
"Nadine selingkuh ma."
"Apa?? Jangan ngaco kamu, Jesh. Nadine itu gadis baik baik. Terpelajar. Dari keluarga terhormat juga. Nggak mungkin gak tau aturan dan norma norma semacam itu." bantah mama Rina.
"Mama tau dari mana dia sebaik itu?" cibir Rajesh yang tentu lebih tau banyak perangai Nadine karena Nadine juga salah satu mainannya selama ini.
"Kan kamu sendiri yang bilang saat kamu mengenalkannya sama papa dan mama. Gimana sih? Masak kamu lupa?" mama Rina balik mencibir.
Rajesh menyugar rambutnya dengan frustasi. Ia memang yang mengatakan semua itu pada orang tuanya agar mereka mau menerima Nadine. Dan sekarang malah bak senjata makan tuan.
"Trus tadi kenapa kamu begitu yakin menuduh Nadine hamil?" mama Rina teringat perdebatan Rajesh dan Nadine tadi.
"Ma,, Rajesh dengar sendiri dengan telinga Rajesh. Ada lelaki lain di kamar ini tadi. Mereka membicarakan tentang pengalihan nama dan kehamilan Nadine ma. Nadine juga meyakinkan bahwa anak yang dikandungnya saat ini tuh bukan anak aku ma."
"Satu lagi." belum sempat mama Rina mengambil napas, Rajesh sudah membuat mama Rina merasa susah dan sesak untuk bernapas.
"Apa Jesh??" tanya mama Rina penasaran.
"Suara laki laki itu,,, mirip,,," Rajesh berhenti.
"Mirip siapa???" desak mama Rina.
"Mirip,,,Mmm,,,"
"Kalau kamu nggak percaya aku nggak lagi hamil,,, Nih!!!" Nadine datang dan melempar sebuah benda pipih yang dikenali Rajesh sebagai sebuah alat tes kehamilan.
Rajesh memungutnya dan membaca hasilnya yang merupakan satu garis biru saja. Itu artinya siapa pun yang dites dengan alat ini memang sedang tidak hamil.
"Aku nggak hamil!!! Dan lagipula,,, kita jarang melakukannya bukan?? Bagaimana aku bisa hamil??? Kamu juga sering menolak kalau ku ajak. Let me count,,, sejak kita menikah, kita bahkan hanya melakukannya dua kali saja. Di malam pernikahan kita dan lain waktu itu pun aku memaksamu. Dan itu kita lakukan tidak sedang dalam masa suburku!!!" Nadine mempertegas urusan ranjang mereka di depan mama Rina.
Rajesh terdiam. Tidak menyela sama sekali karena apa yang dikatakan Nadine itu adalah benar. Niat menikahi Nadine untuk mendapat kepuasan batin nyatanya memang hanya dalam khayalan Rajesh saja selama ini. Faktanya setelah menikah malah Rajesh semakin dihantui wajah cantik Zoya hingga seleranya pada Nadine seolah mati.
"Jesh,,, Nadine,, mama rasa sebaiknya kalian bicarakan ini baik baik. Pakai kepala dingin. Dan suaranya jangan kencang kencang. Nggak enak didengar tetangga." mama Rina merasa risih dengan pembahasan urusan ranjang keduanya.
__ADS_1
"Nggak apa apa ma. Biar sekalian semua dengar dan tau kalau keluarga ini tuh nggak memperlakukanku dengan baik. Malah menuduh yang nggak nggak. Aku ini bukan cewek kampung yang kalian perlakukan semaunya terus cuma bisa menangis dan menerima. Aku nggak sebodoh itu!!!" Nadine mempertegas.
Mama Rina menelan ludah. Tak mampu menyangkal.
"Jesh, mama rasa kamu memang salah dengar mungkin tadi. Nadine nggak hamil Jesh. Mungkin kamu tadi cuma berhalusinasi. Udah ya. Kalian baikan. Jangan bertengkar lagi." mama Rina membujuk.
"Mana papa?" bukannya mengiyakan bujukan mama Rina, Rajesh malah menanyakan papa Gunawan.
"Ya di kantor lah. Kenapa jadi bawa bawa papa?" tanya mama Rina.
"Ma,, suara laki laki di dalam kamarku tadi itu mirip suara papa ma!!! Laki laki yang mempertegas bahwa bayi yang dikandung Nadine adalah anaknya!!!"
Plaaakkk,,,, Sebuah tamparan keras bersarang di pipi Rajesh.
"Jaga bicaramu Jesh. Papa nggak mungkin ada di dalam kamarmu apalagi menghamili Nadine. Benar kata Nadine. Kamu memang sudah gila!! Memikirkan si babu itu membuat otak kamu terganggu rupanya. Kamu sampai ngelantur dan sembarangan bicara!!!" bentak mama Rina tak terima suaminya sendiri dituduh berselingkuh hingga menyebabkan Nadine hamil.
