
...🌸POV Rajesh🌸...
"Pulanglah. Kamu sedang tidak stabil. Jangan datang kepadaku hanya karena emosi sesaat. Jangan mengambil sebuah keputusan saat kamu merasa paling terpuruk. Tenangkan dirimu dahulu."
Dengan lantang ku pinta Rodie pulang. Lelaki itu tampak terkejut dengan ucapanku. Bahkan ia tak bisa menutupinya dari mama yang akhirnya muncul dengan nampan dan gelas berisi teh hangat ku rasa.
"Ada apa ini? Kenapa kelihatannya tegang? Kalian tidak sedang ada masalah satu sama lain kan? Jesh??" mama meminta penjelasanku.
"Tidak ada ma. Rodie justru datang dengan kebaikan hatinya dan penawaran baiknya untukku. Tapi aku harus menolaknya." jawabku berteka teki.
Tapi mama rupanya sangat paham dengan situasinya. Karenanya beliau pun memilih untuk pergi dari sana.
"Silahkan di minum dulu nak. Tante mau pamit pergi ke rumah sebelah dulu. Masih ada pekerjaan di sana." pamit mama.
"Terima kasih tante."
Rodie memandang kepergian mama dengan tatapan yang masih sulit ku artikan. Antara kasihan, kagum dan heran kenapa seorang mantan orang kaya bisa mampu bertahan dengan sesederhana ini sekarang hidupnya.
"Pikirkan baik baik Jesh." ucapnya kemudian setelah sosok mama menghilang dari pandangan.
"Tidak. Bukan aku yang harus berpikir melainkan dirimu. Kamu yang harus berpikir ulang. Come on bro,,, kamu kaya. Dengan uangmu, bukankah kamu bisa berobat selama ini? Kenapa tidak kamu lakukan?? Kalau kamu benar benar mencintainya,,, kenapa tidak berusaha sembuh?? Kenapa tidak gunakan uangmu untuk membeli kesehatanmu??? Demi dia,, demi mimpimu. Mana perjuanganmu?? Secepat inikah kamu menyerah???" cecarku dan aku hanya langsung terdiam ketika ia menjawab singkat.
"Sudah tapi tak berhasil." Rodie lirih mengatakannya dan tertunduk.
__ADS_1
Aku merasa sedikit bersalah telah menghakiminya. Aku lupa bahwa yang namanya penyakit itu adalah bagian daripada ujianNYA. Meski banyak uang, kadang juga tidak menjamin kesembuhan seseorang jika DIA belum berkehendak untuk mengangkat penyakit itu.
"Ini sudah usaha terakhirku. Selama ini aku sering meninggalkannya ke luar negeri dengan alasan bertemu klien. Tapi yang sebenarnya,,, aku bertemu dengan dokter yang juga pada pertemuan terakhir kami kemarin telah angkat tangan. Aku sudah tidak ada harapan untuk sembuh Jesh." tatapannya nanar.
Sungguh aku tidak tau harus bereaksi apa saat ini. Lelaki di depanku ini tampak begitu rapuh. Terpuruk dan putus asa hingga ia merasa menitipkan cintanya kepadaku adalah hal paling benar dan harus dilakukan saat ini.
Aku kasihan sekaligus bangga kepadanya. Mungkin, sebagai sesama lelaki aku bahkan tak sanggup melakukan apa yang ia lakukan saat ini.
"Hari ini kami bertemu dengan Alyssa dan calon suaminya. Mengetahui bahwa Alyssa bukanlah istrimu dan bayinya juga bukan anakmu,,, Zoya begitu bimbang dan aku tau itu. Aku tidak ingin memaksanya melanjutkan kebohongannya pada dirinya sendiri. Kamu masih mencintainya kan? Seperti dia juga masih mencintaimu??" tanyanya membuatku gelagapan.
Sungguh merasa tidak enak dengan pertanyaan itu, aku pun terbatuk. Jika ku jawab iya, aku merasa sangat kasihan pada lelaki putus asa di depanku ini. Jika ku jawab tidak, maka itu bertentangan dengan suara hatiku. Aku saja bertahan dan berjuang hidup demi bisa mendapatkan Indah-ku kembali.
"Kamu mencintainya kan Jesh?? Jawab saja. Tidak usah takut menyakitiku." pintanya.
"Kenapa?? Aku melakukan semua ini juga demi kebahagiaannya." kilahnya.
