Aku Menyesal Membuangmu

Aku Menyesal Membuangmu
Suara Terakhir


__ADS_3

...🌸POV Rodie🌸...


Ku tinggalkan rumah besar keluarga Zoya dengan hati hancur. Secepat mungkin ku balikkan badan ini agar istriku tersayang itu tak perlu melihat airmata kesedihanku yang segera saja jatuh berderai pada detik yang sama saat tubuh ini membelakanginya.


Sakit,,, sakit teramat sangat kurasakan. Bahkan rasanya lebih sakit daripada saat menjalani beberapa mode pengobatan jantungku.


Perih,,, perih yang terasa lebih perih daripada irisan sembilu. Namun tak hanya itu yang kurasakan saat ini, tak hanya luka tapi sekaligus perasaan bahagia. Bahagia untuk orang terkasih yang akhirnya bisa kulepas tanpa harus tau sakitku.


Ku percepat langkahku ketika bagian terlemah dari tubuhku ini seakan mulai bereaksi. Aku tak ingin ambruk di depannya. Aku tak ingin semua orang tau ada rahasia apa di balik skenarioku ini.


Sebelum masuk mobil dan sebelum benar benar tak bisa melihatnya lagi,,, ku sempatkan diri kembali menoleh ke belakang.


Wajah itu ternyata masih mengarah padaku,,, bibir itu tersenyum,,, sepasang mata itu menatap ke arahku dengan tatapan yang sulit ku artikan.


"Maafkan aku Zoya sayang,,, untuk semua kekecewaan dan malu yang kamu tanggung saat ini. Tapi percayalah,,,, sudah ku siapkan pelangi untukmu. Saatnya kamu menghapus semua gundah gulanamu. Saatnya kamu tersenyum di sisi lelaki baik pilihan hatimu. Saat itu kamu boleh saat telah menyematkan hatimu untuknya, tapi sekarang,,, pilihanmu itu memang sudah tepat. Bahkan aku pun mendukungmu memilihnya karena dia sudah berubah. Dia layak untuk kamu cintai sayang."


Semua itu kukatakan dalam hati dan ku sampaikan lewat tatapan mata kami. Semoga dia mengerti. Semoga dia paham langkah apa selanjutnya yang harus dia ambil. Semoga pengorbananku ini tidak sia sia. Dan untuk memastikannya, aku harus kembali menemui Rajesh.


Lelaki itu harus tau kalau kami akan bercerai. Agar hatinya tak lagi ragu mendekati Zoya. Agar ia juga punya tekad lebih besar untuk melindunginya.


Ku jalankan roda empat mewah milikku menuju ke kediamannya dengan jantung yang rasanya sudah hampir tak bisa lagi membuatku hidup. Waktuku tidak banyak. Sesuai kata Angie, sahabat sekaligus dokter jantungku. Wanita hebat yang kekasihnya meninggalkannya setelah tau ia hamil itulah yang selama ini merawatku di negeri tetangga. Angie bilang, langkah terakhir pengobatanku yang diambilnya kemarin kesempatan sembuhnya memang hanya 1%.


Sudahlah,,, aku sudah tak ingin berharap banyak lagi untuk tubuh lemah ini. Aku hanya berharap untuk saat ini Tuhan masih mau memberiku sedikit waktu untuk memastikan dua insan saling mencintai yang sudah terpisah sekian lamanya itu bisa saling tau bahwa kesempatan untuk kembali bersama itu sudah kubuka lebar lebar.


"Hei,,,,"

__ADS_1


Dengan cepat Rajesh menangkap tubuh lemahku yang nyaris jatuh saat aku tiba di depan pintu rumahnya.


"Terima kasih dan Maaf. Aku hanya lelah." ujarku setelah ia membantuku duduk dan memberikanku segelas air putih.


"Lelah terlalu banyak bersandiwara tepatnya." kecamnya dengan wajah sedih dan kecewanya kepadaku.


"Aku sudah bilang itu bukan sandiwara. Itu yang sebenarnya terjadi. Baiklah, ku akui aku memang sakit tapi itu bukan satu satunya alasan untukku pergi. Angie lah alasanku yang sebenarnya. Aku tidak bisa melepas tanggung jawabku atas dirinya dan bayiku. Dan aku juga tidak ingin menjadikan keduanya sebagai istri. Aku bukan lelaki tipe pendukung poligami." ujarku meyakinkannya.


