
...🌸 POV Zoya🌸...
Tok,,, Tok,,, Tok,,,
Ketukan palu sebanyak 3x menjadi saksi sekaligus penentu bahwa hubunganku dengan Rodie telah usai. Dengan kata lain,,, kami resmi bercerai.
Ketidakhadirannya selama masa persidangan membuat segalanya menjadi lebih mudah. Hakim pun bisa dengan mudahnya menjatuhkan putusan karena dirinya dianggap tidak kooperatif dan itu mencerminkan sikap tidak pedulinya kepadaku.
Anyway,,, satu hubungan telah terselesaikan. Saatnya memintal benang baru dalam hidupku. Bukan memintal benang baru sih,,, tepatnya mengurai benang kusut yang selama ini terlalu lama kubiarkan begitu saja.
"Mama doakan yang terbaik untukmu nak. Rasanya mama sudah lelah, tapi mama belum ingin menyerah sebelum melihatmu bahagia. Apa yang harus mama katakan pada papamu kalau mama pergi meninggalkanmu dalam kondisi belum ada yang mendampingi?" tiba tiba mama bicara demikian.
"Mama,, kok mama ngomong gitu? Mama sehat sehat saja kan? Mama sakit? Apanya yang sakit ma? Kita ke dokter ya,,," tentu saja ucapan mama itu membuatku cemas dengan keadaan mama.
Mama yang selama ini kurasa tidak pernah punya keluhan tentang kesehatannya, kenapa harus bicara seolah olah waktunya akan segera habis saja?
"Mama sehat nak, tapi yang namanya usia itu kan nggak ada yang tau." lagi lagi mama membuatku makin cemas.
"Ma,,, mama akan hidup lebih lama. Menyaksikan aku dan mas Rajesh menikah sebentar lagi setelah habis masa iddahku,,, melihat aku dan kak Maria mengandung cucu mama,,,, menemani kami lahiran,,, menggendong cucu mama,,, ikut serta membesarkan mereka. Mama akan tetap ada untuk melewatkan momen momen itu bersama kami."
Ku ucapkan kalimat kalimat itu dengan nada bergetar. Tiba tiba saja aku merasa sedih jika harus kehilangan mama. Memang sih, usia mama sudah tak lagi muda. Fisiknya juga lambat laun mengalami penurunan berat badan seiring dengan nafsu makannya yang juga tak sebagus dulu.
Tapi tetap saja,,,, aku masih ingin mama hidup lebih lama. Belum puas rasanya aku mendapatkan kasih sayangnya. Bertahun tahun terpisah membuatku merasa aku baru lahir dan masih butuh pendampingannya.
"Aamiin,,, makanya kamu jangan menunda nunda lagi ya. Begitu usai masa iddah, pokoknya segeralah menikah dengan nak Rajesh. Mama menyukainya. Dia seperti papamu dulu. Menghabiskan masa mudanya dengan kehidupan abnormal lantas menghabiskan masa tuanya hanya dengan ribuan kebaikan." tukas mama kemudian.
"Iya ma. Aku juga nggak ingin berlama lama. Sudah cukup rasanya cinta kami berdua terombang ambing tidak jelas."
Aku makin mantap kembali menikah dengan mas Rajesh karena memang itulah mimpiku sejak kecil. Mas Rajesh juga semakin kesini semakin menunjukkan sikap yang baik. Makin layak untuk ku jadikan imam dalam hidupku.
Semoga waktu cepat berputar dan masa iddahku segera usai,,,
Selama menjalani masa iddah,,, baik aku dan mas Rajesh sama sekali tidak pernah bertemu. Kami sepakat untuk tidak menodai masa iddahku dengan omongan miring tetangga atau siapa saja yang mungkin tidak mengenakkan telinga.
__ADS_1
Mas Rajesh tidak mau orang berpikiran miring kepadaku yang notabene baru menjanda ini. Tapi meski begitu, komunikasi kami tetap lancar walau hanya sebatas chatingan saja. Kami sengaja membatasi mata dan telinga kami berdua untuk saling menatap atau mendengar.
Biar makin terasa kangennya kata mas Rajesh hehehe,,,
Mas Rajesh yang sekarang memang paling pandai membuatku malu malu tapi mau. Dia sangat berbeda dengan dirinya masa itu. Sudahlah,,, aku tak mau terlalu banyak mengingat keburukannya di masa lalu. Bagiku,,, cukup menatap masa depan kami dengan sejuta kebaikan.
