Aku Menyesal Membuangmu

Aku Menyesal Membuangmu
Keluarga Aneh


__ADS_3

"Mama tuh sebenarnya heran sama kamu, Rajesh. Udah punya istri baru yang cantik begitu kok masih saja mikirin si babu koma itu."


Mama Rina membuka suara sambil memeriksa luka luka Rajesh yang sudah mendapat penanganan dokter di rumah sakit tadi.


"Indah bukan babu ma. Mama tuh yang babu." sahut Rajesh acuh.


"Rajesh!! Berhenti ngomong begitu. Mama nggak suka ya dengarnya!!" tegas mama Rina.


"Sama!! Rajesh juga nggak suka mama terus mengatai Indah itu babu atau anak nggak jelas. Dia itu sekarang udah jelas jelas adik kandung Delvara ma."


"Halah,,, hasil tes kan bisa saja direkayasa. Kamu memangnya lupa?? Adik temanmu itu udah meninggal. Kan kita semua juga hadir di pemakamannya waktu itu. Kita semua lihat mayat adik temanmu itu dikuburkan. Gimana sih kamu tuh?? Mau maunya aja dibodohin sama temanmu itu." sungut mama Rina.


Rajesh diam tak mengiyakan tapi juga diam diam memikirkan kalau perkataan mama Rina itu bisa jadi ada benarnya.


"Teman kamu itu suka sama si babu. Makanya dia gunakan kesempatan ini untuk merebutnya darimu dengan menyebar berita bahwa hasil tes DNA nya mirip. Dia juga sebenarnya hanya ingin membuat kita bangkrut total karena kamu mempersulit keinginannya memiliki si babu." tuduh mama Rina.


Dan bodohnya, lagi lagi otak Rajesh setengah membenarkannya.


"Intinya ya Jesh, kamu itu udah bener melepaskan si babu itu dan menikahi Nadine. Wanita cantik, terpelajar, seksi, pintar dandan, nggak malu maluin kalau diajak kondangan. Beda jauh sama si babu yang pasti udah ikut ikutan sandiwara sama temanmu itu. Dia pasti sudah sadar sebenarnya tuh."


"Tapi ma. Tadi Rajesh lihat sendiri dia dibawa lagi ke ruang ICU karena kondisinya dinyatakan ngedrop lagi oleh dokter." kali ini Rajesh tak menelan bulat bulat ucapan mama Rina.


"Haduh Rajesh,,, Rajesh,,, Kamu tuh kok polos banget sih. Kamu sadar nggak sih ini tuh juga bagian dari sandiwara si babu biar dia nggak kelihatan berselingkuh darimu. Udah ya,,, mama capek jelasin ke kamu. Mending mama ke belakang dulu. Papa kamu dari tadi nggak keluar keluar lagi apa sih di belakang." omel mama Rina yang baru sadar papa Gunawan sedari tadi tak kunjung menemaninya di ruang depan rumah kecil yang kini ditempati mereka.


Rumah yang jauh lebih kecil daripada rumah mereka sebelumnya. Mama Rina sempat protes karena Rajesh hanya bisa membelikan rumah kecil ini tapi setelah diberitahu bahwa hasil jual rumah masih dipakai papa Gunawan untuk merintis usaha yang lebih menggiurkan keuntungannya pun mata mama Rina mendadak hijau.


Asal sudah urusan atau diiming imingi akan mendapat uang, mama Rina paling gampang dibujuk.


"Daddy udah dong. Kalau kelamaan nanti ketauan lho kita." Nadine memberengut karena papa Gunawan mengingkari janjinya untuk sekedar celup sedikit saja.


(Udah kayak teh aja thor,,, main celup 😆)


"Tanggung sayang. Dikit lagi." papa Gunawan mempercepat genjotannya meski mereka hanya berdiri mepet tembok di halaman belakang tempat keluarga ini menjemur pakaian yang sudah di cuci.


Kalau sudah kepingin, memang mana bisa ditahan lagi?? Karenanya, segala tempat pun ok bagi keduanya yang sama sama sedang bekerjasama mengelabuhi pasangan masing masing.


"Paaa,,, Papa,,,"

__ADS_1


Papa Gunawan segera mencabut batangan miliknya yang sedang tegang tegangnya ketika mendengar suara mama Rina.


"Tuh kan. Apa Nadine bilang???" wajah Nadine memucat dan dengan cepat menurunkan kembali rok yang sempat tersingkap.


"Kamu segera masuk saja. Bilang papa di kebun." titah papa Gunawan.


Dengan sedikit kesal karena hasratnya belum tertuntaskan, papa Gunawan pura pura menyiram tanaman tanaman hias kesayangan mama Rina.


"Nadine??" tegur mama Rina yang setengah heran melihat rambut Nadine yang biasanya tertata sekarang agak berantakan.


Menantunya itu juga sedikit terlihat kikuk.


