Aku Menyesal Membuangmu

Aku Menyesal Membuangmu
Karena Tempe


__ADS_3

๐ŸŒธPov Rajesh๐ŸŒธ


Alyssa memang telah pergi dari hidup kami. Tidak ada lagi canda tawanya. Tidak ada lagi tangisan Bagas terdengar di rumah ini. Rumah ini kembali sepi seperti saat saat di mana Alyssa belum hadir di tengah tengah kami.


Rumah hanya kadang masih ramai oleh para tetangga yang masih saja kepo bertanya tanya kenapa bisa pernikahan kami batal. Aku tentu saja memilih menghindar sebisa mungkin. Kalau mama, sulit menghindari itu karena kebanyakan mereka yang bertanya justru langganan cuci gosok mama. Sambil mengantar cuciannya, mereka akan bertanya tanya.


Mama menjawab seadanya saja. Tidak pernah melebih lebihkan setauku. Tidak mengumbar juga tidak menutupi. Pokoknya apa adanya. Mama semakin menyibukkan diri dengan kegiatan cuci gosoknya seolah memberiku waktu lebih banyak untuk menyendiri.


Ya,,, menyendiri meratapi nasib diri.


Bukan sedih ditinggal atau batal nikah dengan Alyssa. Karena aku memang tidak mencintainya. Rasanya akan lebih berdosa jika kami menikah dan aku hidup dengan terus menipunya, berpura pura mencintainya. Aku mungkin juga akan jadi suami berdosa karena aku yakin aku tak akan pernah sanggup memberinya nafkah batin.


Aku sudah tau kalau aku tidak akan pernah bisa melakukannya. Ya sudahlah,, untungnya lelaki bernama Ferry itu datang tepat waktu. Lagipula Alyssa telah bahagia bersamanya. Kedua insan yang saling mencinta meski sempat terpisah karena hal hina.


Lalu aku? Bagaimana? Kemanakah kapal ini akan berlabuh? Mampukah kapal ini kembali pada pelabuhannya? Masih adakah harapan aku dan Indah bisa bersama lagi?


Tak apa meski ia sudah jadi istri orang,,, aku akan menantinya. Bahkan tanpa tau malu aku bahkan rela jadi orang ketiga jika memang ia menginginkannya. Tapi sayangnya itu tidak mungkin. Indahku adalah wanita terhormat yang pandai menjaga martabat suaminya dan marwah dirinya sendiri sebagai seorang istri.


Akunya saja yang terlalu bodoh sampai melepaskan sebongkah berlian sepertinya demi seonggok batu kali layaknya Nadine.


Ah Nadine,,,di mana ia sekarang? Bahagiakah ia bersama Gunawan? Jujur hati ini tidak bisa serta merta membenci pria tua yang pernah ku panggil dengan sebutan papa itu. Meski beliau sudah sangat melukaiku, namun mengingat dari mana asalku dan kesediaannya menjadi ayah sambungku,,,, hati ini luluh juga meski rupanya apa yang dilakukannya itu tidaklah tulus.


Tetap saja,,, diri ini berterima kasih telah diberi kesempatan merasakan kasih sayang seorang papa yang bahkan tak pernah ku dapatkan dari papa biologisku.


Aku tak pernah lagi menyinggung atau mempertanyakan hal itu kepada mama. Takut melukai perasaannya. Bagiku, wanita hebat seperti mama sudah cukup. Beliau sudah bersedia mengandungku sampai sembilan bulan tanpa sedikit pun niatan untuk menggugurkan sudah menjadi nilai plus bagiku. Belum lagi beliau juga bersedia bertaruh nyawa saat melahirkanku. Apalah artinya kekhilafannya mengatur pernikahanku dengan Indah meski itu awalnya untuk tujuan buruk.

__ADS_1


Kembali lagi pada diri yang galau ini,,,,


Hari hariku makin berat. Hati ini makin merindu sekaligus menyesal. Sesak yang seperti tak pernah ada sedikit pun celah untuk diuraikan.


Indah,,, aku mencintaimu. Aku merindukanmu sayang,,,


Rasanya menyesal tak pernah berbaik sikap padanya dulu, rasanya sesak mengingat semua sikap dan perkataan kasar yang terlontar dari bibir ini,,, rasanya tak ingin hidup lagi mendapati kenyataan bahwa kami tak lagi berstatus suami istri.


