Aku Menyesal Membuangmu

Aku Menyesal Membuangmu
Bukan Bidadari Tak Bersayap


__ADS_3

Sepulangnya Rajesh dari rumah sakit, mbok Rati langsung meminta maaf pada Delvara karena merasa tidak becus menjaga Zoya.


"Bukan salah mbok. Memang dasar Rajesh saja yang memang memaksa." kata Delvara.


"Tapi kan nduk Indah jadi begini lagi cah bagus. Sudah senang sebentar lagi bisa pulang, tapi malah menginap lagi." lirih mbok Rati.


"Nggak apa apa mbok. Biar Zoya juga mendapat perawatan yang lebih baik lagi. Pulang juga masih tetap harus kesini bolak balik kontrol kan?" hibur Delvara agar mbok Rati berhenti menyalahkan dirinya sendiri.


"Iya cah bagus. Ya udah kalau gitu si mbok pamit ke kamar mandi dulu ya. Kebelet." ucap mbok Rati malu malu.


"Iya mbok." Delvara mengiyakan lalu menghampiri Karin yang duduk di tepi brankar Zoya.


"Ma,," panggilnya seraya menyentuh lembut bahu sang mama.


Karin menoleh sebentar lagi menggenggam tangan sang putra. Matanya kembali menatap wajah putri cantik yang masih terlelap.


"Adikmu tidak mengingatnya. Tidak mengenalinya. Entahlah,,, mama harus senang atau sedih dengan keadaannya ini. Satu sisi mama berharap ia bisa ingat semuanya dan menyelesaikan atau memutuskan apa langkah selanjutnya. Tapi adikmu malah tidak mengenalinya. Sampai kapan Del? Status itu harus diluruskan, dijelaskan, diputuskan. Tidak bisa begini terus."


Karin kemudian menghela napas kasar. Begitu pula Delvara. Jujur dalam hati Delvara merasa begini malah lebih baik. Zoya tidak ingat Rajesh dengan demikian tidak perlu repot repot memisahkan mereka. Namun ucapan Karin ada benarnya.


Status mereka butuh kejelasan.


"Seperti kata mama saja. Doakan yang terbaik untuk Zoya. Dia kuat ma. Karenanya Tuhan menunjuk dia. Dia pasti bisa melewatinya." Delvara hanya bisa bicara demikian.


"Yah,,, memang hanya bisa begitu." jawab Karin juga kehabisan kata.


"Kita keluar yuk ma. Biarkan Zoya istirahat dulu ma." ajak Delvara kemudian.


Karin mengangguk mengiyakan. Dibantu oleh Delvara, ia bangkit dari duduknya dan keduanya menuju ke ruangan tempat tamu berkunjung. Masih dalam bagian kamar itu namun tersekat dinding.


Zoya membuka matanya perlahan. Membiarkan tetesan airmata yang sedari tadi ditahannya bergulir begitu saja.

__ADS_1


"Maaf mas Rajesh,,, aku terpaksa tidak mengakuimu. Terlalu sakit menjadi istrimu. Dan aku belum siap melanjutkan itu. Aku tau, lari dari masalah memang bukan solusi terbaik. Tapi setidaknya, biarkan aku bahagia sebentar saja dengan kakak dan mamaku. Dengan orang orang yang benar benar menyayangiku."


Rupanya Zoya sudah ingat siapa Rajesh. Hanya saja ia tidak siap. Tidak siap menjadi istri lelaki yang dulu pernah menjadi cinta monyetnya karena lelaki itu jauh berbeda dari yang dulu.


Cinta monyetnya dulu begitu pandai membuatnya bahagia dan tersenyum. Namun Rajesh yang sekarang, atau yang beberapa bulan sebelumnya berstatus sebagai suaminya hanya pandai menghina dan menorehkan luka dalam hatinya. Bahkan juga fisiknya.


"Maafkan Zoya ya ma,,, kakak. Zoya hanya ingin bersama kalian dulu. Bukan niat hati Zoya berbohong kepada kalian. Tapi Zoya takut kalau Zoya jujur, Mas Rajesh akan menggunakan statusnya memaksa Zoya ikut dengannya." batin Zoya sambil menyeka airmatanya.


"Nduk Indah,,, kenapa nangis nduk?? Ada yang sakit? Biar mbok panggilkan mama sama cah bagus ya." mbok Rati yang keluar dari kamar mandi rupanya tau Zoya tengah menangis.


"Mbok, jangan. Biarkan saja. Indah nggak apa apa." cegah Zoya.


"Tapi kok nangis?" tanya mbok Rati tidak percaya begitu saja.


"Indah nggak sakit mbok. Beneran. Indah hanya,,,hanya,,," Zoya tak meneruskan kata katanya.


"Hanya merasa sakit oleh den Rajesh?" tebak mbok Rati.


"Mbok,,, Indah,,," Zoya seperti ingin ngeles dan mencari kata kata yang lebih tepat untuk menjelaskan namun mbok Rati kembali memotong ucapannya.


