Aku Menyesal Membuangmu

Aku Menyesal Membuangmu
"Pernikahan Yang Bahagia"


__ADS_3

Bapak Arya, pengacara kepercayaan mendiang kakek Wardoyo menatap lekat lekat semua wajah yang ditemuinya siang itu di kantornya. Wajah wajah yang sangat bisa ditebak bahwa mereka tak bisa bersabar lagi.


Tiga wajah penuh binar semangat dan satu wajah polos penuh tekanan.


Siang itu, mama Rina memaksa untuk bertemu dengan pengacara Arya untuk membahas masalah dihibahkannya semua harta yang akan jatuh pada Indah kepada mereka. Mama Rina mengajak serta Rajesh, Indah dan juga papa Gunawan sebelum suaminya itu ke luar kota.


"Apa semua ini sudah dibicarakan baik baik?" tanya pengacara Arya.


"Tentu saja sudah pak Arya. Karena itu saya memaksa untuk datang kemari hari ini." mama Rina bicara mewakili semuanya.


"Oh begitu. Jadi sudah musyawarah sebelumnya?" kembali pengacara Arya memastikan.


"Sudah pak." nada bicara mama Rina mulai terdengar kesal.


"Apa juga sudah mencapai mufakat?" kembali pengacara Arya memberi pertanyaan sejenis.


Mama Rina menghela napas berat dan kesal. Ia kesal karena pengacara Arya tampaknya mempermainkan dirinya.


"Sudah juga." tandas mama Rina dengan intonasi lebih memperjelas berharap tidak ada pertanyaan semacam itu lagi setelahnya.


"Bukan tanpa alasan saya bertanya demikian, ibu Rina. Saya melihat hanya wajah ibu Rina dan bapak Gunawan serta saudara Rajesh saja yang terlihat bersemangat di sini. Tapi nona Indah,,, Sepertinya sangat tertekan." pengacara Arya menyandarkan punggungnya ke sandaran kursi kerjanya dengan santainya.


Namun matanya tetap jeli melihat mimik wajah setiap orang di depannya.


"A,, Apa?? Tertekan? Mana mungkin menantu saya tertekan? Dia bahagia. Putra saya mencintainya." mama Rina berkilah.


"Iya kan Indah?" tanyanya lagi sambil mengusap lengan Indah memberi sinyal memaksa.


"Tidak usah dijawab nona. Saya tau ibu mertua anda ini berbohong dan memaksa anda bukan?" sela pengacara Arya.

__ADS_1


Mama Rina melebarkan matanya. Tidak percaya bahwa pengacara Arya akan bicara seperti itu.


"Maaf pak Arya,, apa maksud anda bicara seperti itu? Istri saya bicara kebenaran." papa Gunawan maju membela setelah mendapat isyarat mata dari mama Rina.


Pengacara Arya kembali menegakkan tubuhnya. Beliau tersenyum tipis tetap penuh wibawa dengan pembawaannya yang tenang. Beliau kemudian melipat dua tangannya di meja dengan tetap menatap lekat wajah wajah rakus harta itu.


"Anda tentu tidak lupa apa yang menjadikan nona Indah masih tetap berstatus istri saudara Rajesh bukan? Anda tentu juga masih belum lupa bahwa kalau saja hari itu saya datang terlambat, tentu talak sudah dijatuhkan. Jadi saya yakin, bahkan sangat yakin bahwa pernikahan ini dilanjutkan semata mata hanya karena status kepemilikan harta saja. Sampai di sana, saya bisa pastikan bahwa keberadaan nona Indah dalam keluarga anda sangat tidak diharapkan. Tetapi dipaksakan. Apa saya benar?"


Tidak ada jawaban dari mereka. Indah hanya menunduk. Ia tak kuasa menatap mata pengacara Arya. Takut ketauan bahwa semua yang dikatakan oleh beliau itu adalah benar. Indah takut Rajesh marah lagi kepadanya. Indah takut mama Rina semakin membencinya jika sampai apa yang diinginkan mereka gagal dicapai karena pengacara Arya mempersulit mereka berdasarkan pandangan jelinya tentang Indah.


"Tidak ada yang berkenan menjawab?" kembali suara pengacara terdengar.


"Itu tidak sepenuhnya benar. Saya akui, awalnya saya berat menerima pernikahan ini. Apalagi dengan hati dan emosi yang masih belum stabil, saya dihadapkan pada kenyataan bahwa kakek meninggal dalam kecelakaan yang mungkin bisa dihindari seandainya saja beliau mau mendengarkan saya untuk langsung pulang ke Bogor saja. Kakek memilih ikut kami semata mata untuk istri saya. Dan saya yang hanya manusia biasa ini, untuk sesaat makin emosi dan menyalahkan istri saya atas meninggalnya kakek. Saya akui saya emosi. Dan saking emosinya sampai terlontar kalimat talak."


