
...🌸POV Rajesh🌸...
Ku hentikan langkah kaki ini begitu tiba di depan pagar megah rumah keluarga Indah. Tiba tiba ada rasa ragu membayangi langkahku.
Benarkah ia mengundangku? Tidak sedang bermimpikah aku? Untuk apa sebenarnya dia mengundangku? Apa ingin mengenalkan seseorang padaku? Calon barunya??
Seketika dada ini terasa kembali sesak. Ku pandangi pantulan diri ini di kaca mobil yang baru ku beli bulan lalu. Masih nyicil kok, bukan beli cash. Itu pun mobil second tapi masih sangat layak pakai.
Keren sih,, ganteng sih,, masalah isi dompet?? Masih sangat kalah memang dengan dompetnya Indah. Itu sudah pasti. Tapi aku tidak kuatir kalah bersaing kalau karena faktor penampilan. Aku tau betul,,, Indahku bukan tipe seperti itu.
Tapi yang membuatku meragu adalah buruknya sikap diri ini di masa lalu. Betapa begonya diri ini yang malah membuang permata demi seonggok batu kali.
Hhmmm kan,,, minder lagi kan aku.
Ku hela napasku berat. Rasanya memang lebih baik aku balik saja. Jangan masuk ke rumah itu daripada mendapati kenyataan buruk lagi. Lagipula ini salahku, aku yang terlalu percaya diri dan berharap banyak.
Pulang Jesh,,, pulang.
Ku balikkan kembali tubuh ini menuju ke pintu mobil di mana tadi aku keluar. Lari dari kenyataan adalah pilihan terbaik saat ini menurutku.
"Mas,,, kok nggak masuk? Aku udah tunggu kamu dari tadi lho."
Betapa terkejutnya aku mendengar suara merdu yang tanpa menoleh pun aku sudah tau siapa pemiliknya. Aku segera berbalik. Salah tingkah melihatnya begitu cantik hari ini. Berdiri di antara pagar yang terbuka dengan tersenyum padaku.
Belum lagi kata katanya tadi,,, yang katanya sudah menungguku sedari tadi. Iyuuuhh,,, rasanya melambung tinggi.
"Ayo mas, masuk. Semua udah nunggu di dalam." ajaknya lagi masih dengan senyum manisnya.
Kali ini aku merasa kembali terbanting ke tanah setelah jauh tinggi melambung. Aku kembali ingat ketakutanku tadi.
Ini sih fix,,, akan ada pembahasan penting.
"Mas,,, kamu nggak apa apa?" Tau tau Indahku sudah berdiri di depanku dengan wajah cemasnya.
"Eh ng,,, ng,,, nggak kok. Nggak apa apa." aku pun tergagap.
Antara terkejut sekaligus gugup berdiri di dekatnya. Dulu rasanya tidak pernah ada perasaan semacam ini meski dia sering menggangguku dengan menyediakan ini itu untukku. Tapi kenapa sekarang rasanya begitu menegangkan??
Apa ini rasanya jatuh cinta??
"Beneran mas? Wajah kamu pucat lho." Indah makin mendekat.
"Aku,,, aku,,, grogi dekat kamu." seketika ku tutup mulutku sendiri ketika sadar itu ucapan paling jujur yang keluar dari diri yang memang sedang dilanda grogi ini.
__ADS_1
Astagaaaa Rajessshh,,,, malu maluin kali kamu nih,,,
"Grogi dekat aku?" Indah melipat bibirnya ke dalam seolah berusaha menahan tawa atau senyumnya.
Wajahnya bersemu merah kemudian menunduk malu. Tapi itu malah membuatku seketika memiliki keberanian untuk menyatakan perasaanku padanya.
"Iya Indah. Aku grogi dekat kamu, karena aku sudah jatuh cinta kepadamu. Kamu membuat semua terasa berbeda untukku. Kamu membuatku merasa aneh dengan diriku sendiri. Namun sekaligus kamu jugalah yang membuatku tetap semangat hidup. Kamu merubah duniaku, Indah."
Duuhh,,, rasanya plong sudah mengatakannya.
Indah memandangku dengan tak berkedip. Tetap menutup bibirnya dengan jari jari lentiknya. Kemudian bisa ku lihat dia mengerjap beberapa kali untuk mengusir airmata yang hendak berjatuhan membasahi pipi putihnya.Dan beberapa detik kemudian,,, ia tak bisa menahannya lagi.
Indahku menangis,,, Lagi!! Karenaku,,,
Kenapa aku terus membuatnya menangis?? Kenapa aku terlalu pintar menguras airmatanya?? Tidak mencintainya membuatnya menangis,,, sekarang mencintainya pun masih membuatnya menangis.
Kacau kamu Rajesh!! Payah kamu!!!
