Aku Menyesal Membuangmu

Aku Menyesal Membuangmu
Titip Cinta


__ADS_3

...🌸POV Rajesh🌸...


"Silahkan masuk."


Ku persilahkan tamuku masuk ke ruang sempit yang kini makin terasa sempit dengan banyaknya tumpukan kripik tempe pesanan pelanggan pelangganku.


Bisa ku lihat wajah tamuku itu menunjukkan keheranan melihat semua tumpukan itu. Ada rasa ingin bertanya tapi sepertinya ia segan atau merasa tidak enak hati.


"Silahkan duduk. Maaf tempatnya sempit. Sedang banyak pesanan pelanggan yang belum sempat ku antarkan. Oh ya,,, mmm,,," aku malah lupa nama calon suami Indah itu.


"Rodie." sahutnya singkat namun cukup membantuku mengingat nama lelaki yang sangat boleh dikatakan adalah ku benci kehadirannya namun tak ada daya untuk menyingkirkannya.


"Ya Rodie. Apa kabar?" aku berbasa basi.


Sangat basi bahkan bertanya seperti itu. Tapi rasanya mataku ini masih belum terlalu rabun untuk tidak bisa melihat wajah Rodie terlihat lebih pucat dari terakhir kalinya kami bertemu. Atau mungkin hanya perasaanku saja ya?


"Baik. Maaf kalau kedatanganku sedikit mengganggu aktifitasmu." ganti ia yang berbasa basi dengan mengedarkan pandangannya ke seluruh ruangan yang memang hampir seluruhnya dipenuhi oleh kripik tempe.


Sekedar informasi saja, aku sudah resign dari mini market tempatku bekerja. Ku lepas posisi sebagai kepala toko itu dan memutuskan memulai usaha kecil kecilanku yang bergelut dengan berbagai olahan tempe. Mulai dari keripik tempe, tempe mendoan, tempe bacem,,, dll yang semuanya ku kemas dalam kemasan kekinian.


Belum banyak pelangganku tapi ku rasa ini sudah lumayan kembali modal. Setidaknya, aku dan mama tidak perlu makan hanya dengan sepiring nasi dan sepotong tempe atau sebiji cabe atau sejumput garam. Setidaknya kami berdua bisa makan yang lebih layak dengan pendapatanku dari usaha tempeku ini.


Mama banyak sekali membantuku. Siapa sangka, mama ternyata sangat pandai memasak. Tempe bacem itu bahkan menggunakan resep rahasia mama lho. Intinya, kami berdua saling bahu membahu membangun usaha ini. Kami ingin bangkit dari keterpurukan kami sebelumnya.


Awalnya hanya kami berdua, tapi sekarang sudah ada beberapa ibu ibu kampung ini yang membantu. Dengan gaji harian yang sebenarnya tidaklah banyak mengingat dulu aku pernah menggaji karyawanku puluhan bahkan ratusan kali lipat dari yang mereka terima sekarang.


Tapi kembali lagi,,, itu adalah dulu. Ketika seorang Rajesh Anantara masih berjaya dan lupa diri. Masih sangat songong. Sekarang sudah ku kubur hidup hidup sosok itu. Aku tak ingin lagi menjadi dirinya.

__ADS_1


Kembali ke tamuku tadi,,,


"Siapa Jesh?" tanya mama yang baru datang dari rumah samping yang kini by the way sudah ku sewa untuk rumah produksi.


Uang sewanya juga dari hasil keuntungan usaha tempeku ini. Siapa sangka ya,,, ternyata aku bisa.


"Ini ma. Calon suami Indah." jawabku menunjuk pada sang tamu yang mengangguk sopan.


"Oh. Tunggu ya. Mama ambilkan minum dulu."


"Tidak usah repot repot tante." tolak tamuku yang mungkin memang tidak punya selera makan dan minum di gubukku ini.


"Nggak kok. Tunggu ya." mama tak mengindahkan penolakan darinya dan bergegas masuk ke dapur menyiapkan sedikit suguhan.


"Sudah mulai usaha sendiri ya?" tanya tamuku sekali lagi berbasa basi.


"Yah beginilah." ku jawab singkat tanpa ingin menjelaskan lebih banyak.


"Aku datang ke sini untuk Zoya. Aku ingin memberikan tawaran padamu. Gantikan aku nanti di pelaminan. Pernikahan kami seminggu lagi. Ku harap kamu bisa memikirkannya baik baik."


Tanpa tedeng aling aling tamuku langsung menuju pokok pembicaraan dan tujuannya mengunjungiku. Perasaanku?? Jangan ditanya. Aku kaget,,, heran,,, senang,,, geram,, marah,, campur aduk.


