
"Indaaaaahhhh!!!! Mana dasiku???"
Pagi pagi suara teriakan Rajesh sudah memekakkan telinga Indah yang tengah sibuk membuatkan sarapan untuk semua anggota keluarga. Dengan daster lusuhnya serta sebuah lap yang tergantung di bahu kirinya, Indah pun tergopoh gopoh berlarian menuju ke kamar Rajesh.
Kamar Rajesh,,, bukan kamarnya lagi. Sejak pertemuan dengan pihak pengacara tidak membuahkan hasil yang diinginkan oleh mama Rina, Rajesh memutuskan tetap berstatus suami istri dengan Indah tapi tidak ada yang namanya tidur sekamar lagi.
Dan itu jauh lebih baik untuk Indah karena ia tak perlu tidur di lantai lagi. Seburuk buruknya kamar pembantu di rumah ini, maka bagi Indah itu adalah surga.
"Mana dasiku?? Dasar gak becus!!" sinis Rajesh begitu Indah sampai di kamar dengan keringat bercucuran akibat habis berlarian.
"Ta,,, tadi u,,,udah aku,,, aku siapin kok mas,,," Indah terengah engah sambil menyeka keringat di dahinya.
"Mana??? Gak ada tuh!!! Suka bohong kamu ya."
Indah tak lagi menjawab dan memilih mencari keberadaan dasi yang ia yakin sudah ia siapkan tadi.
"Buruan!! Nyiapin dasi aja gak becus masih sok mengaku mampu jadi istri yang baik." sindir Rajesh pada Indah yang masih sibuk mencari.
Beberapa menit mencari akhirnya yang dicari pun ketemu. Ia terselip di bawah bantal Rajesh. Sebenarnya Indah curiga Rajesh memang sengaja mengerjainya pagi ini dengan menyelipkan dasi itu ke bawah bantal. Tapi ya sudahlah,,, Indah sudah terbiasa begini. Dicari cari kesalahannya demi bisa memuaskan hati Rajesh yang hobi memarahinya.
"Ini mas." Indah mengulurkannya.
"Ketemu dimana ini??" selidik Rajesh.
"Nyelip di bawah bantal kamu mas."
"Sengaja ya?? Sengaja bilang begitu terus nuduh aku yang sengaja nyembunyiin gitu?? Ngaku kamu!!!" hardik Rajesh menumpahkan kekesalannya karena Indah berhasil menemukan dasi itu.
"Mas,,, aku gak ngomong gitu kan? Dan meskipun mungkin benar kamu yang menyembunyikannya pun aku tidak mempermasalahkannya. Aku nggak apa apa kamu giniin setiap harinya karena aku yakin,,, yang namanya kesabaran itu pasti berbuah manis." tegas Indah.
Rajesh terdiam.
"Jadi pakai dasi ini?" tanya Indah.
"Nggak!!! Udah kena tangan kamu yang berkeringat. Aku gak minat pakai dasi bau tangan dan keringat babu!!" tolak Rajesh.
"Ya udah kalau gitu kamu ambil dasi lain sendiri ya mas."
"Heh!! Kenapa jadi kamu yang nyuruh nyuruh??!! Kan kamu yang punya tugas siapin itu!!" protes Rajesh.
__ADS_1
"Lho kan barusan mas sendiri yang bilang kalau gak minat pakai dasi yang bau tangan dan keringat babu. Nanti kalau aku yang ambilkan lagi kan sama saja masih kena tangan dan bau keringatku."
Rajesh kembali terdiam karena Indah berhasil membalikkan kata katanya sendiri. Untuk sesaat ia membodohkan dirinya sendiri. Merutuki dirinya sendiri yang bicara ngasal.
"Gimana? Mau ambil sendiri atau diambilin babu?" tanya Indah lagi.
"Aargghh!!! Ambilkan sana!!" titah Rajesh yang sebenarnya mulai terbiasa semua kebutuhannya dilayani dan disiapkan oleh Indah.
Hanya saja ia masih gengsi mengakui bahwa menikah itu juga ada enaknya. Bisa bermanja manja pada istri. Bisa dibuatkan makanan, kopi dan lain sebagainya.
"Mau aku pasangin sekalian?" tanya Indah begitu ia sudah kembali dengan dasi lain.
"Nggak usah makin ngerasa kamu aku butuhin!!!" Rajesh menyambar dasi itu dengan cepat.
"Ya udah kalau gitu aku ke bawah lagi ya mas. Lanjut siapin sarapan kamu." pamit Indah.
"Hmmm." Rajesh menjawab dengan gumaman.
Indah melangkah pergi diiringi tatapan mata Rajesh yang memantul dari cermin besar di depannya. Dari cermin itu Rajesh bisa melihat tubuh kurus Indah yang mungkin saja sangat lelah mengurus segala sesuatu di rumah ini. Rajesh juga bisa melihat tampilan Indah yang jauh dari kata pantas untuk bersanding dengannya.