"Eh iya ma. Mama cari papa ya? Tuh,,, di kebun belakang." tunjuk Nadine dengan suara dibuat setenang mungkin.


"Di kebun?? Siang bolong begini? Ngapain??" mama Rina heran.


"Nggak tau ma. Nadine dari kamar mandi tadi lihat papa di kebun. Udah ya ma. Nadine mau balik kamar dulu." pamit Nadine tak mau terlalu lama ditanya tanya.


Mama Rina mengangguk meski heran.


"Ah,,, tau ah." mama Rina pun masa bodo dan bergegas mencari papa Gunawan.


"Papaaaaa!! Ngapain tanaman mama disiram siang siang begini sih???? Bisa mati nanti!!!" pekik mama Rina terkejut melihat apa yang tengah dilakukan papa Gunawan.


"Hah?? Nggak kok. Papa nggak nyiram tanaman mama." sanggah papa Gunawan dengan polosnya.


"Nggak apanya?? Tuh papa pegang selang air dan semua basah terus apa namanya kalau nggak lagi siram bunga???" mama Rina melotot mendengar jawaban konyol papa Gunawan yang jelas jelas memang tengah menyirami bunga bunga itu.


"Hah!! Ini,,," papa Gunawan merasa bodoh sendiri.


"Papa ini apa apaan sih?? Belum tua banget tapi kok udah pikun!!!" gerutu mama Rina.


"Sial. Gara gara sudah di ujung tanduk tapi malah dipaksa masuk lagi jadinya begini nih. Kalau begini terus aku bisa bisa nggak konsen mau ngapa ngapain." Papa Gunawan tak menjawab dan hanya merutuki diri sendiri.


"Papa!!!" pekik mama Rina lagi.


"Apa sih ma?? Apalagi??" tanya papa Gunawan bingung takut ada berbuat hal konyol lagi.

__ADS_1


"Ituuuu!!!" mama Rina menunjuk ke arah tubuh bawah papa Gunawan.


"Itu apa??" papa Gunawan makin bingung.


"Itunya kenapa bangun dan nyembul gitu???"


Spontan papa Gunawan tersadar akan batangannya yang tadi memang sembarang dimasukkan ke balik kolornya dan sialnya batangan itu tetap menegang karena belum selesai bertempur dan masih minta dipuaskan.


"Papa,,, Masukin dong yang benar. Kita ini udah punya menantu di sini. Nanti kalau dia lihat bagaimana?" mama Rina panik dan segera memperbaiki posisi batangan keras milik suaminya.


"Ma,,, main yuk." bisik papa Gunawan.


"Apa??" mama Rina tersipu malu tapi mau setelah lumayan lama mereka tak saling mengisi karena usia yang sudah dirasa tak memadai lagi untuk kegiatan seperti itu.


Tapi melihat batangan keras itu membuat mama Rina heran sekaligus merindukan kehangatan yang sudah lama sirna. (Ya bagaimana nggak sirna mama Rina?? Wong udah diembat terus sama Nadine kok 😆😆😆 maapkan othor yang nggak tahan buat nggak komen duluan yak 🤭🤭)


"Ma,,,ayok!! Dengar mama ngomel ngomel malah bikin papa geregetan nih sama mama." rayu papa Gunawan.


Mama Rina tersipu dan mengangguk malu malu lalu menurut saja ketika papa Gunawan membawanya masuk ke dalam kamar mereka.


"Sial,,, kepalang tanggung sudah. Daripada tidak sama sekali." pikir papa Gunawan yang tetap melakukannya meski sebenarnya sama sekali tak berselera melihat tumpukan dan lipatan lemak mama Rina di mana mana.


"Beda banget sama Nadine. Singset,,, menggairahkan. Ini sih udah kayak nidurin kuda nil." umpatnya dalam hati.


Membayangkan tubuh Nadine membuat batangan papa Gunawan makin mengeras dan sukses membuat mama Rina menjerit jerit keenakan lalu terkulai lemas bersamaan dengan papa Gunawan yang menyemburkan semua cairan miliknya setelah sekian lama rongga milik mama Rina kering kerontang tak terjamah.


Nadine hanya mendelik kesal mendengar suara suara gaduh dari kamar mertuanya yang tak begitu jauh dari tempatnya berada saat ini. Apalagi ini terjadi di siang bolong sementara dirinya hanya dicueki oleh Rajesh yang tengah bonyok bonyok wajahnya. Sebenarnya Nadine masih tak habis pikir kenapa ia akhirnya berakhir di tengah tengah keluarga aneh ini.


"Si tua itu rupanya masih doyan juga sama yang udah bergelambir gitu. Diihhh,,," cibir Nadine dalam hati.


...\=\=\=\=\=\=...


...Part agak nggak penting tapi lumayan ngeselin juga 🤭...


...With love,...


...Author....

__ADS_1


__ADS_2