
Tangan Karin gemetar kala sedikit lagi menyentuh wajah Indah yang sudah dipastikan adalah Zoya. Putrinya yang hilang dan diyakini oleh semua orang bahwa sudah meninggal.
"Putri mama,,," lirih Karin dengan suara bergetar.
"Mama selalu percaya bahwa kamu masih hidup nak. Dan keyakinan mama itu ternyata benar. Bangun nak,,, buka matamu sayang. Ini mama. Kamu nggak sendirian lagi nak. Mama dan kakakmu akan selalu melindungimu."
Ketika tangan Karin sudah menyentuh pipi mulus Zoya, tangis itu pun tak lagi tertahan. Karin menghambur dan memeluk tubuh lemah Indah yang belum kunjung sadar dari komanya.
"Ya Rabb,,, bangunkanlah putri hamba. Hamba ingin sekali melihat dua bola mata yang sama dengan bola mata om papa. Hamba rindu kepadanya dan mendiang suami hamba ya Rabb. Ijinkan kami kembali berkumpul."
Tangis itu masih berlanjut dan menular kepada mbok Rati yang ujung kain kebayanya sampai basah oleh airmata dan ingusnya. Mbok Rati tak kalah sedihnya.
Lalu Delvara, meski dia kuat di depan orang orang yang telah menyakiti Zoya, tapi ia tetaplah rapuh di depan Karin dan Zoya. Hatinya sangat sakit melihat tubuh kurus Zoya. Berbagai ingatan akan rasa puas Rajesh menyakiti istrinya menghiasi memorinya dan itu membuatnya makin geram saja.
"Zoya,,, Maafkan kakak yang begitu terlambat menyadari. Maafkan kakak yang kurang peka dan nggak ngerti dengan sinyal yang diberikan oleh hati kakak." batin Delvara makin sakit.
Namun meski sudah banyak airmata yang tumpah, tubuh Zoya tetap belum merespon. Karin awalnya merasa takdir begitu mempermainkannya namun kemudian ia pun beristighfar bahwa memang semua ini adalah bagian daripada takdir hidupnya. Bukan dirinya yang berkuasa, melainkan DIA.
Yang bagus menurut kita belum tentu bagus, namun percayalah,,, apa pun yang terjadi pada kita, semua akan membawa kita ke arah dan tempat yang lebih baik lagi.
Mungkin tidak hari ini,,, mungkin saja besok. Jika tidak besok,,, bisa jadi lusa. Kuncinya hanya berusaha, berdoa dan berserah diri.
Sementara itu,,, di luar ruangan terjadi perdebatan panjang di antara mama Rina dan papa Gunawan.
"Bagus ya papa!! Ambil uang perusahaan diam diam dan nggak jelas dipakai apa uangnya!!! Bilang sama mama!! Pakai apa??!!!" sentak mama Rina.
"Ma,,,!!! Pelankan suara mama. Ini rumah sakit. Bukan lapangan bola!!"
"Jangan mengalihkan pembicaraan pa. Jawab saja. Papa kemanakan uang uang itu???" selidik mama Rina.
"Ya pakai shopping mama selama ini lah. Pakai apa lagi memangnya??" papa Gunawan bicara seolah dalam hal ini mama Rinalah penyebabnya.
"Kalau cuma untuk mama shopping, gaji papa sudah cukup kan?? Kenapa musti sampai korupsi begitu???" mama Rina mendelik kesal.
"Argh,,, percuma juga ngomong sama mama. Mama nggak akan paham juga urusan bisnis. Sudah ah, papa mau pergi!!!"
__ADS_1
"Hey paaaa!!! Pergi kemana??? Urusan kita belum selesai. Terus Rajesh,, Bagaimana dia??" teriak mama Rina dan sama sekali tak dihiraukan oleh papa Gunawan.
"Maaf bu. Ini rumah sakit. Jangan teriak teriak. Ibu bisa dianggap mengganggu ketenangan para pasien." seorang security datang dan memperingatkan mama Rina.
"Ih sebel deh." gerutu mama Rina.
Niat hati ingin kepo pada mbok Rati tapi malah berujung ke kejadian seperti ini. Dengan langkah setengah diseret, mama Rina meninggalkan area VVIP dan kembali ke ruangan di mana Rajesh dirawat.
Mama Rina makin sebal melihat Rajesh yang masih tidur menghadap tembok dan sama sekali tak menoleh meski beberapa kali dipanggil oleh mama Rina.
"Huh,,, gak anak gak bapak,,, semua sama sama nyebelin!!" sungut mama Rina kemudian memutuskan untuk pulang saja.
"Mama pulang dulu. Mama lelah mengurus kalian. Papa kamu gak bisa diajak bicara, kamu juga sama saja." pamitnya meski tak mendapat sahutan dari Rajesh.
