
Mbok Rati berjalan dengan gontai setelah melewati pintu gerbang rumah Rajesh. Setelah berkali kali menyeka airmata yang terus tumpah untuk Indah, mbok Rati kini menangisi nasib diri yang terombang ambing.
"Duh gusti,, harus kemana hambaMU ini? Hamba ini mengadu nasib ke kota karena sudah tidak punya siapa siapa di kampung, eh malah sekarang jadi dipecat begini. Piye to iki Gusti??" dengan logat jawa kentalnya, mbok Rati meratapi diri.
Sesaat kemudian, mbok Rati kembali melangkah sembari menutupi dahinya dengan sebelah tangannya. Matahari yang semakin condong ke barat terlalu menyilaukan mata rentanya yang kini mengarah ke barat.
"Piye iki? Sudah semakin sore. Sebentar lagi wes malam. Kudu dapat penginapan ini. Mana ini bawa uang banyak. Wah, takut aku." mbok Rati merasa was was.
Beliau makin was was ketika menyadari ada yang mengikutinya di belakangnya.
"Aduh Gusti. Tolong hamba. Jauhkan hamba dari orang orang yang berniat jahat." perasaan mbok Rati sudah semakin was was.
Niat hati berjalan lebih cepat tapi kain kebaya yang dipakainya membuatnya kesulitan berjalan cepat.
"Mbok. Mbok!! Tunggu!!"
Mbok Rati makin takut mendengar ada yang memanggilnya. Pikirannya sudah menduga duga bahwa itu pasti para preman yang biasanya mangkal di pasar dan baru pulang. Atau kalau tidak ya para preman yang mau berangkat mangkal malam.
"Mbok. Tunggu saya mbok!!"
Mbok Rati makin mempererat cengkeraman pada tasnya yang berisi uang gaji dan pesangonnya tadi. Itu adalah harta terakhir yang dimilikinya, jadi harus dipertahankan kalau masih mau lanjut hidup di kota besar ini.
"Aduh Gusti,,, ampun!! Jangan to mas. Jangan ambil uang si mbok. Ini satu satunya milik si mbok. Kalau mas ambil nanti si mbok jadi gembel. Kasihan sama si mbok to mas."
Mbok Rati mengiba tanpa berani menoleh ke belakang ketika merasakan cengkreman erat di bahu rentanya. Rupanya lelaki yang terus membuntutinya berhasil mengejarnya dan menangkapnya. Dari cengkeraman tangannya saja Sudah bisa dipastikan itu adalah tangan pria bertubuh kekar.
Siapa lagi kalau bukan salah satu preman di area itu? Mbok Rati menggigil ketakutan dengan tetap mempertahankan miliknya.
"Mbok. Ini saya. Jangan takut." ujar lelaki itu.
"Saya sopo to?? Lha gimana nggak takut wong situ ngejar ngejar saya dari tadi kok. Situ mau malak saya??" mbok Rati takut tapi sebal juga, jadilah keluar kata kata protesnya.
Lelaki itu tertawa kecil.
"Maafkan saya mbok. Saya bukan preman. Saya bukan mau malak si mbok. Saya cuma mau tau, mbok mau kemana? Bawa bawa tas besar lagi. Ini sudah mau malam. Mbok mau saya antar?"
__ADS_1
Kalimat kalimat bernada baik itu membuat mbok Rati penasaran siapa sebenarnya yang mengejarnya ini. Takut takut berani, mbok Rati memutar tubuhnya dan melihat siapa yang berdiri di belakangnya.
"Owalah cah bagus. Bikin mbok takut saja."
Perasaan mbok Rati seketika mencelos lega melihat siapa sosok yang mengikutinya itu. Refleks tangannya juga menepuk lengan lelaki itu yang tak lain adalah Delvara. Mbok Rati gemas sekaligus merasa dikerjai tapi juga merasa senang bertemu dengan orang yang menurutnya baik karena beliau melihat sendiri bagaimana tadi ia memperlakukan Indah meski harus sedikit bertengkar dengan sahabatnya.
"Maaf ya mbok. Saya gak berniat nakut nakutin si mbok." Delvara nyengir sambil menangkupkan sepuluh jarinya.
"Iya cah bagus. Nggak apa apa. Dasar si mbok aja juga yang parno." mbok Rati terkekeh.
"Ini si mbok mau kemana sebenarnya?" tanya Delvara lagi yang seketika membuat netra mbok Rati berembun.
"Mbok juga nggak tau mau kemana cah bagus." setitik dua titik airmata kembali membasahi wajah renta mbok Rati.
"Udah. Mbok jangan nangis lagi." Delvara tiba tiba merengkuh tubuh renta itu dan memeluknya dengan penuh sayang.
