
"Udah buru buru ditunggu ibu, mau meeting malah ada ada aja ah." Siska menggerutu tapi tetap bergegas turun dari mobil untuk menolong wanita dan bayi yang ditabraknya.
"Bu,,, ibu nggak,,,"
"Kenapa loe gak sekalian aja bunuh gue??!!!"
Siska terkejut mendapat bentakan dari wanita itu yang rupanya tidak mengalami luka serius. Hanya beberapa luka lecet kecil karena ia terdorong sedikit oleh mobil Siska. Siska memang tidak sedang mengebut hanya saja itu tadi tikungan jadi dia tidak menyangka ada yang tiba tiba menyeberang jalan. Siska juga sigap mengerem tadinya.
"Bunuh saja gue!!! Hidup gue udah hancurrrr!!! Gue udah miskin!!
Wanita itu terus saja teriak teriak histeris sambil menggesek gesekkan kedua kakinya di tanah. Siska jadi tepuk jidat dibuatnya. Sudah buru buru malah menabrak orang yang kelihatannya sedang depresi.
"Ibu,,, mari saya antar ke rumah sakit. Luka ibu harus diobati." ajak Siska dengan halus.
Dan wanita itu pun mendongakkan wajahnya. Seketika membuat Siska memeras otak untuk mengingat ingat siapakah pemilik wajah itu. Cukup lama Siska terdiam hingga akhirnya ia bisa mengingatnya.
"Nona Nadine???"
Siska percaya tidak percaya melihat kondisi mantan kekasih bos mudanya terdahulu. Ya, Siska adalah sekretaris Delvara dulunya sebelum Delvara menyuruhnya menjadi sekretaris sekaligus asisten pribadi Zoya. Jadi Siska cukup lama mengetahui siapa Nadine.
Meski tidak mau tau kenapa akhirnya mereka terpisah, namun Siska cukup tau bahwa Nadine memang bukan wanita yang baik untuk Delvara. Nadine selalu kasar pada Siska dulu apalagi kalau sedang ingin bertemu Delvara dan Delvaranya sendiri sedang tidak ada di tempat atau sedang meeting dengan klien penting.
Sekarang melihat kondisi Nadine yang mengenaskan begitu, Siska malah heran.
"Siapa loe?? Kenapa loe kenal gue??"
"Hmmm masih congkak saja wanita ini." batin Siska sebelum menjawab.
"Loe siapa??!!!" bentak Nadine mengejutkan Siska.
"Saya Siska. Sekretaris tuan Delvara sebelumnya."
Jawaban Siska itu serta merta membuat Nadine kaget sekaligus senang dan berharap Siska bisa membantunya lebih.
__ADS_1
"Siska? Oh iya iya,,, aku ingat. Siska,,, bisa bawa aku dan bayiku ke rumah sakit? Badanku sakit semua ini." ujar Nadine mendadak bicara sopan dan setengah menipu meski sebenarnya ia tak ingat betul siapa Siska itu.
Tapi asal sudah sebut nama Delvara, itu artinya Siska bisa dimanfaatkan untuk bisa mempertemukannya dengan Delvara. Dan itu juga artinya harapan untuknya lanjut hidup masih ada. Nadine yakin, melihatnya seperti ini pasti timbul rasa iba dalam hati Delvara yang Nadine tau adalah lelaki dengan jiwa sosial tinggi dan hati yang mudah ditaklukkan. Delvara tidak mungkin berpangku tangan melihatnya begitu.
"Baik bu. Mari saya bantu."
Meski curiga namun Siska tetap menunjukkan sikap bertanggung jawabnya. Dia memapah Nadine masuk ke mobilnya. Kemudian menyempatkan diri menjawab telponnya yang sudah menunjukkan belasan kali miss call dari Zoya.
"Halo bu,,, Maaf saya terlambat dan kemungkinan tidak bisa ikut meeting dulu ya bu. Saya harus antarkan orang yang saya tabrak ke rumah sakit dulu." ucap Siska tanpa berniat ingin menyebutkan siapa korbannya.
"Astaghfirullah,,, mbak Siska kecelakaan?? Mbak Siska nggak apa apa kan?" tanya Zoya cemas di seberang sana.
"Saya nggak apa apa bu. Ini saya mau antar beliau ke rumah sakit dulu." jawab Siska.
"Baiklah mbak. Hati hati ya. Jangan pikirkan! meeting. Saya masih bisa handle sendiri. Nanti berkabar saja ya mbak. Kalau butuh apa apa jangan sungkan sungkan menelpon saya." ujar Zoya.
