
"Mas,,, maafkan aku. Aku tidak berhasil membujuknya."
Alyssa menyeka airmata di sudut matanya dengan cepat agar tak sampai dilihat orang. Tidak enak rasanya menangis ketika berada di sebuah ruangan megah yang bernuansa romantis ini.
Takut menimbulkan gosip gosip miring untuk sepasang manusia yang tengah berdiri menyalami para tamu undangan yang datang memenuhi ruangan ini hanya untuk mengucapkan selamat kepada keduanya.
"Alyssa,,, aku bahkan tidak pernah memintamu membujuknya atau bahkan memberitahunya apa yang terjadi padaku selama ini." ucap Rajesh yang hanya tetap tersenyum meski hatinya menangis.
"Kamu yakin nggak apa apa mas?" tanya Alyssa lagi.
"Aku baik baik saja. Dan ku harap kamu jangan membuatku merasa menjadi tidak baik dengan menangisiku seperti ini." Rajesh memegang kedua bahu Alyssa.
Alyssa mengangguk mengiyakan meski ia tau bahwa Rajesh hanya berpura pura tegar. Ferry yang berdiri di samping Rajesh lantas mengusap usap bahu Rajesh juga seolah bisa merasakan kebohongan Rajesh dan ia ingin memberinya kekuatan.
"Aku tau ini nggak mudah tapi kamu harus kuat." bisik Ferry.
Rajesh mengangguk lalu berjalan masuk ke ruangan itu dengan dada membusung. Berusaha membaur dengan semua tamu undangan yang mengantre untuk bisa bersalaman dengan kedua mempelai. Meski mata mulai terasa mengabur karena airmata yang tak dengan tak tau malunya malah keluar sendiri,,, Rajesh tetap menguatkan diri.
Dengan cepat menyeka airmatanya tepat beberapa orang di depannya sudah naik ke pelaminan megah itu.
"Mas Rajesh??"
Tangan dan tatapan mata Zoya seolah membeku mengetahui di antara ratusan tamu undangan di hari pernikahannya dengan Rodie, ternyata ada Rajesh. Zoya kaget sekaligus bingung.
"Aku yang mengundangnya, Zo." dengan santai Rodie mengakui.
Rajesh hanya bisa tersenyum. Menerima fakta bahwa akhirnya bukanlah dirinya yang berdiri di sebelah Zoya di atas pelaminan itu.
"Selamat atas pernikahan kalian. Semoga bahagia. Maaf kalau kedatanganku terkesan mengganggu." ucap Rajesh sambil menyalami tangan Rodie dan matanya mengarah pada Zoya saat mengucapkan kata maafnya.
__ADS_1
Zoya hanya tertunduk. Senyum yang sedari tadi bisa dilihat oleh Rajesh dan para tamu lainnya terus merekah, kini sirna. Menyadari hal itu, Rajesh memutuskan untuk tidak lagi mengganggunya. Bahkan Rajesh juga tidak menyalaminya.
Ia memilih beralih pada Karin, mantan mertuanya yang berdiri mendampingi putrinya.
"Tante,,," hanya itu yang mampu keluar dari bibir Rajesh.
Rajesh tak tau harus bicara apa lagi.Mata teduh mantan mertuanya itu selalu membuatnya segan.
"Terima kasih atas kehadiran dan doamu nak. Semoga kamu juga akan segera menemukan kebahagiaan yang sama." Karin mengusap usap lengan Rajesh.
Wanita itu sama sekali tidak mendendam bahkan malah tetap mendoakan. Membuat hati Rajesh serasa disilet dengan silet baru. Perih tak terkira rasanya mendapat perlakuan baik dari mantan mertua yang putrinya pernah sangat dilukainya.
"Hai bro,,, apa kabar loe? Kurusan loe gue lihat. Oh ya,, bisnis jalan??"
Rajesh membeku. Ia sama sekali tak menyangka Delvara yang berdiri di sebelah Karin akan menyapanya seperti itu. Seperti tidak pernah ada masalah. Masih layaknya seorang teman.
"Kenalin,,, istri gue. Maria. Sayang,,, ini Rajesh yang pernah aku ceritakan. My best friend." selanjutnya tanpa menunggu jawaban Rajesh, Delvara mengenalkan Maria kepada Rajesh, dan juga mengatakan pada Maria bahwa Rajesh adalah teman baiknya.
