Air Mata Seorang Istri

Air Mata Seorang Istri
Bab 75


__ADS_3

Sementara Ilham dan Anita terjebak dalam konflik yang tidak berkesudahan.


Arini dan Denis menjalani hari-hari dengan penuh kebahagiaan.


Mereka sudah tinggal di rumah Denis seutuhnya. Rumah yang dulunya hanya di kontrak olehnya kini sudah resmi mereka bayar.


Bu Zah sendiri tidak keberatan. Namun dengan syarat Denis dan Arini sering berkunjung kerumahnya.


Setiap malam Minggu, Denis dan Arini datang dan menginap di rumah Bu Zah.


Di sisi lain musibah menimpa pada Pras, ia terkena PHK dari kantornya.


Karna belum mendapatkan pekerjaan tetap maka istri dan anaknya ia titipkan di rumah ibunya.


Bu Zah merasa senang karena dia tidak sendirian lagi.


Namun yang memprihatinkan adalah Nilam jadi semakin lengket dengan Shofia.


"Seperti sore itu, Arini dan Denis datang ke tempat Bu Zah seperti biasa.


Bu Zah menyambutnya dengan gembira.


"Panjang umur, baru saja budhe omongin kalian nongol."


Nilam dan Shofia yang kebetulan sedang bergurau memilih diam.


Arini masuk bersama Bu Zah, tinggal Denis Nilam dan Shofia yang tinggal.


"Kau terlihat lemas, Lang, pasti gara-gara Arini, iya, kan?" tanya Nilam dengan nada tidak suka.


"Mbak Nilam benar banget." jawab Denis antusias.


" Jadi, sampai jam segini mbak Arini belum memberimu makan? dasar mbak Arini..!" omel Shofia sambil menghentakkan kakinya.


"Siapa bilang aku lemas gara-gara belum makan. Tapi ini karna aku kecapean mengimbangi permainan Arini Setiap malam!" ucap Denis tersenyum.


Namun tidak dengan Shofia dan Nilam.


"Menjijikan kan!" omel Nilam dan meninggalkan Denis yang masih terbahak.


"Kena kalian! makanya, sukanya mencari-cari kesalahan Arini."


"Kenapa?" tanya Arini penuh keheranan melihat Denis terbahak sendiri.


Denis menceritakan hal yang membuat dirinya tertawa.


Arini mendaratkan cubitan di pinggangnya.


"Malu, tau!" sungutnya kepada Denis.


"Kenapa malu? memang benar, kan?" Denis mengedipkan matanya membuat Arini tersipu.


Malamnya setelah selesai akan malam.


Mereka berkumpul di ruang tengah.


"Lang, apa tidak ada lowongan di kantormu untuk mas Pras?" tanya Bu Zah iseng.


"Banyak budhe, tapi lowongan untuk posisi yang pantas untuk mas Pras belum ada."


"Kasian, mas mu belum juga dapat pekerjaan.


"Iya, aku juga mau cari kerja sesuai kemampuanku." jawab Nilam.


Tiba-tiba terbersit di kepala Arini sebuah ide.


"Bagaimana kalau mbak Nilam kerja di tempatku saja. mbak bisa mengelola toko kue ku." ucap Arini semangat.


Nilam terlihat ragu.


"hasilnya lumayan lho Mbak. yaa sambil nunggu pekerjaan lain yang mbak inginkan." imbuh Arini.


"Bagus itu Nil.. .. setidaknya kau tidak bingung

__ADS_1


Karna setiap hari menganggur di rumah." tutur Bu Zah dengan tersenyum.


"Masa aku akan jadi bawahannya? tidak.!" bathin Nilam merasa gengsi.


"Mbak jangan khawatir, mbak sendiri yang akan mengelolanya." ucap Arini seakan tau isi hati Nilam.


"Lalu kau sendiri?" Denis menatap istrinya.


"Aku sudah pernah cerita padamu tentang rencanaku ingin buka butik, kan?"


Denis mengangguk.


"Aku ingin fokus pada rencanaku itu, karna itu aku senang kalau mbak Nilam mau di toko."


"Kau mau buka butik?" tanya Bu Zah dengan mata berbinar.


"Iya, Bu. Ada teman yang menawari ku untuk kerja sama."


"Syukurlah, akhirnya kau bisa bangkit dari keterpurukan mu."


"Ini berkat dukungan kalian semua...!"


Setelah melalui pertimbangan yang panjang.


Akhirnya Nilam menerima tawaran Arini.


"Kenapa kamu kasi pekerjaan pada mbak Nilam? bukannya dia selalu jahat padamu selama ini?" tanya Ilham saat mereka sudah berdua di kamar.


"Apa salahnya memberinya kesempatan? lagian aku tidak bisa menghandle keduanya sekaligus. Yaah mudah-mudahan saja dia bisa berubah." ucap Arini.