"Baik bu. Terima kasih."
Sambungan telpon usai dan menyisakan Nadine yang bertanya tanya dalam hati.
Siska sengaja tidak banyak bicara dalam perjalanan. Ia enggan ditanya tanya mengenai Delvara oleh Nadine. Tapi Nadine sangat tidak sabar untuk diam terus.
"Kamu udah nggak kerja di tempatnya Del? Ku dengar tadi kamu memanggil "bu" pada yang menelponmu. Itu bosmu kan?" Nadine beraksi.
"Iya saya sudah pindah." jawab Siska singkat karena ia sedikit banyak sudah tau tentang siapa Nadine dan apa hubungannya dengan Delvara dan Zoya.
Nadine adalah wanita yang terkait atas perceraian ibu bosnya dengan suaminya terdahulu. Meski kini status mereka telah resmi bercerai, tapi Siska pikir kurang bijak rasanya kalau memberitahukan siapa bosnya saat ini pada Nadine. Apalagi Siska tau sendiri Nadine orangnya seperti itu.
Rasanya mustahil saja seorang Nadine bisa berubah. Buktinya saja tadi masih songong dan congkak meski kondisi sudah jadi gembel. Siska tidak bisa percaya begitu saja padanya.
Siska juga bisa melihat wajah Nadine yang terlihat kecewa dengan jawabannya tadi. Hal itu membuat Siska yakin, wanita licik itu pasti sudah punya rencana licik seperti biasanya.
"Tidak apa apa. Hanya luka ringan saja. Sejam dua jam beristirahat juga sudah boleh pulang ibunya. Tapi bayinya, dia mengalami dehidrasi yang mengharuskan kami memberinya suntikan infus dulu dan menunggu kondisinya stabil. Mungkin dua atau tiga hari menginap." kata dokter jaga yang merawat luka luka Nadine.
__ADS_1
Siska senang mendengar hal tentang Nadine tapi iba tentang keadaan bayinya. Niat hati ingin bisa segera selesai urusan dengan Nadine agar Zoya tidak perlu sampai bertemu dengannya, ternyata bayi Nadine masih butuh perawatan. Siska memang bukan penyebab bayi itu dehidrasi, tapi bayi itu sepaket dengan ibunya, maka mau tidak mau Siska tetap harus memastikan dan berurusan dengan mereka sampai keduanya benar benar sehat.
"Mbak Siska,,, kirimkan alamat rumah sakitnya."
Pesan singkat dari Zoya sangat mengusik hati Siska. Percuma melarang Zoya datang, bos yang baik hati itu memang tidak mungkin berpangku tangan mendengar berita dirinya kecelakaan meski sudah diberitahu bahwa dirinya sama sekali tidak mendapat luka apa pun.
Tidak membalas pesan itu juga malah akan membuat Zoya bimbang. Siska benar benar bimbang harus bagaimana. Akhirnya ia pasrah saja sudah kalau memang sudah jalan ceritanya Nadine bertemu Zoya.
Siska pun mengetikkan alamat rumah sakit itu lalu mengirimkannya pada Zoya.
"Ok. Tunggu di sana ya mbak. Saya akan segera kesana." lemas sudah Siska karena gagal menghindarkan pertemuan ini.
Siska akhirnya hanya terus merutuk dirinya sendiri yang sudah ceroboh sampai menabrak Nadine. Siska merasa bersalah karena kecelakaan ini malah bisa berujung pada menganganya kembali luka hati Zoya.
"Hhhh,,, entahlah sudah." Siska pun menyesal.
"Terima kasih Siska. Kamu masih mau berada di sini." ucap Nadine yang sudah diobati dan diperban luka lukanya.
Nadine kira Siska hanya akan mengantarnya, membayar biayanya lalu pergi. Ternyata salah.
"Sama sama nona." Siska hanya tersenyum tipis.
Selanjutnya tidak ada obrolan sama sekali di antara keduanya. Nadine menunggu Siska mempertanyakan asal usul bayinya dan bagaimana ia bisa sampai jadi seperti ini. Namun Siska memilih diam tak ingin tau lebih banyak. Hingga akhirnya,,,,
"Mbak Siska,,," Zoya pun datang.
"Nadine???" Siska dan Nadine pun menoleh pada suara satunya.
Ternyata Zoya datang bersama dengan Delvara juga,,,,
...\=\=\=\=\=\=\=...
...Pasti pada berdoa yang jelek jelek buat Nadine yaaa 😆😆...
__ADS_1
...With love, ...
...Author....