Rajesh diam mendengarkan meski masih ada guratan rasa tidak percaya terpancar dari wajahnya. Dan aku harus berhasil meyakinkannya.


"Harus ada salah satu yang ku korbankan dan itu adalah Zoya. Aku tau kamu tidak suka atau bahkan tidak terima aku menjadikannya sebagai korban. Aku tau aku salah. Tidak seharusnya kulakukan itu bersama Angie saat aku juga sedang memperjuangkan Zoya. Tapi Angie juga sahabatku dan aku juga tidak ingin lari dari hasil perbuatan salahku itu. Malam itu aku mabuk. Aku terlalu stres dengan sakitku hingga dengan bodohnya memilih alkohol sebagai solusi. Hingga akhirnya malam panas itu terjadi karena Angie menemaniku. Aku memperkosanya. Mengakibatkan ia hamil."


Sampai di sana aku berhenti berbicara. Jantung ini makin lemah. Dada ini makin sesak. Bibir ini juga makin kaku untuk menyampaikan semua kebohongan ini tapi aku harus kuat untuk sesaat lagi.


Tuhan,,, pinjam waktu dan nyawa sedikit lagi ya,,, ku mohon.


Permintaan tulus itu ku ucapkan setelah jantung ini rasanya kuat. Ku harap kali ini ia tak menolak lagi.


"Aku,,," Rajesh seperti tidak yakin akan berkata apa.


"Aku akan segera mengurus semuanya. Secepatnya karena Zoya yang memintanya. Dia tidak ingin Angie menunggu terlalu lama untuk mendapatkan status yang layak dariku. Zoya ingin aku menikahinya setelah perceraian kami." ujarku menambah keyakinannya.


Rajesh masih diam menatapku.


"Delvara juga sudah memaafkanmu bukan? Mama Karin juga kulihat tidak pernah punya dendam kepadamu. Dan yang paling penting,,, Zoya mencintaimu. Apalagi yang membuatmu tidak yakin??" tanyaku.

__ADS_1


"Kamu. Kamu yang membuatku tidak yakin." jawabnya dan itu telak bagiku.


Kini aku yang terdiam. Tapi aku tetap tak ingin membuatnya makin tidak percaya. Jadi ku selesaikan sandiwaraku.


"Sudahlah. Aku lelah menjelaskannya padamu. Begini saja,,, terserah padamu saja. Yang jelas aku sudah memberitahumu semuanya. Aku akan tetap menikahi Angie dan kami akan pergi menjauh dari kehidupan kalian. Aku tidak akan akan tinggal di sini lagi. Silahkan saja jika kamu memilih untuk berlama lama membiarkannya sendiri. Dia sudah bukan urusanku lagi begitu aku selesai mengurus perceraian kami."


Ku rangkai kalimat bernada jahat itu untuk makin menguatkan kebohonganku.


"Sekarang aku permisi. Masih banyak yang harus kulakukan. Aku tidak bisa menghabiskan semua waktuku hanya untuk meyakinkanmu."


Dengan sisa tenaga dari tubuh lemahku, aku bangkit dari dudukku. Meninggalkannya yang masih terduduk diam dengan wajah yang sudah terlihat percaya padaku.


Baguslah,,, semoga setelah ini ia segera bertindak. Tak lagi diam dalam keraguan. Tak lagi diam menunggu keajaiban karena saat ini akulah yang lebih tepat berada dalam posisi itu. Akulah yang menanti keajaiban terakhir.


Mobil ini kembali ku kendarai dengan cepat menuju ke kediamanku di mana di sana ada Angie, dokter pribadiku yang menungguku dan sedari tadi sebenarnya sudah berkali kali menelponku tapi ku abaikan. Ia pasti khawatir akan kondisiku yang ia tau persis sangatlah tidak baik.


Semalam aku sempat dirawatnya karena aku drop. Tapi pagi tadi, ku cabut semua alat medis yang menancap di tubuhku demi melakukan hal terakhir yang memang harus ku lakukan. Aku tak mau mati sebelum menemui keluarga Zoya dan Rajesh.


"Rodieeee,,," suara Angie adalah hal terakhir yang ku dengar sebelum tubuh ini melunglai dan seluruh dunia ini terlihat gelap.


...\=\=\=\=\=\=...


...Author mau kabor lagi sebelum di demo penggemarnya Rodie 🏃🏃🏃...


...With love, ...

__ADS_1


...Author....


__ADS_2