamilanku. kau bisa baca nisan ini, kan Mas? disitu tertulis jelas, Ardi Erlangga bin Denis Erlangga.
"Aku tau, Rin. aku salah tidak mengakuinya sebagai anakku, darah dagingku. Tapi kau tidak usah mengelak lagi, aku mendengar semua percakapan kalian tadi."
"Jadi profesimu sudah bertambah lagi, ya. sekarang, jadi tukang menguping pembicaraan orang?"
"Aku tidak perduli apa tanggapanmu, aku hanya mau nama Denis di hapus dari belakang nama anak ku!" seru Ilham kekeh.
"Kau tidak merasa malu? dulu saat disuruh memilih oleh dokter, kau memilih Arini.
Jadi, anakmu sudah mati saat itu. Yang ada hanyalah putraku!" jawab Denis dengan mantap.
Ilham bersimpuh di kaki Arini.
__ADS_1
"Aku salah, aku sudah menerima karmanya, aku sudah menikah dan punya anak, tapi aku tidak bahagia. Tolong jangan ambil kebahagiaanku walau hanya dengan mengenangnya anakku.
Arini mengusap airmatanya, ia tidak mau terlihat lemah di depan Ilham.