
"Halo tante,,, saya Maria."
Gadis manis yang kelewat cantik yang dikenalkan oleh Delvara itu menyalami Karin lalu mencium punggung tangannya juga. Meski wajahnya terlihat tidak seperti orang pribumi, tapi rupanya Maria mengerti adat atau sopan santun ala ketimuran.
"Karin. Mamanya Delvara. Kamu cantik sekali, Maria." puji Karin sambil mengusap punggung tangan Maria.
"Terima kasih tante." Maria tersenyum.
"Delvara sama sekali belum pernah membicarakanmu pada kami sebelumnya. Anak itu bisa saja membuat tante jantungan kalau begini ceritanya. Tau tau bawa calon istri." kata Karin.
"Iya tante, Maria mohon maaf juga untuk kesan menyembunyikan selama ini. Bukan apa tante, soalnya Maria tidak tinggal di sini sebelumnya. Takut saja, kurang pantas rasanya dibicarakan tapi orangnya belum ada." jelas Maria.
"Lho, memangnya kak Maria tinggal di mana?? Eh,,, by the way, aku Zoya. Adik kesayangan calon suami kakak itu." Zoya tak sabar untuk tidak mengenal calon kakak iparnya itu.
"Hai Zoya,, kakak dengar banyak tentangmu dari Del. Kamu benar,, kamu memang adik kesayangannya. Dia gak ketulungan sayangnya sama kamu. Oh ya,,, kakak selama ini tinggal di luar negeri. Kebetulan semua keluarga memang menetap di sana. Kakak juga harus menyelesaikan study kakak dulu."
"Waaahhh,,, study apa kak?" mata Zoya berbinar.
"Sekolah masak aja kok." Maria merendah meski sebenarnya ia kuliah di tempat yang bergengsi.
"Pinter masak nih berarti. Pinter banget sih kak cari istri." Zoya mengedipkan matanya sebelah pada Delvara.
"Siapa dulu?? Kamu aja sama mama yang terlalu menganggapku gak laku laku." sungut Delvara disambut tawa Zoya dan pukulan lembut Karin di lengannya.
"Del!!! Apa apaan sih ini semua??? Kalian sengaja ya???!!!"
Sebuah teriakan kesal dan penuh emosi mengingatkan mereka akan keberadaan satu mahkluk yang memang terlupakan. Nadine melotot dan berkacak pinggang melihat tawa bahagia keluarga yang akan mendapat calon anggota barunya.
"Nadine,,, apa maksudmu?" Delvara heran.
__ADS_1
"Siapa dia??!! Kamu bercanda kan mengenalkannya sebagai calon istrimu?? Lalu kalau dia calon istrimu,, lalu aku ini kamu anggap apa???" tuntut Nadine.
"Kamu adalah masa laluku yang tidak akan pernah kembali menjadi masa depanku. Jangan salah paham,,, aku baik kepadamu selama ini bukan ingin menjadikanmu bagian dari keluarga kami seperti Maria. Aku hanya masih menganggapmu temanku, Nadine. Tidak lebih." tegas Delvara.
"Aku nggak terima!!!" tolak Nadine.
"Haduuhhh kok nggak malu jadi perempuan. Merendahkan diri sendiri seperti ini. Si mbok saja walau sudah tua juga ogah kalau suruh bertingkah begini. Masih muda non. Masih bisa cari yang lainnya. Kalau masih laku tapi." cibir mbok Rati yang tidak tahan berdiam diri.
"Mbok." tegur Karin halus yang artinya tidak setuju kalau mbok Rati bicara begitu.
"Benar kok itu cah ayu. Kalau perangainya terus seperti ini,ya mana ada laki laki yang mau menjadi pasangannya?? Wong jahat begitu." mbok Rati merasa tidak ada yang salah dengan ucapannya tadi.
"Diam kamu babu!!!" ketus Nadine.
"Nadine!! Jaga bicaramu!! Kamu ku undang kesini bukan untuk menjadi pusat perhatian kami. Kamu aku undang untuk ikut berbahagia dengan kami dan menerima Maria. Tapi kalau kamu tidak bisa, silahkan pergi. Pintu keluar di sebelah sana." Delvara menunjuk ke arah pintu keluar ruangan private di restoran itu.
"Del!! Kamu usir aku??" Nadine tidak percaya.
