
...🌸POV RODIE🌸...
"Saya terima nikah dan kawinnya Zoya Allura Devansha binti Almarhum Dion dengan mas kawin tersebut diatas dibayar tunai."
Suara lantang Rajesh dalam sekali tarikan nafas itu terasa membuat hati ini bahagia sekaligus terkoyak. Terutama ketika seluruh ruangan ini menyatakan bahwa pernikahan ini sah.
Senyumku auto mengembang seiring dengan pecahnya tangisan dalam hati. Aku tersenyum untuk kebahagiaan wanita terkasih dalam hidupku yang telah menemukan bahagianya, yang telah kembali dihalalkan oleh Rajesh, lelaki idamannya selama ini.
Tapi hati ini tak bisa diajak berbohong. Ia tetap saja menangis dan meratapi nasib diri ini. Tangis yang ku sembunyikan jauh dalam lubuk hati dan hanya ku biarkan Tuhan saja yang tau.
Salahkah aku jika hati ini tetap saja mencinta? Salahkan diri ini jika hati ini tetap tak mampu menganggapnya hanya sebagai adik? Egoiskah hati ini?
Hampir sebulan ini kami tinggal serumah. Aku, Zoya dan rajesh. Tak lupa dokter pribadiku, Angie dan suaminya yang tentu tak mau jauh dari pasiennya yang bisa saja berhenti napasnya kapan saja ini.
Keadaanku memang jauh membaik seiring dengan hati yang senantiasa merasa lega karena selalu dekat dengan kesayanganku. Aku mengalami peningkatan yang signifikan. Kaki lemahku perlahan bisa ku gerakkan meski masih belum mampu menopang keseluruhan tubuhku. Tapi itu sudah kemajuan pesat yang patut ku syukuri mengingat betapa dulu Angie berputus asa untuk kondisiku.
Tapi tetap saja,,, semakin bersama, semakin sadar juga bahwa aku akan kehilangan dirinya. Zoya akan segera menjadi nyonya Rajesh dan itu sudah terjadi. Dengan kesadaran total bahkan aku rela menjadi saksi dari pernikahan mereka.
"Terima kasih sudah mau mendampingiku."
Kepala ini mengangguk seiring senyum yang senantias terukir sepanjang acara berlangsung. Zoya terlihat begitu bahagia di hari pernikahannya ini. Karenanya aku tak mau merusak suasana hatinya itu dengan bermuram durja.
"Semoga ini menjadi pelabuhan terakhirmu, Zo. Jangan ada lagi perpisahan kecuali maut. Semoga segera dihadirkan buah hati di antara kalian. Rasanya penasaran ingin melihatmu menggemuk karena bayi dalam perutmu membesar. Makin penasaran juga melihat Zoya kecil. Seperti apa sih? Apakah akan selucu ibunya atau segokil ayahnya?" ujarku sambil tetap mengurai senyum dan pendar pendar kebahagiaan di mataku.
Kali ini bisa ku akui,,, aku memang penipu ulung.
Aku mampu menipu semua orang dengan senyum manisku, dengan binar mataku. Aku mampu meyakinkan semua orang bahwa aku tulus berbahagia untuk kedua mempelai itu padahal sebenarnya jauh dalam hati ini masih menyimpan kata iri meski diri tetap sadar bahwa tak akan mampu menyaingi.
Ampuni hati yang kotor ini Tuhan,,, sungguh semua ini ku lakukan semata mata untuk membuat gadisku tak lagi meragu. Agar ia mantap dengan takdir dariMU. Agar tak lagi ada kisah atau penantian tak berujung dalam hidupnya. Kalau boleh hamba meminta,,, hapuskan dosa hamba karena telah menipu banyak orang Tuhan.
"Aku tau,,, tak semudah ini. Tapi aku akui aku kalah kuat darimu bro." Rajesh menepuk bahuku.
__ADS_1
"Bicara apa sih kamu ini? Ingat,,, ini hari bahagia kalian. Jangan mengacau. Aku baik baik saja dan tidak seperti yang kamu kira." ku yakinkan dirinya bahwa aku tidak menangis dalam hati.
"Terima kasih."
Rajesh memelukku dengan erat seolah tau betapa aku butuh banyak kekuatan untuk melewati semua kepedihan ini.
"Hei,,, sudah lepasin aku. Nanti kita dikira homo mau??" kekehku mencoba mencairkan suasana.
"Masih bisa saja melucu." ujarnya seraya melepaskan diri.
"Memangnya aku harus bagaimana? Menangis?? Untuk apa? Kalian bahagia,,, aku bahagia. Malah gak lucu dong kalau aku nangis di hari bahagia kalian? Memangnya aku mama Karin??" ku monyongkan bibir ini ke arah mantan mama mertuaku yang sedari tadi ku lihat terus menyeka airmata bahagianya menyaksikan sendiri bahwa putri kesayangannya juga telah mendapatkan bahagianya.