"Kau memang wanita idaman. Kau tidak mau mengambil kesempatan menjatuhkan orang walaupun kesempatan itu ada."


Denis memeluk pinggang Arini dengan mesra.


"Aku sangat beruntung memilikimu, Arini." ucap Denis berbisik di telinganya.


Arini berbalik dan menatap Denis.


Denis semakin mendekatkan bibirnya.


Arini menggeleng.


"Tidak di sini.."


"Aku juga tidak mau minta lebih, bisa-bisa mbak Nilam mengomel lagi.


Aku hanya ingin mengangkat mu ke ranjang."


ucap Denis seraya mengangkat tubuh Arini ke atas ranjang.


***


Pagi itu Nilam sudah mulai membantu di toko Arini. Walaupun merasa enggan, tapi ia paksakan diri.


"Arini, bukankah kita butuh kurir untuk mengantar pesanan ke pelanggan? kalau kau setuju, ada Hendra yang sangat membutuhkan pekerjaan."


Ucap Nilam memberi saran.


"Betul juga kata mbak Nilam. ajaklah dia kemari."


Nilam terlihat senang karna idenya diterima.


Hendra benar'-benar datang untuk bertemu Arini. Setelah mendapatkan pengarahan seperlunya, pemuda itu mulai bekerja.


Semua berjalan lancar sesuai rencana Arini.


Ia bisa lebih fokus pada pekerjaannya di butik.


Suatu siang Arini bertandang ke tokonya.


Disana terlihat agak sepi. karyawan yang hanya tiga orang termasuk Nilam sedang beristirahat makan siang.


"Hendra mana? dia belum pulang dari mengantar kue?" tanyanya pada Nilam.

__ADS_1


"Ada, dia lagi di musholla samping, mungkin sedang sholat, Bu." jawab Lia karyawannya.


Arini merasa kagum pada pemuda itu.


Walaupun lelah dan hidup kekurangan ia selalu menyempatkan diri untuk beribadah


Anita menatapnya heran.


"Kelihatannya Arini simpati pada Hendra.. " ucapnya dalam hati. Seulas senyum mengembang di bibirnya.


"Kenapa, Bu Arini?" Hendra datang menghampirinya saat melihat Arini sedang mengamati sepeda motornya.


"Kempes, Hendra.. padahal saya harus buru-buru ke butik." ucapnya sambil menyeka peluh.


Hendra kembali sibuk mengemas barang yang harus di antarnya.


Saat itu ponsel Anita berbunyi. Senyumnya mengembang saat tau yang menelpon adalah Denis


"Kenapa kedengarannya bingung begitu?" tanya Denis


"Tidak apa-apa, aku hanya bingung mau cepat ke butik tapi ban motor ku kempes." ucapnya putus asa.


"Tunggu aku akan menjemputmu!" ucap Denis siaga.


"Jangan, tidak usah. Jarak dari kantor kesini lumayan jauh. biar aku naik taksi atau ojek saja." ucap Arini.


"Tidak apa-apa, aku suka walaupun jauh."


goda Denis lagi.


"Tidak usah, aku tau kau suami siaga yang paling baik hati. tapi nurut deh padaku." ucap Arini


Denis tidak memaksa lagi.


Percakapan itu terdengar jelas oleh Nilam


Ia segera menghampiri Hendra dan berbisik sesuatu.


"Bu, kalau mau cepat-cepat ke butik, biar saya antar!' tawar Hendra.


"Kamu bekerja saja, saya akan panggil taksi." jawab Arini.


"Kalau pakai taksi bisa terjebak macet Bu."


Karna Hendra memaksa akhirnya Arini menurut saja.


Ketika motor Hendra sudah menghilang, Nilam cepat-cepat menghubungi Denis.


Ia mengatakan kalau Arini sangat merindukannya, Arini juga tidak bisa lama-lama tidak melihatnya. mendengar itu Denis hampir tak percaya.


"Tapi Arini tidak pernah berkata apapun. apa iya, dia malu?" Denis memutuskan melihat Arini ke butiknya.


Sambil bernyanyi kecil Denis pergi ke butik Arini.


Dalam benaknya sudah terbayang senyuman indah istrinya itu akan menyambutnya.


Tapi Denis tertegun saat melihat Arini yang baru sampai dan di antar oleh Hendra.


"Terima kasih Hen, kau silahkan terus kerja." ucapnya dan hampir melangkah masuk ke butik.


Tapi Hendra menahannya.


"Tunggu sebentar Bu Arini." Arini tertegun saat Hendra mengambil sesuatu dari rambut Arini.


"Maaf, ada daun kering di rambut ibu." ucapnya sopan.


"Terimakasih, kalau begitu saya masuk dulu."


Arini masuk di iringi pandangan kagum dari Hendra.


"Bu Arini sosok wanita yang sangat baik. Dia sama sekali tidak sombong. Bahkan dia juga tidak menolak saat aku ingin mengantarnya."


"

__ADS_1


__ADS_2