
🌸POV Rodie🌸
Ku lirik terus gadis manis yang duduk di sebelahku saat ini. Meski bibirnya terlihat selalu mengulas senyum, tapi aku tau hatinya tengah gundah. Jiwanya tengah bersedih.
Zo,,, Ayolah jujur kepadaku. Jangan berpura pura sedang baik baik saja sayang. Aku lebih suka dan lebih terima jika kamu mau katakan perasaanmu yang sebenarnya meski mungkin itu akan menyakitiku. Jangan berpura pura tersenyum di sampingku hanya karena kamu tak ingin menyakitiku sayang. Aku tau kamu tengah memikirkannya. Rajesh kan? Zo,,, Aku terlalu tau semua gerak gerikmu. Tidak ingatkah kamu berapa lama aku memperhatikanmu? Hingga tak ada satu pun yang luput dari mata hatiku.
"Rodie awas!!" pekik Zoya auto menyadarkanku.
"Maaf Zo."
Ku putuskan menepikan roda empatku. Barusan hampir saja aku menabrak pengendara motor lain yang tiba tiba menyalip kiri saat aku tengah fokus memikirkan Zoya. Lebih tepatnya saat aku sedang tidak fokus menyetir saat ini. Jadi meski memang pemotor itu salah karena menyalip kiri, tapi bukan sepenuhnya salah pemotor itu.
"Hati hati Rodie. Kita kan mau menikah. Jangan sampai terjadi apa apa. Semua bisa sedih." Zoya berkata dengan lembut dan sekali lagi kelembutan serta senyum itu tambah menyakitiku.
Aku merasa menjadi manusia paling menyedihkan yang patut dikasihani oleh Zoya meski dengan cara menyakiti hatinya sendiri.
"Maaf ya." akhirnya hanya itu yang bisa ku ucapkan.
"Kamu baik baik saja?" tanya Zoya lagi yang sebenarnya sangat ingin ku jawab bahwa aku sangat tidak baik baik saja melihatnya berpura pura seperti ini.
"Baik,,, Tentu saja baik. Memangnya ada yang bisa membuatku tidak baik baik saja? Apa lagi yang bisa membuatku merasa tidak baik? Sebentar lagi yang paling ku inginkan dan ku nanti dalam hidupku akan segera menjadi milikku seutuhnya. Benar begitu bukan??" tanyaku balik padanya dengan menyuguhkan senyum termanisku.
Zoya tampak berubah wajahnya sekilas tapi itu tidak luput dari perhatianku. Pemilik wajah itu tengah berusaha membuatku tidak curiga. Aku tau itu.
Ayolah Zo,,, katakan saja sayang. Katakan jika apa yang ku katakan tadi itu salah. Kamu tidak akan pernah menjadi milikku seutuhnya. Begitu bukan? Kamu ingin membatalkan pernikahan ini bukan? Kamu masih mencintainya bukan?? Jujurlah Zo,,,
"Boleh tidak kalau kebayaku nanti diberi aksen ekor di belakangnya, Rodie? Entah kenapa tiba tiba aku ingin memakai kebaya model itu. Boleh ya??" rengeknya berusaha mengalihkan pembicaraan kami.
"Boleh dong. Kenapa tidak? Kita kan menikah hanya untuk sekali. Jadi kamu boleh tampil secantik mungkin dan sesuai impianmu." jawabku yang tanpa sadar membuatnya kembali berubah wajah.
__ADS_1
Menikah hanya untuk sekali,,, Aku benar benar lupa bahwa ini pernikahan keduanya. Dia tidak hanya sekali menikah.
Bodohnya aku mengatakan hal demikian. Sebenarnya aku tak bermaksud menyindirnya. Aku hanya benar benar lupa karena bagiku ini memang pernikahan pertamaku dan bisa ku pastikan akan menjadi yang terakhir. Aku tak punya banyak waktu lagi. Sisa umurku telah kuhabiskan untuk mencintainya.
Sungguh ini bukan inginku, Zo. Maafkan aku. Seandainya aku boleh memilih dan menentukan,,, aku tak akan pernah memilih raga lemah ini, aku tidak akan memilih jantung lemah ini. Aku akan menulis takdir kita untuk bisa hidup bersama selama mungkin. Sayangnya, aku tak bisa apa Zo. Aku hanya manusia biasa yang hanya berperan sebagai wayangNYA. Semua kisah hidupku, berada di tanganNYA.
