
Selesai memasak bik Acih kemudian melanjutkan pekerjaannya. Tepat jam sepuluh pagi bi Acih pamit pulang, begitulah kegiatan bik Acih setiap hari bekerja di tempat Yudha hanya sampai siang saja. Sudah hampir lima tahun bik Acih menjadi pelayan Yudha.
Tak ada kegiatan apapun yang Tita lakukan di sana, Ia hanya duduk termenung Rasa sepi mulai menderanya.
Masih teringat jelas dipikirannya perkataan bik Acih yang bercerita tentang keadaan rumah tangga Yudha sekilas pikiran Tita mulai dipenuhi pertanyaan, mungkinkah perlakuan Yudha selama ini hanya karena menginginkan seorang bayi? atau memang Yudha tulus menolongnya tanpa ada sesuatu nantinya.
Tak lama terdengar suara ketukan pintu yang membuyarkan lamunannya. Titapun beranjak berlari ke arah pintu dan membukanya Ternyata Yudha yang datang,
ditangan nya terlihat membawa kantong kecil, kemudian Yudha memberinya pada Tita.
"Tadi saya lihat tukang rujak di depan! makanlah," sahut Yudha.
Tita hanya diam mengangguk setiap Yudha pulang pasti ada saja yang dibawanya, membuat Tita jadi risih dan merasa tak enak. Begitu perhatian Yudha padanya.
"Ayo makan! kok malah diliatin gitu!"
"E....iya, mas."
Titapun menyantap rujak yang dibawa Yudha walaupun sebenarnya Tita masih kenyang karena baru saja ia makan yang tadi di masak bi Acih.
"Shuhhh.... ahh...pedes mas."
"Kenapa kepedesan ya?"
Melihat Tita yang bibirnya terlihat merah karena rujak yang dimakannya. Yudhapun dengan sigap mengambilkan air minum dan meminumkannya pada Tita.
"Masih pedas? sebentar saya ambil madu."
"Udah mas, biarin saya aja."
Diambilnya madu di kulkas dengan jari tangannya. Yudha mencolek sedikit madu di botol kemudian jari tangan Yudha di masukkan ke bibir Tita.
"Ayo! kemot aja jari saya," biar pedesnya cepat hilang!"
Karena kepedasan Tita terpaksa menghisap jari Yudha, dipegangnya tangan Yudha sambil mengemot jari telunjuk Yudha.
Untuk sesaat mata mereka saling beradu pandang mulut Tita yang terasa terbakar, membuat Tita terpaksa mengisap jari telunjuk Yudha. Rasa pedas di bibirnya sudah mulai berkurang, tatapan mata Yudha begitu menyentuh hati nurani Tita, jiwanya yang lemah untuk sesaat terlena dengan kenyamanan yang selalu Yudha berikan lelaki yang dihadapannya begitu baik tak kuasa ia menahan semuanya, jantungnya bergetar hebat. Wanita mana yang bisa mengendalikan emosi jiwanya mendapati perhatian dari seorang lelaki yang penuh pengertian seperti Yudha.
Yudhapun perlahan melepaskan jarinya dari mulut Tita.
__ADS_1
"Gimana!" Masih kepedasan gak?"
"Ehh...udah mas," ucap Tita sambil mengusap - ngusap bibirnya.
Tita jadi kikuk berhadapan dengan Yudha yang terus saja menghawatirkan dirinya Lagian ngapain Yudha membelikannya rujak yang begitu pedas. Dari dulu makanan pedas adalah musuh terbesarnya.
Sebaliknya Yudha tak mengerti mengapa wanita ini selalu membuatnya tak tenang. Ada saja kelakuan Tita yang membuatnya khawatir, melihat pisik Tita yang kurus apalagi keadaannya yang tengah berbadan dua. Membuat Yudha selalu cemas jika harus meninggalkan Tita sendirian di Villanya. Bukan tanpa alasan Yudha membawa Tita ke Villa, jika ia membawanya ke rumah akan banyak pertanyaan yang dilontarkan ibunya padanya, sejak ayahnya wafat Yudha memboyong ibunya untuk tinggal bersamanya. Itulah mengapa Yudha membawa Tita ke Villanya yang memang ditinggali untuk liburan saja bersama istrinya Popy.
Kejadian yang baru saja dialami Yudha membuat dirinya canggung, entah mengapa akhir-akhir ini perhatiannya pada Tita begitu tak biasa. Entah karena kesepian karna Popy sering meninggalkannya, atau karena hasratnya yang sekian lama mendambakan kehadiran seorang anak. Entahlah! yang jelas Yudha menyadari bahwa ia lelaki yang beristri begitu pula dengan Tita yang masih berstatus istri Adi.
"Mas, maaf ya...saya selalu repotin mas."
