
🌸Pov Rajesh🌸
Aku tidak percaya jika Alyssa menuliskan angka sejumlah itu di cek kosong yang diberikan oleh Indah. Ku pikir Alyssa tidak sesadis itu meminta uang sejumlah itu. Alyssa yang ku kenal selama ini bukanlah wanita matre atau mata duitan. Dia bahkan termasuk wanita yang bisa diajak hidup susah.
Aku yang mengantarnya ke bank mencairkan uang tersebut baru sadar dan tau dia meminta 1 Milyar. Dan tentu saja itu membuatku terkejut dan cenderung mengkritiknya.
"Ini keterlaluan namanya Alyssa. Ini pemerasan." protesku.
"Pemerasan?? Siapa bilang mas? Kan bukan aku yang mau awalnya. Dia sendiri yang datang dan meminta serta memaksaku mengisinya. Ya sudah aku isi isi saja. Lagipula mas,, dengan begini kan kamu nggak perlu kerja pagi sampai malam demi mencukupi kebutuhan kita semua. Aku tuh mikirin kamu mas." tegas Alyssa.
Benar,,, itu benar. Dengan uang itu kelak aku bisa kerja satu macam saja. Tidak perlu sampai kerja tambahan di malam harinya untuk ngojek online. Aku juga jadi punya banyak waktu untuk Alyssa, Bagas dan mama.
Tapi bukankah itu tetap keterlaluan? Meski bagi keluarga Indah, uang segitu tidak ada artinya dibanding dengan kekayaan mereka yang menjamur di mana mana.
"Mas,,, aku tau kamu itu masih terpuruk dalam penyesalan dan rasa bersalahmu kepadanya. Tapi mas,,, ingat,,, dia sudah bahagia. Dia sudah menemukan calon penggantimu juga. Jadi sudahlah mas,,, jangan terus berlarut larut dalam kubangan dosa masa lalu. Pikirkan tentang masa depan kita mas. Aku, kamu, Bagas dan mama."
Deg,,, Plaaakkk,,,
Alyssa menamparku dengan kalimatnya. Dia seolah mengingatkan akan janjiku kepadanya. Janji yang terucap seiring kebersamaan kami selama ini. Janji yang sebenarnya ku ucap dalam kondisi hati meragu.
Alyssa memang gadis baik terlepas dari kenangan buruk peristiwa pemerkosaan atas dirinya. Tapi itu bukan sebuah kecacatan bagiku karena bukan keinginan atau pun kesalahan Alyssa. Itu murni sebuah tragedi. Aku tidak pernah menilainya sebagai keburukan. Justru itu yang membuatku iba terhadapnya.
Seiring kebersamaan kami, mama meletakkan harapan atasku dan Alyssa. Mama ingin aku menerima Alyssa sebagai pendamping hidupku. Menggantikan Indah yang sebenarnya tak akan pernah terganti.
Mama terus memohon dengan alasan ingin melihatku bahagia. Mama bilang beliau sedih tiap kali melihatku mengurus diriku sendiri. Kata mama, suatu saat mama juga pasti akan meninggal dan siapa yang akan menemaniku kelak kalau aku tidak menikah dan punya anak?? Sungguh pemikiran yang sama sekali tidak ada salahnya bukan? Dan aku pun tak ingin membuat mama terus merasa bersalah akan terpuruknya aku. Karenanya,,, ku setujui keinginan mama.
__ADS_1
Aku setuju untuk membuka hatiku untuk Alyssa. Awalnya semua berjalan dengan baik. Hubungan kami semakin dekat. Aku menerima semua kenangan buruk atas diri Alyssa bahkan hingga saat kami mengetahui bahwa Alyssa ternyata hamil buah dari pemerkosaan itu. Mengetahui itu bukan membuatku mundur justru makin membuatku berpikir bahwa wanita semalang Alyssa itu memang patut untuk ku lindungi.
Bayi yang akan lahir dari rahimnya itu harus punya status. Dia berhak mendapatkan pengakuan. Dia mahkluk mungil yang bila bisa memilih, tentu tak akan memilih terlahir dari sebuah tragedi buruk seperti itu. Memikirkan Alyssa dan bayinya selalu membuat aku merasa,,, takdir memang menunjukku sebagai ayah sambungnya.
Karenanya,,, baik aku dan Alyssa sudah berencana akan menikah begitu bayi itu lahir. Tidak memungkinkan bagiku menikahinya saat ia masih hamil. Jadi kami dengan sabar menunggu kelahiran bayinya.
