Aku Menyesal Membuangmu

Aku Menyesal Membuangmu
Kalah Logika


__ADS_3

Nadine melenggang masuk ke sebuah cafe di mana ia sudah ada janji temu dengan papa Gunawan. Nadine tersenyum saat melihat di mana papa Gunawan duduk menunggunya dengan wajah masam.


"Hai daddy. Kok cemberut gitu??" sapa Nadine sembari mencolek dagu papa Gunawan.


"Jelasin sama daddy, ini semua maksudnya apa?? Kemarin kamu bilang kamu hamil dan kenapa sekarang tiba tiba nggak hamil?? Kamu lagi mainin daddy?? Daddy udah senang bakal punya anak dari kamu lho. Daddy sampai nekad memalsukan semua tanda tangan biar bisa semua atas nama daddy. Demi anak kita Nadine. Tapi kenapa sekarang tiba tiba kamu bisa nggak hamil???"


Papa Gunawan langsung mencecarnya dengan banyak pertanyaan. Yang ditanya hanya senyum senyum sok manis.


"Sabar dong daddy sayang. Slow. Tarik napas,,, hembuskan." Nadine memperagakan tangannya bak seorang pelatih nafas.


"Gimana bisa sabar kalau daddy nggak jadi punya anak darimu???" sembur papa Gunawan.


"Dad,, nggak ada yang batal jadi ayah. Daddy akan tetap jadi ayah. Nadine itu tetap hamil dad."


"Bagaimana bisa??? Jelas jelas alat tes kehamilan itu hasilnya negatif kok." sangkal papa Gunawan.


"Ya negatif lah pasti orang itu bukan urine Nadine yang dipakai." sahut Nadine santai.


"Hah?? Terus punya siapa?" tanya papa Gunawan.


"Punya kucing peliharaan mama. Kebetulan Nadine lihat dia lagi kencing jadi ya Nadine ambil aja beberapa tetes untuk sekedar tes saja." Nadine tergelak.


Baginya semua itu hanya lelucon. Dan tawa renyahnya itu pun menular kepada papa Gunawan.


"Kamu memang pintar sayang. Tapi semakin kesini, daddy kok merasa kita makin nggak aman ya posisinya. Rajesh pasti nggak akan diam saja. Dia pasti masih penasaran dan akan terus mencari tau." gumam papa Gunawan.


"Kalau gitu, kita segera minggat saja dad. Oh ya, sebenarnya untuk lebih amannya lagi, daddy tuh mending alihkan semua aset ke nama Nadine sekarang." kata Nadine.


"Kenapa??" mata papa Gunawan melebar.


"Daddy gimana sih? Kalau masih atas nama daddy, kan daddy sama nenek tua itu belum bercerai. Ini hanya tindakan protektif kita untuk kemungkinan suatu saat nenek tua itu meminta haknya dari daddy. Kalau semua daddy pindah atas namaku, nenek tua itu nggak bisa menuntutku untuk apa pun. Aku kan cuma menantu di rumah itu."


Terdengar sangat cerdas dan meyakinkan ide dari Nadine itu. Papa Gunawan menimbang nimbang sejenak.

__ADS_1


"Daddy nggak percaya sama Nadine???" tanya Nadine membuyarkan konsentrasi papa Gunawan.


"Eh bukan begitu. Bukan." papa Gunawan mengibas ngibaskan tangannya memberi tanda tidak.


"Nadine ini udah jadi istri daddy kan. Masak urusan beginian aja daddy juga masih ragu? Nadine juga udah mau mau daddy ajak kucing kucingan sama nenek tua itu. Udah rela berbagi suami. Udah harus nelan ludah juga dengar pertempuran ranjang kalian tempo hari siang bolong. Kalau Nadine emang niat buruk sama daddy, udah lama Nadine pergi. Nyatanya apa?? Nadine masih ada di sisi daddy kan??"


Nadine mengatakannya sembari setengah merajuk membuat papa Gunawan makin tak enak hati.


"Iya iya. Maafkan daddy. Kemarin udah di ubun ubun banget soalnya. Kangen kamu malah dapat timbunan lemak." gerutu papa Gunawan.


"Tapi menikmati kan?? Sampai kedengeran ke kamar Nadine." sewot Nadine dibuat seperti cemburu.


"Kalau dibilang tidak menikmati ya bohong kan sayang. Tapi sumpah daddy cuma bayangin kamu pas itu." jelas papa Gunawan.


