
Indah menyeka keringat yang membanjiri tubuh dan wajahnya. Seharian ini ia benar benar lelah. Belum lagi sakit akibat jatuh tadi, juga masih terasa berdenyut nyeri.
"Nggak usah malas gitu." tegur mama Rina saat melihat Indah berdiri membungkuk memegang lutut sekedar meregangkan tubuh lelahnya.
"Maaf ma. Indah hanya lelah sedikit."
"Manja!! Ini nih,,, kalau pembantu disayang, jadi manja. Dikit dikit bilang lelah. Coba kalau dulu papa itu tetap menjadikanmu pembantu saja. Kamu pasti udah terbiasa mengerjakan semua. Nggak manja begini. Sekolah udah dibiayain, hidup juga dicukupi. Giliran balas budi kok gampang banget bilang lelah." sindir mama Rina.
"Ma,, Apa salah Indah sebenarnya? Kenapa mama tiba tiba berubah begini? Kalau memang harta peninggalan kakek yang jadi masalahnya,,, Indah rela kok ma. Indah tidak apa apa kalau semua mau mama ambil. Indah tidak menginginkannya. Indah juga cukup sadar diri kalau Indah ini hanya anak pungut. Bukan seperti mama yang memang anak kandung kakek Wardoyo."
Ucapan Indah yang tak tau kenyataan tentang siapa sebenarnya diri mama Rina membuat mama Rina sedikit malu dan merasa sebenarnya tak ada bedanya antara dirinya dengan Indah. Sama sama anak pungut. Tapi tentu saja mama Rina tak menampakkan raut wajah malunya pada Indah.
"Yakin kamu nggak mau??" tanya mama Rina dengan mata berbinar.
"Yakin ma. Mama boleh ambil semuanya. Indah hanya minta satu hal saja. Jangan minta mas Rajesh menceraikan Indah. Itu saja." pinta Indah.
Mama Rina awalnya kesal karena Indah berani beraninya mengajukan syarat. Tapi setelah dipikir pikir mungkin tidak ada salahnya juga membiarkan mereka tetap berstatus suami istri.
"Bawel ya kamu. Udah sana kerja lagi!! Tuh lantai masih kotor!!" tunjuk Mama Rina pada lantai yang bahkan tak ada setitik debu pun menempel.
"Iya ma." Indah merasa lelah namun tak ingin secepat ini menyerah.
"Hanya minta status kan?? Tidak minta diperlakukan seperti layaknya istri beneran??" tanya Rajesh memastikan saat mama Rina menemuinya di kamarnya setelah perbincangannya dengan Indah tadi.
"Nggak ada ngomong gitu sih dia. Cuma dia meminta mama jangan memintamu menceraikannya lagi. Ayolah,Jesh. Mau ya? Kan demi semua yang nantinya juga akan jadi milikmu juga." rayu mama Rina.
Rajesh terlihat menimbang nimbang sejenak sebelum akhirnya ia pun akhirnya mengiyakan. Mama Rina memekik senang dan memeluknya erat.
"Aaawww ma. Sakit." Rajesh meringis ketika lengan kanannya yang masih di gips malah ditekan oleh mama Rina.
"Eh iya maaf maaf. Mama lupa." kekeh mama Rina.
__ADS_1
"Bukan lupa tapi emang nggak tau. Selama Rajesh di rumah sakit kan bukan mama yang merawat Rajesh. Jadi mama mana tau apanya Rajesh yang sakit." sungut Rajesh.
Untuk sesaat, bayangan Indah berkelebat di benaknya. Rajesh ingat momen momen saat Indah merawatnya. Meski terus mendapat umpatan umpatan darinya, namun gadis itu tetap merawatnya dengan telaten. Entah berapa banyak kata maaf diucapkannya untuk sesuatu yang bukan salahnya.
"Duh anak mama ngambek nih?" goda mama Rina.
"Benar kan?? Memang bukan mama yang merawat Rajesh. Malah dia yang ngerawat. Kan Rajesh jadi kayak punya hutang deh sama dia kalau begini." sungut Rajesh lagi.
"Iya deh iya. Maafin mama kalau selama kamu di rumah sakit mama sama sekali nggak merawatmu. Bukannya apa. Kan kamu statusnya punya istri. Ya dimanfaatkanlah yang ada itu. Toh juga kamu nggak bakal dianggap berhutang kepadanya. Justru dia yang nambah utang kalau dia nggak rawat kamu. Kamu tuh,,, gimana sih? Masak yang beginian juga musti mama yang jelasin??"