"Memang. Dan ku akui kamu begitu hebat mampu melakukan hal seperti itu. Aku bahkan tidak yakin kalau aku yang berada di posisimu ini bisa melakukan hal yang sama. Aku berterima kasih atas cintamu yang begitu besar untuknya ini. Tapi aku juga sekaligus marah dan kecewa padamu. Bisa bisanya kamu menganggap semua ini layaknya permainan. Pernahkah terpikir olehmu bagaimana perasaannya jika tiba tiba nanti di pelaminan bukan kamu melainkan aku yang berdiri di sampingnya?? Sudahkah kamu tanyakan padanya apakah ini juga inginnya??? Sudahkah kamu memastikan padanya bahwa memang bukan kamu yang dicintainya???"
Aku terengah engah. Ku putuskan berhenti sejenak demi bisa meraup oksigen sebanyak banyaknya. Aku sungguh emosi mengetahui sainganku ini begitu pengecut untuk kabur dari pernikahannya.
"Lalu kamu mau aku bagaimana??!! Tetap menikahinya hanya untuk meninggalkannya selamanya?? Membuatnya menangis meratapi mayatku??? Lalu ia akan makin terpuruk dalam kesedihannya karena kehilanganmu dan aku?? Begitu maumu???" tiba tiba ia begitu marah kepadaku.
Kini aku kembali bungkam. Sulit memang berada dalam posisi kami ini. Sama sama mencintai satu wanita dan sama sama tidak ingin menyakitinya.
__ADS_1
"Setidaknya,,, bukan dengan cara meninggalkan posisimu di hari pernikahan kalian. Aku bukan jalan keluar untuk masalah ini. Aku mencintainya. Tapi aku ingin mendapatkannya kembali bukan dengan cara mengorbankan perasaan atau diri siapa pun. Aku ingin dia menerimaku kembali bukan karena permintaan terakhirmu melainkan memang dia sendiri yang ingin kembali padaku. Aku ingin dia kembali tapi bukan dengan menghalalkan segala cara. Mengertilah."
Kini ganti aku yang memintanya. Aku sungguh tidak bisa menerima tawarannya itu meski menggiurkan. Aku takut jika ku terima, Indah malah membenciku dan menudingku seolah menari di atas penderitaan Rodie. Tidak,,, aku tidak mau dibenci olehnya.
Rodie menyandar lemah pada dinding ruang tamuku ini. Wajah putus asanya semakin terlihat. Raut kesedihan sekaligus ketakutan terbayang jelas.
"Aku tau ini berat. Tapi aku ingin kamu tetap berjuang untuknya dan untuk hidupmu juga. Temanilah dia sampai semampumu. Dan aku,,, aku masih yakin bahwa Tuhanku tidak tidur. DIA tau mana yang lebih baik untukku. Aku memilih menjalani takdirNYA meski mungkin harus sedikit terluka mengetahui kalian menikah. Itu cukup adil bagiku. Sakit dibalas sakit. Setidaknya, biar aku merasakan dulu bagaimana rasanya ditinggal menikah lagi oleh orang terkasih."
Aku pasrah. Meski berat aku tetap harus melepasnya dengan ikhlas. Menikah dengan pria baik yang begitu mencintainya bahkan rela mengalah demi bisa membuat Indah tidak akan pernah sendiri lagi.
Aku lebih memilih pernikahan mereka ini adalah balasan setimpal untukku yang pernah segampang itu menikah dengan Nadine saat Indah masih terbaring koma. Bukankah apa yang ku lakukan dulu lebih parah??
"Aku permisi." pamitnya kemudian setelah beberapa kali ku lihat ia menghela napas berat.
"Tetaplah hidup selama yang kamu bisa. Untuknya. Tak mengapa jika aku harus menunggu lebih lama. Bahkan jika mungkin Tuhan memberimu keajaiban untuk sembuh dari penyakitmu dan tak pernah ada kesempatan lagi bagiku untuk bisa bersamanya kembali,,,maka setidaknya aku akan mati dengan tenang karena aku tau,,,dia bersama orang yang layak. Bersama dengan orang yang juga sangat mencintainya bahkan lebih dari cintaku."
Rodie mengangguk meski perlahan. Aku tau dia belum bisa menerima penolakanku tapi ku harap ia bisa berpikir ulang.
...\=\=\=\=\=...
...Udah double up ya,,, selamat malam. Author ngantuuk 🥴🥱...
...With love,...
__ADS_1
... Author....