
...🌸POV RODIE🌸...
Entah harus bersyukur hanya untuk diri ini sendiri atau harus berduka juga untuk Angie sahabatku juga. Akhir akhir ini entah kenapa hati ini berasa bimbang.
Tiga bulan sudah Daniel dan putri Angie meninggalkan kami. Hampir setiap hari di sebulan pertama yang ku lihat hanya mendung dan tangisan duka menghiasi wajah sahabatku, Angie. Aku tak menyalahkannya yang masih saja terpuruk saat itu. Itu hal yang wajar mengingat takdir telah mengambil dua jantung hatinya.
Namun masa duka itu telah berlalu. Berganti dengan masa bangkit dari keterpurukan. Angie perempuan kuat. Ada masanya ia menangis namun dengan cepat ia paham bahwa ia harus bangkit. Dan tawa itu kembali tercipta,,, Sesuatu terasa berbeda,,, ada yang lain,,,, ada yang terasa sangat lain dalam hati ini.
Memberinya bahu dan lengan ini setiap hari untuknya membuat hati ini makin hari berdebar aneh. Entah kenapa aku merasa ada dorongan kuat untuk diri ini.
Aku harus kuat dan sembuh untuknya,,, Dia butuh pendamping dan pelindung, dan yang ku tau,,, dia hanya mengandalkanku.
Dokterku itu makin lama makin terlihat berbeda di mataku. Kedekatan kami selama ini membuatku baru menyadari bahwa sahabatku itu punya senyum manis dengan kedua lesung pipitnya. Ia juga selalu punya seribu cara untuk membantuku menerima kenyataan tentang Zoya.
Hei,,,, rasanya sudah sebulan ini aku bahkan tak lagi merinduinya atau terobsesi padanya. Apa cinta ini sudah memudar untuknya? Atau hati sudah terlanjur merelakan ia bahagia bersama Rajesh? Atau justru ada pesona lain yang membuatku mulai pecah konsentrasi??
"Hei,,, ngelamun aja loe!! Ngelamunin gue ya??" tepukan lembut di bahuku terasa dan tak perlu menoleh juga aku tau siapa pemilik suara itu.
"Memangnya loe secantik itu sampai bikin gue ngelamun??" ku tampik tuduhan Angie yang sebenarnya benar.
"Cantikan juga gue daripada si ono." senyumnya mulai nakal dengan menyindirku.
Si ono itu adalah sebutan baru untuk Zoya. Aku yang memintanya untuk tidak lagi menyebut nama istri orang itu. Aku takut tetap tak bisa berpaling darinya. Aku takut setan dalam diri ini berkuasa dan membuatku berulah yang macam macam.
Tapi ternyata,,, tak lagi menyebut namanya membuat hati ini perlahan bisa makin menerima semuanya. Sejak kecelakaan yang merenggut nyawa Daniel dan putri Angie,,, kami berdua memutuskan tetap tinggal di Singapura dengan alasan tak bisa jauh dari makam keduanya. Zoya awalnya tentu keberatan, namun dia tak bisa banyak meminta atau melarang. Ditambah dengan keterbatasan Rajesh yang tak bisa meninggalkan pekerjaannya di Indonesia. Itu membuat jarak antara kami tercipta Dan perlahan mengikis segala rasa.
"Minum obatnya. Jangan sampai sakit lagi. Ingat ya,,, cuma loe yang gue punya. Gue gak mau kehilangan loe juga." ucap Angie kembali membuyarkan lamunanku.
__ADS_1
"Iya. Jangan bawel. Sebentar lagi juga gue sehat. Bakalan bisa gendong loe kalau loe mau." aku nyengir kuda.
Hidup berdua dengan Angie,,, menciptakan kehangatan di hati ini. Namun hati ini makin sensitif. Kata kata Angie yang biasanya hanya ku anggap candaan, sekarang ku masukkan hati. Aku sering baper dibuatnya. Seperti yang barusan itu. Dia bilang gak mau kehilangan aku juga. Apa itu pertanda bahwa Angie,,,,, punya hati kepadaku juga??
"Daripada cuma gendong di jalan atau di rumah,,, sekalian aja loe gendong gue ke penghulu. Loe nikahin gue sekalian, biar gue gak menjanda terus. Gue yakin kalau loe yang nikahin gue juga Daniel dan anak gue setuju." celetuknya lagi sambil menuangkan beberapa tablet obat obatan yang harus ku minum.
