Air Mata Seorang Istri

Air Mata Seorang Istri
Bab 77


__ADS_3

"Gimana sekolahmu, Shof?" Bu Zah membuka percakapan.


"Lancar Budhe, ayah selalu wanti wanti agar aku selalu berhati-hati bergaul.


Aku bilang mereka tidak usah khawatir, disini aku tidak sendirian. Ada bu dhe, Mas Elang dan mbak Arini, juga mbak Nilam pastinya."


ucap Shofia sambil mengunyah makanannya.


"Tapi masalahnya, besok lusa ada pertemuan wali murid. Dan aku bingung harus mengajak siapa?" ucapnya nelangsa.


"Sebenarnya mbak tidak keberatan, tapi kau tau sendiri, toko tidak bisa di tinggal." kata Nilam menyesal.


"Bagaimana kalau ibu?" Nilam menodong mertuanya


"Wah, Bu Dhe sangat mohon maaf, tidak bisa. Soalnya ada kegiatan. yang tidak bisa di tinggalkan." Bu Zah merasa menyesal.


Pandangan Nilam dan Shofia ke arah Arini dan Denis.


"Kalau Arini sudah pasti tidak bisa, soalnya kesibukan di butik, tapi kalau Elang hari Minggu, kan libur?" mata Nilam menelisik Denis.


Denis yang memang sedang galau, merasa tidak bermasalah menjadi wali dari Shofia.


"Tidak masalah.." jawabnya enteng.


Arini sontak menatapnya.


Namun Denis tetap cuek.


Shofia tersenyum lega, begitupun Nilam.


Arini mengerti itu adalah rencana Nilam dan Shofia. Namun ia tidak mau membuat keributan dengan memperpanjangnya.


Setelah selesai makan, mereka pamit untuk pulang.


"Terimakasih Bu, makanannya enak sekali." puji Arini.


"Masih jauh dari masakanmu!" balas Bu Zah merendah. Dia merangkul Arini dengan mesra.


Hal itu membuat Nilam membuang muka.


Bibit kebencian Nilam memang berawal dari kelakuan mertuanya yang menurutnya sangat berlebihan kepada Arini. Ia merasa tidak nyaman karna Arini hanya orang asing yang tidak ada hubungan keluarga sedikitpun.


Berkali- kali ia mengutarakan itu pada suaminya, namun Pras selalu bilang kalau itu tidak perlu terlalu di besar-besarkan.


Melihat kemesraan diantara Arini dan Bu Zah


semakin menambah bibit kebenciannya tumbuh subur.


Di sepanjang perjalanan, Susana terasa kaku oleh Denis. Dia sendiri yang cuek, dia sendiri pula yang merasa tersiksa. Sedangkan Arini berusaha bersikap biasa menghadapi sikap suaminya itu.


"Kenapa kau diam saja, Rin?" tanya Denis tak sadar.


"Aku.. aku hanya mengikuti mu untuk diam,


Aku pikir suamiku sedang bosan mendengar suaraku, hingga dia bersikap aneh hari ini."


jawab Arini dengan tenang.


Denis mendesah panjang.


"Kalau ada masalah bicara, dong!" imbuh Arini lagi sambil meraih sebelah tangan Denis dan menggenggamnya erat


"Tapi jangan sekarang, kau sedang menyetir. Di rumah saja!" bujuk Arini sambil menepuk tangan suaminya dengan lembut


Denis mengangguk.

__ADS_1


Setelah meletakkan tasnya,


Arini duduk di ranjang. Ia menunggu Denis yang sedang membuka jam tangannya.


Karena Denis tak kunjung mau duduk,


Arini menghampirinya, lalu memeluknya dari belakang.


"Apa ada sesuatu yang menganggu pikiranmu hari ini?" tanyanya lembut.


Denis terdiam


"Masalah kantor atau yang lainnya? kalau kau bisa membaginya, aku siap mendengarkan."


Denis membalik tubuhnya, kini mereka sudah berhadapan.


Denis memandangnya dengan lekat.


"Hari ini hatiku terluka.." ucap Denis dengan suara seraknya.


"Kau tau, aku sudah sangat terluka melihatmu dengan Hendra, tapi hatiku lebih sakit lagi saat berusaha acuh padamu;" Denis menatapnya sendu.


Arini menyembunyikan senyumnya.


"Hendra?" tanyanya tak percaya.


Yang benar saja, masa suaminya ini cemburu pada seorang Hendra?


"Aku berada disana saat kau pulang ke butik dan di antar olehnya. Pemuda itu terlihat cengengesan saat melihatmu. sorot matanya juga lain." kata Denis tidak senang.


"Jadi ceritanya suamiku sedang cemburu?" Arini menarik hidung Denis pelan.


"Kau bisa setenang itu? sedangkan aku kalang kabut seharian memikirkan hal ini." kata Denis ketus.


"Salah sendiri.. siapa suruh berprasangka yang bukan-bukan?" jawab Arini enteng.


