
Setelah Rajesh pergi menemui pak ustad, Alyssa pun berpamitan pada mama Rina untuk keluar membeli beberapa makanan dan minuman yang sekiranya bisa dijadikan suguhan nanti saat pernikahan mereka berlangsung. Meski dadakan tapi Alyssa yakin banyak tetangga yang akan hadir. Jadi tidak pantas rasanya kalau tak ada apa pun yang bisa dihidangkan.
"Kamu ajak Bagas juga?" tanya mama Rina yang melihat Alyssa memasang alat bantu gendong bayi.
"Iya ma. Sekali sekali nggak apa apa kalau Bagas diajak jalan jalan. Biar di jalan Alyssa juga nggak ada yang diajak ngomong. Lagipula mama kan pasti juga repot beres beres rumah. Alyssa takut Bagas ganggu." Alyssa tersenyum.
Wanita itu sebenarnya sangat manis bila tersenyum. Kesehariannya juga sangat baik. Namun kalau sudah membahas urusan pernikahan, wanita itu memang berubah menjadi sosok egois yang terkesan lupa diri.
"Ya sudah. Hati hati di jalan. Tuh lik Kardi sudah datang." ujar mama Rina sembari menunjuk tetangga yang punya becak datang menjemput Alyssa sesuai perintah Alyssa sebelumnya.
(Lik adalah sapaan sehari hari untuk laki laki jawa yang bisa diartikan paman, om, mas atau sekedar memanggil para tetangga.)
"Alyssa jalan dulu ma. Assalamu'alaikum."
"Wa'alaikumsalam. Hati hati lik Kardi. Jangan ngebut ngebut." mama Rina berpesan pada si tukang becak.
"Owalah mbakyu,,, gimana mau ngebut? Wong kecepatan becakku juga segitu gitu aja kok. Kakiku ini sudah gak kuat pakai genjot becak lama lama. Kalau genjot emaknya anak anak malam malam baru masih kuat." lik Kardi nyengir kuda disambut gelak tawa mama Rina dan juga Alyssa.
"Yuk ah mang. Keburu malam." ajak Alyssa.
"Siap mbak cantik."
Lik Kardi pun mulai mengayuh becaknya menuju ke mini market tempat Rajesh bekerja. Untuk area sana, mini market itu terbilang yang paling lengkap dan harganya juga lumayan terbilang standar. Banyak juga menawarkan promo promo diskon yang membuat banyak orang suka berbelanja di sana meski agak jauh dari desa karena terletak di pinggir jalan raya.
Setibanya di sana, banyak juga mobil mobil dengan plat plat luar kota yang singgah sekedar membeli minuman atau makanan ringan untuk bekal di jalan. Terletak di jalan utama penghubung kota antar kota menjadi kelebihan mini market ini. Halaman yang luas dan kursi yang tersedia di teras mini market juga mendukung untuk para pengguna jalan mampir beristirahat.
"Wes,,, sudah sampai mbak." ujar Lik Kardi.
"Iya lik. Tapi Lik Kardi tunggu saya ya. Jangan pulang dulu. Nanti kan saya bayarnya dobel." kata Alyssa.
__ADS_1
"Wooo siap mbak cantik. Saya tunggu di sana ya." lik Kardi menunjuk sebuah tempat teduh.
Alyssa mengangguk lalu berjalan memasuki mini market itu. Tanpa kesusahan mencari barang barang yang akan dibelinya karena Alyssa cukup sering datang ke sini sekedar membawakan makan siang Rajesh atau juga kadang berbelanja. Alyssa juga sudah kenal banyak karyawannya.
Tengah asyik memilih milih barang belanjaannya, Alyssa dikejutkan oleh suara familiar yang memanggil namanya.
"Alyssa!!!"
Alyssa menoleh dan wajahnya serta merta memucat. Tubuhnya pun menggigil. Keringat dingin mengucur entah dari mana datangnya. Kepalanya juga tiba tiba pusing mengingat kejadian buruk setahun silam.
"Mas,,, Fer,,,ry??" Alyssa terbata bata antara kaget, tidak menyangka sekaligus takut.
"Alyssa,,, Syukurlah,, akhirnya aku temuin kamu juga. Aku udah lama cari cari kamu. Aku cari kamu kemana mana dan ternyata informasi yang ku dapat itu benar. Katanya kamu sering datang ke tempat ini." Ferry begitu terlihat sumringah.
Lain dengan Alyssa yang makin ketakutan tau dirinya ternyata dicari cari oleh Ferry. Alyssa takut akan diperlakukan buruk lagi.
"Ka,,, ka,,, kamu mau apa mas?" tanya Alyssa takut takut dan naluri keibuannya membuatnya mundur selangkah demi menjauhkan Bagas dari tangan Ferry.
"Alyssa,,, aku ingin ajak kamu pulang."
"Pulang?? Pulang kemana? Kita bahkan nggak pernah rumah yang sama." tanya Alyssa.
