Aku Menyesal Membuangmu

Aku Menyesal Membuangmu
Kabar Terkini


__ADS_3

"Jangan,,, ku mohon jangan buang aku."


Entah berapa kali papa Gunawan memohon kepada Ferry yang membawanya ke sebuah tempat yang tidak bisa diketahui lokasinya secara pasti oleh papa Gunawan karena matanya ditutup dan tangannya diikat. Masih untung Ferry tidak menutup mulut papa Gunawan juga.


"Diamlah pak tua,,, selamat menikmati kesendirianmu di sini. Berdoa saja pada Tuhanmu agar nyawamu segera dicabut saja sebelum para binatang buas menerkammu dan mencabut nyawamu hahahaha,,," seringai Ferry.


Bugghh,,,


Tubuh papa Gunawan pun dilemparnya hingga membentur tanah basah dipenuhi dedaunan kering.Merasakan tanah basah di sekitarnya dan perkataan Ferry tentang binatang buas tadi cukup membuat papa Gunawan mengerti kemana Ferry membawanya. Pastinya ke salah satu hutan yang jauh mengingat perjalanan yang mereka tempuh tadi juga memakan waktu hampir dua jam perjalanan.


"Lepaskan aku. Ku mohon. Aku janji tidak akan mengganggumu dan Nadine." Papa Gunawan memelas.


"Arrghh diam!! Jangan berisik. Sebaiknya kau simpan saja sisa tenagamu." Bentak Ferry lalu kembali ke mobilnya dan meninggalkan papa Gunawan seorang diri.


"Ferryyyy,,, Ferryyy,,, bajingannn kamu!! Nadineee!!! Aku menyesal sudah terlalu bodoh mengikuti apa maumu. Tuhan,,, apa salahku??? Kenapa nasibku jadi begini???"


Di sela kesendiriannya papa Gunawan terus meracau dan meronta ronta dari tali yang mengukung tangannya di belakang. Beliau bahkan juga menyalahkan Tuhan atas apa yang menimpanya saat ini.


Berada di tempat antah berantah dengan kondisi mata tertutup dan tangan terikat adalah hal yang paling mengerikan. Bagaimana bisa menyelamatkan diri sendiri dari bahaya yang sekiranya bisa mengancam???


"Di mana kamu membuang si tua itu?" Tanya Nadine pada Ferry sesaat setelah lelaki itu tiba di rumah yang kini resmi ditempatinya tanpa embel embel keluarga papa Gunawan.


"Jauh." Sahut Ferry singkat.


"Bagus. Aku percaya padamu." Nadine puas tanpa ingin tau sejauh apa atau di mana tepatnya Ferry membuang papa Gunawan.


Nadine percaya, Ferry pasti sudah mempertimbangkan segala sesuatunya. Selama ini perselingkuhan mereka juga selalu aman berkat Ferry yang selalu bermain cantik dan sangat teliti memperhitungkan segala sesuatunya sebelum bertindak. Maka kali ini pun Ferry tidak mungkin salah perhitungan juga.


"Besok jadi kan mengenalkanku di perusahaan?" Ferry menagih janji Nadine.


"Jadi dong. Sekalian kita pergi untuk periksa kandunganku ya." Jawab Nadine.


"Untuk yang itu, bisa sendiri saja dulu kan? Mana mungkin di hari pertamaku dikenalkan sebagai pemimpin perusahaan lalu aku hanya sebentar dan malah mengurus kepentingan pribadi? Terlihat tidak profesional sekali bukan? Meskipun itu untuk urusan bayi kita." Kilah Ferry.

__ADS_1


"Tapi kita kan bosnya. Suka suka kita dong mau ngapain aja." Nadine tidak terima keinginannya ditolak.


"Benar itu Nadine sayang. Tapi aku nggak mau dikenal sebagai bos yang semena mena dan sesuka hati. Aku nggak mau jadi contoh yang buruk untuk anak buah kita di kantor. Ingat,,, apa yang sudah kita raih ini bukan untuk kesenangan sesaat saja. Tapi untuk jangka panjang. Untuk selamanya. Jadi aku harus bekerja dengan baik. Mengertilah." Ferry menjelaskan dengan sangat sabar.


"Baiklah. Aku mengerti. Aku memang nggak salah pilih pasangan. Kamu mikirnya jauh banget untuk kesejahteraan kita. Makasih ya Fer." Nadine mengalungkan tangannya di leher Ferry.


"Aku bau. Mau mandi dulu." Tolak Ferry ketika bibir Nadine sudah dekat dengan bibirnya.


"Hmm baiklah,,," meski kecewa, Nadine tak memaksa.


Ferry bergegas masuk ke kamar mandi dan mengguyur tubuhnya dengan air hangat. Berpikir selanjutnya langkah apa yang akan diambilnya. Kesuksesan dan segala bentuk kekayaan sudah di depan mata. Jangan sampai terlepas begitu saja.


****


"Mama??"


