
"Boleh aku ambilkan mas?" Zoya meminta ijin untuk mengambilkan nasi beserta lauk pauknya untuk Rajesh.
"Boleh."
Rajesh mengangguk dengan seribu sesak di dada mengingat dulu saat mereka masih menjadi suami istri, dia selalu menolak keras semua masakan Zoya.
Kini, wanita itu harus meminta ijinnya dulu pasti juga karena ada rasa trauma ditolak dalam dadanya. Sungguh, Rajesh merasa dirinya telah begitu kejam dulu pada Zoya.
"Ini mas, aku masak makanan kesukaanmu dulu. Semoga sekarang juga masih suka ya." ucap Zoya sambil mengulurkan piring berisi lauknya.
"Terima kasih masih mengingat kesukaanku." jawab Rajesh menerima piring itu lagi lagi dengan sejuta sesal di dada.
Kurang apa coba dulu Zoya padanya?
"Untungnya gue udah punya bini juga. Jadi pas ada yang so sweet begini di depan mata gue, kan gue jadi gak baper. Iya kan sayang?" celetuk Delvara yang saat itu juga tengah dilayani oleh Maria.
Maria hanya balas senyum. Istri Delvara itu memang irit bicara. Tapi bukan berarti ia tidak suka berbaur dengan keluarga ini. Memang sudah jadi sifatnya saja.
"Kakak mulai deh." sungut Zoya sambil mengambil posisi duduknya.
"Iya nih kakakmu. Adiknya terus aja digodain. Sudah cukup godain adikmu, biarkan nak Rajesh yang melanjutkan." timpal Karin.
"Ish mama juga nih,,, sekongkol sama kakak." sungut Zoya.
"Mmm,,,"
"Mas jangan ikut ikutan!!" belum juga Rajesh buka mulut, Zoya sudah mendelik padanya.
"Mmm,,, aku,,, cuma mau bilang masakannya enak." kata Rajesh.
__ADS_1
"Oh,,, hehehe,,, iya mas. Makasih kalau kamu suka masakanku." Zoya tersipu malu dengan bunga bunga bermekaran dalam dadanya.
Tidak sia sia sibuk berkutat di dapur sendirian seharian tadi. Dan dipuji masakannya oleh Rajesh untuk pertama kalinya memang menyisakan sebuah rasa tersendiri. Bibir Zoya auto melengkungkan senyum yang tak bisa ditahannya.
"Untungnya di meja ini sudah ada menu kepiting ya ma." kembali Delvara bersuara.
"Kenapa memangnya Del?" kali ini Karin kurang paham maksud Delvara.
"Ya kalau belum ada kan bisa kita santap itu anak gadis mama. Lihat tuh pipinya udah merah kayak kepiting rebus dapat pujian dari Rajesh." Delvara tergelak apalagi melihat Zoya yang auto melirik tajam dan memanyunkan bibirnya.
"Sudah sudah,,, ayo kita lanjut makan dulu. Keburu dingin semua nanti." Karin menyudahi acara goda menggoda Zoya dan dituruti oleh semua yang ada.
Tak ada lagi yang berbicara selagi makan. Masakan Zoya memang selalu juara dan lezat hingga membuat semuanya fokus pada makanan masing masing. Semuanya terlalu sibuk untuk sekedar berhenti mengunyah. Rajesh sendiri bahkan menyesal kenapa tak sedari dulu ia menerima semua masakan Zoya.
Ternyata selezat ini.
"Mas,,, kenapa kamu memilihku?" tanya Zoya saat berdua saja di taman bersama Rajesh selepas makan siang.
"Saat kecil, aku sudah mengenalmu. Aku masih ingat setiap kamu datang ke rumah mencari kak Del,,, kamu selalu menyempatkan diri memberikan bunga untukku. Bunga yang kamu petik asal dari mana saja kamu melihat bunga. Dan itu selalu membuatku bahagia. Masa itu,,, terlalu cepat untuk aku menganggap itu adalah cinta. Tapi,, aku tidak memungkiri bahwa sejak kecil aku memang pernah punya keinginan bahwa suamiku kelak adalah kamu mas."
Zoya berhenti sejenak. Menghirup napas banyak banyak agar ia bisa melanjutkan lagi ceritanya.
"Lalu masa kelam itu datang. Lelaki itu menculikku dan aku merasa semua hanya kegelapan. Aku tak ingat apa apa. Aku lupa siapa diriku. Aku bahkan lupa semua mimpi mimpiku. Aku merasa hanya menjadi sosok baru,, menjadi seorang Indah Putri Wardoyo yang ternyata ditakdirkan menjadi istrimu dulu."