Masih bolehkan diri ini berharap? Bolehkah berdoa buruk untuknya dan calon suaminya? Egoiskah jika diri ini memohon agar Tuhan memisahkan mereka??


Buliran bening terus saja berdatangan tanpa ku tahu masih seberapa banyak lagi stocknya. Mereka mengalir begitu saja membasahi wajah ini tiap kali aku mengingat Indah. Sungguh tidak sopan!! Membuatku makin terlihat rapuh saja.


Pekerjaanku rasanya mulai tidak benar. Aku mulai teledor dan beberapa kali melakukan kesalahan yang membuat si bos mulai tidak senang dengan kinerja kerjaku. Ini tidak baik. Aku tau itu,,, tapi aku tak kuasa mengatur diri yang galau ini.


"Iya ma."


Ku susul mama ke lantai beralaskan karpet kasar yang selalu kami gunakan untuk makan lesehan. Jangan harap ada meja makan megah dengan hidangan lezatnya.


Mataku tertegun melihat apa yang tersaji. Hanya nasi dan dua potong tempe goreng tipis masing masing ada di piring kami. Oh ya,,,sedikit garam juga dan sebiji cabai merah.


"Ala kadarnya saja ya Jesh. Nggak apa apa kan? Uang gajian mama dari cuci gosok sudah mama pakai untuk bayar kontrakan bulan ini. Jadi mama sementara hanya bisa beli ini dulu. Ayo nak, dimakan."


Rasanya aku tertampar sekali lagi oleh kenyataan. Aku lupa bahwa bulan ini gajiku banyak terpotong untuk beberapa kesalahan yang sudah ku buat. Diri yang galau ini lagi lagi memakan korban. Tidak hanya pekerjaan tapi juga mama.


Aku nggak boleh terus begini. Aku harus bangkit. Aku nggak mau jika suatu hari nanti takdirku dan Indah sudah bisa bertemu lagi lalu hidupku masih di bawah garis kemiskinan seperti ini.

__ADS_1


Cukup sudah!! Aku adalah seorang Rajesh Anantara yang pernah menjadi seorang CEO di perusahaan besar. Sudah cukup aku terpuruk. Saatnya bangkit dan bersinar lagi.


Demi kamu Indah sayang,,,,Jangan sampai jika tiba waktunya Tuhan berbaik hati mengembalikanmu padaku dan aku hanya bisa membawamu hidup dalam derita seperti ini sayang,,,,


"Jesh,,, kamu nggak suka lauknya ya? Maafkan mama ya nak." kedua netra mama basah karena ulahku yang malah melamun.


"Nggak kok ma. Rajesh hanya tiba tiba punya ide baru saja untuk mengembangkan usaha kecil kecilan tapi milik sendiri. Kita awali saja dari tempe. Rajesh mau buat berbagai olahan dari tempe. Nanti akan Rajesh pasarkan ke teman teman lama Rajesh yang membuka rumah makan atau toko. Rajesh yakin dengan bekal ilmu marketing dan tata boga yang dulu Rajesh pelajari,,, Rajesh mampu membawa kita keluar dari penderitaan ini ma. Sudah saatnya mama istirahat. Biarkan Rajesh yang bergerak." ucapku penuh keyakinan.


"Kamu yakin nak?" kedua netra mama sudah tak mampu membendung airmatanya lagi, semua tumpah ruah.


"Doakan saja Rajesh ya ma." ku genggam jemari mama dengan hangat.


Mama pun mengangguk mengiyakan dan tetap masih berlinang airmata. Kami tenggelam di suasana haru sesaat karena tempe.


...\=\=\=\=\=\=...


..."MISTERI MALAM PANAS SHAKIRA"...


...SUDAH RILIS YA,,,...


...Ini pertama kalinya author nulis cerita tanpa bumbu perselingkuhan atau pun poligami. Cerita ini memang akan tetap berbau romance tapi ada unsur horornya juga. Bagi yang merasa penakut, jangan khawatir,,,, author gak sejahil itu untuk membuat kalian sampai kebayang bayang kok ๐Ÿ˜‚ so,,, stay tune. Klik fav dan send your comment and vote yaaa ๐Ÿ˜˜๐Ÿ˜˜๐Ÿ˜˜...


...With love,...


... Author....

__ADS_1


__ADS_2