Air Mata Seorang Istri

Air Mata Seorang Istri
Bab 83


__ADS_3

Shofia mendapatkan perawatan yang semestinya.


Arini mengantarnya pulang kerumah.


Ia menitipkan Shofia pada tetangganya.


Dalam perjalanan pulang, ia tidak habis pikir.


Kenapa Shofia bisa beranggapan kalau Denis mampu berbuat keji dan di luar nalar.


"Ada apa sebenarnya?"


"Rin, jangan bilang kau percaya dengan semua cerita Shofia itu. Dia pasti mengarang cerita agar keinginannya bisa terpenuhi. Kita semua tau siapa Shofia."


"Tunggu dulu, aku tau siapa gadis culas itu. Tapi kalau ini matanya tidak berbohong." Arini memandang Denis lurus.


"Kau percaya padanya, berarti kau meragukan suami mu, Rin!"


"Aku tidak bilang begitu, aku percaya padamu, tapi mungkin juga Shofia tidak berbohong. Dia memang sudah menyusahkan ku, tapi melihat tatapannya yang kosong aku terenyuh juga."


"Apa maksudmu, Rin?"


"Ada orang di balik semua ini, yang sengaja mengambil keuntungan dari kesalah pahaman kalian."


"Aku bingung..!" Denis menutup kedua matanya.


"Celakanya, Shofia beranggapan aku lah yang telah melakukannya."


Arini mengurut kejadian, dari cerita Shofia yang di kirimi pesan nomor yang yang tidak di kenal tapi mengaku Denis, lalu dengan cara sadis si pelaku yang menutup muka Shofia.


Arini berkesimpulan kalau orang itu sengaja merusak nama baik Denis.


"Memang ada seseorang yang sengaja membuatmu menjadi tertuduh. Siapa pun dan apapun motif orang itu, perbuatannya sangat lah sadis dan tidak berperi kemanusiaan.


Bagaimana dengan masa depan gadis itu?" ucap Arini prihatin.


"Aku bisa memanggil temanku untuk bersaksi kalau di perlukan." kata Denis.


Arini mengangguk memberinya dukungan.


Sementara itu Shofia sangat terpukul oleh kejadian itu. Ia terus teringat saat orang yang di anggapnya Denis itu telah merenggut kesuciannya dengan paksa,


membuatnya trauma.


Ia menangis sendirian sepanjang hari.


Orang tuanya yang mendapat kabar pun segera datang dari kampung.


Karna merasa tidak terima, mereka langsung membawa masalah itu ke kantor polisi.


Tersangka sementara adalah Denis Karena Shofia berkeras Denis lah pelakunya.


Polisi terus mengembangkan


penyelidikannya.


Arini berusaha menolong Denis dengan mengumpUlkan bukti-bukti.


Bu Zah yang di rumah sakit merasa shok saat mendengar kabar tentang Denis.


Nilam yang mendampinginya, semakin tidak suka atas perhatian Bu Zah pada Denis.


"Saat mendengar mas Pras di PHK dia biasa saja, tapi saat mendengar Elang ada masalah dia langsung ngedrop..." omelnya tidak suka.


Ia terus memprovokasi suaminya agar meminta bagian dari harta Bu Zahra.


Keadaan Shofia yang tidak stabil di manfaatkan nya untuk memojok kan Denis.


"Kau jangan lepaskan Elang..! Dia lah yang harus bertanggung jawab."


Shofia benar-benar Depresi. Ia sering kedapatan tertawa dan bicara sendirian. Orang tuanya sangat khawatir atas keadaanya.


Mereka sangat menyayangkan kenapa Denis selalu menyangkal padahal semua bukti hanya mengarah padanya.


Atas permintaan Denis juga, Arman bersaksi ke kantor polisi bahwa Denis sedang bersamanya saat kejadian itu.


Namun karna Shofia ngotot membuat polisi masih menetapkannya sebagai tersangka sementara.


Namun Arini tidak putus asa, ia mencari pengacara yang terkenal untuk Denis.


Atas bantuannya, Denis masih bebas bersyarat dan bisa bekerja seperti biasa.

__ADS_1


Arini teringat teman-teman sekolah Shofia, Ia sengaja berkunjung ke sekolah untuk mencari petunjuk.


Vivi yang kebetulan melihat kedatangan Arini mendekatinya.


"Mbak, cari siapa?"


"Kau kenal Shofia?" tanyanya ragu.


Gadis berkuncir itu terlihat ragu.


"Saya keluarganya Shofia, tenang saja, kau tidak usah takut."


"Aku temannya Shofia, mbak."


Arini berusaha bertambah tamah dengan gadis itu.


Ia tak mau buru-buru dan akhirnya target ketakutan sendiri.


"Bagaimana kabarnya, Shofi?" tanya gadis itu setelah merasa nyaman mengobrol dengan Arini.


"Begitu, lah. Kasusnya belum menemukan titik terang."


jawab Arini.


"Kasian.. Padahal sudah aku bilang, jangan kejar-kejar mas Elang lagi. Terima saja Vino yang begitu mencintainya." Vivi menggumam pelan.


"Maksud mu? Ada teman sekolahnya yang suka?" tegas Arini.


Vivi mengangguk.


"Seberapa besar dia mencintai Shofia?" selidik Arini.


"Sangat, berbagai cara dia lakukan untuk Shofia, tapi sayangnya Shofia tidak pernah meresponnya." ucap Vivi menyesal.


"Vivi... Kau ingin temanmu dapat keadilan, kan?"


tanya Arini serius.


Gadis itu mengangguk.


Arini membisikkan sesuatu. Setelah itu dia pulang dengan meninggalkan harapan besar pada Vivi.


