Aku Menyesal Membuangmu

Aku Menyesal Membuangmu
Sepucuk Surat


__ADS_3

Rajesh terduduk lemas pagi itu di beranda rumah kontrakannya. Tak ada gairah hidup. Tak ada semangat kerja. Sejak kepergian tamunya yang merupakan seorang lelaki berseragam oranye khas warna sebuah kantor pelayanan pengiriman surat menyurat.


Sepucuk surat yang diberikan bapak itu kepadanya mampu merusak moodnya hari ini bahkan meski belum dibukanya. Bagaimana tidak? Surat itu terbungkus sebuah amplop coklat dengan label nama sebuah kantor pengadilan agama.


Tanpa membukanya terlebih dulu juga Rajesh sudah bisa menebak apa isinya. Memangnya ada urusan apa dirinya dengan pengadilan agama selain urusan pernikahannya dengan Zoya? Rajesh hanya bisa menghela napas saat ini. Menahan sesak yang tiba tiba terasa menyekat dadanya.


"Lho mas,,, kamu kok belum berangkat? Kirain udah jalan lho kamu." tegur Alyssa yang kaget melihat calon suaminya itu rupanya masih duduk di situ.


Rajesh tak berselera untuk menjawab meski telinganya mendengar jelas. Moodnya benar benar kacau. Dan itu membuat Alyssa curiga. Ia melihat sebuah amplop coklat di tangan Rajesh.


"Surat apa itu mas?" tanyanya menyelidik.


Namun karena Rajesh tak kunjung menjawab, maka Alyssa mengambilnya saja dari tangan Rajesh yang juga tanpa penolakan apa pun. Rajesh tetap membisu dengan tatapan kosong. Alyssa lantas membaca sampul surat dan membuka serta membaca isinya. Matanya seketika berbinar binar. Raut wajah bahagianya mengalahkan senyum matahari pagi itu.


"Surat apa itu Alyssa? Lho,,, Jesh, masih di sini? Nanti kamu telat lho ke mini market." tegur mama Rina yang keluar rumah hendak menjemur pakaian yang baru selesai dicucinya.


"Ma lihat deh,,, Wanita itu sudah menggugat cerai mas Rajesh. Ini bagus ma. Artinya mas Rajesh juga nggak perlu susah susah mengurus perceraian. Nggak usah keluar biaya juga. Hemat jadinya kan. Lumayan uang untuk urus itu bisa kita manfaatkan untuk yang lainnya. Semua sudah pasti ditanggung penggugatnya. Dan yang lebih membahagiakan adalah dengan begini, akhirnya kami berdua bisa segera menikah. Waktu yang diminta mas Rajesh sudah bisa segera berakhir. Alyssa senang banget deh. Kamu juga kan mas??"


Alyssa nyerocos dan berakhir dengan mempertanyakan perasaan Rajesh. Rajesh membisu bahkan sama sekali tak merespon. (Alyssa bukan tidak punya uang, tapi uang sejumlah 1 Milyar dari Zoya memang sudah disisihkan hanya untuk keperluan Bagas nantinya.)


"Mas!!!" sentak Alyssa yang merasa seketika diabaikan oleh Rajesh.


"Eh,,, iya. Maaf. Apa? Tadi kamu bilang apa?" akhirnya Rajesh tersadar dari lamunannya.

__ADS_1


"Kamu senang kan dengan gugatan cerainya? Artinya kita bisa segera menikah. Tidak perlu menunggu lama lagi. Aku yakin orang kaya itu sudah menyewa pengacara handalnya untuk mengurus semuanya dan artinya itu bisa selesai cepat. Senang kan mas???" Alyssa benar benar semangat tanpa mau tau seperti apa hancurnya hati Rajesh saat ini.


"Eh iya. Iya. Se,,,nang. Tentu saja aku se,,,nang." jawaban Rajesh yang sedikit terputus putus itu membuat mama Rina bisa merasakan kepedihannya.


"Sudah, nanti saja dibahas lagi ya. Berangkat dulu sana Jesh. Nanti telat kerjanya. Kamu nggak mau sampai dipotong gaji kan kalau telat?" mama Rina dengan senyum keibuan mengusir halus demi membebaskan putranya dari beragam pertanyaan Alyssa yang jelas mama Rina tau apa jawabannya.


"Iya ma. Rajesh berangkat dulu."


Rajesh lantas mencium tangan sang mama dengan khidmat. Ingin rasanya ia menumpahkan kesedihannya pagi itu namun tak mungkin ia lakukan saat masih ada Alyssa. Nantilah kalau mereka ada waktu berdua saja. Rajesh memang tidak pernah tau kalau Alyssa rupanya suka mencuri dengar obrolan mereka.