"Hehehe,,, durhaka lho bilang gitu. Ku bilangin ke mama Karin ya." ancam Rajesh sembari terkekeh.
"Ampun,,, jangan."
"Ya udah, aku temui tamu lainnya dulu ya. Tampaknya banyak yang belum sempat ku temui." pamit Rajesh.
Mata ini,,, dada ini,,, sudah semakin sesak mencoba menegarkan diri sendiri.
"Kamu kuat." bisik Angie yang kemudian datang menghampiriku.
"Harus." jawabku mantap.
"Malam ini juga kita balik ke Singapura dulu ya. Ada tindakan lanjutan untukmu. Kamu gak lupa kan?" Angie mengingatkan jadwal terapiku.
Aku langsung mengangguk. Lagipula aku tak ingin mengganggu pengantin baru itu untuk sementara waktu. Mereka pasti butuh situasi yang lebih privasi saat ini dan beberapa hari ke depan setidaknya. Dan orang cacat ini,,, tak ingin mengacaukan bulan madu mereka.
Angie is the best. Dia selalu paham dan tau yang terbaik untukku. Seandainya dulu hati ini tidak terlanjur buta oleh cinta kepada Zoya, mungkin Angie lah yang akan ku nikahi hehehe,,,
"Apa??? Ke Singapura? Malam ini juga??" Zoya tampak tak senang dengan berita yang ku sampaikan setelah para tamu undangan pulang.
__ADS_1
Acara pernikahan mereka memang tidak diselenggarakan dengan pesta besar besaran sesuai tujuan awal dengan alasan mereka tak punya banyak waktu menyiapkan acara semacam itu. Padahal aku tau itu bohong. Mereka terlalu sibuk merawatku hingga mengabaikan semua keperluan pernikahan mereka.
"Iya Zo, jadwal terapinya kan besok pagi. Jadi aku harus membawanya ke Singapura malam ini juga." Angie, selaku dokter pribadiku mewakiliku untuk menjelaskan pada Zoya.
"Kalau begitu tunggu sebentar. Aku akan berkemas. Kami akan ikut. Iya kan mas?" kini tatapan mata itu beralih pada Rajesh yang ku yakin tak akan sanggup untuk tidak mengiyakan kemauan ratu hatinya itu.
"Jangan Zo. Kali ini saja, jangan. Aku kan nggak sendirian ke sana. Ada Angie dan Daniel bersamaku juga. Kali ini ku mohon,,, jadilah istri Rajesh." aku mendahului sebelum Rajesh mengiyakannya.
"Tapi,,,"
"Menyenangkan suami apalagi di hari pernikahan kalian adalah kewajiban istri, Zo. Aku nggak mau kamu jadi istri yang buruk untuk Rajesh. Apalagi hanya karena aku." aku tak menerima bantahan apa pun darinya.
Zoya terdiam. Ia tak lagi membantah meski wajahnya menunjukkan rasa tidak senang. Sepertinya aku berhasil meyakinkannya untuk tidak pergi ke Singapura bersama kami.
"Baik baik di sana. Berkabar. Dan terima kasih atas pengertiannya." Rajesh mengatakannya setelah ia mendorong kursi rodaku hingga membantuku naik ke taksi yang akan mengantar kami ke bandara.
"Itu pasti. Jangan cemas. Jangan terlalu memikirkanku. Malam ini,,, berikan kebahagiaan seutuhnya untuknya. Dia pantas mendapatkan kebahagiaannya setelah penantian panjang kalian." ujarku dengan suara serak.
"Akan ku usahakan yang terbaik." jawab Rajesh.
Aku tersenyum sekaligus iri.Berat sekali rasanya merelakannya menyerahkan mahkotanya kepada Rajesh. Membayangkan mereka akan melewati lorong lorong malam dalam suasana romantis membuat gelombang setan merasukiku. Tapi tetap ku lawan sebisa mungkin.
Angie menggenggam tanganku, mengalirkan energi positif untukku. Dan aku beruntung memiliki dirinya dan juga Daniel yang saat ini duduk di kursi depan bersama dengan putri kecil mereka yang memang lebih lengket kepada ayahnya.
Setidaknya di depan mereka,,, aku tak perlu kembali menjelma menjadi penipu ulung. Kini aku bisa meluapkan semua tangis terpendamku. Mereka akan mengerti.
...\=\=\=\=\=...
...Up nya memang gak pasti ya guys,,, mohon maaf. Sesempatnya author ya 🙏...
...With love, ...
__ADS_1
...Author....