"Alyssa aku minta maaf atas kejadian itu. Aku menyesal Alyssa. Sungguh. Aku berusaha mencarimu kemana mana demi mengajakmu kembali merajut cerita kita. Aku, kamu dan anakku ini." Ferry memelas dan bulir bulir bening dari matanya sudah berjatuhan membasahi pipinya.
"Anakmu?? Dari mana kamu yakin ini anakmu mas? Sementara aku ibunya saja nggak pernah tau siapa ayahnya!!! Kalian semua sudah menodaiku dan bahkan itu membuatku tak tau harus ku nasabkan pada siapa anak ini??!!!" sengit Alyssa tiba tiba emosinya meninggi mengingat pemerkosaan itu.
"Aku nggak peduli Alyssa. Aku nggak peduli benih siapa di antara kami semua. Tapi bagiku, ini adalah anakku. Aku yang pertama melakukannya Alyssa. Dan hasilnya pun,,, aku yang akan mengakuinya. Aku mohon Alyssa. Kembalilah padaku. Aku tersiksa sekali tanpamu." Ferry kembali memohon.
Alyssa menatap Ferry dengan pandangan menyelidik dari ujung kepala hingga ujung kaki. Lelaki itu terlihat sangat berbeda dengan tampilan gagah dan kaya rayanya. Mengingatkan Alyssa pada wanita kaya yang jadi incarannya dulu.
__ADS_1
"Hhh,, tersiksa kamu bilang mas? Kenapa aku sama sekali tidak melihat siksaan itu dari penampilanmu ini? Lagipula,,, mau kamu jadikan apa aku nantinya kalau aku ikut denganmu? Istri keduamu?? Atau sekedar pembantu di rumahmu dan istrimu yang kaya raya itu??" sengit Alyssa.
Ia bahkan sudah tidak peduli ketika beberapa karyawan yang mengenalnya mulai bergunjing. Beberapa pembeli juga tak luput pandangannya kepadanya dan Ferry.
"Nadine maksudmu?? Aku sudah menceraikannya Alyssa. Aku bahkan sudah mengusirnya juga dari rumah begitu seluruh hartanya aku kuasai. Aku melakukan semua sesuai dengan tujuan utamaku dulu. Aku tidak pernah mencintainya Alyssa. Hanya kamu yang aku cintai. Dan aku makin menyesal telah berlaku buruk padamu. Aku khilaf Alyssa. Aku banyak pikiran waktu itu. Maafkan aku Alyssa. Ku mohon."
Kini Alyssa dibuat terkejut lagi karena Ferry tiba tiba berlutut di depannya dan merangkul kedua kakinya. Ferry mengiba padanya tanpa peduli orang orang di sekitar mereka. Ferry menangis sejadi jadinya di depan Alyssa. Terlihat sangat alami dan tidak dibuat buat membuat dinding hati Alyssa goyah.
Alyssa tidak memungkiri bahwa Ferry adalah cinta pertamanya dan sejujurnya mungkin sudah ia tunjuk sebagai cinta terakhirnya juga. Alyssa membenci Ferry sekuat ia mencintainya. Rajesh?? Alyssa tidak pernah merasakan cinta, hanya saja Alyssa butuh lelaki baik itu untuk bisa memberikan masa depan untuk Bagas. Sisanya,,, Alyssa hanya mengikuti jalan takdirnya. Yang penting Bagas punya status.
"Sudahlah,, berdirilah. Jangan seperti ini." Alyssa meminta Ferry bangkit.
"Tidak Alyssa. Aku tidak akan berdiri sampai kamu memaafkanku dan mau kembali kepadaku." tolak Ferry makin mempererat rangkulannya pada kedua kaki Alyssa.
"Ak,,, aku nggak bisa kembali padamu mas." ujar Alyssa membuat Ferry mendongak.
"Semarah dan sebenci itukah kamu kepadaku Alyssa? Tidakkah kamu mau mengalah demi anak kita ini? Anak ini butuh status Alyssa. Dan akulah ayahnya,,, beri aku kesempatan untuk membuktikan bahwa aku juga bisa jadi ayah yang baik dah layak untuknya. Membuktikan juga bahwa aku bisa jadi suami yang baik untukmu Alyssa. Kamu tidak lupa kan akan mimpi kita berdua??"
"Mas,,, cukup!! Aku,, aku,,," Alyssa tergugu sembari menutup wajahnya dengan kedua tangannya.
Itu membuat Bagas ikut menangis merasakan emosional ibunya. Ferry segera berdiri dan mendekap keduanya. Menyalurkan kehangatan dan rasa aman bagi keduanya. Membuat Alyssa makin tergugu antara bahagia dan bimbang.
...\=\=\=\=\=\=...
...Masih adakah harapan Alyssa menerima Ferry?? Silahkan komen....
...With love, ...
...Author....
__ADS_1