"Udah, gak apa-apa kok! lagian saya gak tau kalau kamu gak suka pedas."
"Udah, kamu istirahat aja, nanti jam satu saya balik lagi ke kantor."
Keduanya terlihat salah tingkah Tita kembali masuk kamar, sementara Yudha membuka jas hitamnya. Kini hanya tinggal kemeja putih membalut di tubuhnya yang tegap, sepatu hitamnya ia lempar ke sembarang arah. Yudhapun kemudian merebahkan tubuhnya di sofa. Tangannya melingkar menutupi dahinya rasa kantuk membuat Yudha tertidur lelap.
Tita yang masih gelisah setalah kejadian yang baru saja dialaminya, membuat ia enggan bila harus berhadapan lagi dengan Yudha. Kedatangan Popy sangat ia harapkan saat ini.
Jam menunjukan tepat jam satu siang Titapun keluar dari kamar. Tampak Yudha tengah tertidur nyenyak di sofa.
Tita kemudian mendekati Yudha.
"Mas....mas ..."
Tita berusaha membangunkan Yudha yang begitu nyenyak tapi Yudha tak kunjung bangun.Tita mulai bingung haruskah ia menyentuh Yudha? ah tidak! Tita gak mau jika tangannya harus menyentuh Yudha.
"Ehemmm!"
Tita mendehem sekencang mungkin agar Yudha terbangun.Tapi Yudha tetap saja tak bergerak, ia begitu lelapnya tertidur.
Dilihatnya sepatu hitam milik Yudha diambilnya sepatu Yudha dengan hati- hati kemudiaan Tita meletakkannya di bawah sofa tepat di bawah kaki Yudha.
Di tatapnya wajah Yudha yang begitu tampan bibir nan tipis, aroma tubuh Yudha yang wangi membuat Tita untuk sesaat lupa diri. Tita begitu mengagumi setiap lekuk tubuh Yudha yang sembada.
Ya alloh astagfirullah.Tita menyebut yang maha kuasa mengapa Tita begitu lancang mengagumi suami orang, pikiran kotor Tita kembali normal setelah ia beristigpar. Di usapnya wajahnya dengan kedua telapak tangannya, bagaimana mungkin dirinya begitu terlena dengan ciptaan yang kuasa yang bukan haknya.
"Tita!"
__ADS_1
Yudha terbangun, wajahnya Yudha begitu kaget melihat Tita berdiri kaku di hadapannya.
"Ehh....itu...mas...." bibir Tita gelagapan karena kaget melihat Yudha yang tiba-tiba terbangun.
"Udah jam satu mas."
"Mmm...." human Yudha yang masih terlihat ngantuk.
Tita kemudian mengambil jas yang ada di sofa dan tanpa Yudha menyuruhnya Tita memakaikannya pada Yudha, kemudian Tita merapihkannya. Melihat tindakan Tita , tentu saja Yudha sangat heran.
"Makasih ya," ucap Yudha yang heran sekaligus kaget melihat tindakan Tita.
Lagi-lagi Tita merasa kikuk dan salah tingkah apa yang terjadi dengan dirinya tanpa disadari ia begitu berani memakaikan jas pada Yudha. Padahal baru saja ia sesumbar tak kan lagi mau berhadapan dengan Yudha mengapa tindakannya tidak sesuai dengan hatinya?
"Hai! hello!" tegur Yudha sambil menjentikkan jarinya karena melihat Tita yang melongo menatap wajahnya.
"Eh ...ehhh ...maaf mas."
Tita begitu malu pada Yudha iapun membalikan badannya dan memunggungi Yudha.
Yudhapun hanya tersenyum. Perlahan tangan Yudha meraih tangan Tita, kemudian Tita kembali memutarkan badannya.Titapun memejamkan mata, agar wajah Yudha tak terlihat.
"Hahaha....."
Yudha tak kuat menahan tawa melihat tingkah Tita yang seperti anak kecil.
"Kenapa kamu?" kok matanya merem sih!"
Tita hanya menggeleng- gelengkan kepalanya mendengar pertanyaan Yudha.
Tentu saja Yudha semakin heran melihat tingkah Tita dan terus menertawakan Tita, melihat Yudha tertawa Titapun jadi ikut - ikutan tertawa, mereka berduapun saling menertawakan satu sama lain sambil berpegangan tangan.
Sekian lama kedua insan itu tak merasakan kebahagian. Tita yang sering disakiti suaminya sementara Yudha yang selalu kesepian karena Popy selalu sibuk dengan berbagai acara teman-temannya.
"Titaaaa .....Titaaaa ...."
Terdengar suara seorang perempuan yang sepertinya dari luar. Titapun berlari menghampiri suara yang memanggil - manggil namanya.
"Bu Popy!"
__ADS_1
Ternyata Popy yang datang.