Aku Menyesal Membuangmu

Aku Menyesal Membuangmu
Pemilik Mobil


__ADS_3

Menyebalkan!!


Hanya itu rasanya satu kata yang cocok untuk diucapkan oleh Rajesh, mama Rina dan papa Gunawan. Saat mereka kira setelah wafatnya kakek Wardoyo mereka akan bisa hidup bebas bergelimang harta, nyatanya tidak semudah membalikkan telapak tangan.


Rajesh diharuskan tetap berstatus suami Indah jika masih menginginkan semua kemewahan ini.


"Mama sih,,," sungut Rajesh di pagi pertama ia mulai diperbolehkan meninggalkan rumah sakit dan cukup dengan rawat jalan saja.


"Iya iya mama tau mama salah. Tapi ya mau bagaimana lagi dong? Dulu mama setuju saja kan karena mama pikir kamu bisa suatu saat nanti jatuh cinta sama Indah." kilah mama Rina.


"Yang benar saja ma. Masak model pembantu begitu bisa bikin Rajesh jatuh cinta." Rajesh tetap kesal.


"Sudahlah. Jangan itu terus yang dibahas. Yang udah kejadian ya udah jangan disesali lagi. Bikin hati makin dongkol saja. Papa pusing dengernya." papa Gunawan menengahi.


Rajesh masih dongkol pada mama Rina. Ia merasa jadi korban atas kebodohan mama Rina.


"Mas,,, aku udah selesai urus semuanya. Obat obatan kamu juga udah aku tebus. Mas mau aku bantu apa lagi sekarang?"


Indah kembali setelah sebelumnya sempat disuruh Rajesh mengurus semua keperluan administrasi kepulangannya dan menebus beberapa obat di apotik.


"Tuh, bawain barangku." tunjuk Rajesh pada beberapa tas pakaian kotor selama ia di rumah sakit. Ia melakukannya hanya dengan memonyongkan bibir tanpa menoleh pada yang disuruh.


"Baik mas." Indah tak banyak tanya lagi.


"Dasar babu. Cocok banget disuruh suruh." sinis mama Rina.


"Ma,,, jaga bicaramu. Ingat, dia itu aset." bisik papa Gunawan.


Mengingat itu hati mama Rina kembali dongkol. Seandainya saja ia tau bakalan seperti ini jadinya, mungkin sejak dulu ia usir Indah atau celakakan saja dia sewaktu ia masih kecil. Mama Rina menyesal telah ikut merawatnya dan bahkan dengan bodohnya menikahkannya dengan Rajesh.


Singkat kata,, mereka pun pulang. Rajesh yang belum bisa menyetir sendiri, meminta sopir menemaninya. Ia duduk di bangku depan samping sopir. Mama Rina dan papa Gunawan duduk di bangku tengah. Dan jangan tanya di mana Indah.


"Tunggu apa kamu? Sana masuk duluan." titah mama Rina sebelumnya di parkiran.


"Mmm,,, kenapa Indah yang duluan ma?" tanya Indah yang sebenarnya malah bermaksud masuk mobil paling terakhir karena takut dikira mendahului.

__ADS_1


"Kamu kan musti duduk di belakang. Ya tentu saja kamu harus masuk duluan. Jangan pernah berani mikir kalau kami akan perbolehkan kamu duduk di bangku tengah bertiga dengan kami." sengit mama Rina.


"Indah takut mabuk kalau duduk di kursi paling belakang ma." lirih Indah yang memang tidak terbiasa naik mobil meski ia dibesarkan oleh keluarga kaya raya itu.


"Dasar kampungan!! Begitu saja udah mabok. Heran deh sama papa,,, bisa bisanya sayang banget sama anak model kampungan begini." sungut mama Rina.


Mobil dengan lambang huruf Y terbalik modelan tinggi sporty dengan kapasitas 8 seater itu mengharuskan kursi tengah dilipat dulu agar penumpang kursi belakang bisa naik.


"Udahlah ma. Jangan banyak debat. Mending mama sama papa naik aja duluan. Kepala Rajesh pusing nih." ucap Rajesh.


"Mama gak mau duduk sebangku sama dia Jesh. Pokoknya mama gak mau dekat dia!!" telunjuk mama Rina tepat berada di depan hidung Indah.


"Ya udah makanya buruan mama sama papa naik. Indah biar naik angkot saja." tukas Rajesh yang membuat mata Indah melebar tak percaya dengan pendengarannya sendiri.


"Mas,,, Aku naik angkot?" tanya Indah memastikan.


"Iya. Tolong kasihan sama papa dan mama ya. Mereka gak terbiasa duduk bertiga dan sempit sempitan di mobil. Dan kamu sendiri,,, Kamu cocok naik angkot. Desainnya bagus untuk yang gampang mabuk. Gak pakai Ac dan bebas udara. Untuk orang tanpa parfum dan dekil sepertimu juga cocok. Intinya itu kendaraan paling tepat untuk pembantu sepertimu." tutur Rajesh lembut diiringi senyuman namun sangat menusuk hati Indah.


