
Alyssa tercengang ketika Ferry membawanya masuk ke sebuah rumah megah. Rumah yang didapat Ferry dari hasil menipu dan merayu Nadine.
"Ini rumah siapa mas?" tanya Alyssa.
"Rumah kita nantinya. Kita akan tinggal di sini." jawab Ferry.
"Beneran mas?" Alyssa tak percaya.
"Bener dong." Ferry menyombong.
"Ini rumah hasil kerja kerasmu atau rumah wanita itu mas?" selidik Alyssa.
"Alyssa sayang,,, memangnya apa bedanya? Pekerjaanku sebelumnya kan juga menguras harta Nadine, jadi kalau kamu tanya begitu meski rumah ini ku beli dengan uangku sendiri tapi tetap saja uang itu berasal dari Nadine."
"Sebenarnya ini semua nggak benar mas. Kamu berdosa. Kamu tuh sama saja dengan merampas hak orang lain." Alysaa memulai ceramahnya.
"Hak?? Apa yang Nadine dapatkan juga hasil merampas Alyssa. Itu juga bukan haknya. Itu adalah harta milik suaminya yang juga dimanipulasi oleh Nadine. Jadi kami ini fifty fifty lah sebutannya." Ferry tertawa namun seketika terhenti mendengar teriakan seseorang di luar pagar.
"Heeehhh!!! Gue nggak rela ya rumah ini lo tempatin sama wanita lain. Ini rumah gue!!! Buka pintunya!!! Buka!!!" Nadine menggebrak gebrak pagar besi itu dengan tampilan mengenaskan.
Pakaian lusuh yang terakhir kali dipakainya saat Ferry mengusirnya dan menggendong bayi. Alyssa terkejut sekaligus kasihan. Marah dikatai sekaligus bersimpati. Sebagai sesama wanita, Alyssa bisa merasakan penderitaan Nadine saat ini.
Akan sangat berat menjaga bayi dalam kondisi seperti itu.
"Mau kemana Alyssa?" Ferry menghela tangan Alyssa yang hendak berjalan mendekati pagar.
"Kasihan mas."
"Wanita itu ular Alyssa. Kalau kamu mengasihinya, suatu saat kamu yang akan dipatuknya. Biarkan saja. Toh semua surat menyurat atas rumah ini sudah berganti nama kepemilikan atas namaku. Biarkan saja ular itu menggeliat geliat kepanasan di sana."
__ADS_1
"Tapi mas,,, kasihan bayinya. Bukankah itu juga anakmu?" tanya Alyssa dengan perasaan tidak karuan.
"Hhh,,, anakku?? Aku lebih baik mengakui Bagas sebagai anakku meski kami terlalu bejad kepadamu, setidaknya aku tau siapa ibunya Bagas. Wanita baik baik yang memang baru kali itu terjamah. Sedangkan dia?? Saat pertama kali melakukannya pun dia tidak denganku saja. Wanita itu liar dan suka gonta ganti pasangan Alyssa. Aku tidak menjamin anak itu adalah anakku." tolak Ferry.
Alyssa terdiam antara senang dan sedih. Hatinya tetap merasa iba pada bayi tak berdosa yang menangis karena kepanasan, kelaparan mungkin, dan ibunya menggila di pagar.
"Sudahlah. Jangan dipikirkan. Lebih baik kamu dan Bagas masuk. Biar aku tangani Nadine."
"Buka Ferry!!!"
Nadine terus saja ribut di pagar dan membuat tetangga sekitar merasa terganggu. Ada beberapa yang memaki makinya. Ada juga yang memandangnya dengan perasaan jijik saking kumalnya pakaiannya. Ada yang menatap curiga, ada yang takut mengira itu orang gila.
Meski bertetangga, tapi kehidupan di kota tidaklah sama dengan di desa. Di kota orang orangnya cenderung tidak saling mengenal.
"Masuklah Alyssa." titah Ferry untuk kesekian kalinya dan kali ini mau tak mau Alyssa menurut saja.
Alyssa masuk ke dalam rumah megah itu dengan terkagum kagum melihat besarnya ruangan di rumah itu. Belum lagi banyak perabotan mewah yang rasanya belum pernah dilihatnya. Mengagumi semua itu membuatnya tak peduli apa yang terjadi di luar.
"Lo yang pergi!! Ini rumah gue!!!" sengit Nadine.
"Tepatnya rumah yang udah berganti nama atas nama gue." sambung Ferry dengan nada mencibir.
"Bajingannn lo Fer!! Lo berani nipu gue. Brengsekkk lo!! Setaann!! Balikin semua milik gue!!" teriak Nadine masih tetap menggebrak gebrak pagar karena Ferry hanya berdiri dan menjaga jarak darinya tanpa bersedia membuka pagar itu.