"Kapan kalian menikah?" akhirnya bibir Rajesh bisa juga bicara.
"Hari ini juga. Bedanya, kalau mereka mengadakan resepsi seperti ini, kalau kami tidak. Kami hanya menjalani akad nikah lalu selanjutnya memilih mendampingi mereka." Delvara menunjuk ke arah Zoya dan Rodie.
"Begitu rupanya. Kalau begitu, sekalian saja ku ucapkan selamat kepada kalian berdua juga. Semoga samawa. Cepat dikaruniai keturunan." Rajesh masih begitu kaku untuk bicara loe gue pada Delvara.
Ia sungguh tidak menyangka akan mendapat sambutan yang begitu baik dari Delvara juga. Padahal tadi ia sudah menyiapkan mental jika saja Delvara akan mengusirnya dari sana seperti dulu dulu saat Zoya masih di rumah sakit.
Ternyata tidak. Delvara malah dengan bangga memperkenalkannya pada istrinya dengan label teman baik.
Rajesh jadi tidak enak hati. Telah berprasangka buruk pada orang yang seharusnya memang tidak perlu untuk dicurigai akan bisa berbuat buruk. Toh juga kalau pun sampai orang itu berbuat buruk padanya dulu, itu karena ulahnya sendiri.
__ADS_1
"Aku,,," bibir Rajesh kembali kelu.
"Loe kenapa? Santai saja. Duduk aja di sana dulu ya. Nanti kalau tamunya udah sepi, gue samperin loe. Udah lama kita gak ngobrol kan?" Delvara tetap begitu santai bak di pantai menghadapi Rajesh yang masih kaku.
Akhirnya Rajesh hanya bisa mengangguk mengiyakan. Langkahnya kemudian berjalan menuju sebuah meja bundar di mana Alyssa dan Ferry juga sudah berada di sana. Tadinya mereka memang di belakang Rajesh mengantrenya, tapi karena Rajesh butuh waktu lama saat berhadapan dengan Delvara, beberapa tamu termasuk mereka memutuskan melewatinya.
Namun baru saja ia sampai di meja itu, belum juga ia duduk, terdengar suara ribut dari atas pelaminan.
"Oh,,, jadi begini. Selama ini loe ngilang karena loe malah nikahin perempuan ini??? Gue nggak terima ya Rodie!!! Gue mau tagih janji loe!! Lo udah janji mau nikahin gue!! Gue hamil anak loe, Rodie!!! Mana tanggung jawab loe??!!"
Sontak Rajesh memutar kepalanya kembali menghadap pelaminan. Terlihat olehnya seorang wanita muda berdiri dengan perut membuncitnya tengah berdiri di depan Rodie dan Zoya. Memaki maki Rodie dan membuat kegaduhan. Tangannya bahkan terlihat sudah terulur untuk menjambak Zoya namun Delvara sudah sigap menghalanginya.
Suasana yang tadinya khidmat, kini berubah gaduh. Kasak kusuk mulai terdengar memenuhi seluruh ruangan ini. Ada yang memilih tetap mengantre dan banyak juga yang memilih menjauh saja.
Namun bukan itu yang menjadi perhatian Rajesh. Matanya sama sekali tak beralih dari Zoya dan Rodie. Zoya yang mundur selangkah menunduk tak berkata, lalu Rodie yang sekilas malah tersenyum kepadanya saat mata mereka bersitatap. Rodie seolah memberinya kode.
Lalu perhatian Rajesh teralih pada Zoya yang memilih pergi dari sana. Disusul oleh sang ibu dan kakak iparnya. Bisa dilihat oleh Rajesh gadisnya itu berkali kali menyeka airmatanya meski terus berjalan cepat dan menunduk.
Lalu mata Rajesh kembali terarah pada Rodie yang sekali lagi meski tubuhnya tengah di tarik tarik oleh wanita hamil itu,,, namun senyumnya tetap terarah kepadanya. Lalu Rodie juga mengangguk kepadanya. Senyuman perih itu makin terasa.
"Rodie,,, semua ini,,,???"
Rajesh menerka nerka arti tatapan dan senyum Rodie itu. Ia bingung bagaimana harus bersikap. Ia tidak yakin tebakannya benar.
...\=\=\=\=\=...
...Nebak apa emangnya Rajesh?? ...
...With love, ...
__ADS_1
...Author....