Aku Menyesal Membuangmu

Aku Menyesal Membuangmu
Mimpi Zoya


__ADS_3

Delvara tampak diam dan berpikir. Ia juga berasumsi banyak tentang Indah.


"Apakah benar dia adalah Zoya adikku? Apakah itu juga sebabnya aku selalu merasa dekat dengannya meski hanya sekali dua kali bertemu dengannya? Tapi kenapa dia sama sekali tak mengenaliku?" gumam Delvara lirih namun masih terdengar oleh mbok Rati.


"Nduk Indah itu diperkenalkan kepada kami dalam keadaan lupa ingatan cah bagus. Dan waktu itu kami semua dilarang bertanya banyak kepadanya tentang asal usulnya karena itu memicu sakit kepalanya lagi." ujar mbok Rati.


"Lalu apa kalian pernah mencari tau siapa keluarganya?" tanya Delvara.


Mbok Rati menggeleng pelan dan itu membuat Delvara sedikit kesal.


"Kenapa kalian malah diam? Kenapa tidak berusaha mencari keluarganya? Kan kasihan kalau ada keluarga yang kehilangan anggota keluarganya seperti kami ini." cecar Delvara tak terima meski ia sendiri belum yakin apa benar Indah itu Zoya.


"Si mbok hanya manut sama aturan Wardoyo cah bagus. Kami semua tidak pernah ada yang berani membantahnya. Lagipula saat ada nduk Indah, kesehatan Wardoyo yang sering terganggu sebelumnya menjadi stabil. Kehadiran nduk Indah di tengah tengah kami membuat Wardoyo bahagia dan karenanya kami semua tidak pernah ada yang protes atau pun mencoba membicarakan hal ini lagi. Sampai,,, den Rajesh tau tau dipaksa menikahinya. Semua jadi berubah sikap kepadanya."


"Tetap saja tindakan itu tidak benar mbok. Tanpa sadar kalian telah memutus hubungan sebuah keluarga yang mungkin di luar sana juga sedang mencari cari Indah atau siapa pun nama aslinya." tegas Delvara.


Mbok Rati hanya diam. Mau menyangkal juga perkataan Delvara itu ada benarnya. Mau banyak bicara lagi juga sudah terlanjur kejadian seperti itu.


"Mbok,,, maaf ya. Del bukan bermaksud menyalahkan mbok saja. Del paham mbok hanya ikut perintah." Delvara jadi tidak enak melihat mbok Rati yang tertunduk diam memainkan ujung kainnya.


"Iya cah bagus. Si mbok juga gak tau mau ngomong apa soalnya."


"Sepertinya saya harus menemui Indah. Mengajaknya bicara hati ke hati karena saya juga penasaran dengannya. Tapi bagaimana caranya? Tidak mungkin kan tiba tiba datang ke rumah Rajesh untuk mengajaknya bicara?" Delvara bingung.


"Wah si mbok juga gak bisa bantu kalau urusan ini cah bagus. Nduk Indah itu selalu diam di rumah. Tidak pernah diperbolehkan keluar rumah oleh Wardoyo sejak dulu kecuali untuk urusan mendesak. Saat masih sekolah pun selalu diikuti oleh penjaga. Jadi agak susah menemuinya."


"Tapi waktu itu,,, dia sendirian di luar mbok." cetus Delvara ingat kejadian pertamanya bertemu Indah.


"Itu kan karena nyonya nggak mau semobil sama nduk Indah." jawab mbok Rati yang sempat diceritai oleh Indah.


Entah kenapa mendengarnya membuat dada Delvara bergemuruh. Ia emosi. Kesal Indah diperlakukan seburuk itu oleh mereka.

__ADS_1


"Kalau sampai benar Indah itu adik saya mbok,,, saya akan ambil paksa dia dari Rajesh. Saya nggak sudi punya adik ipar seperti Rajesh. Meski dia sahabat saya, tapi kalau tau dia sudah berlaku kasar dan buruk pada adik saya, maka saya tidak akan memaafkannya." ujar Delvara.


"Cah bagus,,, kan belum tentu benar kalau nduk Indah itu memang non Zoya. Si mbok malah takut kalau cah bagus seperti ini. Takutnya dugaan kita salah. Si mbok kan jadi merasa paling bersalah jadinya." mbok Rati cemas.


"Hehehe iya mbok. Kan saya sudah bilang kalau Indah benar adik saya. Kalau bukan ya saya tidak bisa berbuat banyak meski jujur saya tidak setuju kalau Rajesh berbuat begitu pada istrinya. Saya ini selalu menasehati dia mbok tapi nggak pernah didengar."