Daster lusuh + kain lap vs dengan kemeja berdasi dan jas rapi,,, sangat jauh bak langit dan bumi.
"Dia tuh yang bikin kamu gak bisa berkuasa dengan harta peninggalan kakekmu, Jesh. Jadi gak usah kasihani dia." sisi hati tergelap Rajesh berbisik.
"Ini mas sarapannya." Indah menyodorkan sepiring nasi goreng yang diam diam akhir akhir ini menjadi kesukaan Rajesh.
"Nasi goreng lagi??? Nggak bisa masak yang lainnya apa kamu hah?? Gak kreatif banget!!!" umpat Rajesh sembari menarik piring itu dan mulai menyuapkan ke mulutnya sendiri.
Betapa ia suka dengan rasa masakan Indah ini. Jauh dibandingkan nasi goreng buatan mbok Rati yang sudah sering menemani paginya selama ini. Bahkan Rajesh bisa bilang kalau nasi goreng buatan Indah ini layak dihidangkan di restoran.
"Gimana mas? Apa masih keasinan seperti biasanya?" tanya Indah yang sudah hafal karena tiap harinya Rajesh selalu bilang masakannya keasinan.
"Susah ya ngomong sama kamu. Kamu tuh emang dasarnya suka dan niat mau buat aku darah tinggi makanya garamnya selalu kamu banyakin!!!" ketus Rajesh yang sudah menghabiskan sepiring nasi goreng keasinan versinya itu.
"Padahal udah aku kurangin banyak lho mas garamnya." lirih Indah.
"Kenapa dikurangin??? Kan bisa merubah cita rasanya nanti!!" protes Rajesh spontan.
Baginya nasi goreng ini sudah enak jadi jangan dikurang kurangi atau ditambah tambahi apa apa lagi.
__ADS_1
"Lho kan mas yang bilang kalau ini masih keasinan. Tiap hari lho mas kamu bilang asin. Jadi ya aku kurangin terus garamnya."
"Mm,,, Ng,,, ya berarti itu asin bukan karena garam tapi kena keringatmu itu. Iya benar, kena keringatmu!! Dasar jorok!!" Rajesh yang malu membuat alasan lain.
"Mas,, sekali saja kamu puji masakanku kenapa sih mas? Kamu nggak akan rugi untuk itu." ucap Indah memelas.
"Oh ya jelas rugi dong. Banyak lagi ruginya!! Itu cuma bakal nyenengin kamu dan bikin kamu melayang terus lupa diri dan makin buruk cita rasa masakan kamu!! Yang rugi siapa?? Aku lagi kan?? Udah bagus masih mau berstatus suami kamu tapi kamunya gak nguntungin aku sama sekali." cecar Rajesh.
Rajesh berdiri dan Indah tak menjawab lagi. Ia memilih membereskan meja makan sebelum mama Rina dan papa Gunawan yang baru pulang dari luar kota semalam menyusul sarapan.
"Indaaahhh,, Mana tas kerjaku???" teriak Rajesh yang sebenarnya hanya ingin ditemani Indah sampai ke mobil.
"Sudah di mobil mas." teriak Indah dari ruang makan.
"Siapa suruh udah taruh di mobil?? Ambil!!!" teriak Rajesh lagi.
Indah menghela napas mencoba mempertahankan kesabarannya menghadapi ulah Rajesh yang makin hari makin kekanak kanakan. Lucu kan? Tas sudah di mobil malah disuruh ambil lagi. Biasanya juga kalau dibawakan oleh Indah, Rajesh tetap memaki dengan kata kata gak becus jadi istri.
"Ini mas." Indah kembali dengan tas ditangannya.
"Bawain!!!" tolak Rajesh.
"Lho tadi kamu suruh aku ambil dari mobil terus sekarang kamu masih minta aku bawain kesana lagi? Maunya apa sih mas?" protes Indah.
"Ya bawain!! Siapa suruh lancang naruh di mobil duluan?? Lagian ya,,, udah mulai pinter protes kamu kayaknya ya sekarang. Mau jadi istri durhaka???" Rajesh mendelik kesal karena sebenarnya ia sendiri tak tau apa maunya.
"Mau durhaka bagaimana? Memangnya aku diakui sebagai istri??" tanya Indah dengan dua bola mata menatap Rajesh intens.
Rajesh kikuk ditatap dan ditanya seperti itu.
"Aaarrgghh!! Banyak tanya kamu!!!" Rajesh menyambar tas itu dan menutup pintu mobil dengan cepat takut Indah melihat rona wajahnya yang berubah karena malu.
Indah hanya tersenyum mendapati ulah Rajesh itu. Ia yakin,,, Rajesh suatu hari akan bisa menerimanya.
...\=\=\=\=\=\=...
...Selamat siang gengs,, Author nulis satu bab dulu terus pamit mau kerja dan lembur lagi ya 🥴💪...
...With love, ...
__ADS_1
...Author....