"Indah maafkan aku. Tidak seharusnya aku bicara begitu dalam kondisi dan statusmu saat ini. Aku bodoh Indah. Ku mohon jangan menangis lagi. Lupakan saja apa yang sudah katakan tadi. Anggap itu tidak pernah terjadi. Aku hanya laki laki tak tau diri yang tidak seharusnya terus mengganggumu. Seharusnya aku tidak datang kesini."
Dan Indah makin tergugu hingga kedua bahunya pun terguncang guncang.
Aduuuhh bagaimana ini?? Harus ku apakan dia??
Ingin rasanya memeluknya erat dan membiarkannya menangis di dadaku. Tapi apa itu yang dia inginkan?? Nanti kalau makin parah nangisnya bagaimana??
"Indah,,, aku minta maaf. Lebih baik aku pulang saja daripada terus membuatmu bersedih seperti ini." aku menyerah.
Perlahan ku jauhi tubuhnya yang masih terguncang dan menunduk itu. Namun ketika tubuh ini baru saja berputar membelakanginya, ku rasakan pergelangan tanganku ada yang menahan.
"Jangan pergi lagi. Jangan tinggalkan aku lagi. Aku sudah lama menunggu kata kata itu keluar dari bibirmu, mas. Aku menangis bukan karena sedih melainkan terharu karena akhirnya doa doaku terkabul. Akhirnya penantianku sampai pada ujungnya."
Indah menghela tanganku dan mengatakan untaian kalimat indah itu dengan tatapan penuh cinta.
"Aku tau,,, saat ini aku masih berstatus sebagai seorang istri. Tapi aku sudah mengurus semuanya mas. Maukah kamu bersabar sedikit lagi menunggu prosesnya?" tanyanya.
"Indah,,, Indah,,," aku malah bego tak bisa berkata kata lagi.
Hadeehhh Rajessshhhh!!!
"Masih tetap grogi ya mas?" tanyanya sambil mengulum senyum dengan tangannya masih memegang pergelangan tanganku.
"Hu'um." dengan polosnya aku menjawab begitu sembari mengangguk.
__ADS_1
"Tetaplah seperti ini ya mas. Aku suka." ucapnya lagi sambil menyeka airmatanya yang kembali menetes.
"Kalau suka kenapa masih nangis?" tanyaku memberanikan diri mendekat dan membantu menyeka airmatanya.
"Ini namanya airmata bahagia mas." ucapnya membuatku berhenti mengusapnya.
"Kalau begitu jangan diusap lagi. Biar tetap bahagia." ucapku tanpa rasa bersalah.
"Ya nggak gitu juga konsepnya, mas." Indah menepuk dadaku lembut dan manja.
Ya ampuuunn,,, begini saja kok rasanya sudah berbunga bunga ya. Seperti inikah cinta?? Rasanya memang tidak bisa diungkapkan dengan kata. Merasa bodoh iya, merasa lucu juga iya. Semua rasa itu ada.
"Indah,,," tatap mataku kini begitu serius kepadanya.
Indah berhenti memukuli dadaku karena kini tangannya sudah ku tahan. Kini ganti dia yang terlihat kikuk dan gugup ku tatap dalam jarak sedekat ini. Bola matanya bergerak kesana kemari mencari cari spot lain agar tak bersitatap denganku.
"Indah,,," sekali lagi ku sebut namanya dan bola matanya pun berhenti berkelana, kini menatapku balik.
"Jika aku memutuskan menunggu,, apa akhirnya nanti kamu akan bersedia kembali menjadi istriku?? Memulai semua dari nol. Maukah memberi kesempatan pada pria tak tau diri ini untuk bisa membuktikan bahwa dirinya layak untuk menjadi imammu?" tanyaku penuh harap.
"Mas,,, aku,,," bola mata itu kembali bergerak kesana kemari.
"Indah,,,"
"Tentu saja aku mau. Bersabarlah sebentar lagi ya mas,,,"
Jawaban itu bak air hujan yang ku tunggu bertahun tahun untuk menghapus kekeringan dalam hidupku ini. Sungguh terasa sejuk dan menyegarkan.
"Terima kasih sayang. Aku akan menunggumu." ucapku senang dan dengan berani mengecup tangannya.
"Mas,,, belum muhrim." Indah menarik tangannya dengan cepat dan wajah memerah.
"Eh iya yaaa hehehe,,, ah tapi tadi kamu duluan yang pegang tanganku kok." kilahku dengan tak tau malunya.
"Nggak sengaja itu."
Indah berlari masuk ke halaman rumahnya dan membuatku mengejarnya. Aku tak mau lagi kehilangan dirinya.
Kemana pun akan ku kejar.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
...Hai sayang sayangku,,, maaf ya kalau author jadi jarang up. Lagi mengerjakan tugas negara soalnya 😂😂😂...
__ADS_1
...With love, ...
...Author....