Arini bergelayut manja di bahu Denis.


"Bisakah kita tidak membicarakan orang lain saat ini? yang ada hanya kita berdua." Arini menatapnya dengan memohon.


"Tapi tolong buat hatiku tenang Rin. bilang sesuatu kek, kau pikir tidak lelah seharian aku menyimpan ini dalam hati."


sungut Denis, namun kali ini dengan nada yang mulai melunak


"Ssst..! jangan bicarakan dia, dia hanya pemuda pekerja keras yang tidak gengsian seperti teman-temannya. dia rela bekerja jadi pengantar... ah sudahlah, nanti kau bilang aku memujinya.


Tau nggak? yang selalu dan akan selalu aku kagumi adalah Denis Erlangga, dia seorang pekerja keras, baik hati pada semua orang, dan yang terpenting bagiku dia pahlawan tiada dua. Dialah yang ada saat aku terpuruk, dialah yang memberi semangat dan dukungan tidak henti sampai aku bisa seperti sekarang ini." Arini memandang Denis lekat-lekat.


matanya sampai berkaca-kaca mengucapkannya.


"Aku... ! " Arini tidak sempat melanjutkan kalimatnya, karena Denis sudah menariknya dalam dekapan yang erat.


"Tidak usah di teruskan! aku minta maaf, aku yang salah terlalu buru-buru mengambil kesimpulan.


Aku tidak menyadari kalau kau sudah menganggap ku begitu berarti, terimakasih sayang." Denis mengecup rambut Arini dengan lembut.


Setelah beberapa saat mereka tenggelam dalam suasana syahdu tanpa batas.


Arini mengangkat kepalanya.


"Kau tidak marah lagi, kan?"


Denis menggeleng.


"Aku merasa malu, Rin. aku cemburu tidak beralasan." Denis menutup mata dengan kedua tangannya.

__ADS_1


"Aku suka kau cemburu, tapi jangan cemburu buta juga." sindir Arini.


"Yang terpenting, kau sudah mengerti apa dan siapa dirimu bagiku, jadi lain kali jangan menyimpulkan sesuatu hanya karna apa yang kau lihat. Karna yang kita lihat belum tentu sama dengan yang sebenarnya terjadi."


Denis kembali menarik istrinya dalam pelukannya.


"Kau benar, ini sebuah pelajaran bagiku. Tapi aku melakukan ini karena aku benar-benar takut kehilanganmu, Rin."


"Kau tidak akan semudah itu kehilangan aku, berbagai ujian sudah kita jalani bersama, begitu pun aku, aku tidak akan membiarkan kau pergi dariku, apalagi hanya karna muslihat anak ingusan seperti Shofia!"


Denis menelengkan kepalanya.


"Shofia?"


"Iya, kau pikir idenya minta kau jadi walinya itu apa? kau juga sok setuju begitu saja!" Arini terlihat kesal.


Denis tertawa,


"Itu, aku sengaja buat memanas-manasi dirimu, tapi tidak berhasil.


aku sudah membayangkan kau akan protes di meja makan tadi. Tapi ternyata itu tidak terjadi."


"Jadi kau mau balas membuatku cemburu?"


"Yaah begitulah, biar impas!" ucapnya tertawa lagi.


"Jahat..!" Arini memukuli lengan Denis.


"Tapi aku benar-benar takut kehilanganmu Arini."


"Itu tidak akan terjadi selama kau beri aku kepercayaan!"


Denis mengangguk. Ia mulai memepet Arini keranjang hingga wanita rebah di ranjang dengan kaki terjuntai.


Denis mengungkungnya.


Arini menggeleng saat merasakan deru nafas lain dari suaminya.


"Kita mandi dulu, masih acem!" ucapnya sambil mendorong tubuh Denis.


"Tapi...?" Denis tersenyum menggodanya.


"Tapi mandi dulu..!" jawab Arini tersenyum mengangguk.


Mandi bersama, ya?" Denis memohon seperti anak kecil.


Ketika Arini menolak, ia tak berhenti menggerutu.


"Ayo mandi sana! menggerutu kayak Nenek-nenek."


"Kau tidak peka terhadap suamimu!"


teriaknya dari dalam kamar mandi.


Arini tersenyum.


Kini ia harus lebih dewasa menghadapi masalah dalam rumah tangganya.


kejadian lalu telah memberinya sebuah pelajaran berharga.


Denis.. di kantor dia boleh tegas dan berwibawa kepada bawahannya, tapi kalau sudah di rumah, dia tidak ubahnya seperti para suami yang lainnya, manja dan butuh perhatian.


Denis keluar dari kamar mandi dengan wajah dan tubuh yang segar.


Arini terpana melihatnya, mana mungkin ia akan merelakannya jadi incaran pelakor centil.

__ADS_1


"Lihat Shofia, aku sudah menyiapkan sebuah kejutan untuk mu.!"


__ADS_2