Tuh kan,,, Angie mulai lagi!! Gak tau hati ini makin baper aja apa??? hmmm,,,
"Kenapa bengong?? Gue gak secantik si ono ya??" tanyanya melihatku hanya terdiam.
"Apaan sih loe Angie?? Siniin obatnya." wajahku memerah.
"Itu pipi apa kepiting rebus?? Merah banget." sindirnya.
"Suka godain gue loe sekarang ya!! Kalau gue beneran kegoda trus gimana?? Loe mau tanggung jawab??" tantangku padahal aku takut mendengar jawabannya.
"Eh,,, lucu kali ya kalau kita nikah. Gue sama loe,,, temenan dari bayi terus nikah. Kok gue jadi ngakak duluan ya bayanginnya." tawa Angie pun lepas detik berikutnya.
Angie menoleh dengan tatapan menyelidiknya. Membuatku cepat cepat menunduk dan meminum obatku berpura pura seolah tak ada maksud dan tujuan yang aneh dalam kalimatku tadi.
"Mungkin nggak sih tuhan sengaja ambil Daniel biar kita bisa nikah??" gumamnya lirih membuatku auto terbatuk.
"Uhuk,,,"
"Pelan pelan napa." omelnya sambil memberikan segelas air putih untuk ku teguk habis.
"Yah habisnya loe sih bikin gue kesedak." sungutku meski aku senang jika ia mulai punya pikiran demikian.
__ADS_1
Angie kembali terdiam dengan wajah seriusnya. Ia perlahan bangkit dan duduk di sebelahku. Kepalanya disandarkan di bahu kiriku. Tangannya juga dilingkarkan ke lengan kiriku. Angie menghela napas berat.
"Kenapa??" tanyaku pelan.
"Loe tau gak sih Rodie,,, dari SMA gue udah naksir loe. Tapi loenya yang gak pernah tanggapin perasaan gue. Lo nggak pernah anggap gue serius sampai akhirnya gue lelah ngejar lo dan gue nyerah. Sekarang gue lagi mikir aja,,, segitunya lo kejar kejar si ono,,, ujungnya lo kehilangan dia juga. Dia udah bahagia sama suaminya dan calon bayi mereka."
Angie berhenti sejenak. Membuatku ingat akan berita baik tentang kehamilan Zoya sebulan lalu. Ku anggap itu berita baik karena aku benar benar ikut bahagia untuknya. Tak ada perasaan cemburu lagi di hati ini.
"Terus gue,,, sama Daniel. Putus nyambung,,, hamil di luar nikah,,, dan sampai akhirnya menikah dan membesarkan anak kami. Lalu maut menjemput mereka terlebih dulu. Meninggalkan gue sama loe aja di sini. Kita berdua sama sama terdampar oleh nasib dan takdir. Lalu kalau semua pasangan kita sudah bahagia di tempat mereka masing masing,,, apa kita yang ditinggalkan gak berhak untuk bahagia juga??" Angie mengangkat kepalanya menatapku.
"Mm,,, mak,,, maksud lo??" mendadak aku gugup ditatap olehnya sedekat ini.
Kedua bola mata itu begitu indah rupanya kalau dilihat baik baik. Wajah itu juga cantik. Aku heran saja kenapa selama ini aku begitu buta. Angie sering menyatakan cintanya padaku sejak dulu memang tapi selalu tak ku tanggapi karena aku hanya selalu menjadikannya sahabat. Tapi kali ini,,,, kenapa jantung ini berlompatan??
Angie mendekatkan wajahnya. Membuatku makin gugup tapi tak berusaha menjauh. Malah kami makin dekat hingga bisa ku rasakan deru nafasnya. Tanpa bisa kami hindari atau kami hentikan,,,, detik berikutnya yang ku rasakan hanya kehangatan dan kelembutan bibir Angie.
Kami melakukannya cukup lama dan terasa saling menikmati. Kami memakai hati dan perasaan kami saat itu. Saling memagut dan memeluk. Menumpahkan segala rasa. Hingga akhirnya kami berdua merasa oksigen dalam paru paru kami habis dan kami menghentikannya.
"Kita nikah yuk." ajak Angie setelah kami cukup lama meredakan debaran yang ada.
"Loe yakin??" tanyaku.
Angie tak lagi menjawab namun ia kembali mengulangi adegan yang baru kami sudahi tadi. Jika tadi semua terjadi begitu saja, maka kali ini kami melakukannya dengan sadar.
Sahabat cantikku,,, tak ku sangka bibirmu begitu manis dan hangat.
...\=\=\=\=\=\=...
__ADS_1
...With love,...
... Author....