"Besok kita bulan madunya ke Singapura ya sayang." tulis mas Rajesh malam ini.
"Kenapa Singapura mas?" tanyaku heran.
"Pingin aja sih hehehe. Entahlah kenapa,,, rasanya ingin menatap patung terkenal itu bersamamu. Pasti dunia ini akan semakin terasa indah seindah namamu,,," mas Rajesh mulai gombalannya.
"Gombal banget dah,,, Lagian ya,,, namaku itu Zoya, bukan Indah." balasku.
"Terserah,,, pokoknya buatku namamu tetap Indah dan segala sesuatu tentangmu itu adalah indah." mas Rajesh makin kesini juga makin sering membuatku melambung karena pujian pujiannya.
"Terima kasih mas sudah membuatku merasa menjadi yang terindah."
Menyiksa?? Memang ada sikapku yang menyiksanya? Yang mana ya??
"Mas,,, apa aku ada salah?" daripada bingung lebih baik kutanyakan saja.
"Ada."
"Yang mana mas?" sumpah aku penasaran dan tak ingin berlarut larut membuat kesalahan.
"Kamu gak meminta pada Tuhan agar mempercepat hari dan waktu sehingga masa iddahmu bisa segera usai. Aku kan udah gak bisa tahan ingin menghalalkanmu. Menjadi pendampingmu siang dan malam. Hehehe,,,,"
Pipiku auto merona. Ucapan menjadi pendamping siang dan malam itu ku artikan dalam konotasi dan konten dewasa. Membuatku malu sekaligus gugup walau hanya sekedar membayangkannya saja.
Mamaaaaa,,, Tolooongg,,,, anak gadismu grogi nih menyadari sebentar lagi akan melepas mahkota kesayangan dan untuk orang yang tersayang,,,
"Sabar ya mas. Lagi sebentar saja kok. Setelah itu,,, semua akan kuserahkan hanya untukmu mas." jari jariku pun terasa dingin saat mengetiknya.
__ADS_1
"Sayang,,, maafkan aku ya."
Kembali ku kerutkan dahi membaca pesannya. Mas Rajesh minta maaf untuk apalagi kali ini?
"Aku nggak bisa kasih kamu yang terbaik. Sebenarnya aku malu. Kamu masih suci sedangkan aku,,,, hanyalah sampah. Aku bukan laki laki yang bisa menjaga tanganku dari hal hal kotor dan sebenarnya belum boleh ku lakukan di masa laluku. Sedangkan kamu,,,, kamu terlalu suci."
Belum sempat ku balas, mas Rajesh sudah mengirim pesan lagi.
"Mas,,, suci tidak suci bukan masalah itu saja. Lagipula aku tidak bisa menuntutmu untuk hal yang sudah terjadi bahkan sebelum hubungan kita terjalin. Bagiku yang terpenting sekarang adalah saat kita sudah kembali sepakat menjalin hubungan dan ke depannya. Kamu hanya mencintaiku dan menjaga diri dan hatimu hanya untukku. Itulah kesucian yang sesungguhnya bagiku."
Deretan emoji menangis menjadi jawaban mas Rajesh. Mungkin ada 20 emoji yang sama yang ia kirimkan.
"Indah sayang,,, terima kasih telah menjadikanku yang hina dan penuh dosa ini sebagai lelaki yang terindah dalam hidupmu."
"Sama sama mas. Jadi istirahat nggak nih?" aku alihkan saja pembicaraan agar tidak jadi malam yang malah menyedihkan.
"Iya sayang, jadi dong. Selamat malam Indahku. Mimpi indah ya sayang." kini emoji cium dan hati yang memenuhi layar ponselku.
"Semalam malam lelaki terindahku."
Aku tak mau kalah dengan mengirimkan banyak emoji yang sama untuknya. Hingga akhirnya tak ada lagi balasan darinya.
Mas,,, terima kasih ya,,, sudah selalu menjadi penghantar tidur terindahku tiap malamnya. Semoga semua hal indah akan selamanya menjadi milik kita berdua.
Ini adalah H-20 hari menuju habisnya masa iddahku,,, rasanya makin tak sabar untuk segera menyandang status sebagai nyonya Rajesh untuk kedua kalinya.
...\=\=\=\=\=\=...
...Selamat hari senin,,, selamat beraktifitas,,, jangan lupa selipkan vote untuk author yaaa ...
...With love, ...
...Author....
__ADS_1