Menunggu kelahiran sang bayi pun terasa tidak menjadi beban secara mental bagiku atau pun Alyssa dan mama. Karena meski tetangga tau ada seorang wanita hamil tanpa suami tinggal bersama kami,,, kepala lingkungan setempat sudah tau asal usul kehamilan Alyssa. Bahkan,,, semua tetangga mendukung niat baikku menikahinya.
Support warga sekitar membuat Alyssa mampu menjalani masa kehamilannya dengan tenang. Ku harap calon anak pertama kami itu bisa tumbuh sempurna dalam rahim ibunya.
Sampai di sini, semua terasa baik baik saja dan sesuai harapan.
Namun siapa sangka? Takdir kembali mempermainkanku sepertinya. Saat aku mulai yakin menunjuk Alyssa sebagai pendamping hidupku walau belum 100%,,,masih karena rasa empati saja,,, meski hanya sebatas iba bukan cinta,,, Kenapa tuhan malah mempertemukanku kembali dengan cintaku yang sebenarnya?? Pemilik hati ini yang sesungguhnya,,,
Tuhan,,, sekarang aku harus bagaimana?
Haruskah bayi itu menjadi bahan olokan kelak karena lahir dari rahim ibunya yang bahkan tak tau benih siapakah Bagas itu? Pemerkosaan beramai ramai itu menyisakan tanda tanya besar dalam psikis Alyssa. Ia tak tau lelaki mana yang menghamilinya karena mereka semua menumpahkan lahar panasnya dalam rahim Alyssa.
Haruskah Alyssa dan Bagas yang semula mendapat support warga, kelak akan menjadi bahan tertawaan dan gunjingan warga karena tiba tiba saja aku membuangnya, membatalkan rencana pernikahan kami?? Tegakah aku??
"Mas,,, kamu masih setia pada janjimu kan mas? Kehadirannya tidak akan merubah rencana kita kan mas??" tanya Alyssa dengan mata berkaca kacanya dan itu membuat lorong kesedihan dalam hatiku memanjang.
Pertanyaan itu bahkan tak mampu ku jawab. Bibir ini terasa kelu.
"Bagas membutuhkanmu mas. Aku juga. Ku mohon."
__ADS_1
Kini bulir bulir bening itu berjatuhan membasahi pipi Alyssa dan jatuh di sepuluh jarinya yang tercakup di depan dadanya. Sungguh sakit dan perih hatiku melihat wanita malang itu sampai memohon mohon padaku seperti itu.
Ku dekati Alyssa. Ku genggam sepuluh jarinya itu. Alyssa menatapku penuh harap.
"Kita akan tetap menikah Alyssa,,, tapi bisakah kamu memberiku sedikit tambahan waktu? Jujur,,, aku belum bisa menikahimu dalam kondisi seperti ini. Beri aku waktu membunuh semua rasa dalam hatiku Alyssa."
Kini ganti aku yang memohon padanya. Alyssa tertunduk. Dan bisa kurasakan jatuhan airmatanya mengenai jari jemariku juga.
"Aku tau kamu tidak pernah mencintaiku mas. Apalagi Bagas. Kamu hanya sebatas iba kepada kami. Tak mengapa mas. Kami cukup sadar diri." ujar Alyssa lirih sekali.
Kemudian ia melepaskan diri dariku. Melangkah menjauhiku sambil menyeka airmatanya. Masuk dan mengunci diri bersama Bagas di kamar kecil yang selama ini kuberikan kepadanya.
"Alyssa,,, aku minta maaf. Tapi ku mohon,,, mengertilah." ucapku di depan pintu kamarnya.
"Iya mas. Aku mengerti. Aku memang bukan siapa siapa. Aku hanya beban bagimu. Aku hanya aib."
Selanjutnya yang terdengar hanya tangisan Bagas yang seperti tak ada hentinya. Dan itu membuatku sedikit khawatir jika ibunya bertindak nekad. Belum lagi beberapa kali ku panggil Alyssa tidak menjawab.
"Alyssa,,, Alyssa buka pintunya. Jangan dikunci begini. Alyysa kamu baik baik saja kan??" aku mulai cemas Alyssa kenapa kenapa.
Meski perasaan ini hanya sebatas iba kepadanya, tapi tetap saja aku tak mau terjadi apa apa kepadanya.
...\=\=\=\=\=\=...
...Alyssa ngapain ya??...
__ADS_1
...With love,...
... Author....