Indah tertunduk. Merasa sangat terhina.


Rajesh memang tersenyum lagi tapi lidahnya bagai silet yang menyayat hati Indah. Indah hanya bisa mematung saat mobil berwarna metalic grey itu meluncur meninggalkan dirinya sendirian di parkiran.


Sesaat kemudian Indah baru sadar bahwa ia sama sekali tak membawa uang. Dompetnya malah ia masukkan ke dalam tas berisa pakaian kotor Rajesh yang ada dalam mobil Rajesh.


"Ya Allah,,. bagaimana ini? Bagaimana hamba bisa pulang?" sudut mata Indah mulai mengembun.


Ia merasa terhina sekaligus tak berdaya. Ia tidak tau harus kemana mencari angkot dan ia juga tak punya uang jika harus menumpang taksi. Indah pun akhirnya hanya bisa berjalan gontai menyusuri trotoar panjang tanpa berniat menghentikan taksi atau pun angkot yang lewat.


Tanpa uang di tangan, mana bisa menumpang? Belum lagi kalau naik angkot, seingat dia rute ke rumah Rajesh juga harus naik turun angkot dua kali. Mau bayar pakai apa pas sekalinya turun? Kalau pakai taksi, Indah takut nanti kena marah Rajesh karena tadi Rajesh menyuruhnya naik angkot, bukan taksi.


"Apa semenderita ini sebuah pernikahan ya Rabb? Apa sekeras ini?? Mas Rajesh kenapa setega ini ya Rabb? Hamba mohon,, lembutkanlah hatinya. Bukalah hatinya agar bisa menerima hamba yang sudah sah menjadi istrinya ini." batin Indah menangis.


Hingga tak sadar langkahnya pun telah menyusuri habis trotoar itu dan kini mulai turun ke jalanan beraspal di mana banyak mobil lalu lalang.


Ckkkiiitttt,,,, Tiiiiiiinnnn,,,,,

__ADS_1


Derit ban dan rem yang berusaha keras menghentikan laju sebuah mobil dan bunyi klakson pemilik mobil mengejutkan sekaligus menyadarkan Indah bahwa dirinya sudah berada di tengah jalan.


"Nona,, Anda tidak apa apa??" pemilik mobil segera turun dan memastikan wanita yang hampir ditabraknya tidak apa apa.


"Ti,, ti,,, tidak. Maafkan saya. Apa mobil anda mengalami kerusakan?" tanya Indah sambil tetap tertunduk karena merasa takut sekaligus malu.


"Tidak apa apa nona. Jangan cemas. Nona mau kemana? Mau nyebrang? Mau saya bantu?" pemilik mobil sangat baik dan ramah.


Indah menggeleng pelan lalu menjawab,,,"Saya mau pulang."


"Oh. Di mana rumah nona. Mari saya antar."


"Ti,,, tidak perlu. Te,,, Terima kasih." Indah gugup dan merasa sangat tidak perlu sampai diantar pulang daripada nanti jadi masalah.


"Tidak apa apa nona. Anggap saja sebagai permohonan maaf saya karena saya hampir saja menabrak nona. Saya lihat juga nona tampaknya sedang kebingungan. Saya orang baik. Saya tidak punya niatan buruk pada nona. Jadi mari saya antar untuk memastikan nona baik baik saja sampai di rumah. Di mana alamat nona?"


Pemilik mobil itu memang sangat ramah dan baik. Setiap tutur katanya mampu menghangatkan hati Indah dan membuat Indah merasa bagai mendapatkan seorang pelindung,,,


"Jalan Angkasa no 27." lirih Indah meski ragu ragu.


"Hey,,, itu alamat rumah sahabat saya.Dan saya juga sedang menuju ke sana ini. Oh saya paham sekarang,,,, nona kerja dirumah Rajesh ya?" pemilik mobil itu mengira Indah adalah salah satu asisten rumah tangga di sana.


Pantas saja jika menilik tampilan Indah yang biasa biasa saja.


"Saya,,,"


"Sudahlah. Ayo ikut saya saja."


Indah tak kuasa saat pemilik mobil sudah membukakan pintu depan untuknya. Ketika suaminya sendiri menyuruhnya naik angkot, justru orang lain dengan tangan terbuka menawarkan kursi depan mobil mewahnya. Hal itu membuat Indah hanya bisa makin menunduk tanpa berani menatap wajah lawan bicaranya itu.


...\=\=\=\=\=...


...Pasti tau dong siapa pemilik mobil itu???...


...With love, ...

__ADS_1


...Author....


__ADS_2