
Indah melangkah masuk begitu mobil Rajesh menghilang dari pandangan. Ia ingat harus menyiapkan juga sarapan untuk mama Rina dan papa Gunawan.
"Indaaaaahh,, mana sarapannya???" teriak mama Rina membuat Indah mempercepat langkahnya.
"Maaf ma. Tadi Indah masih antar mas Rajesh ke depan."
"Gak mau tau!! Kamu memang istri Rajesh, tapi ingat tugas kamu juga melayani kami!! Kamu tuh harus pinter pinter atur waktu kamu. Kayak gini ini namanya kamu udah salah. Udah bikin kami kelaparan menunggu sarapan kamu sajikan!!" bentak mama Rina.
"Iya ma maaf. Biar Indah ambilkan dulu ya sarapannya."
"Buruan!!!" sekali lagi mama Rina membentaknya padahal nasi goreng buatan Indah sudah tersaji di wadah kaca besar di atas meja, tinggal menyendok ke piring saja tapi seakan kesalahan Indah sangat fatal.
"Ini ma. Dan ini untuk papa." Indah menyodorkan piring mereka masing masing.
"Hmmm,,, Ambilkan air. Jangan bikin kami mati kesedak." perintah belum berakhir.
"Iya ma." Indah bergegas mengambilkan keduanya masing masing segelas air putih.
"Kopi papa sudah dibuatin?" tanya papa gunawan.
"Belum pa."
"Dasar dungu!! Semua musti disuruh ya?? semua musti diingetin?? Gak becus banget sih jadi orang!!! Kamu tuh orang apa bukan sih??" mama Rina langsung nyolot.
"Maaf ma. Indah pikir sebaiknya Indah tanya dulu papa pagi ini mau kopi atau teh saja. Biasanya kan papa berubah ubah kesukaannya tiap pagi." Indah menjelaskan apa yang dipikirkannya tadi.
Mendengar itu mama Rina membanting sendok dan garpunya hingga menimbulkan bunyi keras saat sendok dan garpu itu beradu di piringnya. Bergegas mama Rina berdiri dan mendekati Indah lalu dengan gerakan cepatnya ia menjewet telinga Indah.
"Ampun ma, sakit." Indah mengaduh karena telinganya terasa panas meski tertutup hijabnya.
"Itu upah buat yang suka bantah dan banyak alasan!! Itu juga upah orang malas kayak kamu!! Apa susahnya membuatkan minuman buat papa?? Kalau memang terlanjur buatin kopi tapi papa gak ingin kopi ya buatkan teh. Kalau gk mau teh ya buat kopi lagi. Dasar malas!!!"
"Makan ma. Nanti kambuh asam lambung mama karena mengurusi dia saja." tegur papa Gunawan santai sambil tetap memakan nasi goreng buatan Indah.
__ADS_1
Beliau memang menyukainya.
"Huuuhh,,, Sana ke dapur!! Muka kamu itu buat selera makanku hilang!!!" hardik mama Rina pada Indah.
Indah hanya mengangguk kemudian berlalu dengan memegangi telinganya yang masih panas. Hatinya memang menangis tapi matanya tak pernah ia perbolehkan meneteskan air mata agar ia tak terlihat begitu lemah di depan mereka.
"Papa kok kayaknya suka banget sama masakan si babu itu?" selidik mama Rina melihat papa Gunawan yang memang makan dengan nikmat bahkan beliau sekarang mengambil beberapa lagi untuk tambahan.
"Masakannya memang enak ma. Mama mustinya belajar dari dia." jawab papa Gunawan.
"Pa!!!" mama Rina kesal mendengarnya.
"Beneran enak soalnya." sekali lagi papa Gunawan memuji masakan Indah yang sebenarnya juga terasa nikmat di lidah mama Rina namun ia gengsi mengakuinya.
"Trus maksud papa bilang mama suruh belajar sama dia itu apa?? Kan udah ada dia yang masak. Kenapa mama musti belajar juga???" sungut mama Rina tetap tak terima masakan Indah dipuji papa Gunawan.
"Ya kan mama sejak kita menikah mana pernah masak buat papa. Papa kan cuma sesekali makan masakan mama. Apa itu salah?" tanya papa Gunawan yang entah kenapa tumben mengungkit keinginannya itu.