Kaget?? Tentu saja. Ini adalah hal yang paling tidak pernah ku duga atau ku bayangkan sebelumnya. Jangankan sampai terjadi begini,,, sekelebat memikirkannya saja tidak pernah. Yang benar saja???


Rodie menawarkanku untuk menggantikannya di pelaminan??? Aku gak salah dengar?? Aku gak mimpi??? Aku heran saja. Bukannya dia sangat mencintai Indah?? Aku bahkan bisa melihatnya dengan mata biasa tiap kali ia memperlakukan Indah meski kami hanya bertemu sekali saja.


Aku sekaligus senang sih jika ditawari sesuatu yang sesungguhnya memang sangat ku inginkan. Tapi,,, aku geram bahkan marah kepada lelaki kurang ajar yang bisa bisanya seolah memperlakukan Indah-ku layaknya piala bergilir yang bisa main ia oper sana sini sesuka hati.

__ADS_1


Apa maunya?? Membuat Indah-ku jatuh cinta padanya hingga mengabaikanku lalu dengan gampangnya saat pernikahan mereka tiba lalu ia mau kabur begitu saja??? Dia pikir Indah-ku itu apa???


Gigiku gemeletuk menahan amarah. Buku buku jarinya juga sudah mulai mengeras akibat bogeman yang ku tahan. Sedikit saja ku layangkan, bisa ku pastikan tamuku itu ambruk.


"Jangan salah paham kepadaku. Aku tidak berniat mencampakkannya. Percayalah,,, aku sangat mencintainya. Bahkan sebenarnya aku tidak rela berkata seperti ini. Terutama kepadamu. Tapi di sisi lain,,, justru hanya kamulah yang bisa ku percaya untuk ku titipkan cintaku."


Ucapan tamuku itu perlahan membuat otot otot rahangku melunak. Bogeman mentahku yang siap melayang juga telah terurai. Aku mulai tertarik mendengarkan lebih banyak.


"Aku tau kamu bingung. Baiklah,,, tidak akan ku persulit. Aku sakit Jesh. Dengan lemahnya ini,,, aku tidak akan bisa bertahan lama." Rodie memukul mukul dada sebelah kirinya dengan tatapan marah, kecewa sekaligus menyedihkan.


"Aku tidak ingin menikahinya hanya untuk menjadikannya seorang janda. Cukup sekali ia menjadi jandamu. Jangan lagi menjadi jandaku juga. Karenanya aku datang kepadamu. Meminta kesediaanmu untuk menggantikanku. Membantuku menjaga cintaku dan sekaligus terus menyalurkannya kepada Zoya. Nikahi dia,,, cintai dia,,, dengan cintamu dan juga cintaku."


Bisa ku lihat setetes demi setetes airmata kesedihan turun membasahi wajah tampan dan berwibawanya. Terlihat sangat menyedihkan. Bahkan aku bisa merasakannya. Sebagai lelaki,,, kami berdua tentu anti menangis. Namun untuk wanita terkasih,,, airmata ini justru menunjukkan seberapa cintanya kami dan selemah apa kami tanpanya.


"Aku akan mengalah Jesh. Untuknya." ucapnya lagi dengan suara parau dan wajah tertunduk yang dengan melihatnya saja aku bisa tau ia sangat berat hati melakukannya namun harus ia lakukan.


Aku menelan ludah dengan susah payah. Tenggorokanku terasa begitu kering. Pahit bahkan ku rasakan ketika kesekian kalinya ku paksa menelan ludah. Ku harap mama segera datang dengan minumannya saat ini.


"Dia masih sangat mencintaimu Jesh. Dia menerimaku hanya karena kasihan kepadaku. Aku yang sudah menghabiskan bertahun tahun waktuku menunggunya menjawab perasaanku. Ia sudah mengorbankan hati dan cintanya sendiri demi tidak mengecewakanku. Dan aku tidak mau,,, sekali lagi ia mengorbankan sisa hidupnya hanya untuk menemani pesakitan ini dan melihatku mati. Tidak Jesh. Aku tidak mau. Kalau pun aku harus pergi,,, setidaknya aku tenang karena sudah ada kamu yang menjaga cintaku."


Kepala itu mendongak. Menatapku. Meminta persetujuan dariku.


Apa yang harus ku katakan???


...\=\=\=\=\=\=...


...Apa dong??? Bantuin author mikir ya....

__ADS_1


...With love, ...


...Author....


__ADS_2