Zoya berhenti lagi dan kali ini ia menghembuskan napas kasar. Mengusir sesak dan sakit dalam dada yang kembali terasa.
"Maaf Indah." Rajesh menundukkan kepalanya turut merasakan sesak itu.
"Saat kita dinikahkan,,, aku bahkan belum ingat apa apa. Saat itu aku hanya terima nasib dan takdir. Aku hanya ingin menjadi istri terbaik untukmu, mas. Lalu perpisahan itu terjadi dan aku kembali diberikan kesadaran dan ingatan penuh atas siapa diri ini. Jujur rasa sakit menjadi istrimu itu tetap ada,,, jujur itu menimbulkan luka dan trauma. Tapi seiring dengan ingatanku yang pulih, maka mimpi masa kecilku pun berlanjut. Aku masih ingin bahwa kamulah yang menjadi suamiku. Kamulah lelaki pertama yang ku inginkan sejak kecil."
__ADS_1
Zoya tersenyum penuh arti. Membuat senyum di bibir Rajesh perlahan terukir. Lambat laun malah tertawa kecil dan berkali kali geleng geleng kepala.
"Apa ada yang lucu mas? Kok kamu senyum senyum terus sih? Aku kan jadi malu." rupanya Zoya menyadari sikap Rajesh itu.
"Lucu iya,,, aneh juga iya." jawab Rajesh.
"Kamu nggak percaya ya mas sama ceritaku tadi?" Zoya sedih karena Rajesh malah menertawakannya.
"Bukan. Sama sekali bukan tidak percaya melainkan malah kehabisan kata. Bagaimana bisa diam diam kita punya mimpi yang sama semasa kecil? Bukan hanya kamu saja yang punya mimpi menikah denganku sayang, aku juga. Kamu boleh tanyakan pada kakakmu kebenarannya. Dari dulu aku menginginkanmu menjadi pasanganku."
Giliran Rajesh yang bercerita dengan menggebu gebu dan Zoya yang antusias mendengarkan.
"Sayangnya saat impian itu sebenarnya telah tercapai, kita malah tidak saling mengenali. Sebenarnya dulu aku sering merasa aku ingat seseorang setiap melihatmu sejak kakek membawamu pada keluargaku. Tapi ingatan itu selalu ku tepis mengingat bidadari kecilku itu telah tiada. Aku selalu menyangkal bahwa kamu adalah Zoya, gadis kecilku."
Zoya tersenyum mendengarnya. Sesekali perih terasa menggores namun diabaikannya. Bagaimana pun, Rajesh yang kini tengah bercerita padanya bukanlah Rajesh yang sama dengan yang dulu pernah menyakitinya.
"Saat mimpi itu telah terkabul,,, Aku malah menyakitimu. Aku mengecewakanmu. Aku begitu bodoh untuk tidak bisa mengenalimu. Aku juga begitu percaya akan meninggalnya gadis kecilku. Aku yang hadir saat pemakaman itu,,, sangat merasa kehilangan. Aku bahkan tidak pernah bisa merasakan perasaan yang sama pada wanita wanita lainnya yang suka ku mainkan. Tapi ketika dipertemukan kembali malah ku sia siakan. Bodoh!! Aku memang bodoh!!"
Rajesh mengumpat dan memaki maki dirinya sendiri. Bahkan ia juga memukuli dadanya sendiri yang selalu saja akan merasa sesak tiap kali mengingat perilakunya pada Zoya semasa mereka terikat pernikahan.
"Mas sudah mas. Semua sudah berlalu. Lebih baik kita mulai hari baru saja ya. Semua itu bukan semata mata salah kamu kok. Seandainya kamu tau siapa aku juga pasti kamu tidak akan begitu. Anggap saja,,, Tuhan menguji kita. Tuhan ingin tau,,, Masihkah dua anak kecil itu saling menyimpan cinta murninya?? Dan aku bahagia mengetahui bahwa cinta bocah kecil itu rupanya masih ada untukku,,," Ucap Zoya dengan mata berkaca kaca.
"Masih,,, dan akan selalu ada sayang. Jangan pernah takut kehilangan cintaku lagi. Semua hanya milikmu dan untukmu."
Keduanya pun saling tatap dengan mata berkaca kaca dan penuh cinta.
...\=\=\=\=\=\=...
...With love, ...
__ADS_1
...Author....