"Ma,,, Rajesh nggak bohong. Nggak gila. Nggak berhalusinasi. Papa di kamar Nadine tadi ma." terang Rajesh berusaha membuat mama Rina percaya.
"Cukup Rajesh!!!! Kamu udah cek sendiri kan kamar Nadine?? Nggak ada papa di sana. Kamu juga sudah lihat sendiri test pack ini. Nadine nggak hamil!!! Jadi jangan buat lelucon yang nggak lucu ini lagi!!! Papa di kantor cari nafkah untuk mama, untuk makan kita semua karena kamu tenggelam dan sibuk dengan urusan si babu sampai kamu gak pernah kerja!! Mama nggak terima kalau orang yang paling kerja keras demi kita malah kamu fitnah seperti ini!!!"
"Dengar itu!! Suara mobil papa baru datang." mama Rina menunjuk ke arah garasi di mana mobil papa Gunawan memang baru terparkir.
"Papamu baru datang dari kerja, Jesh. Kamu lihat sendiri kan??? Datang dari kerja,,, bukan keluar dari kamarmu apalagi menghamili Nadine!!!" teriak mama Rina.
"Ada apa ini ribut ribut? Sampai kedengaran di luar suaranya!!" papa Gunawan tergopoh gopoh masuk dan berusaha melerai.
"Ini anak papa. Udah nggak waras!!!" mama Rina menunjuk nunjuk Rajesh.
"Nggak waras gimana ma?? Bicara yang jelas. Papa ini sebenarnya lelah pulang kerja. Bukannya disambut dengan senyuman malah pertengkaran kalian. Ada apa sebenarnya??" papa Gunawan terlihat kesal.
"Rajesh menuduh papa selingkuh sama Nadine sampai mengakibatkan Nadine hamil. Coba papa pikir!! Waras nggak tuh anak???" mama Rina tersengal sengal saking emosinya.
"Jesh, benar apa kata mama kamu??" mata papa Gunawan melotot pada Rajesh.
__ADS_1
Ekspresinya sungguh sangat meyakinkan meski dalam hatinya sempat takut semua akan terbongkar. Beruntungnya mama Rina sangat mempercayainya.
"Gilanya lagi,,, dia ngotot bilang papa barusan ada di kamar Nadine. Bilang sama dia,,, papa di mana tadi!!!" mama Rina kembali menyela sebelum Rajesh menjawab sepatah kata pun.
"Papa meeting sama klien baru papa. Di kantor. Bukan di kamarmu, Jesh." tegas papa Gunawan terlihat meyakinkan.
"Bilang juga kalau papa nggak bikin Nadine hamil!!!" jerit mama Rina.
"Hamil?? Nadine hamil?? Benar itu??" kini mata papa Gunawan mengarah pada Nadine.
"Nggak pa. Nggak benar. Ini buktinya. Nadine barusan aja tes." Nadine mengulurkan alat tes kehamilan yang diberikannya pada Rajesh tadi.
Papa Gunawan menerimanya dan melihat hasilnya. Ekspresinya susah ditebak. Beliau tampak bingung namun segera bisa menguasai keadaan.
"Sudah jelas semuanya. Kamu cuma mengada ada, Jesh. Herannya,,,, kenapa kamu tega fitnah papamu sendiri?? Mengecewakan sekali. Anak papa sendiri yang mencemarkan nama baik papa." papa Gunawan terdengar sangat kecewa.
Rajesh diam. Masih bingung dengan semuanya. Ia yakin ia tidak gila dan tidak salah dengar. Namun semua fakta seolah tak membenarkan dirinya.
"Sudah. Bubar semuanya. Nadine,,, masuk kamar. Mama juga. Kita ke kamar. Biarkan saja anak nggak waras ini merenungi kesalahannya sendiri." ujar papa Gunawan menenteng kembali tas kerja dan jas yang sempat diletakkannya di kursi tadi.
"Mama kecewa sama kamu!!" kata mama Rina masih dengan sangat emosi lalu menyusul langkah papa Gunawan ke kamarnya.
"See. Kamu memang nggak waras dan itu karena otak kamu dicemari oleh cewek kampung itu."
Nadine masuk ke kamar dan membanting pintunya dengan keras. Sementara itu Rajesh bingung dengan semuanya. Ini semua benar benar bak boomerang baginya.
"Untung aku pintar. Semua bisa ku kelabuhi." senyum liciknya kemudian tersungging.
...\=\=\=\=\=\=...
...Hampir tengah malam ngetik ini gengs,,, semoga bisa lolos review segera....
...With love, ...
__ADS_1
...Author....