"Ya ya ya,,, terserah mama sajalah. Udah ah papa mau berangkat. Udah capek dari luar kota malah pagi pagi sudah diajak debat." sungut papa Gunawan.
"Kan papa yang cari gara gara!!!" mama Rina tidak terima.
Papa Gunawan tidak lagi menghiraukannya bahkan pergi tanpa minta diantar olehnya ke depan. Itu membuat mama Rina makin kesal.
"Gara gara babu sialann itu!! Awas saja dia nanti!!" mama Rina geram.
Selanjutnya sudah bisa ditebak kalau mama Rina pun terus menguji kesabaran Indah. Menyuruh membuatkan ini itu, mengecek pekerjaan rumah yang sebenarnya sudah bersih tapi meminta Indah mengulanginya lagi.
Sampai saat makan siang hampir tiba. Indah sudah selesai dengan masakannya meski sempat beberapa kali lauk yang digorengnya pun gosong karena mama Rina yang terus merecokinya dan meminta ini itu.
"Kamu tuh jadi istri gak pernah punya pikiran untuk bawain suami kamu makan siang ya?? Istri macam apa kamu ini yang membiarkan suaminya mencari makan sendiri??" sindir mama Rina.
"Mas Rajesh tidak pernah meminta Indah membawakan makan siang ma."
__ADS_1
"Ya inisiatif sendiri dong bawain kesana!!" mama Rina sudah bak istri yang sudah benar saja bicaranya padahal dia sendiri juga tidak pernah peduli papa Gunawan makan apa siangnya.
"Indah,,, nggak tau jalan ke kantor mas Rajesh ma." Indah tertunduk.
"Cocok sekali kamu kalau dibilang gak becus ya. Apa apa nggak tau, nggak kreatif,,, beruntung sekali kamu bisa masuk ke keluarga ini, jadi istri Rajesh pula!! Kami yang sial dapat kamu! Begini nih kalau anak pembantu udah merasa hidup jadi ratu! Salah papa dulu memanjakanmu!! Kamu jadi lupa diri dan nggak bisa mikir sendiri!!" umpat mama Rina yang tak mau tau kalau Indah memang benar benar tidak pernah tau di mana Rajesh bekerja dan bagaimana cara kesana karena selama ini ia memang tidak pernah diperbolehkan keluar sendiri.
"Maaf ma."
"Itu saja bisamu ya?? Minta maaf terus. Kamu pikir aku ini punya segudang maaf??? Sana pergi bawakan Rajesh makan siang!!" usir mama Rina yang sebenarnya punya niat buruk pada Indah.
Mama Rina bukan tidak tau Indah tidak tau jalan, tapi justru dengan begitu ia berharap Indah nyasar atau diculik orang atau dikerjai preman atau apa pun itu yang buruk dan tidak melibatkan tangannya sendiri. Dan pasti akan seru dan menyenangkan kalau Indah kena marah dan dipermalukan oleh Rajesh nantinya di kantor.
"Ma,,, Indah bukan tidak mau tapi Indah benar benar tidak tau alamat kantornya ma." Indah memelas sekaligus takut kalau Rajesh malah marah besar nantinya melihatnya muncul di kantornya.
Bukankah pernikahan mereka terkesan dirahasiakan? Jadi kalau tiba tiba Indah datang dengan makanan untuk Rajesh,,, apa kata orang? Dan apa yang harus dijawabnya jika ada yang bertanya?
"Cari akal dong!!" mama Rina kekeh tidak mau memberitahu.
Indah pun hanya bisa mengangguk lesu dan memutar tubuhnya dengan lemas. Ia sungguh tidak ada ide sama sekali mau ambil jalan yang mana.
"Ingat cepat pulang!! Cucianmu numpuk!!" teriak mama Rina sebelum Indah menghilang di belokan rumah.
Indah tidak mampu lagi untuk menjawab karena pikirannya sudah kalut. Takut kesasar, takut dimarahi Rajesh kalau mengantar makanan, takut tambah dimarahi mama Rina kalau tidak mengantar.
Sungguh bagai makan buah simalakama.
...\=\=\=\=\=...
...Malam baru sempat satu bab dulu ya gengs, yang penting up setiap hari ya 💪...
...With love, ...
...Author....
__ADS_1