Rajesh berpaling saat mendengar pintu sudah ditutup. Sedari tadi ia tidaklah tidur. Ia menghadap tembok karena tak mau seorang pun melihatnya menangis.
Yang lucunya adalah ia menangisi Indah. Ia benar benar merasa kehilangan Indah sekarang. Rajesh terlalu tau bahwa Delvara tidak pernah main main urusan keluarganya.
"Indah,,, ternyata kamu Zoya. Gadis yang sedari dulu ingin kujadikan istri. Kenapa kamu datang pada kami dalam kondisi lupa ingatan?? Kamu membuatku tidak tau siapa dirimu sebenarnya. Sekarang aku harus bagaimana? Kakakmu sudah terlanjur marah kepadaku." gumam Rajesh lirih.
Namun ketika tengah memikirkan Indah, seseorang datang dengan wajah cerianya.
"Lo ngapain kesini?" tanya Rajesh merasa terganggu.
"Ya jengukin lo dong. Apalagi??" Nadine tersenyum manis.
Rajesh tak menanggapi lagi. Entah kenapa perasaan yang semula selalu ada untuk Nadine, tiba tiba saja menguap entah kemana. Rajesh merasa hambar.
"Udah jangan dipikirin. Kita mungkin memang salah melakukan semua ini dan akhirnya membuat pasangan kita marah. Tapi nggak harus berakhir sesedih ini kan? Hidup cuma sekali Jesh. Jangan dihabiskan untuk bersedih." Nadine sok menasehati.
"Maksud lo apa sih?" tanya Rajesh risih.
"Ya udah sih. Biarkan saja istri lo tau. Kalau dia minta cerai, ya tinggal diceraikan kan? Yang penting kan kemauan cerai nggak datang dari lo jadi lo nggak perlu kasih harta gono gini. Lagipula,,, kan masih ada gue. Kita bisa mulai serius, Jesh. Gue tau to luh udah menaruh hati ke gue sejak lama tapi guenya yang salah karena malah mengabaikan lo. Jadi sekarang,,, mau kan lo jalan sama gue Jesh??" tanya Nadine menggampangkan situasi.
Rajesh menyungging senyum sinis.
__ADS_1
"Kok gitu sih senyum lo? Lo nggak percaya sama gue?? Gue bisa kok jadi pasangan yang baik." papar Nadine meyakinkan.
"Gue bukan nggak percaya lo nggak bisa jadi pasangan yang baik. Tapi itu cuma kalau pasangan lo tuh berduit. Iya kan?" sindir Rajesh.
"Wajar kan kalau cewek tuh matre. Karena pada hakikatnya cewek tuh dipenuhi dan dicukupi segala kebutuhannya. Jadi kalau ada cowok yang bilang cewek matre,,, itu karena si cowok saja yang kere. Dan gue yakin lo nggak sekere itu." Nadine yakin.
"Lo bisa tinggalin gue sendiri?"
"Maksudnya nih lo ngusir gue?? Lo nolak gue??" Nadine tidak terima.
"Please Nadine,,, jangan ganggu gue." pinta Rajesh.
"Terus tawaran gue barusan apa jawabannya??" tagih Nadine.
"Gue lagi nggak mood bahas itu Nadine. Jadi please,,, tinggalin gue sendiri."
"Gue jadi curiga,,, lo cinta sama istri lo??" pancing Nadine tak mau segera pergi.
Rajesh terdiam karena ia sendiri belum mengerti apa yang sebenarnya ia rasakan. Rasa kehilangan itu memang sangat terasa tapi hati yang terlalu gengsi belum mau serta merta mengakui.
"Lo gila Jesh!! Nggak lo, nggak Delvara,,,lo nolak gue yang lebih segalanya demi dia. Delvara ninggalin gue juga karena dia. Selera kalian memang serendah Cewek kampung itu??" cibir Nadine.
"Nadine!!! Dia bukan cewek kampung. Dia adik kandung Delvara!! Anak orang kaya bahkan lebih kaya daripada gue yang sekarang diambang kebangkrutan!!! Puas lo??? Masih mau lo sama gue???" teriak Rajesh.
Nadine terperangah mendengarnya. Seketika ia merasa menyesal telah begitu merendahkan diri pada Rajesh tadi.
"Lo diam kan?? Lo nggak bisa jawab kan??" cecar Rajesh.
Nadine tak menjawab. Ia beringsut pergi meninggalkan Rajesh yang emosinya kembali meledak ledak tanpa bisa dikendalikan.
"Indaaahhhh!!! Kenapa kamu begitu menyiksaku??!!!" teriak Rajesh kesal dan mengobrak abrik seisi ruang inapnya.
...\=\=\=\=\=\=...
...Satu aja cukup ya guys hari ini. Author lagi tak ada ide 😩 Kalau ada yang kurang greget baca bab ini, gapapa kalian boleh skip satu bab ini 🙈...
__ADS_1
...With love, ...
...Author....