
Mbok Rati berdiri terpaku lengkap dengan mata terbelalak melihat tampilan megah rumah yang diakui Delvara sebagai rumahnya. Selama ini mbok Rati kira rumah keluarga Rajesh sudah yang paling megah dan besar. Tapi rupanya hanya selebar halaman rumah Delvara saja.
"Mbok, kok bengong. Mari masuk. Kita temui mama." Delvara heran melihat mbok Rati yang masih terdiam di tempatnya semula.
"Eh iya cah bagus. Ini beneran rumah toh cah bagus? Eh maksud si mbok,,, ini rumah apa kerajaan toh kok besar, luas dan megah sekali?" mbok Rati masih belum habis rasa takjubnya.
"Hehehe rumah biasa mbok. Bukan kerajaan juga. Mulai sekarang mbok harus membiasakan diri di sini ya. Karena mbok akan tinggal di sini juga." kata Delvara.
"Iya cah bagus."
Mbok Rati tak banyak bicara lagi dan masuk mengikuti langkah Delvara. Di pintu utama sudah ada seorang wanita yang jauh lebih muda darinya menyambut mereka.
"Selamat datang mas Delvara." sambutnya disambut dengan senyuman Delvara.
"Mbak Nita, kenalkan ini mbok Rati. Beliau akan tinggal di sini juga. Menemani mbak juga. Kalian yang rukun ya. Baik baik bantu saya jaga mama dan rumah ini kalau saya pergi."
"Iya mas. Kenalkan mbok, saya Nita." Nita memperkenalkan diri dengan sopan.
"Mbok Rati." sambut mbok Rati merasa senang karena Nita tampak menerimanya dengan baik.
"Mbak Nita, mama di mana?" tanya Delvara.
"Ada di kamarnya mas. Baru saja selesai saya bantu mandi." jawab Nita.
"Terima kasih mbak sudah menjaga mama dengan sangat baik. Saya berhutang banyak sama mbak Nita." ucap Delvara.
Rupanya tak hanya pada mbok Rati yang lebih tua saja Delvara bersikap sopan. Pada Nita, asisten rumah tangganya juga yang lebih muda darinya juga Delvara tetap sopan. Bahkan Delvara malah merasa sungkan padanya karena merasa berhutang budi membantunya menjaga sang mama. Mbok Rati makin takjub pada pemuda ini.
"Mugi mugi Gusti Allah memberikan kebahagiaan berlimpah kepadamu cah bagus. Mengganti non Nadine dengan wanita yang lebih baik lagi. Syukur syukur kalau bisa berjodoh dengan nduk Indah." mbok Rati membatin.
"Yuk mbok. Del kenalin sama mama." ajak Delvara langsung diiyakan oleh mbok Rati.
Mbok Rati kembali mengekori langkah Delvara menuju ke kamar utama di lantai bawah. Tampak seorang wanita berdiri termenung menghadap taman di luar kamarnya. Mbok Rati memutuskan menunggu dulu di luar pintu.
"Assalamu'alaikum mama."
__ADS_1
"Wa'alaikumsalam. Anak mama sudah pulang rupanya." Karin, mama Delvara menyambut kepulangan putranya dengan pelukan.
"Maafkan Del ya ma karena kelamaan ninggalin mama di rumah."
Karin hanya menepuk nepuk punggung putranya lalu mengurai pelukannya ketika ia menyadari putranya mengajak seorang wanita tua yang berdiri menunduk.
"Siapa dia nak?" tanya Karin.
"Oh iya. Mbok,,, Sini. Kenalan sama mama." panggil Delvara.
"Iya cah bagus. Subhanallah,,, Hesti,,," mbok Rati membekap mulutnya sendiri saat matanya bersitatap dengan mata Karin.
Ia tak percaya dengan yang dilihatnya. Wanita didepannya benar benar mirip dengan sahabatnya yang bernama Hesti. Hesti yang tidak lain adalah kekasih kakek Wardoyo dulunya. Satu satunya wanita yang pernah singgah di hati Kakek Wardoyo dan juga telah melahirkan seorang putri cantik untuknya.
Entah kenapa, melihat Karin, mbok Rati merasa melihat Hesti. Begitu mirip.
"Hesti?? Siapa Hesti mbok? Ini mamanya Del, namanya Karina." Delvara heran.
"Eh,, oh,, eh,,, maaf cah bagus. Mbok hanya ingat teman mbok yang namanya Hesti dulu. Tapi dia sudah meninggal. Maaf ya bu Karin. Si mbok sudah lancang menganggap bu Karin mirip teman si mbok." mbok Rati merasa tidak enak hati.