Pembicaraan terputus saat ponsel Delvara berdering karena ada telepon masuk dari seseorang.


"Nadine??" gumam Delvara.


Ia enggan menjawab telpon dari gadis yang sudah mengkhianatinya itu tapi ia juga penasaran dengan apa yang akan dikatakan oleh gadis itu. Hingga akhirnya dering itu berhenti dan Delvara hanya menghela napas berat.


"Kok nggak diangkat cah bagus?" tanya mbok Rati.


"Malas mbok. Itu dari Nadine. Sepertinya saya lebih ingin fokus mencari tau tentang siapa Indah sebenarnya. Saya nggak mau adik saya terlalu lama menderita kalau benar dia Zoya."


"Carane piye cah bagus?"


"Entahlah mbok. Tapi saya pasti akan mencari jalan terbaik."


"Saya mengerti mbok. Saya tidak akan gegabah mengambil tindakan."


Ponsel Delvara kembali berdering dan itu lagi lagi dari Nadine.


"Dijawab saja toh cah bagus. Siapa tau penting. Kalau begitu si mbok tinggal ke kamar dulu ya. Si mbok sudah mengantuk." pamit mbok Rati.


"Iya mbok." jawab Delvara tanpa berniat menjawan telpon dari Nadine.


Meski dering telpon itu tak berhenti tapi Delvara tetap memilih mengabaikannya. Ia juga malah menonaktifkan ponselnya agar Nadine tak lagi mengganggunya. Ia hanya sedang ingin fokus. Pikirannya hanya dipenuhi oleh Indah saat ini.


"Bagaimana kalau dia bukan Zoya? Apa arti perasaan aneh ini? Cintakah aku padanya? Atau apa sebenarnya? Kenapa mengetahui Nadine berselingkuh di belakangku, aku malah merasa bebas untuk mengembangkan perasaan anehku pada Indah. Tidak mungkin aku merebutnya dari Rajesh."

__ADS_1


"Pokoknya aku harus bisa menemuinya segera. Aku ingin bicara dengannya. Siapa tau dengan hanya bicara berdua, ia bisa mengenaliku."


Delvara tidak bisa tidur meski ia sudah berpindah ke kamarnya. Otaknya terus berputar mencari cara bagaimana bisa mendekati gadis itu. Sifatnya yang pemalu sepertinya akan lumayan membuat Delvara kesulitan.


Hingga akhirnya menjelang pagi, matanya baru bisa terpejam.


"Kakak,,, Tolong Zoya. Zoya takut kak. Tolong Zoya kak."


"Zoyaaaaa!!!!" pekik Delvara sembari berusaha meraih tangan kecil Zoya yang tak sempat diraihnya.


Tubuh kecil Zoya terlempar ke dasar sungai dengan banyak bebatuan. Terlihat darah segar merembes keluar dan mengelilingi tubuhnya.


"Astaghfirullah!!!" Delvara terbangun dan langsung terduduk dengan tubuh dibasahi oleh keringat dingin.


Ia melihat sekeliling dan mengenali kamarnya sendiri. Delvara pun mengusap wajahnya.


"Ternyata mimpi. Tapi kenapa tumben aku memimpikan Zoya seperti itu? Dia meminta tolong padaku. Dia terjatuh ke sungai. Apa artinya ini semua ya tuhan?" gumam Delvara.


Delvara hilang rasa kantuknya meski rupanya ia baru tertidur sejam saja. Ia pun kemudian bangkit untuk mengambil air putih di meja kamarnya yang selalu disediakan oleh Nita. Ia meneguk segelas air sampai habis dan itu membuat detak jantungnya perlahan kembali normal.


"Apakah mimpi tadi artinya hamba harus yakin bahwa Zoya memang sudah berpulang kepadaMU? Ia menunjukkan pada hamba bagaimana ia meninggal." Delvara duduk menyandarkan tubuhnya di sofa kesayangannya di kamar itu.


Ia merenungi mimpi yang selama kepergian Zoya, baru kali ini ia dapatkan.


"Tapi jika benar ia meninggal, seharusnya ditemukan mayatnya. Bagaimana jika arti mimpi itu adalah sebaliknya? Zoya masih hidup dan butuh pertolonganku. Bagaimana kalau benar Zoya itu adalah Indah yang butuh pertolongan??" Delvara jadi frustasi sendiri dengan pikirannya.


"Tuhan,,, bimbing hamba menemukan jawaban atas teka teki ini."


...\=\=\=\=\=...


...Delvara sabar ya,,, kamu belum sefrustasi author yang dikejar kejar kerjaan 😩🥴...

__ADS_1


...With love, ...


...Author....


__ADS_2