Rajesh lantas berpindah pada Alyssa. Seperti biasa, ia membiarkan wanita itu mencium tangannya layaknya istri yang mengantar keberangkatan suaminya mencari nafkah. Tak lupa Rajesh pun mencium Bagas yang tertidur di gendongan Alyssa layaknya seorang ayah kepada anaknya.


"Hati hati di jalan mas. Fokus kerja, fokus menata masa depan ya mas. Jaga mata, jaga hati, jaga pikiran, selalu ingat ada aku, Bagas dan mama yang menggantungkan harapan besar padamu mas." ucap Alyssa.


Sepanjang perjalanannya menuju ke mini market tempatnya bekerja sebagai kepala toko, Rajesh tetap tidak bisa menghilangkan pikirannya dari Zoya. Rasanya baru beberapa hari lalu mereka bertemu, lalu gugatan cerai itu datang pagi ini. Meski awalnya justru Rajesh yang ingin mengurusnya, ternyata Zoya bergerak lebih cepat.


Tentu saja, dengan uang dan tim kuasa hukum yang dimilikinya urusan seperti ini tidaklah susah bagi Zoya. Lain dengan Rajesh yang ingin mengajukan gugatan ke pengadilan saja harus menunggu permohonan ijin libur kerjanya disetujui oleh bosnya. Belum lagi, dana untuk membayar uang panjer pengajuan gugatan cerai juga harus dipikirkannya juga.


Rajesh merasa down. Ternyata sesakit ini rasanya digugat cerai oleh wanita yang dicintainya setelah sekian lama disakitinya. Ternyata sesakit ini menanggung cinta yang datangnya sangat terlambat.


"Kenapa juga harus bertemu lagi jika akhirnya terpisah lagi Tuhan? Kenapa rasanya aku lebih baik tidak pernah bertemu dengannya seumur hidup namun status kami masih tetap terhubung sebagai suami istri meski hanya di atas kertas? Kenapa aku tidak rela melepaskannya? Bolehkah aku merebutnya kembali? Berdosakah jika aku meninggalkan Alyssa dan Bagas??"


Ribuan pertanyaan menggerogoti jiwanya hingga akhirnya tanpa sadar ia pun sampai di tempatnya bekerja. Beruntung meski mengendarai motornya dengan melamun sepanjang jalan, Rajesh bisa tiba di tujuan dengan selamat.

__ADS_1


Sadar akan itu, Rajesh pun mengucap ribuan syukur kepada Rabbnya. Rajesh pun berusaha keras fokus dalam pekerjaannya. Ia tidak mau sampai melakukan kesalahan yang berakibat membuatnya sampai harus diberhentikan dari pekerjaannya. Pekerjaan itu nyawanya saat ini. Susah payah ia jalani meski tak ada perkembangan yang berarti. Meski gaji yang didapat rasanya tidak pernah ada cukupnya untuk menghidupi semua yang ada di rumah kontrakannya.


Nasib mungkin telah begitu kejam kepadanya. Jika kata pepatah hidup bagai roda, selalu berputar,,, maka kali ini Rajesh merasa rodanya telah patah hingga tak mampu membawanya berputar atau naik di posisi teratas lagi. Rajesh hanya akan terus terpuruk. Ditambah dengan surat gugatan itu,,, lengkap sudah penderitaan.


"Ma,,, Menurut mama, mas Rajesh gimana perasaannya saat ini? Beneran senang nggak ya?"


Mama Rina yang ditanya Alyssa seperti itu langsung terbatuk batuk. Beliau bingung harus jawab apa.


"Batuk mama cukup meyakinkan Alyssa kalau kalian sebenarnya tidak senang. Kalian terpaksa menerima Alyssa kan? Nggak apa apa kok ma kalau mama mau jujur sama Alyssa. Itu lebih baik daripada terus diam dan menyayangi Alyssa dalam kepura-puraan saja." lirih Alyssa.


"Alyssa,,, kamu ngomong apa sih nak? Mama batuk memang karena sedang gatal saja tenggorokannya. Mana ada batuk bisa menjawab pertanyaan?" ujar mama Rina tak ingin percobaan bunuh diri itu terulang lagi.


Alyssa murung.


"Sudah,,,nanti saja tunggu Rajesh pulang baru kita bicarakan ya. Biar Rajesh sendiri yang mengatakan perasaannya saat ini seperti apa. Kalau mama sih takut salah ngomong."


Mama Rina bergegas masuk meninggalkan Alyssa yang makin murung saja.


...\=\=\=\=\=...


...Ada yang suka baca novel horor nggak sih di sini? Author rasanya punya ide mau nulis satu cerita horor,,, up nggak ya enaknya??...


...With love, ...

__ADS_1


...Author....


__ADS_2