
Tak akan perlu menunggu lama seperti kata Alyssa tempo hari, perceraian antara Rajesh dan Zoya pun telah mencapai batas penentuan. Akte cerai telah dikirimkan meski Rajesh memilih mengabaikan semua panggilan sidang.
Tak apa disebut pengecut, tak apa disebut lari dari tanggung jawab, yang penting hati tak semakin dibuat berdarah darah dengan perceraian itu. Setidaknya begitu yang terlintas dalam pikiran Rajesh.
"Massss,,, Aku seneng banget."
Alyssa langsung memeluk tubuh lunglai Rajesh. Hal itu tentu mendapat penolakan dari Rajesh yang selama ini berusaha keras menjaga agar tidak pernah terjadi kontak fisik berlebihan antara dirinya dan Alyssa. Setidaknya sampai mereka sah sebagai suami istri.
"Alyssa kamu apa apaan? Lepas Alyssa. Nggak enak dilihat sama tetangga."
"Biarin aja lah mas. Toh yang ku peluk sekarang ini juga bukan lagi suami orang kan? Kamu udah resmi menduda dan sebentar lagi kita akan menikah mas. Jadi ku rasa para tetangga juga maklum kok." Alyssa tetap bergelayut manja pada Rajesh.
"Tapi Alyssa,,,," Rajesh hendak memprotes namun terjeda karena ada beberapa tetangga yang lewat depan rumahnya dan melihat pemandangan itu lalu berkomentar.
"Wah wah mbak Alyssa sama mas Rajesh ini semakin mesra saja. Belum menikah sudah semesra ini, apa kabar nanti pas malam pertama dan selanjutnya ya?? Bikin iri kami saja." kata seorang emak berdaster yang menggendong bayinya.
"Sudah cepat nikah saja kalian biar makin nempellll." timpal yang satunya dengan dandanan yang lebih rapi.
"Hehehe,,, iya ibu ibu. Sebentar lagi. Nanti jangan lupa datang ya." Alyssa berbangga hati.
"Pasti mbak Alyssa. Ya sudah kami pamit dulu. Kalian berdua silahkan dilanjut mesra mesraannya." sahut si emak berdaster.
"Hati hati bu." pesan Alyssa meski tau si emak berdaster hanya tinggal 3 petak rumah saja dari tempatnya tinggal.
"Tuh kan mas. Santai saja. Orang orang itu sudah pada tau kalau kita ini bakal menikah. Jadi begini ini juga nggak ada salahnya. Hanya sebatas memeluk. Kan malah terlihat romantis. Rukun. Bahagia."
"Lepas Alyssa!!" kali ini Rajesh membentak dan membuat Alyssa serta merta melepaskan pelukannya.
__ADS_1
Alyssa mundur selangkah dengan bibir bergetar dan mata mulai basah oleh airmata yang menggenang. Ia terkejut dibentak sekaligus sedih mendapat bentakan. Ia terus berjalan mundur dengan pipi sudah basah oleh airmatanya sendiri. Lalu berlari masuk ke kamarnya membuat Rajesh merasa cemas lagi dan lagi mengingat kejadian terakhir kalinya saat Alyssa nekad mencoba bunuh diri.
"Alyssa,,, dengar. Aku minta maaf kalau aku sudah kasar dan membentakmu. Aku harap kamu ngerti Alyssa. Aku hanya ingin kita melakukan hal semacam ini nanti saat kita sudah sah menikah." kata Rajesh di balik pintu kamar Alyssa.
"Kalau gitu tunggu apa lagi?? Ayo segera menikah!!" teriak Alyssa dari dalam kamarnya.
"Iya kita pasti menikah. Aku kan juga sudah janji akan menikahimu. Tapi kan menikah itu bukan sekedar kata saja. Perlu persiapan dan duduk bersama membahasnya juga. Nah kalau kamu berdiri di balik pintu ini saja, bukankah malah akan menghambat??"
"Kamu nyalahin aku mas??" Alyssa membuka pintu sekaligus menatap nyalang.
"Bukan Alyssa. Justru aku khawatir sama kamu. Aku nggak mau kamu kenapa kenapa lagi. Kasihan Bagas." terang Rajesh.
"Ok. Kalau begitu sekarang kita duduk dan bicara." Alyssa yang kini mengambil kendali dan mengatur.
Ia berjalan melewati Rajesh yang masih berdiri di depan kamarnya. Alyssa menuju ke kursi kayu di ruang tamu rumah itu. Rajesh menghela napas beratnya dan menyusul langkah Alyssa. Mengambil posisi duduk berhadapan.
"Persiapannya apa saja mas?"