Zoya mengangguk. Kembali menyeka airmatanya yang lagi lagi keluar tanpa henti.


"Indah bukan ingin berbohong pada mama dan kakak mbok. Tapi Indah tidak ingin mereka bersedih atas luka Indah." lirihnya.


"Bukankah kita keluarga? Senyummu,,, adalah senyum kami. Lukamu,,, juga luka kami. Tidak perlu menyembunyikan apa pun dari kami. Kami tidak akan memaksamu kembali kepadanya jika kamu tidak siap. Kami malah dengan tangan terbuka memelukmu selalu jika kamu benar benar tidak ingin bersamanya lagi."


Zoya terkejut. Rupanya Delvara mendengar semua yang dikatakannya pada mbok Rati tadi. Delvara sudah berdiri di sana entah dari kapan.


"Kak,,, maaf. Tapi bukannya kakak berteman baik dengannya? Aku nggak mau jadi perusak pertemanan kalian." ujar Zoya.


"Dia memang teman kakak. Sahabat malah. Tapi semua itu sudah berakhir. Sudah tidak lagi." tegas Delvara.

__ADS_1


"Apa karenaku?" Zoya merasa bersalah.


"Sudahlah. Jangan dipikirkan. Dia memang sudah sepantasnya untuk dijauhi. Oh ya,,, dan pengacara yang mengurus semua aset kakek Wardoyo,,, kakek kita,, juga sudah mulai mengurus semua pengalihan aset atas nama mama sebagai pewaris aslinya."


"Pewaris asli?? Mama??" Zoya yang belum paham cerita sesungguhnya jadi bingung.


"Iya sayang. Kakek Wardoyo yang merawatmu sejak kecil itu adalah kakek buyutmu. Kakek kandung mama. Nenekmu Hesti,,, adalah kekasih kakek Wardoyo yang hilang. Jadi selama ini, daripada mama dan kakakmu, maka kamu malah lebih beruntung bisa mendapatkan kasih sayang dari kakek buyutmu." Karin maju menjelaskan.


"Benarkah demikian?? Mbok?? Apa mbok tau semua ini?" tanya Zoya yang tau bahwa mbok Rati adalah teman kakek Wardoyo dulunya.


"Benar cah ayu. Mamamu ini adalah cucu Wardoyo. Neneknya adalah Hesti. Wanita yang paling dicintai oleh Wardoyo. Yang telah dihamilinya dulu. Satu hal yang perlu kamu tau kenapa Wardoyo sangat menyayangimu,,, karena kamu mengingatkannya kepada Hesti. Ia selalu berharap kamu memang keturunannya. Karena Wardoyo mempersiapkan semuanya termasuk pernikahanmu dengan den Rajesh. Serta semua perjanjiannya. Itu semua Wardoyo lakukan semata mata ia merasa kamu lebih berhak mendapatkan semuanya daripada nyonya."


Panjang lebar mbok Rati menjelaskan dan Zoya berusaha memahaminya meski masih gagal.


"Indah masih nggak ngerti mbok. Nyonya kan juga cucunya kakek. Berhak juga untuk dapat warisan kakek." ujar Zoya bingung.


"Bukan nduk. Nyonya itu bukan cucu kandung Wardoyo. Dia hanyalah anak dari pembantu Wardoyo sebelumnya. Wardoyo memutuskan merawatnya dan mengesahkan statusnya demi bisa menemaninya di masa tuanya. Namun makin kesini, nyonya berubah sikap. Dia baik kepadamu hanya karena dia ingin mendapatkan semua warisan Wardoyo. Karenanya ia memaksa den Rajesh menikahimu."


Akhirnya semua jelas bagi Zoya. Baik Rajesh maupun keluarganya memang hanya memanfaatkannya saja demi warisan kakek Wardoyo.


"Kalau begitu,,, Zoya rasa memutuskan untuk pura pura tidak mengingatnya adalah hal paling benar. Setidaknya untuk saat ini hingga saatnya Zoya sendiri bisa memaafkannya. Maafkan Zoya ma,,, putri mama ini bukan bidadari yang tak bersayap. Zoya merasa sakit diperlakukan seperti ini selama ini. Rasa sakit ini juga untuk kakek buyut Zoya yang sudah begitu baik pada mereka tapi tidak mendapat balasan yang baik juga dari mereka." ujar Zoya emosi.


"Mama tidak bisa memaksamu nak." meski kecewa putrinya memendam dendam tapi Karin bisa memakluminya.


"Kak,,, pastikan dia dan bisnisnya hancur. Zoya ingin tau jadi apa dia tanpa uang." titah Zoya pada Delvara.


"Sudah kakak lakukan tanpa kamu memintanya. Kakak sudah memutus tali kerjasama dengannya. Semua saham juga sudah kakak tarik." ujar Delvara disambut senyuman Zoya.


...\=\=\=\=\=...


...Ternyata Zoya lebih dendaman orangnya ๐Ÿ˜‚ Kalian pasti pada seneng ya ๐Ÿคจ...

__ADS_1


...With love, ...


...Author....


__ADS_2