Aku Menyesal Membuangmu

Aku Menyesal Membuangmu
Menjadi Mangsa


__ADS_3

Rajesh membuka pintu ruangan di mana gadis itu sudah duduk menunggunya meski masih terlihat lemah. Namun setidaknya cairan infus yang sudah tersalur melalui selang dan masuk ke tubuhnya membuat ia sedikit bertenaga.


"Masuklah." titah gadis itu ketika Rajesh terlihat ragu.


"Apa kamu sudah merasa lebih baik?" tanya Rajesh dengan tatapan prihatin.


Gadis itu mengangguk kemudian berterima kasih pada Rajesh karena sudah menolongnya.


"Kata pihak puskesmas kamu,,," Rajesh tidak melanjutkan kata katanya, merasa tidak enak jika harus mempertanyakan kejadian kelam yang menimpa gadis itu.


"Iya. Aku diperkosa ramai ramai dan mirisnya,,, yang mendalangi itu adalah calon suamiku sendiri. Ia menyuruh teman temannya menggilirku." gadis itu tersenyum kecut.


"Apa?? Mana bisa seperti itu??" tanya Rajesh kaget campur heran.


Ia merasa dirinya sudah paling buruk jadi lelaki tapi ternyata ada yang lebih buruk lagi.


"Namaku Alyssa. Kamu siapa?" gadis yang mengaku bernama Alyssa itu tidak menjawab atau menjelaskan malah mengenalkan dirinya.


"Rajesh."


"Terima kasih Jesh. Sekali lagi terima kasih sudah menyelamatkanku. Aku nggak tau apa jadinya aku tanpa pertolonganmu. Sedari tadi aku bertemu orang orang tapi tidak ada satu pun yang mau menolongku. Mereka terlihat ketakutan. Malah ada yang meneriakiku hantu." Alyssa bercerita.


"Oh itu. Iya,,, di desa ini memang sedang berkembang rumor tentang hantu. Jadi mungkin mereka termakan dengan cerita itu. Sampai sampai logikanya pun kalah." jelas Rajesh mengingat bahkan mama Rina pun salah satunya.


"Oh begitu rupanya. Tapi kenapa kamu menolongku Jesh? Kamu tidak takut kalau aku juga hantu?" tanya Alyssa.


"Mana ada hantu kakinya napak tanah isi jalan terseok seok kayak kamu tadi??" Rajesh berseloroh untuk membuat Alyssa sedikit melupakan kejadian kelamnya.


"Hehehe,,," Alyssa tersenyum.


Tampak manis meski dengan wajah pucatnya. Rambut hitamnya mengingatkan Rajesh pada sosok Indah. Meski dipandang dari sudut mana mana pun juga,,, Indah tetap paling mempesona di mata Rajesh.

__ADS_1


"Jesh,,, apa aku boleh minta tolong sekali lagi?" tanya Alyssa.


"Apa itu?"


"Jangan libatkan polisi. Aku malu. Ini aib bagiku dan keluargaku nantinya. Aku tidak mau apa yang menimpaku menjadi konsumsi publik." Alyssa tertunduk.


"Tapi apa yang mereka lakukan padamu itu adalah tindak kejahatan dan mereka harus mendapatkan hukuman yang setimpal. Mereka harus bertanggung jawab." Rajesh berapi api.


"Lalu apa? Apa dengan begitu kesucianku akan kembali? Apa dengan begitu calon suamiku akan merasa menyesal?? Apa setelah itu keselamatanku malah tidak terancam kalau ada salah satu dari mereka tidak terima ku laporkan?? Lalu apa?? Aku tidak akan pernah bisa mengobati luka jiwaku karena kasus ini akan terus bergulir panjang dan panjang." keluh Alyssa.


Rajesh diam. Setengahnya ia membenarkan, setengahnya tidak setuju dan tidak terima saja jika Alyssa memutuskan melepaskan para penjahat kelam*in itu.


"Aku hanya ingin hidup normal kembali. Aib ini biar menjadi beban dalam jiwaku sendiri. Tidak mudah bagi perempuan sepertiku mencari keadilan Jesh. Beban aib ini sudah berat bagiku, dan aku tidak akan mampu jika harus melawannya lagi di depan hukum. Aku bukan orang berada Jesh. Sedangkan dia,, saat ini dia sudah kaya raya. Memenangkan kasus ini tentu bukan perkara sulit baginya. Aku hanya akan mendapat malu kembali." ratap Alyssa.


"Ia mengingkari janjinya untuk menikahiku karena ia sudah mendapat perempuan lain yang lebih kaya dan punya segalanya. Aku menagih janjinya dan dia marah lalu melakukan perbuatan gila itu bersama teman temannya."