***


Bu Lastri sedang menyuapi makan Cila.


Perasaan bersalah karna Cila masuk rumah sakit gara-gara dirinya terus menghantuinya.


Ilham yang sedang duduk di ruang tengah, memandangnya dengan pikiran kosong.


"Bagaimana kalau Cila benar-benar bukan anak kandungku?"


Bu Lastri yang menyadari putranya seperti orang linglung, menghampirinya.


"Ada apalagi? Anak mu sudah baik-baik saja. Kau tidak usah khawatir!"


Bu Lastri menepuk pundaknya.


"Cila memang baik-baik saja, tapi aku sudah berdosa menyia-nyiakan anakku yang lain. Anak ku dari Arini." ucap Ilham penuh penyesalan.


"Kau yakin kalau itu anakmu?"


Ilham mengangguk.


"Arini sudah bersumpah.. Karna itulah aku merasa sangat berdosa."


"Ibu tidak percaya, pasti Denis lah ayah dari anak itu." Bu Lastri menolaknya mentah-mentah.


"Tapi aku yakin, Bu. Dia memang anakku. Ikatan bathin seorang anak dan ayahnya sangat kuat, itulah yang kurasakan pada anaknya Arini." ucap Ilham meyakinkan.


Bu Lastri mendongak menatapnya.


"Kau jangan mencari masalah.." kata Bu Lastri.,


"Aku serius, Bu. Bahkan kalau boleh jujur, terhadap Cila aku tidak merasakan apa-apa." kata Ilham lagi.


"Kau?" Bu Lastri merasa marah, tapi ia tidak berkata-kata.


"kalau ibu curiga Arini telah berselingkuh.. kenapa ibu begitu yakin kalau Anita tidak?"


"Justru yang harus di pertanyakan adalah karakter Anita, menantu kesayangan ibu." imbuh Denis lagi.

__ADS_1


Saat itu Anita masuk dengan wajah lelah. Di tangannya terdapat banyak belanjaan.


"Anita, kenapa pulang jam segini terus?" sapa Ilham baik-baik.


Mata Anita langsung berkilat.


"Jangan tanyakan darimana aku dapatkan ini, tentu saja aku bekerja sayang.." jawab Anita malas.


Anita melangkah kekamarnya dengan linglung.


"Anita, aku sedang bicara, kau harus menghargai aku sebagai suami mu!" tukas Ilham.


Ia mengikuti Anita sampai di dalam kamar.


Anita mengacuhkan nya.


Tiba-tiba Ilham mendengus, ia mencium aroma yang tidak asing lagi baginya.


"Anita aku mau bicara!"


Ilham menarik tangan istrinya dengan paksa.


Dia mulai menelisik keadaan Anita dari ujung rambut sampai ujung kaki.


"Aku mencium sesuatu yang aneh darimu." tangan Arini di hempas nya dengan kesal.


"Apa maksudmu, Mas?" Anita tak terima.


Ilham kembali mengendus badan Anita.


"Aku mencium aroma senjata pria..!" ucap Ilham dengan melintir tangan istrinya.


"Ayo ngaku! Apa yang sudah kau kerjakan di luar sana?" bentaknya marah.


Ilham menghempaskan tubuh Anita dengan kasar di kasur. Matanya berkilat karna amarah.


"Ayo bilang!" Ilham mendaratkan sebuah tamparan hingga sudut bibir Anita berdarah.


Ia meraung kesakitan.


Ilham tidak berhenti di situ, dia kembali menjambak rambut Anita dengan emosi yang tak terbendung lagi.


Anita menjerit kesakitan.


Bu Lastri dan Siska ikut melerai namun Ilham seperti kesetanan.


Ia terus memukuli. Anita dengan kejam.


"Berhenti, Mas! Kau bisa terkena pidana karna melakukan penyiksaan terhadap wanita." teriak Siska.


Ilham terduduk dengan tangis tak terbendung lagi.


"Biarkan saja, Siska. Aku tidak perduli kalau sampai masuk penjara. Aku sudah salah telah membuang Arini demi wanita ja***g ini." ucapnya tergugu.


Bu Lastri hanya bisa meneteskan air mata melihat keadaan itu.


"Maafkan aku, mas.." ucap Anita di sela tangis dan rintihannya.


"Ilham.. Bersabarlah..!" bujuk Bu Lastri.


"Ibu tidak tau apa yang sudah di lakukan perempuan ini. Dia telah merenggut hidupku, kebahagiaanku!"


"Apa maksudmu, nak?"


Ilham menunjuk Anita.


"Ibu tanyakan saja pada dia? Dan tanyakan juga, siapa sebenarnya ayah dari Cila cucu kesayangan ibu itu." ucap Ilham dengan bergetar.


Bu Lastri menggeleng tak percaya.


"Anita.. Apa maksud Kata-kata Ilham?" dada Bu Lastri serasa pecah oleh kenyataan di depan matanya.


"Ampun, Bu!" hanya itu ucapan yang keluar dari mulut Anita.


Bu Lastri terduduk lemas. Ia tidak ampu bicara sepatah kata pun. Langit seakan runtuh menimpanya.


"Jadi Cila bukan anaknya Ilham .??" ia menggumam pelan.


Bu Lastri pingsan tak sadarkan diri. Sementara Siska membawa ibunya ke puskesmas, Ilham menjaga Anita agar tidak keluar dari rumahnya.


"Aku tidak akan membiarkan mu bebas dengan mudah. Kau harus mendapatkan imbalan yang setimpal dari perbuatanmu itu."

__ADS_1


Ilham mengurung Anita di dalam sebuah kamar. Ia tak perduli lagi dengan teriakan minta ampun dari Anita.


__ADS_2