"Mas,,, dengar aku. Aku nggak minta kamu menikahiku langsung secara sah hukum dan negara. Kenapa?? Cukup menikahiku secara agama saja. Aku tau kamu tidak punya banyak waktu untuk mengurus semua itu karena setiap hari waktumu habis untuk bekerja. Aku juga tau kalau menunggu dana untuk resepsi walau sekedarnya saja juga butuh waktu berbulan bulan untuk kamu mengumpulkan uang. Karenanya,,, aku nggak minta yang aneh aneh ma. Cukup panggil pak ustad di kampung ini untuk membantu menikahkan kita, panggil beberapa tetangga untuk jadi saksi. Sudah gitu aja. Aku nggak minta yang muluk muluk."
Bagus memang kedengarannya. Begitu lapang dada menerima segala kekurangan Rajesh. Tapi yang namanya saja hanya iba, bukan cinta,,, hal yang bagus begitu pun malah terasa makin menyiksa hati Rajesh.
"Mas!! Tiap kali membahas pernikahan, kamu selalu diam. Wajah kamu nggak pernah menunjukkan kamu bahagia. Kamu sebenarnya bisa nggak sih tepati janji kamu mas??" tagih Alyssa.
"Aduh aduh,,, ini ada apa lagi? Ribut ribut sampai kedengaran di luar." mama Rina yang baru kembali dari mengantarkan baju baju hasil setrikaanya kepada para pemiliknya.
Selama ini mama Rina rupanya ikut membantu perekonomian keluarga kecil mereka dengan menjadi buruh cuci gosok pakaian tetangga yang tidak punya waktu untuk melakukannya. Rajesh sudah pernah melarang namun mama Rina tetap melakukannya dengan dalih bosan di rumah terus menganggur. Akhirnya Rajesh tidak bisa lagi melarang mengingat dirinya juga belum mampu membelikan setidaknya televisi kecil yang bisa ditonton untuk mengusir sepi dan bosan.
__ADS_1
Entah kenapa, meski sudah bekerja keras rasanya masih kurang saja.
"Ini lho ma,,, mas Rajesh. Tiap kali diajak bahas pernikahan selalu begini. Diam dan murung. Alyssa kan jadi merasa sebenarnya selama ini mas Rajesh sengaja mengulur ulur waktu dan mengingkari janji." tuduh Alyssa.
"Alyssa,, nggak baik bicara sembarangan begitu. Mama tau anak mama. Dia kalau sudah janji pasti ditepati kok. Mungkin Rajesh masih ada pekerjaan yang menyita pikirannya. Begitu kan Jesh??"
Mama Rina berusaha meredam emosi Alyssa meski beliau tau apa yang dikeluhkan Alyssa itu juga dirasakannya. Tapi setidaknya mama Rina paham kenapa reaksi Rajesh selalu begitu. Putranya itu memang hanya setengah,,, bukan setengah malahan melainkan sama sekali tidak ada hati sebenarnya pada Alyssa.
Hanya iba,,, hanya sebatas itu.
"Mama juga belain mas Rajesh terus. Salah Alyssa juga sih, ngadu kok sama mamanya. Ya jelas dibela lah." cibir Alyssa.
Mama Rina hanya menghela napas berat. Dan kali ini lagi lagi beliau dihadapkan pada posisi sulit. Meminta Rajesh yang belum sembuh luka batinnya karena status dudanya itu segera menuruti Alyssa untuk menikah rasanya sama dengan membunuh Rajesh pelan pelan. Tapi tidak menuruti Alyssa juga sama saja membuat masalah makin rumit.
"Entahlah Alyssa. Mama mau istirahat saja dulu. Kalian bicarakan saja dulu baik baik. Pokoknya mama setuju setuju saja dengan langkah apa pun yang akan kalian ambil selama itu baik untuk kita semua." mama Rina menyerah juga.
"Tuh kan,,, mama sama anak lagi lagi sama kelakuannya. Suka menghindar dari masalah." lagi lagi Alyssa mencibir.
"Alyssa!!! Kalau kamu kesal padaku, cukup marahi atau caci maki aku. Jangan mama!! Kamu mau apa?? Menikah?? Ok!! Sekarang juga kita menikah. Aku akan pergi ke rumah pak ustad untuk memintanya datang ke sini." tegas Rajesh.
"Benar mas???" mata Alyssa berbinar mengabaikan kemarahan Rajesh.
Rajesh tidak menjawab lagi dan segera keluar rumah menuju rumah pak ustad diiringi tatapan sendu mama Rina.
"Semoga kamu bahagia nak,maafkan mama."
...\=\=\=\=\=\=\=...
__ADS_1
...With love, ...
...Author....