"Nenek??" mbok Rati malah bingung.
"Iya. Kebetulan nenek saya namanya juga Hesti. Dan beliau juga sudah meninggal. Apa mungkin ya kita membicarakan Hesti yang sama?" tanya Karin mulai berpikir jauh.
"Ma,, Si mbok ini aslinya dari Bogor. Memangnya nenek dari mana? Bogor juga??" tanya Delvara.
Karin tampak berpikir dan mengingat ingat cerita ibunya tentang neneknya yang bernama Hesti. Karin tidak terlalu banyak punya ingatan tentang itu karena ibunya sendiri juga tidak banyak tau tentang nenek Hesti.
Nenek Hesti meninggal saat melahirkan ibunya Karin dan sejak saat itu, keluarga ibunya Karin terkesan menutupi dan mengubur semua cerita tentang siapa sebenarnya ayah sang ibu.
"Arrghh". Karin limbung dan memegangi kepalanya yang mendadak berdenyut nyeri.
Sejak trauma mendalam dan terus bersikap menyalahkan diri, Karin memang paling tidak bisa jika pikirannya diforsir. Ia tidak bisa dan dilarang berpikir keras.
"Ma,,, Udah jangan dipaksakan. Mungkin hanya kebetulan namanya sama. Nama Hesti kan bukan satu orang sàja." hibur Delvara meski ia juga sebenarnya penasaran.
__ADS_1
Tapi anak baik itu tidak ingin membuat sang mama sakit. Ia membimbing Karin menuju ke tempat tidurnya dan membantu memposisikan sang ibu dengan posisi yang nyaman. Posisi duduk bersandar dengan tumpukan bantal.
"Bu Karin,,, Cah bagus,,, maafin si mbok. Ucapan si mbok malah buat bu Karin jadi sakit." mbok Rati menyesali mulutnya yang keceplosan tadi.
"Nggak apa apa mbok. Mama memang begini. Del harap mbok bisa sabar ya jaga dan temani mama."
"Nggih cah bagus. Si mbok pasti jaga bu Karin dengan baik." janji mbok Rati.
"Mbok,,," panggil Karin lirih.
"Nggih bu,,," mbok Rati mendekat.
"Jangan panggil saya bu. Panggil Karin saja ya. Entah kenapa, melihat dan bertemu si mbok membuat saya kangen pada sosok nenek yang sama sekali belum pernah saya temui." ucap Karin sendu.
"Ealah ya mana bisa begitu to bu. Tidak sopan rasanya kalau si mbok langsung panggil nama." tolak mbok Rati.
"Mbok mau saya anggap sebagai nenek saya? Kalau mbok mau,,, jangan pernah panggil saya dengan sebutan bu lagi. Anggap saya ini cucu mbok. Saya ingin sekali punya nenek mbok. Saya dan Delvara sama sama kurang beruntung harus tumbuh tanpa nenek. Mau ya mbok?" Karin meminta dan membuka tangannya meminta dipeluk.
Sudut mata Mbok Rati mulai mengembun. Belum percaya rasanya keluar dari rumah Rajesh malah mendapati rumah dan keluarga yang begitu menerimanya dengan tangan terbuka.
"Iya cah ayu. Si mbok mau." ucapnya kemudian sembari mengusap airmata yang sudah lolos membasahi wajah rentanya.
Mbok Rati mendekat. Memeluk Karin dengan perasaan sayang tulus bak nenek pada cucunya meski mbok Rati sendiri tidak pernah menikah apalagi sampai punya cucu. Mbok Rati yang diam diam mencintai kakek Wardoyo memutuskan melajang saja ketika tau kakek Wardoyo malah mencintai Hesti.
Namun meski cintanya tak bersambut,, cinta mbok Rati pada kakek Wardoyo tak pernah surut hingga akhir hayatnya. Mbok Rati tak pernah mengungkapkan isi hatinya pada kakek Wardoyo. Baginya,,, Diajak kerja untuk keluarga kakek Wardoyo saja sudah cukup.
Delvara menyeka airmata di sudut matanya melihat pemandangan di depannya. Sang mama terlihat bahagia dalam pelukan si mbok. Delvara memutuskan keluar kamar dan membiarkan dua insan itu saling menyatukan rasa.
"Terima kasih mbok." batinnya sebelum meninggalkan keduanya.
...\=\=\=\=\=\=...
...Hari ini satu bab saja dulu ya geng. Maafkan author yang kerja lembur bagai kuda hari ini. Nyempetin banget nulis buat kalian meski mata dan jari udah sama sama letoynya 😩🥱...
...With love, ...
__ADS_1
...Author....