"Setan teriak setan. Bajingann teriak bajingann. Penipu pun teriak penipu. Lucu lo Nadine!! Oh ya,,, apa lo bilang tadi?? Milik lo?? Hasil nipu keluarga mantan laki lo maksudnya?? hhhh,,," Senyum mencibir Ferry tersungging di sebelah bibirnya.
"Sialann lo!!! Buka!! Sini lo kalau berani. Jangan beraninya cuma di balik pagar saja!! Setidaknya lo berani nggak ngakuin kalau ini anak lo???" Nadine menunjuk bayi dalam gendongannya yang terus menangis.
"Hahahahha,,," Ferry tertawa sangat keras mendengarnya.
__ADS_1
"Diam lo!!!" teriak Nadine kesal.
"Anak gue?? Emangnya lo yang buntiing 9 bulan tau itu anak siapa?? Lo lupa?? Lo kan maniakk sek*s. Lo itu tempat pencelupan umum Nadine. Jadi coba gue balik tanya sama lo,,, lo yakin itu anak gue?? Lo bisa buktiin? Silahkan kalau lo punya nyali. Tapi gue ingetin sama lo,,, kalau ternyata anak itu terbukti bukan anak gue, gue bakal jeblosin lo ke penjara atas tuduhan pencemaran nama baik. Lo nggak lupa kan gue sekarang punya kuasa dan uang?? Itu hal mudah bagi gue Nadine!!" tegas Ferry.
Mendengar itu nyali Nadine menciut. Ferry berhasil membungkamnya. Nadine tak lagi berkutik dibuatnya karena memang Nadine sendiri sebenarnya juga tidak tau benih siapa sebenarnya yang dikandungnya saat itu. Meski pada papa Gunawan dengan lantang ia mengenalkan Ferry sebagai ayah biologis bayinya, tapi dalam hatinya juga ia sendiri ragu.
Terlalu banyak yang datang dan pergi hanya untuk bersenang senang dengannya. Terlalu banyak batangan yang keluar masuk di lubang surganya. Dan tidak dipungkirinya juga bahwa ada saja yang kelepasan dan menyiram lubang surganya dengan cairan hina mereka.
"See,,, lo diam kan?? Kenapa? Takut??" ejek Ferry.
Nadine hanya bisa merengut kesal. Tebakan Ferry memang benar.
"Udahlah Nadine. Nggak ada gunanya lo terus datang kesini meminta semua yang udah dengan jelas lo tanda tangani sendiri surat pemindahtanganannya. Lo akan tetap kalah. Mendingan nih ya,,, lo pergi sana yang jauh. Cari mangsa baru yang mungkin mau menerima gembel lusuh bawa bayi seperti lo. Lo kan pintar dan jago melayani dan merayu. Pasti dapatlah. Atau,,, minimal lo keliaran aja di jalan dan berharap ada mobil patroli satpol pp lewat dan membawa lo ke dinas terkait. Lumayan kan?? Bisa dapat makan, minum dan tempat tinggal gratis."
Ferry kembali tertawa setelahnya. Melihat wajah Nadine yang merah padam membuat ia benar benar menikmati pemandangan itu. Melihat Ferry yang terus menertawakan dirinya, Nadine pun memilih beringsut pergi membawa kekalahan dan ketidakberdayaan dirinya yang sebenarnya adalah akibat ulahnya sendiri jika ia memahaminya.
Tak dihiraukannya lagi Ferry yang terus saja menertawakan dirinya dan menyindir nyindir dirinya. Benar kata Ferry,, dia sudah kalah. Memaksa melawan hanya akan membuatnya makin kalah.
Nadine pun melangkah pergi menjauh tanpa ada niatan kembali lagi. Meski tanpa tujuan tapi kakinya serasa tak mau berhenti. Suara tangisan bayinya yang terus saja menangis karena lapar dan haus bahkan rasanya sudah kebal di telinganya.
Nadine hilang akal. Semua terasa gelap dan buntu baginya saat ini. Langkah kakinya pun mulai tidak menentu arah. Hingga akhirnya tabrakan pun tak terelakkan saat di sebuah tikungan dirinya berdiri di tengah jalan dan mobil yang baru berbelok itu terlalu terkejut untuk bisa mengendalikan laju mobilnya.
"Astaga!!! Mati gue." seru pengendara mobil itu sambil tepuk jidat melihat seorang wanita sudah tergolek di depan mobilnya bersama seorang bayi.
...\=\=\=\=\=...
...Siapa yang nabrak Nadine yah??...
...With love, ...
__ADS_1
...Author....