"Halah gombal. Lagian Nadine nggak terima ya dihayalin pas daddy lagi sama si kuda nil." gerutu Nadine.


"Heheehe daddy seneng kalau kamu ngambek begini. Itu artinya kamu memang cinta sama daddy dan gak mau kehilangan daddy."


Papa Gunawan merasa besar kepala dan makin lupa diri apalagi ketika selanjutnya Nadine tersenyum dan bahkan berkata,,, "Bahkan Nadine rela kehilangan Rajesh daripada kehilangan daddy. Daddy itu segalanya buat Nadine."


"Terus gimana dong urusan pengalihan nama? Jadi kan alih nama ke Nadine semua demi menyelamatkan apa yang udah daddy ambil?" desak Nadine lagi.


Papa Gunawan tak serta merta menjawab. Beliau masih berpikir.


"Daddyyyy!!! Keterlaluan deh!!!" sungut Nadine kesal dan merasa semua yang sudah dikatakannya tadi percuma.


"Sabar dong sayang. Daddy bukan nggak mau alihkan atas namamu tapi daddy lagi mikir siapa yang akan mengurus semua ini. Bagaimana pun juga, daddy kan harus hati hati agar pengacara sialan kepercayaan si kakek tua itu gak curiga dan tindakan kita tidak sampai masuk ke ranah kriminal." jelas papa Gunawan.


"Bodo!! Pokoknya kalau daddy sayang sama Nadine, segera amankan semua atas nama Nadine. Kalau daddy gerak lambat, Nadine gak jamin semua itu aman di tangan daddy dan bisa jadi Nadine juga akan hilang dari hidup daddy." kali ini Nadine mengancam.


"Eh jangan dong sayang. Iya iya deh. Daddy segera urus atas namamu."


"Janji??"

__ADS_1


"Iya sayang. Kapan sih daddy bohong sama kamu?" papa Gunawan menjentik hidung Nadine dengan genitnya.


"Gitu dong. Ini baru daddy kesayangan Nadine namanya. Ya udah, daddy balik kantor dulu gih. Kelamaan di sini juga nggak baik. Takut ada yang ngelihat kita berduaan di sini." usir Nadine ketika merasa misinya merayu papa Gunawan sudah mulai berhasil.


"Iya sayang. Daddy balik kantor dulu. Kamu langsung balik juga ke rumah kan?"


"Iya dong. Bagi duit buat bayar tagihan dan taksi dong dad." Nadine menadahkan tangan.


"Lho,,, uang yang daddy kasih kemarin udah habis?" kening papa Gunawan mengkerut mengingat sejumlah uang dalam nominal besar yang baru dua hari lalu ditransfernya ke rekening Nadine.


"Itu kan uang nafkah buat Nadine. Mana bisa diminta atau dipakai untuk keperluan kita berdua? Nafkah ya nafkah. Kalau makan dan minum di luar ya daddy lain bayar sendiri dong." sungut Nadine.


Papa Gunawan geleng kepala namun tetap mengeluarkan dompetnya dan memberikan tiga lembar uang ratusan ribu lalu mengulurkannya pada Nadine.


"Segini doang??? Pelit banget sama istri." mata Nadine membulat.


"Kan cuma buat bayar minuman sama naik taksi kan sayang? Nggak kurang segitu."


"Gini nih kalau punya suami udah mulai nggak percaya dan itung itungan sama istri. Nyesel Nadine mau maunya dinikahi daddy kalau begini. Mending fokus jadi istri Rajesh ajalah lama lama kalau begini."


Nadine pura pura merajuk lagi lalu menarik tasnya dan bangkit dari duduknya dengan kasar.


"Jangan gitu dong sayang. Ini daddy tambahin deh." papa Gunawan mengeluarkan lagi banyak lembar yang mampu membuat Nadine tersenyum menang.


"Gitu dong. Punya istri muda dan cantik itu harus berani modal banyak dad. Jangan pelit kalau nggak mau ditinggal minggat."


Nadine mencium pipi yang tak lagi kencang itu lalu melenggang meninggalkan pemiliknya yang hanya bisa mulai merasa diporotin olehnya namun tak kuasa untuk kehilangannya.


Ketika logika sudah kalah.


...\=\=\=\=\=...


...Author mencium bau bau nggak sedep dari Nadine nih ๐Ÿคจ๐Ÿง๐Ÿค”...

__ADS_1


...With love, ...


...Author....


__ADS_2