"Zo,, maaf. Aku tidak bermaksud menyinggungmu." aku sungguh menyesal.
"Tidak apa apa. Lagipula apa yang kamu katakan itu memang benar kok. Kita memang hanya akan menikah sekali. Untuk apa menikah dua kali?? Kan sekali menikah,,, sekali sah,, sudah cukup hehehe,,," Zoya berusaha menghiburku dan dirinya sendiri.
"Hehe,, iya juga ya. Pinter deh gadisku ini." ku ikuti gurauannya.
Akhirnya kami sampai di tempat tujuan kami setelah beberapa menit melanjutkan perjalanan kami. Tempat seorang designer khusus baju pengantin yang sangat terkenal di kota ini.
Zoya segera memilih kebaya yang ia sukai. Lalu beberapa saat kemudian ia tampak cantik dalam balutan kebaya pilihannya meski masih ada beberapa bagian yang memang harus disesuaikan dengan ukuran tubuh Zoya.
"Bagaimana?? Cantik kan calonnya??" tanya designernya kepadaku.
"Iya deh iyaaa,,, eike percayaa pilihan abang tampan pasti paling top." designer yang merupakan kenalanku pun kembali memujiku.
Acara fitting pakaian pengantin pun singkat kata telah selesai. Sang designer menyanggupi untuk menyelesaikannya sebelum hari H. Tidak banyak waktu mengingat banyaknya pesanan. Tapi aku yakin dia cukup profesional dan pasti bisa.
Ku antar gadis pujaanku pulang ke rumahnya. Sambutan dari calon mama mertua memang selalu menghangatkan. Rasanya aku merasa sangat diterima di rumah ini. Belum lagi, Delvara,,, partner bisnis sekaligus calon kakak iparku itu. Rasanya dia adalah orang yang paling bahagia jika aku masuk dalam hitungan anggota keluarganya.
Tapi apa artinya itu semua?
Saat netra ini menangkap sebuah kesedihan di wajah gadisku. Wajah itu terlihat sendu. Aku yakin pertemuan kami dengan Alyssa tadi memang menyisakan kebimbangan di hatinya.
Zo,,, aku tak pernah rela jika harus kehilangan dirimu. Sangat lama aku menunggu hari di mana aku bisa menghalalkanmu. Jadi,,, maafkan aku Zo jika aku egois. Maafkan aku jika aku tak peduli apa yang kamu rasakan saat ini. Bolehkan jika sekali ini saja aku menuntutmu untuk menyenangkanku??
__ADS_1
"Aku pulang dulu ya. Terima kasih untuk hari ini. Cepat istirahat. Jangan terlalu merindukanku." godaku.
"Memang nggak rindu kok." jawabnya.
Padahal jawaban seperti ini sudah biasa ku dengar dan aku selalu bisa menganggapnya sebatas candaan. Namun entah kenapa hari ini aku merasa baper.
Aku merasa sakit mendengarnya. Seolah itu bukan kalimat candaan lagi. Mungkin itulah isi hatinya yang sebenarnya. Mungkin semua candaannya selama ini juga adalah perasaannya kepadaku yang sebenarnya.
"Bye calon istriku. Baik baik ya. Seminggu lagi,,, biasakan dirimu menjadi nyonya Rodie." ku kerlingkan sebelah mataku dengan nakalnya.
"Baik tuan Rodie." Zoya setengah membungkukkan badannya membuatku tersenyum senang.
Namun ketika ku lihat kembali wajahnya,, rasanya ada yang harus ku lakukan sekarang. Aku tidak bisa berdiam diri. Masih ada sisa waktu seminggu sebelum aku benar benar menghalalkannya.
Aku pun segera pamit undur diri. Diiringi dengan lambaian tangannya dan senyum buatannya, ku lajukan mobilku meninggalkan halaman rumah megah yang segera akan menjadi rumahku juga. Tapi semakin menjauh dari sana,,, hati ini semakin membawaku ke suatu tempat.
Tempat di mana aku bisa memastikan kebahagiaan Zoya akan segera bisa didapatkannya kembali.
"Kamu??"
Pemilik rumah yang ku datangi terlihat terkejut dengan kedatanganku.
"Halo Rajesh. Masih ingat denganku??"
...\=\=\=\=\=\=...
...Ngapain Rodie kesana??...
...With love, ...
__ADS_1
...Author....