"Iya juga ya." Rajesh kembali menghalau sebuah rasa yang sempat bergelayut di dadanya.
"Ya udah. Mama mau kasih tau papa juga." mama Rina semangat hendak menemui papa Gunawan.
"Udah dulu ya. Nanti disambung lagi." ujar papa Gunawan pada seseorang di telepon saat mama Rina tiba tiba masuk ke kamar mereka.
"Telpon siapa pa?" tanya mama Rina.
"Papa masih suka main golf ya? Mama gak suka tau. Apalagi lihat cewek cewek pembawa stiknya itu. Sok cantik dan seksii." ketus mama Rina yang merasa insecure dengan bodynya yang sudah mulai tidak sintal lagi.
"Yang penting kan papa nggak kegoda. Udah ah jangan bahas itu. Mama kenapa kok sepertinya lagi seneng?" tanya papa Gunawan mengalihkan pembicaraan.
"Eh iya pa. Mama emang lagi seneng karena Indah mau menyerahkan semuanya asalkan dia tidak diceraikan. Gimana menurut papa?" mama Rina seketika lupa dengan urusan cewek golf.
"Papa sih asal semua itu beneran bisa mengembalikan semuanya ya fine fine aja sih. Rajeshnya setuju?" tanya papa Gunawan.
"Setuju kok. Mama udah tanyain barusan."
"Ya udah kalau gitu. Bagus sih itu. Papa sih cuma ingin semua hasil papa peras otak dan Rajesh gak jadi milik Indah. Nggak adil dong buat papa sama Rajesh? Mama tau kan,,Papa juga kebiasa hidup enak. Bukan hidup susah. Jadi kalau sampai nama kita dicoret,,, ya bisa mati kita."
"Makanya itu mama juga nggak mau hidup susah. Eh pa,,, Papa beneran nih nggak masalahin status mama yang sebenarnya cuma,,,,, anak pembantu?" tanya mama Rina memelankan suaranya.
__ADS_1
"Udahlah ma. Nggak usah dibahas lagi. Kita udah puluhan tahun menikah. Nggak lucu kalau sekarang membahas beginian. Oh ya,,, papa udah terlanjur mengiyakan ajakan Hartono. Nggak enak kalau dibatalin. Nggak apa apa ya papa pergi sama Hartono dua tiga hari?" ijin papa Gunawan.
"Main golf aja kok sampai berhari hari sih pa??" sungut mama Rina.
"Ya kan mainnya bukan di lapangan dekat sini. Ini di luar kota ma." ujar papa Gunawan.
"Hampir tiap bulan,,, bahkan dua minggu sekali papa tuh keluar kota. Tapi nggak pernah sekalipun ngajak mama. Sebenarnya papa ngapain aja sih di sana??" gerutu mama Rina.
"Ya kerja juga lah. Mama kan tau anak cabang perusahaan papa kamu itu banyak. Makanya papa merasa nggak adil banget kalau papa yang udah mati matian kerja,,, sibuk peras otak,,, bolak balik luar kota untuk membuat bisnis makin maju tapi ujungnya yang dapat Indah."
Mama Rina masih tak bergeming karena tiba tiba nalurinya sebagai istri terusik.
"Jangan ngambek begitu. Papa kerja keras juga demi mama kan? Biar mama bisa tetap shopping, ke salon dan melakukan banyak hal yang mama suka." hibur papa Gunawan seperti biasanya tiap kali mama Rina ngambek ditinggal ke luar kota.
"Paling pinter ngerayu mama deh papa ini." raut wajah ngambek mama Rina sudah berubah mendengar kata shopping dan salon.
"Apa sih yang nggak buat mama?" goda papa Gunawan.
"Ya udah. Mama mau lihat pembantu itu dulu. Nanti kalau gak diawasi kerjaannya ngawur." mama Rina bergegas keluar kamar.
"Huh,,, dasar anak pembantu. Sama sama anak pembantu saja belagu. Aku nggak akan tinggal diam. Lebih baik aku mulai mengambil sedikit demi sedikit sebelum semuanya raib. Aku nggak yakin, Indah segampang itu menyerahkan semuanya."
Papa Gunawan diam diam punya rencana.
...\=\=\=\=\=...
...Rencana apa sih thor??...
...Auk ah,,, Gelap....
...With love, ...
__ADS_1
...Author....