Rajesh masih diam mendengarkan cerita dan keluh kesah Alyssa. Alyssa terlihat beberapa kali mengusap airmata yang membasahi pipinya.


"Menangislah. Luapkan semua beban di hatimu. Aku tau ini semua berat. Meski aku merasa keputusanmu melepaskan mereka kurang tepat, tapi aku tidak punya hak memaksamu melakukan apa yang menurutku tepat." ujar Rajesh yang paling tidak bisa melihat seorang gadis menangis di depannya.


"Permisi mbak Alyssa,,, Apa sudah siap untuk kami panggilkan polisi?" perempuan yang tadi menemui Rajesh masuk dan bertanya.


Alyssa lantas mengatakan hal yang sama pada perempuan itu. Alasan kenapa ia ingin berdamai saja. Perempuan itu awalnya terkejut dengan keputusan itu namun kemudian ia pun bisa mengerti.


"Sebagai sesama perempuan saya bisa paham mbak. Baiklah. Kalau memang begitu keputusan mbak Alyssa. Saya tetap ingin menyatakan perasaan turut prihatin saya kepada mbak Alyssa. Semoga ke depannya hidup mbak Alyssa lebih baik ya."


Alyssa mengucapkan terima kasih sebelum perempuan itu meninggalkannya berdua kembali dengan Rajesh.


"Jesh,,, pulanglah dulu. Biar aku di sini sendiri. Tidak apa apa. Untuk biayanya nanti pakai uang ini saja."


Alyssa mengulurkan beberapa lembar uang berwarna merah yang terlihat lusuh. Mungkin itu sisa uang yang dipunyainya.

__ADS_1


"Simpanlah. Biar aku yang membayarnya. Tidak mahal kok. Ini hanya puskesmas desa, bukan rumah sakit elite. Satu lagi,,, aku akan menungguimu di sini sampai besok pagi. Aku hanya ingin memastikan tidak ada salah satu bajingann itu yang melihatmu selamat di sini. Untuk jaga jaga saja." ucap Rajesh.


"Tapi Jesh,,, nanti Takut anak istrimu menunggu di rumah." Alyssa mengungkapkan kekhawatirannya.


"Tenang. Tidak ada yang menungguku." Rajesh tersenyum kecut.


"Oh." lirih Alyssa merasa tidak enak sekaligus lega karena dewa penolongnya ini rupanya tidak ada pemiliknya.


"Istirahatlah dulu. Aku akan duduk di sana. Kalau perlu bantuan panggil saja aku ya." Rajesh menunjuk sebuah kursi di sudut ruangan.


"Terima kasih Jesh."


Alyssa berpura pura memejamkan mata meski jiwanya menangis. Mengingat semua kejadian kelam itu membuat emosinya naik turun namun ia sadar diri ia terlalu tak berdaya untuk bisa melawan.


Sakit hatinya akibat janji dinikahi oleh kekasih hati telah diingkari masih tak seberapa dibanding dengan betapa teganya sang kekasih membagi tubuhnya kepada teman temannya.


"Kamu jahat Ferry,,, Kamu udah seperti kacang lupa dengan kulitnya. Kamu lupa diri. Sewaktu susah kamu bersamaku. Ketika sudah kaya kamu membuangku dan masih tega mengumpankanku pada binatang binatang itu." Alyssa mengumpat dalam hati untuk sosok lelaki biadab bernama Ferry.


Ferry,,, lelaki yang berjanji akan menikahi Alyssa begitu usahanya mendapatkan pundi pundi kekayaan dari seorang wanita kaya berhasil. Namun nyatanya, Ferry malah ingkar janji.


Alyssa merutuki dirinya sendiri yang juga sebenarnya sudah bodoh mengijinkan Ferry selama ini untuk membodohi wanita kaya itu. Alyssa pikir Ferry hanya sekedar merayu saja dan tidak sampai menidurinya hingga hamil.


"Tuhan,,, aku terima hukumanMU ini. Aku sudah pernah secara tidak langsung menyakiti hati perempuan lain dengan membiarkannya menjadi mangsa Ferry. Kini aku kena batunya sendiri. Ternyata aku juga tak lebih hanya mangsa untuk Ferry." ratap Alyssa pilu.


Hidup susah dan keinginan menjadi kaya secara instan memang sering menjadikan banyak manusia menghalalkan segala cara. Termasuk Alyssa,,, keluarga Rajesh sebelumnya dan juga Ferry,,,


Ferry yang sama dengan yang saat ini tengah dengan gagahnya membuat Nadine menjerit jerit keenakan dengan keahliannya di atas ranjang.


...\=\=\=\=\=...


...Mulai nyambung dan bisa nebak ke depannya nggak??...

__ADS_1


...With love, ...


...Author....


__ADS_2