Itu membuat mbok Rati terkejut sekaligus terharu diperlakukan sebaik itu oleh orang yang tidak atau sebenarnya juga belum dikenalnya dengan baik. Mbok Rati taunya itu adalah tamu Rajesh yang katanya teman kecilnya. Tapi karena Delvara jarang bisa berkunjung, membuat mbok Rati juga lupa lupa ingat.
"Cah bagus,, si mbok dilepas saja ya. Nanti baju cah bagus kotor kena ingus si mbok. Sayang, ini kan baju mahal." tutur mbok Rati merasa tidak enak hati.
"Pakaian rusak masih bisa dibeli lagi mbok. Tapi kalau mbok yang kenapa kenapa,,, saya akan merasa menyesal sekali. Baiklah,,, mbok kalau nggak punya tujuan, sebaiknya ikut saya saja ya."
"Ikut kemana to cah bagus?" tanya mbok Rati heran.
"Tinggal sama saya sementara saya masih di kota ini. Nanti kalau saya sudah waktunya balik ke kota asal saya, mbok juga ikut saya saja. Nanti mbok bisa tinggal di rumah mama saya. Menemani mama saya. Mungkin melihat mbok, mama saya bisa sedikit terhibur dan bahagia." kata Delvara.
"Opo si mbok ini lucu koyok badut to cah bagus? Kok menghibur?" tanya mbok Rati polos dan mengundang tawa Delvara.
"Bukan begitu mbok. Mama saya sedikit terganggu pikirannya sejak adik perempuan saya dinyatakan meninggal. Mama merasa menjadi wanita kesepian. Mungkin dengan adanya mbok di rumah, mama akan merasa punya ibu lagi dan siapa tau itu bisa membuatnya merasa lebih baik. Apalagi si mbok kan suka ngelucu dan baik hati. Cantik lagi." puji Delvara membuat mbok Rati tersipu malu.
"Cah bagus ini kok yo tega nggombalin si mbok. Wong sudah banyak kerutan gini kok masih dibilang cantik. Cantik itu ya kayak nduk Indah itu lho." ucap mbok Rati yang sejatinya menangkap getar getar aneh dalam diri Delvara untuk Indah.
"Indah memang cantik mbok." gumam Delvara dengan tatapan hampa.
"Hhhmmm,,,, maksud saya, Indah cantik karena masih muda. Kalau si mbok meski sudah tua tapi masih cantik hatinya." segera Delvara meralat bicaranya ketika sadar ada dua netra senja yang menatapnya penuh harap sekaligus tanya.
__ADS_1
Delvara tak ingin mbok Rati salah paham. Meski Delvara tau sebenarnya mbok Rati memang diusir dari rumah Rajesh, tapi bukan berarti Delvara bisa berpikir bahwa mbok Rati bisa menerima semua ucapannya dengan baik.
"Cah bagus suka ya sama nduk Indah?"
Benar saja. Mbok Rati memang menduga begitu. Membuat Delvara jadi merasa tidak enak sudah mengakui kalau Indah cantik.
"Mbok,, Indah itu istri sahabat saya. Jadi adalah hal yang dilarang dan tidak benar kalau saya suka sama dia. Suka sekedar suka tidak mengapa. Tapi kalau suka yang mbok maksud itu adalah suka dalam konteks yang lain,,, maka saya tegaskan bahwa tidak mbok. Saya tidak berani untuk begitu." tegas Delvara.
"Tapi kalau nduk Indah bercerai?? Piye?? Apa sukanya masih suka sekedar suka saja?" pancing mbok Rati.
Delvara jadi salah tingkah. Jujur ia sendiri belum tau sebenarnya perasaan apa yang dirasakannya setiap kali melihat Indah. Delvara sebenarnya juga heran, kenapa sosok Indah begitu mengganggu pikiran dan hatinya.
"Bahkan wajahnya saja aku belum pernah melihat dengan seksama." Runtuk hatinya.
"Yowes, nggak usah dijawab. Si mbok sudah paham apa jawabannya." mbok Rati menyadarkan kembali Delvara.
"Mbok,,, beneran nggak kayak gitu." jelas Delvara.
"Kalau pun begitu juga nggak apa apa kok cah bagus. Ini piye? Jadi ajak si mbok pulang apa mau di sini terus bahas nduk Indah? Kalau cah bagus mau tau lebih banyak tentang nduk Indah,,, si mbok bisa ceritakan semuanya. Sampai nomer HP nya juga si mbok bisa kasih kalau cah bagus mau." goda mbok Rati.
"Beneran mbok?" mata Delvara berbinar.
"Lha,, tenan to. Bener kan dugaan si mbok??"
Wajah Delvara seketika memerah digoda seperti itu oleh mbok Rati.
...\=\=\=\=\=...
...Sek sek sek,,, piye sih thor? Kok malah Delvara kesengsem sama Indah??...
...Author pun menjawab,,, "Lha embuh piye sih???"...
...With love, ...
...Author....
__ADS_1