Mata Zoya berbinar melihat Karin dan mbok Rati mengunjunginya di kantornya siang itu. Makin berbinar melihat beberapa kotak yang ditenteng oleh mbok Rati. Tentunya itu makan siang untuknya.


"Bagaimana pekerjaanmu nak?" Tanya Karin.


"Ayo nduk Indah, di makan dulu. Ini si mbok spesial masak buat nduk Indah lho." Mbok Rati menyodorkan kotak yang sudah dibukanya.


"Wah terima kasih ya mbok. Tapi Indah nggak mau makan sendirian saja. Mama sama si mbok ikut makan juga ya." Ajak Zoya disambut anggukan oleh keduanya.


Mereka makan siang bersama di ruangan besar milik Zoya. Ruangan yang dulunya adalah ruang kerja Dion, sang papa. Karin makan dengan segala perasaan campur aduk. Bahagia, bangga, senang sekaligus sedih karena tak bisa menikmati momen ini bersama sang suami.


"Nak,,, apa kamu sudah punya rencana ke depannya?" tanya Karin setelah mereka selesai santap siang bersama sama.


"Mmm setelah ini Zoya ingin membuat beberapa regulasi baru untuk perusahaan ma. Ada beberapa aturan lama yang memang sudah harus diperbarui. Zoya juga sedang menilai semua kinerja kerja karyawan karena Zoya punya niatan menaikkan gaji para karyawan mengingat omzet perusahaan yang sangat tinggi. Tidak cocok saja rasanya memberi gaji mereka senilai yang saat ini. Bagaimana pun,,, kita bisa sampai di angka itu juga berkat kerja keras mereka."


Zoya sangat bersemangat menjelaskan pada sang mama. Karin hanya tersenyum mendengarkan tanpa ada niatan menyela sedikit pun hingga Zoya benar benar selesai bicara.


"Kalau urusan perusahaan,,, mama serahkan segala langkah dan kebijakan selanjutnya padamu dan kakakmu. Yang mama tanyakan tadi adalah rencana untuk dirimu sendiri nak." ujar Karin setelahnya.

__ADS_1


"Aku??" mata Zoya membulat kemudian meredup seiring dengan ingatan lama yang susah sekali dihapus.


Tak ingin terlihat atau terkesan ikut campur urusan pribadi para majikannya, mbok Rati segera berkemas dan pamit menunggu di luar saja. Ada pantry kantor di mana beliau bisa duduk menunggu.


"Iya. Kamu nak. Kamu tidak mungkin begini terus kan? Kamu masih muda dan kamu butuh pendamping kelak. Mama juga ingin punya cucu darimu dan kakakmu tentunya. Mama sudah cukup sedih melihat kakakmu yang juga sampai sekarang kelihatannya belum punya sandaran hati lagi setelah Nadine. Mama harap, nasib dan kisah cintamu akan lebih baik nak." ujar Karin setelah mbok Rati keluar ruangan.


Zoya tertunduk. Memainkan kuku kuku jarinya yang kini sangat terawat. Berbeda jauh dengan kukunya saat tinggal bersama keluarga Rajesh.


Zoya memang sudah banyak berubah. Ia menjadi gadis muda berkelas sesuai dengan jabatannya sebagai CEO sebuah perusahaan besar. Jilbab yang menutupi kepalanya yang selama ini tak lebih hanya jilbab lusuh, kini sudah berganti dengan yang jauh lebih baik.


Pakaian yang selalu bagus dan mahal. Tas dengan harga yang fantastis. Perhiasan perhiasan mahal yang meski jarang dipakainya tapi tersimpan rapi di kotak perhiasan di kamarnya.


Namun itu semua rupanya tak bisa membuat Zoya serta merta bahagia. Hatinya masih terluka atas kenangan lama bersama Rajesh. Ada yang bisa dirubah namun bukan statusnya.


Meski mungkin tak pernah ada komunikasi antara keduanya hingga kini tapi status dalam buku pernikahan tetaplah sama. Mereka masih suami istri.


"Nak,,," panggil Karin lembut namun mampu membuat Zoya tergagap.


"Ii,,, i,,, iya ma."


"Mama pamit dulu kalau begitu ya. Jam istirahatmu sudah habis. Mama nggak mau ganggu pekerjaanmu selanjutnya." pamit Karin.


"Ma,,," Zoya merasa tidak enak hati karena belum memberi jawaban tadi.


"Tidak apa apa. Mama mengerti. Jangan dipikirkan ya. Fokuslah pada pekerjaanmu dulu. Nanti bisa dibahas di rumah atau kapan saja kalau kamu sudah siap."


Zoya mengangguk lalu memeluk sang mama yang selalu pengertian. Selalu mampu menghangatkannya dalam situasi apa pun.


...\=\=\=\=\=\=...


...Hai semuanya,,, Maaf author baru balik ini. Terima kasih atas doa kalian semua kemarin ya. Acara setahunan almh. ibunda berjalan lancar 🙏...


...With love,...

__ADS_1


... Author....


__ADS_2