Nadine terdiam. Wajahnya memerah menahan emosi dan malu. Nadine bukan wanita yang bisa begitu saja menerima jika dirinya disalahkan meskipun memang ia bersalah. Karenanya, ia merasakan emosi itu tapi juga malu karena semua itu terjadi di depan mata Maria. Saingannya dalam mendapatkan Delvara.
"Tunggu apa lagi Nadine?? Aku yakin kamu tidak akan bisa menerima semua ini kan? Kamu juga akan berbuat buruk pada Maria kalau ku biarkan kamu terus berada di sini. Oh bukan Maria saja,,, tapi pada kami semua. Jadi,,, pergilah." sekali lagi Delvara mengusirnya.
Nadine meremat ujung bajunya saking kesalnya namun tidak bisa berbuat apa apa. Ia kemudian beringsut pergi membawa kekalahannya malam itu.
"Maria,,, maaf." Delvara merasa tidak enak.
"Tidak apa apa. Kan juga aku yang memintamu mengajaknya juga. Ku pikir dia memang sudah berubah tapi ternyata tidak. Sangat disayangkan. Aku sebenarnya cemas dengan anaknya setelah tau bahwa dia tega mencubitnya juga." Maria yang sudah tau banyak tentang Nadine selama ini dari Delvara, tidak menunjukkan ekspresi berlebihan.
"Jadi kak Maria udah tau tentang mbak Nadine juga?" Zoya bertanya pada Delvara.
__ADS_1
"Sudah. Dia tau semuanya karena kakak nggak mau memulai hubungan dengan satu kebohongan apa pun dan sekecil apa pun. Pasangan kakak harus tau semua tentang kakak ya dari kakak sendiri. Bukan dari orang lain. Itu yang namanya keterbukaan pada pasangan dan itu sangat bagus untuk diterapkan sebelum dan selama menjalin hubungan. Kamu juga harus belajar itu, dek." ujar Delvara.
"Tuh Zo,,, dengerin kakakmu. Jangan bandel ya." celetuk Rodie yang sedari tadi hanya diam tanpa niatan ikut campur urusan Nadine tadi.
"Ih apaan sih? Kan aku emang udah jujur sama kamu. Kamu sudah tau semua tentangku." sungut Zoya manja.
"Heheheh,,, iya cintaku iyaaaa,,, jangan ngambek nanti makin cantik dan aku makin cinta lho." goda Rodie.
Zoya pun hanya memonyongkan bibirnya membuat Rodie makin gemas dan ingin segera mempersuntingnya.
"Ah kan sampai lupa." Delvara merogoh sakunya dan mengeluarkan kotak kecil yang berisikan cincin yang sudah dipesannya untuk Maria.
"Lah iyaaa,,,lupa kalau ini acara lamarannya cah bagus Delvara gara gara si non jahat tadi." mbok Rati komen.
"Udah mbok jangan bilang begitu terus. Kasihan dia. Hatinya pasti sakit sekali hari ini. Dan kemana dia akan pergi ya? Aku kepikiran anaknya. Kalau ditinggal di sini tadi malah lebih baik bisa kita rawat." tukas Karin.
"Jangan tante. Takutnya akan menjadi masalah ke depannya. Kita memang wajib baik dan saling tolong menolong antar sesama manusia. Tapi kalau manusianya seperti yang tadi itu,,,lebih baik tidak usah daripada dia akan menusuk kita lagi dan lagi." kata Rodie.
"Benar juga katamu nak Rodie. Memang tidak selalu semua kebaikan kita akan membawa kebaikan juga." jawab Karin.
Acara pun kemudian berlanjut dengan diterimanya lamaran Delvara oleh Maria. Karin menitikkan airmata harunya ketika melihat kedua buah hati sama sama sudah menemukan kembali sandaran hatinya masing masing.
"Om papa,,, lihat anak anak kita,,, semoga senyum itu terus terukir di wajah mereka. Semoga tidak pernah ada tangis kesedihan lagi." Karin seketika mengingat sosok mendiang suaminya yang selalu ia rindukan.
...\=\=\=\=\=...
...Kok author tetiba kasihan Rajesh ya kalau Zoya sama Rodie ☹️ Galau mau dibuat sama siapa yaaa 🥴...
...With love,...
__ADS_1
... Author....