Rajesh menjelaskan panjang lebar tetap disambut oleh senyum pengacara Rajesh yang tentunya tetap tidak percaya begitu saja. Pengacara Arya bukan orang awam. Beliau sering mendapat kasus kasus yang mengharuskan beliau jeli.


"Untungnya anda datang tepat waktu dan mengingatkan saya. Terima kasih bapak Arya." lanjut Rajesh sebelum sempat menjeda.


"Tentu saja. Secara tidak langsung anda telah menyelamatkan pernikahan saya."Rajesh tersenyum.


"Tapi entah kenapa saya masih ragu kalau anda bahagia dengan pernikahan anda ini ya? Lebih herannya lagi,,, kalau memang kalian bahagia, nona Indah juga diterima dalam keluarga kalian,, Bukannya tidak perlu buru buru atau sampai meminta dibuatkan pernyataan hibah harta? Kan kalian masih bersama?" pengacara benar benar mempersulit mereka.


"Pak Arya,,, begini ya. Saya selaku pewaris papa saya merasa tidak suka anda persulit seperti ini. Saya berhak atas peninggalan papa saya. Dan anda tidak berhak mempersulit jalannya pembagian harta itu sendiri. Anda di sini hanya diberi wewenang oleh mendiang papa saya. Dan beliau sudah tidak ada. Jadi keputusan ada di pihak saya sekarang. Jangan sampai saya menuntut anda dengan tuduhan ingin mengambil alih semua dari saya!!!" ancam mama Rina.


Pengacara Arya hanya tersenyum menanggapi dan itu membuat hati mama Rina makin dongkol.


"Semua yang diwenangkan mendiang tuan Wardoyo pada saya bersifat legal dan beralaskan hukum, ibu Rina. Jadi saya tentu saja punya kewajiban dan hak untuk memastikan bahwa semua pesan dari mendiang tuan Wardoyo terlaksana. Jadi saya sarankan, sebaiknya anda jangan mengancam saya seperti itu." ujar pengacara Arya.


"Begini, mendiang berpesan, harta peninggalan bisa diberikan semua kepada nona Indah jika saudara Rajesh sampai menceraikan nona Indah. Saudara Rajesh bisa mendapatkan harta bagiannya hanya jika dia mau menikah dengan nona Indah. Tapi bukan hanya sekedar menikah. Karena dalam perjanjian yang dibuat oleh ibu Rina dan mendiang tuan Wardoyo juga dicantumkan kalimat "Membina pernikahan yang bahagia, langgeng dan dikaruniai putra/putri apabila keduanya tidak berhalangan kesehatan". Apa anda sudah lupa ibu Rina??"

__ADS_1


Mama Rina membelalakkan mata seolah tak percaya pernah ada kalimat seperti itu dalam surat perjanjian yang ditandatanganinya dulu.


"Silahkan dibaca ulang." pengacara Arya tampaknya paham apa yang dipikirkan mama Rina, karenanya beliau menyerahkan selembar surat berisi tanda tangan mama Rina sendiri dan itu bermaterai, memiliki kekuatan hukum yang sah juga.


"Mama???" tatapan kesal Rajesh mengarah pada mama Rina.


"Bagaimana? Apa masih menginginkan pernikahan yang bahagia ini dilanjutkan? Atau mau menyerah saja?" tantang pengacara Arya.


Semua hening.


"Saya menunggu jawaban. Biar kedatangan kalian jauh jauh kemari juga ada hasil bukan?" terdengar mengejek sekali ucapan pengacara Arya yang semata mata hanya ingin melindungi Indah sesuai pesan mendiang kakek Wardoyo.


Pengacara Arya sudah tau hubungan antara kakek Wardoyo dan mama Rina itu sampai di mana. Karenanya, beliau juga bisa menebak niatan buruk anak angkat kakek Wardoyo itu.


"Kenapa diam saja??? Ngomong dong!!!" Rajesh menegur Indah dengan keras.


"A,,, aku,,, harus ngomong apa mas?" tanya Indah polos.


"Aarrghh dasar bego!!!" umpat Rajesh.


"Saudara Rajesh,,, saya sarankan anda jangan membuat saya makin tidak yakin akan ucapan anda sendiri tadi bahwa anda mencintai istri anda. Sebaiknya anda buktikan saja bahwa anda memang mencintainya. Menjadi suami yang baik dan segera memberikan keturunan." pengacara Rajesh kembali mengingatkan.


Rajesh diam dengan napas tersengal menahan amarah kepada mama Rina.


...\=\=\=\=\=\=...


...Sedikit aja dulu ya,,, Author nyambi lembur ini di tempat kerja 😩...


...With love, ...

__ADS_1


...Author....


__ADS_2